Internasional

Malaysia Bangun Mercusuar Di Perairan Indonesia, TNI Kerahkan Kapal Perang

Wednesday, 21 Mei 2014 | View : 2171

PONTIANAK-SBN.

Hubungan Indonesia-Malaysia kembali berpotensi memanas. Tiga tahun paskasengketa sengketa patok batas di Desa Camar Bulan-Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) antara pemerintah negara Indonesia dan Malaysia pada Oktober 2011 lalu, gesekan baru terjadi saat negeri jiran itu kembali berulah dengan membangun mercusuar baru di perairan wilayah sengketa di Tanjung Datu, Kalimantan Barat.

TNI yang mendeteksi pembangunan mercusuar itu segera melakukan antisipasi. "Itu benar kita sudah deteksi, memang ada upaya pembangunan mercusuar di Tanjung Datu, tetapi bukan wilayah kita. Itu di wilayah abu-abu yang merupakan daerah sengketa," jelas Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (21/5/2014).

Diketahui, pihak Pemerintah Malaysia diduga telah melakukan aktivitas pembangunan rambu suar di kawasan perairan Indonesia itu tepatnya dilakukan di titik koordinat 02.05.053 N-109.38.370 E Bujur Timur, atau sekitar 900 meter di depan patok SRTP 1 (patok 01) di Tanjung Datu, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. "TNI sudah melakukan antisipasi dengan mengirim kapal perang dengan pesawat intai untuk mellihat perkembangan," terang Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya.

Informasi yang diperoleh beberapa kapal dengan dikawal kapal Angkatan Laut (AL) Diraja Malaysia mengangkut material menuju titik pembangunan. Kapal-kapal tersebut melakukan pemasangan tiang pancang besi di lokasi tersebut.

Informasi yang dihimpun, aktivitas pembangunan rambu suar tersebut telah terpantau oleh petugas navigasi perhubungan laut yang akan melaksanakan serah terima pos navigasi di Temajuk. Pada saat bersamaan, petugas navigasi melihat iring-iringan kapal Malaysia yang berjumlah delapan buah yang terdiri dari tiga kapal boat, empat tongkang material, dan satu kapal angkatan laut atau militer bergerak menuju perairan tersebut lebih kurang 900 meter di depan patok SRTP 01 untuk membangun mercusuar di sana.

Kapal-kapal tersebut melakukan pemasangan tiang pancang besi dalam rangka membangun mercusuar. Bahkan sampai saat ini sudah terpasang tiga tiang pancang. "Informasi ini kami terima pada tanggal 15 Mei 2014 sekitar pukul 09.00 WIB," ungkap Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (DanLanal) Pontianak Kolonel TNI AL Dwika Tjahya Setiawan, Minggu (18/5/2014).

Dari informasi tersebut pihaknya saat ini masih menyelidiki aktivitas yang dilakukan oleh pihak Indonesia atau tidak. Sebab, berdasarkan perundingan antara Indonesia dan Malaysia di Kinabalu (1975) dan Semarang (1978), wilayah Camar Bulan seluas 1.400 hektar di Kalimantan Barat merupakan wilayah Malaysia. “Berdasarkan perundingan Indonesia-Malaysia di Kinabalu (1975) dan Semarang (1978), wilayah Camar Bulan seluas 1.400 hektare di Kalimantan Barat merupakan wilayah Malaysia,” urai Kol. TNI AL. Dwika Tjahya Setiawan. "Namun untuk kawasan perairan hingga kini tidak belum ada kesepakatan antara kedua negara," tambah Kol. TNI AL. Dwika Tjahya Setiawan.

Kendati demikian, hanya, lanjut Kol. TNI AL. Dwika Tjahya Setiawan, berdasarkan peta, aktivitas lokasi pembangunan mercusuar oleh pihak Malaysia tersebut diduga sudah masuk ke perairan Indonesia. Sebab, pembangunan mercusuar tersebut berada tak jauh dari dibawah mercusuar yang ada di Bukit Tanjung Datu, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).  "Namun kami masih selidiki dahulu kebenarannya. Pesawat CASA kami sudah melakukan pemotretan lewat udara, dan dalam waktu dekat ini kami akan mengirim kapal perang ke lokasi aktivitas pembangunan mercusuar itu. Jika memang terbukti melanggar daerah teritorial, maka secara tegas akan dilakukan pengusiran," tegas Danlanal.

Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Pontianak Kolonel Laut (P) Dwika Tjahja Setiawan membenarkan jika jajaran intelijennya tengah menyelidiki aktivitas pembangunan beacon atau rambu suar yang dilakukan Malaysia di kawasan Tanjung Datu, Kabupaten Sambas, provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). "Memang benar ada aktivitas tersebut," kata Danlanal kepada wartawan melalui pesan singkatnya, Minggu (18/5/2014). Danlanal kemudian meminta wartawan menghubungi perwira intelijen Lanal.

Dihubungi terpisah, Komandan Unit Intelijen Lanal Pontianak Kapten Laut (P) Aria juga membenarkan informasi ini. Pihaknya mendapatkan informasi mengenai pemasangan rambu suar atau beacon.

Keterangan Kapten Laut (P) Aria ini mematahkan informasi yang berkembang di kalangan jurnalis bahwa Malaysia membangun mercusuar di kawasan Tanjung Datu. "Beacon atau rambu suar yang berfungsi sebagai alat penuntun pelayaran yang dibangun di daerah perairan pantai. Beda dengan mercusuar. Kalau mercusuar itu di darat," papar Kapten Laut (P) Aria, Minggu (18/5/2014) sore.

Kapten Laut (P) Aria menegaskan, pihaknya masih dalam tahap menyelidiki dan menindaklanjuti informasi yang didapat dari Kantor Distrik Navigasi Kota Pontianak. "Informasi yang didapat dari Kantor Distrik Navigasi Kota Pontianak mereka melihat di sekitar perairan perbatasan Tanjung Datu, pihak Malaysia sedang memasang dan membangun tiang pancang beacon," bebernya.

Tindak lanjutnya, papar Kapten Laut (P) Aria, pimpinan TNI AL mengerahkan KRI dan armada Pesut untuk melakukan penyelidikan lapangan terkait kegiatan yang dilakukan pihak Malaysia. “Pimpinan kami sudah mengerahkan KRI dan Pesut untuk melaksanakan penyelidikan. Informasinya, mereka berencana memasang dua beacon, namun saat ini dibangun tiang pancang baru satu unit. Informasi koordinatnya 0205053 Utara, 10938760 Timur. Tanggal 16 Mei dikirim dari distrik navigasi," tambahnya.

Terkait dugaan pencaplokan wilayah pada pemasangan beacon ini, Kapten Laut (P) Aria tak mau memberikan komentar. "Kita belum bisa memberikan statement yang lebih jauh. Mesti dilihat terlebih dahulu kenyataan di lapangannya seperti apa," pungkasnya.

Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI A Ibrahim Saleh juga sudah melakukan peninjauan langsung menggunakan helikopter. Dia melihat tiang pancang dipasang tepat di segitiga pasir berumput Temajuk. “Tadi saya sempat berputar tepat di atas tempat pemancangan mercusuar itu. Kurang lebih 100-300 meter di sebelah utara patok A1, di mana pancangan mercusuar ini berada di laut. Dan kami temukan tadi, tinggal dua kapal (Malaysia),” ungkap Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen. TNI A. Ibrahim Saleh.

Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen. TNI A. Ibrahim Saleh belum bisa memastikan apakah masuk perairan Indonesia atau tidak, sebab belum ada kesepakatan mengenai batas laut. “Kalau untuk darat sudah jelas,” jelasnya.

Yang jelas, akibat pembangunan mercusuar tersebut, masyarakat Temajuk tidak berani lagi mencari ikan di sana. “Pihak Malaysia melarang, karena dianggap sebagai kawasan mereka. Mengenai lokasinya nanti dipastikan lagi. Sudah ada pengerahan KRI menuju lokasi,” tandas Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen. TNI A. Ibrahim Saleh. (jos/pp)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.539.458 Since: 05.03.13 | 0.1489 sec