Agama & Masyarakat

KH Ahmad Idris Marzuqi Wafat

Monday, 09 Juni 2014 | View : 1853

KEDIRI-SBN.

Kedatangan jenazah KH Ahmad Idris Marzuqi, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, disambut isak tangis ribuan santri dan keluarga besar Ponpes Lirboyo, Kota Kediri, provinsi Jawa Timur (Jatim).

Ribuan takziah tak kuasa meneteskan air mata begitu mobil ambulans yang membawa jenazah almarhum tiba di rumah duka di ndalem timur, Senin (9/6/2014).

Sejak kabar meninggalnya almarhum diterima keluarga Ponpes Lirboyo, ribuan santri langsung berkumpul di masjid induk yang ada di tengah komplek pondok.

Para santri membacakan doa tahlil dengan khusuk untuk mendoakan almarhum.

Putra kyai yang ahli tasawuf, KH Ahmad Idris Marzuqi meninggal saat dalam perawatan di Pavilyun Graha Amerta RS Dr Soetomo, Surabaya.

Sebelumnya almarhum sempat dirawat di RS Bhayangkara, Kota Kediri pada Sabtu (7/6/2014) malam.

Namun karena kondisinya semakin kritis, pada Minggu (8/6/2014) tengah malam almarhum kemudian dirujuk ke RS Dr Soetomo. Namun KH Ahmad Idris Marzuqi wafat pada Senin (9/6/2014) pukul 10.10 WIB.

Pengasuh Ponpes Lirboyo ini wafat di usia 74 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang anak serta satu cucu.

Di kalangan pesantren nusantara siapa yang tidak mengenal nama Kyai Marzuqi Dahlan, tiga serangkai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang juga ayahanda KH Ahmad Idris Marzuqi pengasuh Pesantren Lirboyo yang wafat pada Senin (9/5/2014) pukul 09.50 WIB di RS Dr Soetomo akibat komplikasi.

Sebagai ulama yang zuhud, KH Ahmad Idris Marzuqi dilahirkan dari seorang yang ahli tirakat, seorang penuntut ilmu yang luar biasa. KH Marzuqi Dahlan atau Gus Juqi adalah putra dari Kyai Dahlan bin KH Sholeh asal Bogor yang juga pengasuh Pesantren Jampes yang berjarak lima kilometer dari Pesantren Lirboyo arah utara.

Dari pernikahan KH Dahlan dengan Nyai Artimah binti KH Sholeh Banjarmlati Kediri ini melahirkan empat orang anak yakni satu perempuan dan tiga putra dimana dua di antaranya menjadi ulama besar, yakni, KH Marzuqi Dahlan penerus tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan KH Ihsan Jampes pengarang kitab Sirajuttholibin, sebuah syarah atau komentar dari Kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghozali. Kitab ini menjadi bahan literatur universitas Islam seantero dunia.

KH Marzuqi Dahlan dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang dekat dengan alim ulama, sehingga sejak anak-anak sudah tak lepas dari bimbingan kiai, terutama Kyai Sholeh kakeknya.

Selain berguru kepada kakeknya Marzuqi Dahlan juga pernah nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh oleh Hadratussyeh Hasyim Asyaari, pernah juga nyantri di Ponpes Mojosari Nganjuk yang diasuh oleh KH Asyari. Pesantren Lirboyo Kediri kepada KH Abdul Karim yang merupakan pendiri Pesantren Lirboyo, 1910.

Sebagai penuntut ilmu yang ulung, Gus Juqi panggilan akrab Kyai Marzuqi juga tidak sungkan-sungkan berguru pada kakaknya yang alim allamah di bidang tasawuf yakni KH Ikhsan Dahlan di Jampes Kediri. Yang tak kalah pentingnya, Gus Juqi juga ahli ziarah kubur ke makam ulama-ulama besar.

Penguasaan ilmu tasawuf Gus Juqi semakin nampak setelah beliau menjadi kiai, terbukti ketika suatu saat mengaji kitab Bidayatul Hidayah, yakni salah satu kitab tasawuf, dengan tanpa menggunakan teks, karena beliau telah hafal di luar kepala.

Karena kealimannya, oleh sang paman KH Abdul Karim, Gus Juqi dijodohkan dengan dengan putri keempatnya yakni Maryam. Menariknya pernikahan Gus Juqi dengan Maryam, oleh sang mertua, Gus Juqi diwajibkan tetap menuntut ilmu selama 30 tahun.

KH Abdul Karim mempersiapkan sang keponakan yang juga menantunya itu untuk menjadi penerus pengasuh Pesantren Lirboyo.

Pernikahan Gus Juqi dengan Nyai Maryam melahirkan delapan anak yakni, Ruqoyyah, Ahmad Idris Marzuqi, Salimah, Muslikah, Khusnul Khotimah, Mohammad Thohir, Malihah, Bahrul Ulum dan yang paling bungsu Muhammad Ahlish.

Setelah kelahiran putra bungsunya, Nyai Maryam meninggal dunia. Agak lama menduda kemudian oleh sang mertua, Gus Juqi dinikahkan dengan Nyai Qomariyah yang juga adik bungsu Nyai Maryam. Dari pernikahan tersebut dikaruniai putra yang bernama Hasyim, namun Allah tidak memberikan umur panjang kepadanya.

Bukti kesufian, Gus Juqi selain ahli menuntut ilmu adalah terlihat dari kesehariannya. Pada masa itu ke mana-mana Gus Juki selalu naik sepeda sendiri meski dia ulama besar. Yang paling mencolok adalah dalam hal berpakaian, Gus Juqi tidak pernah memakai baju yang bagus, selalu menggunakan baju yang lusuh dan selalu menolak untuk disetrika.

Sebagai penerus KH Abdul Karim, dan karena kealimannya, Gus Juqi tetap merendah kepada siapapun meski dia pandai. Salah satunya sekitar tahun 1957 KH Marzuqi Dahlan pernah mendapat tantangan dari pengurus pondok agar beliau mengaji Kitab IhyaUlumuddin karya Imam Ghozali. Jika tidak mau maka seluruh pengurus akan pindah mengaji di pesantren lain.

Tetapi meskipun Gus Juqi cukup menguasai kitab tersebut, malah dengan merendah beliau mengatakan "Biar Gus Idris (KH Ahmad Idris Marzuqi) yang akan membacanya". Namun atas desakan lurah pondok, akhirnya beliau mengiyakan.

Tidak main-main, saat mengaji kitab kuning 'Ihyak Ulumuddin' Gus Juqi menggunakan kitab baru yang belum pernah dibuka sama sekali kosong tanpa makna atau terjemahan. Bahkan dalam mengaji beliau justru yang dibawa adalah silet, untuk memudahkan membuka lembaran-lembaran yang kadang masih merekat.

Setelah tiga setengah tahun mengaji karya Imam Ghozali itu, kemampuan KH Marzuqi Dahlan teruji.

Tahun 1973, menunaikan ibadah haji, dua tahun kemudian kesehatan Gus Juqi, semakin menurun karena faktor usia.

Akhir bulan Syawal tahun 1975 beliau sakit keras, dalam usia yang ke 70 tahun tepatnya 18 November 1975 sang kyai alim ahli tasawuf itu pergi menghadap Allah SWT selama-lamanya. Kabut duka bergelayut di atas pesantren yang didirikan oleh paman sekaligus mertuanya pada tahun 1910.

Selanjutnya tampuk kepemimpinan pesantren Lirboyo diteruskan oleh KH Mahrus Aly, asal Dusun Gedongan Desa Ender Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon, seorang ulama besar yang alim dan juga pejuang kemerdekaan. Beliau adalah menantu dari KH Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo, yang dinikahkan dengan Nyai Zaenab. (mer/jos)

See Also

Klaim Keraton Agung Sejagat Purworejo
Gubernur Jawa Tengah Minta Usut Munculnya Keraton Agung Sejagat
Polres Purworejo Akan Klarifikasi Keraton Agung Sejagat
Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.997.164 Since: 05.03.13 | 0.1809 sec