Internasional

Adly Mansour Bertekad Membuat Halaman Baru Sejarah Mesir

Thursday, 25 Juli 2013 | View : 783

KAIRO-SBN.

Menjawab situasi Mesir yang kian memanas, Presiden Mesir interim, Adly Mansour, dengan lantang mengatakan bahwa Mesir bukan Suriah kedua dan siapa pun yang mendorong kondisi Mesir seperti Suriah adalah pengkhianat. “Ini adalah halaman baru dalam sejarah bangsa, yang harus diisi tanpa dendam, kebencian, dan konfrontasi,” tegas Presiden Mesir interim, Adly Mansour, Senin (22/7/2013) malam, merespons unjuk rasa maut yang tak ada hentinya. Presiden Mesir interim, Adly Mansour bertekad akan memulihkan keamanan di tengah tekanan pihak-pihak yang tidak menerima pemerintahannya. “Kami akan memperjuangkan keamanan sampai akhir. Kami akan menjaga revolusi,” tukas Adly Mansour yang juga merupakan seorang Hakim Tinggi sebelum menjadi Presiden.

Parahnya dalam konflik di Mesir ini yang menurut hitungan AFP telah menelan korban jiwa sekitar 170 orang itu, yang menjadi korban bukan hanya dari pihak pengunjuk rasa saja, namun sejumlah aparat kepolisian pun dilaporkan mengalami luka-luka serius.

Pada Selasa (23/7/2013) pagi, sembilan orang tewas ketika pendukung oposisi menyerang para simpatisan Moursi yang berunjuk rasa di dekat Universitas Kairo. Kementerian Kesehatan memperingatkan, jumlah korban tewas ini meningkat dibanding pada Senin kemarin (22/7/2013) yaitu korban tewas tercatat empat orang.

Koresponden AFP di Mesir mewartakan di daerah Al-Nahda 16 mobil dibakar sekaligus dalam aksi unjuk rasa menuntut Morsi dikembalikan yang terjadi di daerah itu. Tak hanya di Al-Nahda, pada Rabu (24/7/2013) pagi di Kota Mansura dilaporkan ada sebuah pos polisi dibom yang mengakibatkan satu tewas dan 28 lainnya luka-luka.

Selain di ibu kota Kairo dan daerah Al-Nahda, pada Selasa kemarin (23/7/2013), demonstrasi yang berakhir ricuh juga terjadi di Kota Qalyub. Pada saat yang sama terjadi serangan misterius di distrik Sinai, yang menewaskan seorang petugas kepolisian, satu orang warga sipil, dan empat tentara. Sebelumnya, militer mengirim dan mengerahkan bala bantuan ke Semenanjung Sinai yang bergejolak, di mana diduga para militan menewaskan seorang polisi pada Kamis (18/7/2013). Beberapa polisi dan tentara telah menjadi korban dan tewas dalam penembakan dan serangan roket sejak penggulingan Mohamed Moursi tersebut.

Korban jiwa dalam demonstrasi menuntut dibebaskannya mantan Presiden Mesir, Mohamed Moursi, terus berjatuhan. Bentrokan yang terjadi antara para simpatisan Moursi dan pendukung oposisi, total telah menewaskan 15 orang demonstran. Bentrokan antara para pendukung Moursi dan oposisi serta aparat keamanan meletup sejak Senin (22/7/2013) di ibu kota Kairo dan sejumlah titik wilayah di Mesir. Demonstrasi itu terjadi persis setelah keluarga Moursi mengumumkan akan menuntut militer Mesir ke meja hijau atas tuduhan penculikan dan dalang di balik tindakan kudeta.

Korban jiwa yang terus berjatuhan telah mendesak Kementerian Dalam Negeri Mesir untuk menerbitkan peringatan. Dalam peringatan itu disebutkan bahwa pemerintah akan tetap menindak tegas setiap pelanggaran hukum tanpa pandang bulu dan mendesak seluruh pihak untuk menjalankan kebebasan berpendapat secara damai menyusul bentrokan yang terus memakan korban jiwa.

Peringatan tegas yang diterbitkan pemerintah Mesir interim sangat beralasan karena saat ini kondisi Mesir memang benar-benar kacau. Pihak militer pun memperingatkan bahwa militer akan menindak setiap kekerasan dalam aksi unjuk rasa yang direncanakan oleh para pendukung dan penentang Moursi yang lengser dalam kudeta militer pada hari Rabu awal bulan (3/7/2013). Namun, peringatan itu rupanya tak diindahkan dan dihiraukan oleh seorang anggota senior Ikhwanul Muslimin (IM), Essam El-Erian, terbaca dari komentarnya. “Peringatan tersebut tak bisa menghentikan jutaan orang untuk melakukan demonstrasi,” demikian tulis Essam di akun Facebook miliknya.

Keberadaan Mohamed Moursi yang tak tentu rimbanya sejak kudeta militer meletup pada 3 Juli 2013 silam, telah membuat kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) marah besar. Kelompok Islam itu bersumpah akan terus melakukan aksi unjuk rasa sampai Mohamed Moursi dibebaskan. Bukan hanya itu, Ikhwanul Muslimin juga menegaskan tidak akan pernah mau mengakui pemerintah Mesir interim yang dikendalikan oleh militer. Bahkan, Persaudaraan Muslim, kelompok pro Mohamed Moursi, berjanji akan meneruskan protes hingga Mohamed Moursi terpilih kembali. Persaudaraan Muslim menolak untuk mengakui pemerintahan Adly Mansour dan memilih jalur protes yang berkelanjutan yang mereka percaya dapat membalikkan kudeta yang telah menggulingkan Mohamed Moursi. Kendati sebagian besar bersifat damai, aksi unjuk rasa Persaudaraan Muslim telah menyebabkan bentrokan yang membunuh puluhan orang sejak penggulingan Mohamed Moursi.

Kendati korban jiwa sudah berjatuhan, Pemerintah Mesir interim masih enggan membebaskan Mohamed Moursi dengan beralasan Mohamed Moursi ‘diamankan’ di suatu tempat demi kebaikannya sendiri. Kekakuan Pemerintah Mesir untuk tidak membebaskan Mohamed Moursi terbilang cukup nekat. Pasalnya, selain desakan dari dalam negeri, juga dunia internasional, mulai dari Amerika Serikat (AS), Jerman, Qatar, hingga badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), dan Uni Eropa (UE) kompak meminta mantan presiden yang didukung kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) itu segera dibebaskan. “Proses transisi yang dialami Mesir ini sangat penting karena memungkinkan sebuah transfer kekuasaan kepada pemerintah sipil yang dipimpin secara demokratis. Seluruh tahanan politik harus dibebaskan, termasuk mantan Presiden Mohamed Moursi,” kata para menteri luar negeri anggota Uni Eropa (UE).

Ketegangan komunal dan serangan terhadap umat Kristen dan gereja meningkat tajam sejak di bawah pemerintahan Presiden Mohamed Moursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas. Banyak orang Kristen Koptik yang jumlahnya mencakup sekitar 10% dari populasi Mesir yang jumlahnya 84 juta jiwa orang Mesir, meninggalkan Mesir karena makin berkembangnya intoleransi di bawah pemerintahan kepresidenan Mohamed Moursi yang didukung Ikhwanul Muslimin dan Persaudaraan Muslim tersebut. Pemerintahan Mohamed Moursi selama setahun terakhir dinilai cenderung mengutamakan kelompoknya. Masyarakat Mesir yang tak puas juga menuding Mohamed Moursi tak mampu menjalankan pemerintahan secara benar. (afp/rtr)

See Also

Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
Sekelompok Pria Bersenjata Tewaskan 15 Orang Saat Demo Irak
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.807.067 Since: 05.03.13 | 0.1746 sec