Politik

Jokowi Sebut Kemungkinan Partai Demokrat Dan PAN Bergabung

Wednesday, 20 Agustus 2014 | View : 674

JAKARTA-SBN.

Presiden terpilih 2014-2019 yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ mulai membocorkan nama partai politik (parpol) pendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang kemungkinan besar membelot.

Presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi menegaskan dua partai besar yang sebelumnya mendukung pasangan Prabowo-Hatta kini berbalik mendukungnya. Kedua partai ini akan mendukung pemerintahan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) di parlemen. Menurutnya, dua partai tersebut adalah Partai Demokrat (PD) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Jl. Jenderal Gatot Subroto, No.97, Jakarta, Hendri Satrio menilai bergabungnya dua partai tersebut adalah hal yang positif untuk pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) untuk menjalankan pemerintahan.

Dua partai yang akan bergabung ke Jokowi-JK, Hendri Satrio memastikan, akan memperkuat pemerintahan di parlemen. "Pernyataan (Jokowi) melegakan bagi Indonesia. Karena kelak, bila Jokowi dilantik jadi presiden ia sangat butuh dukungan dari parpol lain terutama di parlemen," terang Hendri Satrio saat dikonfirmasi, Rabu (20/8/2014).

Hendri Satrio menuturkan, pernyataan Jokowi yang membeberkan Partai Demokrat dan PAN akan bergabung merupakan sinyal yang bagus. Karena koalisi yang terbentuk bukan lagi koalisi ramping, melainkan sudah berisi banyak partai.

Lebih jauh Hendri Satrio menjelaskan, konstelasi politik ke depan nampaknya akan mirip dengan 2004 awal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin sebagai Presiden. Menurutnya, banyak partai akan merapat kekuasaan sementara oposisi hanya 2-3 partai. "Sementara Jokowi di satu tahun pertama tidak akan banyak mengubah strategi yang dijalankan SBY termasuk jumlah kementerian," paparnya.

Presiden terpilih Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ akhirnya mengungkapkan ada dua partai politik diluar koalisi pendukung pasangan Jokowi-JK yang akan bergabung.

Dengan gaya yang khas, Jokowi secara singkat menyebut nama Demokrat dan PAN. “Ini saya ngomong apa adanya aja ya. Kemungkinan nanti, ini masih kemungkinan lho, ada dua partai, Demokrat dan PAN. Sudah itu saja," beber Joko Widodo atau sapaan akrabnya Jokowi di Balai Kota DKI, Jakarta, Selasa (19/8/2014).

Jokowi enggan mengait-ngaitkan mendekatnya PAN berarti Hatta Rajasa sudah mengakui kekalahannya.

Jokowi hanya berharap proses bergabungnya Partai Demokrat dan PAN segera rampung. “Tidak udah kita sebut-sebut itu lagi. Semoga sudah rampung/Pak Hatta itu tahu apa yang terbaik untuk bangsa ini,” tutur mantan Wali Kota Solo ini.

Gubernur DKI Jakarta ini sebelumnya enggan menyebutkan partai politik mana saja yang akan bergabung ke kubunya. Soal kemungkinan Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun Jokowi enggan menjawabnya.

Jokowi mengakui bahwa banyak partai yang mendekatinya untuk ikut bergabung pasca Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menyatakan dirinya sebagai pasangan peraih suara terbanyak pada pemilu presiden (pilpres) 2014. “Banyak enggak usah saya sebut, kalau nanti proses itu rampung baru," tukas mantan Wali Kota Solo tersebut, Jokowi.

Pria berusia 53 tahun itu menekankan syarat ‘koalisi tanpa syarat’ pada partai-partai yang ingin bergabung itu.

Jokowi menyambut baik jika ada partai baru yang ingin merapat. Semakin banyak partai yang mendukung di parlemen akan semakin baik untuk pemerintahannya. “Pengaruh sih pengaruh, tapi kita enggak usah ngebet-ngebet banget,” ucap Jokowi santai.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Puan Maharani, mengaku terus melakukan komunikasi secara informal hampir dengan semua partai.

“Dengan Demokrat, PPP, Golkar, tapi kita paham dengan posisi hari ini. Kami hargai, hormati proses yang ada di MK sampai kemudian keputusan MK ya bagaimana lah,” bilangnya.

PDIP, tegas Puan Maharani, membuka pintu seluas-luasnya kepada partai politik (parpol) yang ingin bergabung dengan koalisi mereka, asalkan mempunyai visi dan misi yang sama.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Max Sopacua menegaskan bahwa Partai Demokrat (PD) tidak akan merapat dan mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) jika pasangan itu tetap dinyatakan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih nantinya berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

"Tidak mungkin kami ke Jokowi-JK. Jokowi hanya berharap mendapat dukungan dan kekuatan di parlemen," tukas Max Sopacua di Jakarta, Selasa (19/8/2014), seperti dikutip antaranews.com.

Dia menegaskan, rapat internal DPP Partai Demokrat Selasa (19/8/2014) sore, tidak membahas dan merespon sama sekali pernyataan Jokowi yang dinilainya meminta dukungan di parlemen. 

Menurut dia, tidak maunya Partai Demokrat mendukung pasangan Jokowi-JK karena Jokowi berada di bawah kontrol PDI Perjuangan, partai yang selama ini selalu berbeda pandangan dengan Partai Demokrat.

"Jokowi di bawah kontrol PDIP. Selama ini hubungan Demokrat dan PDIP bagaimana? Banyak berbeda," ketus Max Sopacua.

Sebelumnya, Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat (PD), Amir Syamsuddin menyambut baik wacana merapatnya Partai Demokrat (PD) ke koalisi pasangan Jokowi-JK.

Menurut dia, komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Umum Partai Demokrat (PD) membantu pemerintahan selanjutnya adalah tanda semakin dekatnya hubungan Jokowi dengan Partai Demokrat.

Pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) didukung oleh empat parpol, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (109 kursi DPR), Partai NasDem (35 kursi DPR), Partai Kebangkitan Bangsa (47 kursi DPR), dan Partai Hanura (16 kursi DPR). Jika dijumlah, pasangan Jokowi-JK tersebut memperoleh dukungan 207 kursi DPR RI.

Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa didukung oleh lima parpol yang lolos ke DPR RI, yakni Partai Gerindra (73 kursi DPR), Partai Golkar (91 kursi DPR), Partai Amanat Nasional (49 kursi DPR), Partai Persatuan Pembangunan (39 kursi DPR), dan Partai Keadilan Sejahtera (40 kursi DPR). Jika dijumlah, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa tersebut memperoleh dukungan 292 kursi DPR.

Adapun Partai Demokrat (PD) memperoleh 61 kursi DPR RI. MK akan memutuskan sengketa hasil Pilpres 2014 yang diajukan pasangan Prabowo-Hatta pada Kamis (21/8/2014). (ant/jos)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.840 Since: 05.03.13 | 0.161 sec