Politik

Orasi Prabowo Subianto Katakan Mudah Kuasai Indonesia, Cukup Beli Parpolnya Jadi Sorotan

Thursday, 12 Juni 2014 | View : 1438

JAKARTA-SBN.

Orasi calon presiden (capres) nomor urut satu yang digadang-gadang oleh Partai Gerindra, yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)  dinilai sebagai ungkapan yang disadari atau tidak telah mengajak rakyat untuk tidak memilih dirinya di pemilu presiden (Pilpres) pada 9 Juli 2014 nanti.

Juru Bicara Tim Pemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) Hasto Kristiyanto menilai orasi Prabowo Subianto di Nanggroe Aceh Darussalam sebagai ungkapan yang disadari atau tidak, telah mengajak rakyat untuk tidak memilih dirinya pada pemilu presiden (pilpres) 9 Juli 2014.

Juru Bicara Tim Pemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) Hasto Kristiyanto menilai, Prabowo Subianto yang dalam pidatonya menyatakan: "Alangkah mudahnya menguasai Indonesia, cukup beli parpolnya saja' lebih merupakan refleksi pengalaman pribadi dibandingkan sebagai ajakan untuk membangun demokrasi sehat.

Pernyataan itu dikemukakan Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam acara silaturahim bersama ulama Aceh, di Aula Anjung Monmata, Kompleks Pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu (11/6/2014) petang.

Pernyataan itu, menurut Hasto Kristiyanto lebih merupakan refleksi pengalaman pribadi Prabowo Subianto dibandingkan sebagai ajakan untuk membangun demokrasi yang sehat. Pernyataan Prabowo Subianto tersebut secara tersirat tidak menghargai suara rakyat, tapi mengutamakan partai politik (parpol) yang bisa dibeli. Pernyataan Prabowo Subianto tersebut justru merupakan anjuran untuk tidak memilih dirinya sendiri di pemilu presiden (Pilpres) mendatang. "Tanpa sadar, di Kota Serambi Mekah yang masyarakatnya terkenal dengan religiusitas yang kental, Prabowo menganjurkan rakyat tidak memilih dirinya sendiri," beber Hasto Kristiyanto di Jakarta, Kamis (12/6/2014).

Hasto Kristiyanto menyampaikan alasan kenapa pernyataan Prabowo Subianto tersebut sebenarnya menunjuk pada dirinya sendiri.

Sebab sebagaimana diketahui, pada saat mengajak Partai Golkar untuk mendukung Prabowo-Hatta, disampaikanlah janji beberapa posisi Menteri. Bahkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) alias Ical hendak dijanjikan posisi Menteri Utama.

Demikian halnya juga dengan Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD, dijanjikan posisi jauh lebih tinggi dari Menteri. “Janji itu sama saja dengan 'membeli partai untuk menguasai Indonesia'. Tak heran salah satu majalah mingguan nasional terkemuka pernah menggambarkan pasangan Prabowo-Hatta naik kuda mainan, dan Hatta siap mengisi pundi pemacu kuda balapnya,” ungkapnya.

"Tuhan telah menunjukkan kebenaran di Aceh sehingga Pak Prabowo berpidato seperti itu. Menjadi politisi itu harus hati-hati dalam bicara. Niat untuk membangun sesuatu yang ideal, namun tidak sesuai dengan tindak-tanduknya, bisa menjadi boomerang,” imbuhnya.

Dia melanjutkan bahwa Tim Jokowi-JK sangat mempercayai prinsip bahwa menjadi pemimpin itu diukur dari satunya kata dan perbuatan.

Sebagai contoh, sangat aneh bila seorang pemimpin menyatakan bahwa 'hukum tidak boleh tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah'. Namun si tokoh langsung mati-matian berusaha mengurangi tanggung jawab yang harus ditanggung anaknya sendiri atas kesalahan hukum yang jelas-jelas dilakukan sang anak.

Demikian halnya pernyataan Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa selama puluhan tahun menjadi abdi negara, menjadi prajurit yang menjaga Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Namun di dalam prakteknya, terjadi apa yang diputuskan dalam laporan Surat Dewan Kehormatan Perwira ABRI yang menemukan dirinya bersalah atas kasus penculikan aktivis. “Itukan sama saja berorasi untuk tidak memilih dirinya. Dan jelas itu juga menunjukkan tidak satunya antara kata dan perbuatan,” tandasnya.

Hasto Kristiyanto melanjutkan orasi seharusnya menjadi cerminan nurani, dimana kata-kata yang keluar dari mulut adalah cermin kepribadian seorang pemimpin. Saat ini, menurut Hasto Kristiyanto, ada pemimpin yang hanya mengedepankan keterampilan bicara, namun miskin keteladanan. Bahkan dengan mengatakan pihak lain sebagai Kurawa dan dirinya merasa suci dan bersih seperti Pandawa. Hal demikian adalah contoh orasi sebagai manifestasi pengejar kekuasaan belaka. “Itu adalah contoh orasi sebagai manifestasi pengejar kekuasaan belaka,” terang Hasto Kristiyanto.

Sementara capres Jokowi mengedepankan orasi nurani, yang diikuti oleh rasa dan seluruh panca indera pemimpin terhadap kondisi rakyat Indonesia yg masih hidup dalam berbagai kesulitan dasar. "Jokowi dengan kesederhanaan sikap dan kata-katanya, justru cermin pemimpin yang berkepribadian Indonesia. Tidak heran, kemanapun Jokowi pergi, rakyat menyambutnya dengan penuh antusias tanpa harus dimobilisasi sebagaimana terjadi di "panggung politik" Polonia," jelas Hasto Kristiyanto. (mer/tri)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.909.106 Since: 05.03.13 | 0.1547 sec