Politik

Bawaslu: Pernyataan Prabowo Subianto Tidak Mendidik Rakyat

Thursday, 12 Juni 2014 | View : 1304

JAKARTA-SBN.

Pidato calon presiden (capres) nomor urut satu yang digadang-gadang oleh Partai Gerindra, yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Rumah Polonia, di Jalan Cipinang Cempedak I Nomor 29, Otista, Jakarta Timur, Selasa (10/6/2014) lalu, yang menyarankan agar rakyat menerima uang politik menjelang pemungutan suara 9 Juli 2014 mendatang menuai kecaman.

Ucapan tersebut dianggap tidak mendidik rakyat, bahkan dinilai cenderung menganggap rakyat secara tidak manusiawi. Sebagai calon presiden (capres), mestinya Prabowo Subianto memberikan pembelajaran politik yang baik kepada rakyat. Termasuk memberantas praktik politik uang yang kerap terjadi di masa pemilu. "Pernyataan seperti itu sangat tidak mendidik rakyat dan sangat tidak relevan dalam menumbuhkan demokrasi di Indonesia. Justru capres seharusnya berupaya memberantas politik uang yang masih banyak terjadi di masa pemilu," terang anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Nasrullah, Kamis (12/6/2014).

Imbauan calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, untuk menerima "serangan fajar" dalam pemilu dinilai tidak memberi pendidikan politik kepada rakyat. Imbauan itu justru mengajarkan politik yang buruk kepada masyarakat. "Tindakan itu tidak memberi pendidikan politik, bahkan mengajarkan politik yang buruk," tukas Koordinator Program Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Sunanto di Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta Pusat, Rabu (11/6/2014).

Dia mengatakan, slogan "terima uangnya, jangan pilih orangnya" tidak tepat disebarkan kepada masyarakat.

Menurut dia, figur yang mengimbau masyarakat menerima suap dalam pemilu berarti membudayakan praktik politik uang. Tokoh tersebut, imbuh Sunanto, mengamini bahwa politik uang adalah praktik yang sah dan boleh dilakukan.

Ia menuturkan, mengajarkan masyarakat menerima uang dari tim sukses peserta pemilu sama dengan mengajarkan masyarakat untuk tidak peduli pada visi dan misi kandidat pemilu.

"Kalau sudah dibeli, sudahlah barang mau diapakan terserah pembeli. Kalau kandidat begitu, kemungkinan besar dia lupa terhadap visi dan misi serta mengajarkan masyarakat untuk tidak mengontrol kandidat yang dipilihnya," kata pemantau pemilu yang akrab disapa Cak Nanto itu.

Seperti dikabarkan sebelumnya, dalam orasinya di Rumah Polonia, Jakarta, Selasa (10/6/2014), Prabowo Subianto meminta pendukungnya untuk menerima saja uang yang ditawarkan bila ada yang memberi mereka uang dalam "serangan fajar" untuk memilih pasangan calon tertentu karena uang yang digunakan adalah uang rakyat, tetapi tetap memilih dan mendukung dirinya dan Hatta Rajasa. Menurut Prabowo Subianto, uang yang dibagikan tersebut merupakan uang rakyat. Yang terpenting, kata dia, mereka tetap memilih pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Dalam orasinya itu, Prabowo Subianto menyarankan agar rakyat tetap mengambil uang politik yang kerap ditebar menjelang masa coblosan, tetapi ia mewanti-wanti supaya tidak memilih orangnya.

Dalam orasinya di Rumah Polonia, Jakarta, Selasa (10/6/2014), calon presiden (capres) Prabowo Subianto meminta pendukungnya untuk menerima uang yang ditawarkan dalam "serangan fajar" untuk memilih pasangan capres dan cawapres tertentu. Alasannya, kata Prabowo Subianto, uang itu adalah uang rakyat. Menurut dia, uang yang dibagikan tersebut merupakan uang rakyat. "Yang penting di desa-desa, di TPS-TPS, kalau ada serangan fajar, terima uangnya, karena itu uang rakyat," kata Prabowo Subianto, ketika berpidato di Rumah Polonia, Jakarta, Selasa (10/6/2014).

Ia mengatakan, tak perlu berutang budi karena telah menerima uang itu. Yang terpenting, kata Prabowo Subianto, mereka tetap memilihnya bersama Hatta Rajasa dalam Pemilu Presiden 2014. "Kalau ada serangan fajar, ambil uangnya, karena itu uang rakyat, jangan merasa harus berbalas budi. Masa nolak rezeki, itu uang kita yang mereka curi," tegas Prabowo Subianto.

Pada kesempatan itu Prabowo Subianto juga tak lupa mengingatkan agar para pendukungnya tidak berpaling dari pasangan Prabowo-Hatta pada pilpres nanti. "Sopan saja kalau dikasih uang. Ambil uangnya, tapi tetap coblos...?" lanjut Prabowo Subianto setengah meminta jawaban dari para pendukungnya.

Sontak pernyataan itu pun dijawab serentak para aktivis pendukung Prabowo Subianto: "Nomor satuuuuu...."

Prabowo Subianto mengklaim, ia dan Hatta Rajasa merupakan calon pemimpin yang akan benar-benar membela kepentingan rakyat Indonesia. "Masa nolak rezeki? Uang itu uang yang dia rampok dari negara. Kalau terima ya sopan saja, (tapi) yang besok coblos nomor satu," tambah dia.

Dalam kesempatan itu, Prabowo Subianto juga meminta pendukungnya untuk membantu menyebarluaskan bahwa hanya Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang ingin menyelamatkan bangsa dan mempersempit kesenjangan sosial. "Ada yang mengaku berpengalaman memberantas kemiskinan, tapi tempatnya kemiskinan meningkat," kata Prabowo Subianto.

Menurut Prabowo Subianto, kebanyakan rakyat Indonesia masih sering bertingkah lucu dan bodoh. "Bangsa Indonesia jangan terlalu lugu. Mau tau apa itu lugu? Lugu itu singkatan dari lucu dan guoblok," jelas Prabowo Subianto.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menilai, pernyataan calon presiden (capres) Prabowo Subianto yang menyarankan masyarakat menerima "serangan fajar" bisa jadi blunder untuk dirinya sendiri, apalagi jika hal itu dilakukan oleh kader partai politik mitra koalisi pendukungnya. "Itu blunder politik buat Prabowo. Saya kira Prabowo harus hati-hati dalam membuat pernyataan," tukas Ubedilah Badrun kepada wartawan, Rabu (11/6/2014).

Ubedillah Badrun mengatakan, pasangan capres dan cawapres seharusnya memberikan edukasi politik yang baik bagi masyarakat. Salah satunya ialah dengan memberantas praktik politik uang yang kerap terjadi saat pemilu.

Prabowo, lanjut Ubedilah Badrun, seharusnya dapat mencari cara lain untuk meraih dukungan. “Pernyataan seperti itu seharusnya tidak muncul dari seorang capres. Seorang capres seharusnya berupaya memberantas politik uang," sambungnya.

Senada dengan Ubedilah Badrun, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti mengkritik ucapan calon presiden (capres) Prabowo Subianto yang menyatakan pendukungnya boleh saja menerima politik uang asalkan tetap memilih pasangan nomor urut satu dalam Pemilu Presiden (pilpres) 9 Juli 2014 mendatang.

Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti menyayangkan pernyataan calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, yang memperbolehkan pendukungnya menerima uang suap untuk mendukung pasangan capres-cawapres tertentu.  "Bagaimana mungkin yang jelas-jelas dilarang undang-undang itu diperbolehkan. Ini memberi kesan Prabowo tidak mengerti apa makna demokrasi dan makna pemilu dalam negara yang demokratis," ujar Ray Rangkuti di Jakarta, Rabu (11/6/2014).

Menurut Ray Rangkuti, pernyataan tersebut mengindikasikan Prabowo Subianto memperbolehkan cara apa pun untuk memilihnya, termasuk yang melanggar aturan.

Prabowo Subianto dinilai telah menghalalkan politik uang yang diharamkan dalam demokrasi. "Dia (Prabowo) boleh-bolehkan saja politik uang. Sangat disayangkan kok ada calon presiden yang menghalalkan memilih dia dengan cara yang tidak diperbolehkan dalam undang-undang," tukas Ray Rangkuti di Jakarta, Rabu (11/6/2014).

Ray Rangkuti menambahkan, Prabowo Subianto seharusnya menentang politik uang dan meminta pendukungnya menangkap pelaku penebar "serangan fajar". Pelaku politik uang, kata Ray Rangkuti, tidak hanya melanggar prinsip pemilu, tetapi juga terindikasi melakukan tindak pidana korupsi.

Ia menganggap, Prabowo Subianto tidak menyadari bahwa pernyataannya tersebut justru menunjukkan dirinya tidak sensitif pada upaya meningkatkan gerakan antikorupsi. "Kalau pakai cara pikir Prabowo kan itu (politik uang) pakai uang rakyat yang diambil dengan cara yang koruptif. Mungkin Prabowo mau mengatakan, orang yang korupsi tidak usah dilaporkan, tapi cukup uangnya diambil," kata Ray Rangkuti.

Ray Rangkuti menegaskan, pemilu dalam negara demokratis membiarkan masyarakat memberi suara kepada orang yang dipilihnya atas dasar rasionalitas, bukan karena uang. Tidak hanya tertuju kepada Prabowo Subianto, para pelaku politik uang pun dianggap Ray Rangkuti keliru memahami pentingnya pemilu yang demokratis.

"Kalau uang dijadikan sebagai patokan pemilu, tidak perlu ada pemilu yang demokratis. Cukup kontrak saja pakai uang, maka Anda terpilih," tandasnya.

Sementara itu, Fadli Zon, sekretaris tim pemenangan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, mengatakan, orasi Prabowo Subianto yang menyarankan warga menerima "serangan fajar" adalah pernyataan sindiran. "Pak Prabowo menyatakan itu sebenarnya untuk menyindir. Ini kan yang namanya kiasan, tak ada yang namanya 'serangan-serangan fajar' gitu," terang Fadli Zon, di Rumah Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Rabu (11/6/2014) malam.

Dia mengatakan, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menginginkan Pemilu Presiden (pilpres) 2014 berjalan dengan jujur dan bersih.

Menurut Fadli Zon, dengan mengeluarkan pernyataan itu Prabowo Subianto berharap pada 9 Juli 2014 mendatang tak ada pihak mana pun yang berani melakukan ‘serangan fajar’.

Kalaupun tetap ada yang nekat melakukan praktik itu, Fadli Zon juga tak akan mempermasalahkan.

Fadli Zon berpendapat, uang yang dibagikan orang-orang tersebut kepada para pemilih berupa ‘serangan fajar’ merupakan uang rakyat. "Masalahnya di mana? Ya orang ngasih duit kepada rakyat terus mau diapain?" tanya dia. (kom/mer/jos)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.888.574 Since: 05.03.13 | 0.1577 sec