Politik

Penjelasan Fadli Zon Perihal Prabowo Subianto Berkewarganegaraan Yordania

Sunday, 25 Mei 2014 | View : 1276

JAKARTA-SBN.

Isu kewarganegaraan mantan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dengan pangkat Mayor Jenderal, dari bulan Desember 1995 hingga Maret 1998, dan kemudian dipromosikan menjadi Panglima Kostrad dengan pangkat Letnan Jenderal, Prabowo Subianto kembali mencuat jelang pemilihan umum presiden (pilpres) 9 Juli 2014 mendatang.

Mantan Danjen Kopassus dan mantan menantu dari mantan Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2, Soeharto, Prabowo Subianto disebut memiliki kewarganegaraan Yordania dan seharusnya ditolak Komisi Pemilihan Umum (KPU) ketika mendaftar sebagai kandidat calon presiden (capres).

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah isu kewarganegaraan ganda dari Prabowo Subianto. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai isu ini sudah pernah dibantah sebelumnya. Menurutnya ini isu murahan yang kembali diangkat sebagai alat politik belaka. "Tak ada perpindahan warga negara. Prabowo sangat nasionalis dan patriotik. Tak pernah terpikirkan olehnya titikpun untuk itu (pindah kewarganegaraan)," tulis Fadli Zon melalui akun @fadlizon, seperti dikutip wartawan, Minggu (25/5/2014).

Fadli Zon menambahkan, isu ini pernah muncul di tahun 1999 dan langsung hilang dalam beberapa hari. Menurutnya, Prabowo Subianto tidak pernah menjadi warga negara Kerajaan Yordania atau warga negara asing mana pun. "Itu adalah rumor tahun 1999. Pak Prabowo bukan warga negara Yordania dan tidak pernah menjadi warga negara asing mana pun. Paspornya hanya satu, Indonesia, dan Pak prabowo sangat patriotik dan nasionalis," jelasnya.

Apalagi pihak Kedubes Yordania pernah membantah. Fadli Zon menegaskan untuk memastikan kebenaran isu tersebut bisa langsung ditanyakan kepada pemerintah Yordania melalui duta besar Yordania untuk Indonesia.

Namun, menurutnya hal tersebut tidak dilakukan karena sengaja dihembuskan sebagai kampanye negatif bagi Prabowo Subianto.

Wakil Ketum Partai Gerindra tersebut, Fadli Zon malah menuding jika isu ini diangkat oleh pihak lawan. "Pihak lawan rupanya sudah kehabisan peluru sehingga harus menggali isu yang tak pernah ada. Malah sangat murahan isu ini diangkat lagi," cetusnya.

"Anehnya, Pak Jusuf Kalla ikut komentar pula untuk memetik keuntungan politik dari isu sampah ini," tukas Fadli Zon.

Pascakerusuhan Mei 1998, mantan Pangkostrad Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn.) Prabowo Subianto meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Yordania.

Cerita ini diungkapkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon melalui akun Twitternya @fadlizon seperti dikutip wartawan, Minggu (25/5/2014). Fadli Zon menulis twit berseri menanggapi isu kewarganegaraan Yordania yang dimiliki Prabowo Subianto.

Fadli Zon kemudian berkisah, pascakerusuhan Mei 98, Prabowo Subianto hijrah dan pergi ke Yordania pada bulan September 1998 untuk menghindari fitnah yang begitu kencang di dalam negeri. "Inilah hijrah Prabowo, semua atas pengetahuan Presiden Habibie," tulisnya.

Sebulan berselang, Fadli Zon dan sejumlah tokoh Islam seperti Ahmad Sumargono bertolak ke Ibu Kota Yordania, Amman untuk bertemu Prabowo Subianto. Mereka menemui Prabowo Subianto di tempat tinggalnya di sebuah apartemen.

Selama di Yordania, Prabowo, sambung Fadli Zon, tinggal di sebuah apartemen yang disewa sendiri. "Padahal pernah ditawari Pangeran Abdullah tinggal di kompleks Istana."

Saat itu Pangeran Abdullah yang kini menjadi Raja Yordania menggantikan ayahnya Raja Hussein, merupakan komandan pasukan khusus Yordania yang merupakan sahabat baik Prabowo Subianto.

Fadli Zon menuturkan, selama di Amman, Prabowo Subianto hidup sederhana dan bepergian dengan taksi. Prabowo Subianto bahkan punya sopir taksi langganan yang bernama Muhammad. "Prabowo di Amman belajar bisnis, belajar bahasa Arab, dan dihargai oleh pangeran-pangeran Arab," tulis Fadli Zon.

Prabowo Subianto sempat ingin kembali ke Indonesia di akhir tahun yang sama, namun atas larangan para koleganya, keinginan itu dibatalkan. Fadli Zon mengisahkan, akhir Desember 1998, Prabowo Subianto berniat kembali ke Jakarta. Tapi karena keadaan belum memungkinkan, rekan-rekan Prabowo Subianto menyarankan untuk jangan kembali dulu. "Kenapa? Fitnah-fitnah berseliweran. Semua difitnahkan ke Prabowo. Kami bertemu di Bangkok, 27 Desember 1998. Ada beberapa kawan hadir. Hadir Maher, Muchdi, saya, dan Farid Prawiranegara. Ada Prof, Soemitro dan ibu. Saya banyak ngobrol dengan Prof, Soemitro tentang sejarah," kenang Fadli Zon.

Fadli Zon melanjutkan, setelah pertemuan di Bangkok itu, Prabowo Subianto akhirnya tidak jadi ke Jakarta dan akhirnya lebih banyak tinggal di Mi Casa, Kuala Lumpur. "Pulang pergi Amman, Yordania, KL dan Eropa," bebernya.

Fadli Zon mengaku sedikitnya mengunjungi Prabowo Subianto di Yordania sekitar 7 kali. Mereka bahkan beberapa kali mengunjungi kota-kota di Irak seperti Baghdad, Kuffa, Samarra, Mosul, dan kota-kota lainnya.

Yang menarik, ungkap Fadli Zon, Prabowo juga pernah berkunjung ke Irak bersama Luhut Panjaitan. Bahkan ketika masa berlaku paspor Prabowo Subianto habis, diperpanjang oleh Luhut Panjaitan yang kemudian menjadi Dubes RI di Singapura. "Sebelum kembali ke tanah air tanggal 2 Januari 2000, sekitar akhir 1999, Prabowo bertemu Gus Dur dan Menlu Alwi Shihab di Istana Raja Abdullah. Yordania adalah tempat sahabat Prabowo yakni Raja Husein. Persahabatan itu terjalin hingga kini," ungkap Fadli Zon.

Fadli Zon juga menegaskan, tak pernah sedetikpun Prabowo Subianto menjadi warga negara Yordania. Bahkan lanjut Fadli Zon, Prabowo Subianto menolak tawaran dari sahabat karibnya, Pangeran Abdullah yang komandan pasukan khusus, untuk menjadi penasihat militer Yordania. "Hubungan dengan Abdullah terus berlangsung Baik. A friend in need is a friend indeed, teman sejati ketika kesulitan," imbuhnya. (mer)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.834 Since: 05.03.13 | 0.1524 sec