HAM

GKR Hemas Kunjungi Korban Penyerangan Sekelompok Orang Bergamis Di Yogyakarta

YOGYAKARTA-SBN.

Keluarga Keraton Ngayogyakarta mengunjungi kediaman Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus (54 tahun) di Desa Tanjungsari, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Kamis (29/5/2014) sekitar tengah malam.

Keluarga Keraton yang datang ke lokasi yakni Permaisuri Sultan Hamengku Buwono X Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Gusti Prabukusumo, dan Wakil Bupati Sleman Yuni Setia Rahayu.

Sesampai di lokasi, rombongan lantas menemui Julius Felicianus yang sedang duduk di teras dalam keadaan kepala sobek dan kaus penuh darah.

Rombongan Keraton kemudian menanyakan kronologi Julius Felicianus dan wartawan Kompas TV Michael Ariawan yang juga menjadi korban penganiayaan.

Pada kesempatan itu, GKR Hemas yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) asal provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta agar pihak kepolisian segera menindak tegas para penyerang. "Orang beribadah masa diserang? Itu sudah menyalahi aturan. Ibadah itu kan hak," tegas GKR Hemas di rumah Julius Felicianus.

GKR Hemas yang dilahirkan dengan nama Tatiek Dradjad Supriastuti menegaskan, Undang-undang di Indonesia melindungi warganya untuk beribadah. Karena itu, lanjut GKR Hemas, masyarakat tidak boleh melarang apalagi main hakim sendiri terhadap orang-orang yang sedang beribadah. “Tidak ada yang boleh main hakim sendiri. Polisi harus menangkap para pelaku," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi brutal terjadi di Sleman Yogyakarta. Rumah keluarga Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus diserang kemudian dirusak oleh sekelompok orang berpakaian gamis ketika sedang mengadakan ibadah doa Rosario bersama warga di lingkungan sekitar, Kamis (29/5/2014) malam.

Pelaku menyerang Kamis (29/5/2014) malam saat pemilik rumah menggelar kegiatan keagamaan. Penyerangan terjadi ketika rumah tersebut dipakai untuk ibadat doa Rosario. Serangan itu terjadi dua kali, yakni pada pukul 20.30 WIB dan 21.20 WIB.

Sebelum kejadian, Julius Felicianus tengah berada di kantor di Galangpress Kota Yogyakarta. Dia diberitahu istrinya kalau ada sekelompok orang tak dikenal yang datang menyerang.

Julius Felicianus (54 tahun) bertutur, saat penyerangan terjadi, dia masih berada di kantor Galang Press. Di kantornya sedang berlangsung doa bersama umat beragama. Dia menerima telepon dari anaknya perihal penyerangan itu pada pukul 21.00 WIB. “Anak saya telepon kalau rumah diserang. Lalu saya bersama tiga teman langsung meluncur ke rumah," beber Julius Felicianus di rumahnya, Kamis (29/5/2014) malam. Rumah ini berlokasi di kompleks perumahan STIE YKPN Nomor 07 Desa Tanjungsari, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Julius Felicianus kemudian pulang menuju rumahnya. Ketika sesampainya di rumah, Julius Felicianus mendapai suasana sudah sepi. Namun, beberapa sepeda motor yang diparkir di halaman rumahnya terlihat berjatuhan dan rusak. Selain itu, kaca rumahnya pecah, dan ada batu berserakan.

Namun, beberapa saat kemudian, belasan orang mengendarai sepeda motor kembali datang. Sebagian dari orang-orang itu mengenakan jubah. Saat itulah Julius Felicianus diserang. "Mereka berjumlah sekitar 8 orang dan sudah merusak motor yang diparkir di halaman," ungkap Julius Felicianus.

Begitu tahu ada Julius Felicianus di situ, sekelompok orang tersebut langsung memukuli dia, bahkan menjatuhkan pot bunga ke kepalanya. Massa berpakaian gamis tersebut sempat menganiaya Julius Felicianus dengan memukul di bagian bahu dengan potongan besi hingga berdarah. “Mereka juga memukul bahu saya dengan besi," urai dia.

Menurut Julius Felicianus, pemukulan juga terjadi terhadap para peserta kegiatan doa di rumahnya. "Ibu-ibu juga ada yang dipukuli. Total ada 7 korban, salah satunya wartawan," kata dia.

Soal alasan penyerangan, Julius Felicianus mengaku tak bisa memperkirakannya. Dia merasa tak punya masalah dengan siapa pun. Menurut dia, selama ini warga di sekitar rumahnya juga tak mempermasalahkan kegiatan doa bersama di rumahnya. "Tidak tahu apa alasannya, tetapi saya mengenali beberapa pelaku penyerangan," kata Julius Felicianus.

Tidak hanya Julius Felicianus yang menjadi korban, pelaku juga memukul dan merampas kamera seorang wartawan. Salah seorang wartawan yang tengah meliput juga menjadi korban pemukulan.

Michael Ariawan, wartawan Kompas TV wilayah DIY yang sedang merekam, ditarik kameranya oleh salah seorang dari penyerang. Ketika mengaku sebagai wartawan, Michael Ariawan justru diserang. "Saya begitu dapat kabar penyerangan langsung ke sini, dan salah seorang merampas handycam saya. Ngaku wartawan, malah dikeroyok," papar Mika begitu Michael Ariawan disapa.

Aksi brutal itu menyebabkan sejumlah orang terluka. Sebagian di antaranya masih dirawat di rumah sakit.

Saat ini, kasus tersebut sudah ditangani kepolisian. Polisi menjaga ketat lokasi rumah yang dijadikan kegiatan keagamaan. Para saksi sudah dimintai keterangan. (tri/jos)

See Also

Ridwan Kamil Tegaskan Organisasi Massa Dilarang Halangi Dan Hambat Ibadah
Ridwan Kamil Minta Maaf Soal Penghentian KKR Natal Stephen Tong
Menteri Agama Sayangkan Penghentian KKR Natal Stephen Tong Di Bandung
Teror Bom Di Gereja Katolik Medan
Tempat Ibadah Klenteng Harus Tertib Administrasi
Polisi Tetapkan 4 Tersangka Eksploitasi Anak Di Blok M
Rumah Ibadah Tak Punya IMB, Bukan Alasan Untuk Dibakar
Ormas Islam Bekasi Tolak Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara
Ormas Islam Protes Perayaan Paskah Digelar Di Stadion
Pemkot Bekasi Relokasi Jemaat Gereja Beribadat Di Kuburan
Wali Kota Bogor Tegaskan Tidak Ada Pembongkaran Gereja GKI Yasmin
Qaraqosh Kota Kristen Terbesar Irak Dikuasai ISIS
ISIS Singkirkan Salib Dan Bakar Ribuan Manuskrip Kuno
Menteri Agama Sebut Ideologi ISIS Berlawanan Dengan Pancasila
HMI Sebut WNI Pendukung ISIS Adalah Pengkhianat Bangsa
Menteri Agama Minta Muslim Indonesia Tak Terpengaruh ISIS
Lukman Hakim Saifuddin Tak Resmikan Bahai Sebagai Agama
Televisi Lebanon Pakai Huruf Nun Demi Solidaritas Warga Kristen Irak
Militan ISIS Ledakkan Makam Nabi Yunus
Pemerintah Kaji Agama Baru Bahai
Militan ISIS Di Irak Bakar Gereja Berusia 1.800 Tahun Di Mosul
Milisi ISIS Kuasai Gereja Tertua Di Irak
Diultimatum ISIS, Warga Kristen Irak Dipaksa Masuk Islam Atau Dibunuh
Bupati Wonosobo Kritisi Kemenag Soal Kebebasan Beragama
Kapolri Larang Ibadah Di Rumah
jQuery Slider

Comments

Arsip :2016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.462 Since: 05.03.13 | 0.1512 sec