Agama & Masyarakat

Ratu Hemas Mediasi Florence Sihombing Dengan LSM Yogya

Thursday, 04 September 2014 | View : 2013

YOGYAKARTA-SBN.

Gadis berumur 26 tahun yang adalah mahasiswi S2 program pascasarjana Studi Kenotariatan Fakultas Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM), Florence Saulina Sihombing sudah menjalani sidang komite etik dan dinyatakan melakukan kesalahan dalam kategori sedang. Rabu (3/9/2014) rencananya Florence Sihombing akan diberikan sanksi oleh Dekan berdasarkan rekomendasi hasil sidang komite etik.

Namun, Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM), Dr. Paripurna P. Sugarda, S.H., M.Hum., L.L.M. menyatakan menunda pemberian sanksi ke gadis 26 tahun yang adalah mahasiswi S2 program pascasarjana Studi Kenotariatan Fakultas Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM), Florence Saulina Sihombing, tersangka kasus penghinaan warga Yogyakarta melalui media sosial.

Dekanat Fakultas Hukum UGM, menurut dia, memutuskan menunggu hasil pertemuan yang digelar oleh Keraton Yogyakarta. "Agar lebih memenuhi rasa keadilan," katanya saat dihubungi pada Rabu (3/9/2014).

Pihak Keraton Yogyakarta akan memfasilitasi pertemuan UGM dengan seluruh perwakilan lembaga dan organisasi yang mengadukan Florence Sihombing ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

FH UGM menyatakan bahwa Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dilahirkan dengan nama Tatiek Dradjad Supriastuti berniat memediasi Florence Sihombung dengan pihak-pihak yang telah melaporkan Florence Sihombing ke Polda DIY.

Kata Dekan FH UGM, Dr. Paripurna Sugarda,  mediasi bersama Ratu Hemas akan digelar Kamis (4/9/2014) di Keraton Kilen Keraton Yogyakarta.

Perdamaian antara Florence Sihombing dengan sejumlah organisasi yang melaporkannya membuahkan sejumlah kesepakatan. Saat dimediasi oleh GKR Hemas di Kraton Kilen, Kamis (4/9/2014) malam, pihak pelapor berkomitmen akan membantu Florence Sihombing dalam persidangan supaya hukuman Florence Sihombing ringan.

Selain Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jati Sura yang pertama kali melaporkan Florence Sihombing, pada Kamis (28/8/2014), dalam catatan Polda DIY, ada enam ormas lain yang juga mengadukan mahasiswi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM tersebut.

Dr. Paripurna Sugarda mengatakan rencananya pertemuan tersebut akan digelar di Keraton Yogyakarta hari ini, Kamis (4/9/2014).

Keraton Yogyakarta akan ikut turun tangan untuk menyelesaikan kasus Florence Sihombing.

Menurut Dekan Fakultas Hukum UGM, Dr. Paripurna Sugarda, dia mendapatkan undangan dari Keraton untuk bertemu dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dilahirkan dengan nama Tatiek Dradjad Supriastuti dan juga pihak pelapor untuk bermediasi. Dia mengaku menerima undangan untuk hadir di forum itu.

"Saya gembira Keraton akan memfasilitasi untuk bertemu dengan pelapor oleh pihak Keraton dan saya juga diundang untuk hadir," beber Dr. Paripurna Sugarda saat menemui wartawan seusai sidang komite etik Florence Sihombing, di Fakultas Hukum UGM, Selasa (2/9/2014). "Akan difasilitasi Ratu Hemas (Istri Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X)," tambah Dr. Paripurna Sugarda.

Undangan tersebut pun tidak akan dilewatkan pihak UGM. Dr. Paripurna Sugarda mengatakan, dia akan hadir memenuhi undangan GKR Hemas di Keraton Kilen pada hari Kamis (4/9/2014) hari ini. “Saya akan hadir, pertemuannya mungkin akan tertutup dari media, tapi kalau soal waktunya hari Kamis," jelasnya.

Dia mengatakan pertemuan itu akan membahas penyelesaian kasus Florence Sihombing. Dia berharap forum ini bisa mencairkan suasana ketegangan dan menghasilkan solusi penyelesaian kasus Florence Sihombing. "Kami gembira dengan kabar rencana ini," tutur Dr. Paripurna Sugarda.

Menurut dia, pihak UGM berharap pertemuan itu akan menemukan kesepakatan mengenai upaya mempercepat penuntasan kasus ini. Terutama agar ada penghentian perkara pidana di Polda DIY yang menjerat Florence Sihombing. "Semoga ada kesepahaman," tandas dia.

Sebelumnya, setelah menghadiri sidang Komite Etik Fakultas Hukum UGM, Florence Sihombing menyampaikan penyesalannya atas ucapannya di media sosial yang menyinggung sebagian ormas di Yogyakarta. Sembari berlinang air mata, dia menyatakan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

"Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat Yogyakarta, Sultan, Kapolda DIY, UGM, dan lembaga atau ormas yang mewakili masyarakat Yogyakarta," tuturnya. Dia juga berharap proses pidana yang menjeratnya bisa dibatalkan. Menurut dia, ancaman pidana terlalu berat dan bisa mempengaruhi masa depannya.

Dilaporkannya Florence Sihombing oleh LSM Jatisura ke Polda DIY karena dinilai menghina Yogyakarta menimbulkan tanda tanya dalam benak GKR Hemas.

Istri Sri Sultan Hamengkubuwono X ini merasa banyak oknum yang secara terbuka menghina Yogyakarta dan juga memantik kebencian di Yogyakarta seperti yang dituduhkan kepada Florence Sihombing, tapi tidak ada yang melaporkan penghinaan tersebut ke ranah hukum.

Dia mencontohkan paling tidak ada dua kali secara terang-terangan menyebar kebencian dan juga menghina Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Yang pertama ada yang menghina Sultan di Masjid, menebar kebencian dan memerangi pluralisme, tidak ada yang melaporkan. Teman-teman ini kemana?" kata GKR Hemas kepada para pelapor Florence Sihombing di Keraton Kilen, Kamis (4/9/2014) malam.

Meski demikian, permaisuri yang juga anggota DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas tidak bermaksud meminta mereka untuk selalu membela Sultan. Minimal mereka juga berani untuk membawa kasus serupa ke ranah hukum. "Pergerakan teman-teman bukan harus selalu membela Sultan, tapi ada kasus intoleransi yang terjadi dan oknum-oknum yang mencoba merusak Yogyakarta juga dilaporkan, jangan hanya soal media sosial saja," jelasnya.

Karena itu GKR Hemas berpesan agar kasus Florence Sihombing ini dijadikan pelajaran bagi semuanya. Dia berharap segenap elemen masyarakat bersama-sama bisa menjaga Yogyakarta yang nyaman. "Kita jadikan ini pembelajaran bersama, dan mari kita jaga keharmonisan Yogyakarta bersama," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Florence Sihombing,  mahasiswa Notariat S-2 Fakultas Hukum (FH) UGM asal Medan, Sumatera Utara, ditahan di Polda DIY setelah dilaporkan  ke polisi. Penyebabnya, Florence Sihombing menulis status di akun media sosial (medsos) Path yang dianggap menghina warga Yogyakarta. Sebelum ditahan, Florence Sihombing sudah 'dihukum' warga melalui medsos di internet, alias dibully. (jos)

See Also

Wakil Ketua MPR RI Tegaskan Tak Ada Ruang Bagi Rasisme Tumbuh Di Indonesia
Klaim Keraton Agung Sejagat Purworejo
Gubernur Jawa Tengah Minta Usut Munculnya Keraton Agung Sejagat
Polres Purworejo Akan Klarifikasi Keraton Agung Sejagat
Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.798.764 Since: 05.03.13 | 0.2941 sec