Politik

Pernyataan Prabowo Subianto Sebut Pilpres Seperti Negara Fasis Dan Komunis Menuai Kritik

Thursday, 07 Agustus 2014 | View : 1012

JAKARTA-SBN.

Saat berpidato di Mahkamah Konstitusi (MK), calon presiden (capres) nomor urut 1 yang digadang-gadang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrat (PD), Partai Bulan Bintang (PBB), Letnan Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo berkeluh kesah soal kecurangan-kecurangan yang dialaminya saat pilpres lalu seperti mendapat suara nol di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Prabowo Subianto menyatakan tak mungkin dirinya mendapat suara nol karena didukung tujuh partai besar dan mendapat 62 persen suara di pemilu legislatif. "Ini hanya terjadi di negara seperti Korea Utara," tukas Prabowo Subianto dalam sidang sengketa pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu (6/8/2014). "Maaf saya ralat. Di Korea Utara saja tidak terjadi. Mereka pun bikin 97 persen, atau 99 persen. Ini hanya terjadi di negara fasis di negara komunis. Di negara lain tidak ada," sambung Prabowo Subianto.

Pernyataan Prabowo Subianto tersebut soal pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 di Indonesia yang disamakan dengan pilpres yang berlangsung di negara fasis dan komunis menuai kritik.

Pernyataan Prabowo Subianto tersebut dinilai menyakiti rakyat Indonesia yang telah memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Rasanya tak elok dan sangat menyakitkan bila kemudian NKRI yang kita cintai disebut sebagai negara totaliter, fasis, dan komunis, bahkan disebut lebih jelek dari Korut. Ingat KPU itu produk rakyat Indonesia, produk kita bersama, bukan produk fasis dan komunis,” ketus Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, Rabu (6/8/2014).

Dia pun mengingatkan bahwa NKRI dibangun, direbut, dan diperjuangkan oleh para pahlawan dengan tetesan darah dan nyawa pejuang.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin bahkan mengungkapkan Prabowo Subianto juga yang telah ikut andil dalam mempertahankan NKRI, demikian pula dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang telah berusaha mempertahankan kemerdekaan.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Sudjito menilai pernyataan yang disampaikan mantan Danjen Kopassus itu justru menunjukkan sikap emosional Prabowo Subianto.

Menurut Ari Sudjito, apa yang dilontarkan Prabowo Subianto justru kontraproduktif dan tak fokus pada apa yang digugatnya.

Sontak, ucapan Prabowo Subianto itu pun mendapat beragam komentar di media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Dari mengolok-olok hingga mengecam Prabowo Subianto yang membandingkan pemilu di Indonesia dengan di Korea Utara.

"Sebego-begonya gue belajar sejarah, baru kali ini gue tahu ada pemilihan umum demokratis di Korea Utara. *Sementara itu, Roro Jonggrang dibikinin Tangkuban Perahu*" tulis Ninin di status Facebooknya.

"Wah tim Prabowo bilang pemilu kita kaya Korut? Emang di korut ada pemilu? Koq jadi delusional gini ya?" cuit akun @ShafiqPontoh.

"Jika Pak Prabowo katakan Korut lebih baik dari RI, mungkin sudah saatnya ia pindah kesana - pesan saja: ajak Debi Rhoma juga ya pak :)" kicau @danrem di Twitternya.

Demikian juga dengan akun @WJB yang nyinyir: "Jangan2x yg dimaksud prabowo korut itu kroya utara purwokerto. :))"

"Pak Prabowo nggak pernah bersyukur. Membandingkan pilpres kita lebih buruk dr Korut itu sdh keterlaluan @SBYudhoyono @boediono," tulis @chamadhojin.

Sementara situs Channel news asia menulis berita berjudul 'Ex-general says Indonesia 'like N Korea' in election challenge'

"Ex-general Prabowo Subianto angrily compared Indonesia to a "totalitarian country like North Korea" at the start of a legal challenge Wednesday (Aug 6) to the results of the country's presidential election, as hundreds of flag-waving supporters staged a rally. In a fiery speech at the Constitutional Court, Prabowo also lashed out at the "dishonesty and injustice" of the poll in the world's third-biggest democracy, which he lost to Jakarta governor Joko Widodo." (jos)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.539.447 Since: 05.03.13 | 0.1695 sec