Hukum

Ini 11 Poin Keterangan Pihak Saint Monica

Saturday, 17 Mei 2014 | View : 925

JAKARTA-SBN.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Polisi Rikwanto membenarkan adanya orang tua balita siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Saint Monica Jakarta School, Jalan Danau Indah Raya Blok C-2 No.1, RT10/RW13, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara 14350, yang melapor anaknya menjadi korban kekerasan seksual. Korban juga telah menjalani visum yang membuktikan adanya luka lecet di anusnya.

Kasus pelecehan sekolah di Saint Monica, terungkap setelah Ibu korban melaporkan anaknya yang berusia 3,5 tahun, diduga mengalami pelecehan seksual oleh guru pelajaran ekstrakurikuler.

Kasus kekerasan seksual di sekolah Saint Monica terbongkar setelah korban berinsial LBS mengadu ke orang tuanya karena sakit di bagian anus. Kekerasan tersebut terjadi saat korban menjalani kegiatan ekstrakurikuler pada bulan April lalu. Pelakunya adalah seorang guru perempuan berinsial S.

Pihak  sekolah Saint Monica Jakarta School, Sunter membantah semua pemberitaan atas kasus pelecahan seksual yang terjadi di Kelompok Bermain (KB).

Kasus ini bermula dari tindakan pelecehan seksual yang dialami L, siswa kelompok bermain (KB) oleh guru menarinya S. dengan cara mencolokkan jari ke dubur korban.

Lydia W. selaku Kepala Sekolah Saint Monica Jakarta School, Sunter mengaku sudah meminta bantuan hukum dari advokat O.C. Kaligis untuk membantu konsultasi terkait keterangan dari pihak sekolah. "Ada 11 point yang kami nyatakan dalam keterangan tersebut," tandas Lydia W.

Melalui pengacaranya O.C. Kaligis, pengelola Saint Monica Jakarta School, menegaskan tidak masuk akal telah terjadi pelecehan seksual di sekolahnya.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (17/5/2014), menurut O.C. Kaligis, tidak ada bukti dan tidak masuk akal terjadi kejahatan seksual oleh salah seorang guru Saint Monica, terhadap seorang murid yang berinisial L.

Meski menyangkal tudingan, pihak sekolah berjanji terbuka, kooperatif dan siap membantu polisi mengusut tuntas kasus dugaan pelecehan seksual yang dituduhkan.

Terlepas dari bantahan itu, Dinas Pendidikan Menengah (Dikmen) Jakarta Utara, Jumat (16/5/2014), secara resmi menghentikan kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)  dan Kelompok Bermain (KB) Saint Monica Jakarta School.

Penghentian itu dimulai Jumat (16/5/2014), hingga ada izin baru. Yayasan Pendidikan Budi Mulya, yang menaungi sekolah Saint Monica Jakarta School, juga diminta menghentikan kegiatan guru hingga kasus tersebut selesai.

Sebanyak 28 siswa sekolah disarankan dipindahkan ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terdekat, atau dikembalikan kepada orangtua mereka masing-masing.

Sejauh ini polisi sudah menerima hasil visum murid korban pelecehan seksual, namun belum memeriksa guru wanita berinisial SH.

Berikut 11 poin keterangan dari pihak sekolah:

1. Bahwa dari media dikatakan bahwa diduga pelaku berinisial "S" yang mengajar ekskul menari di Saint Monica, sedangkan dari semua guru baik dengan nama panggilan ataupun nama panjang tidak ada yang berinisial "S".

2. Bahwa berita yang menyatakan bahwa tersangka memangku korban, menarik celana, memukuk pantat, kemudian memasukkan jarinya adalah tidak benar, karena ketika mengajar Miss H, guru yang dituduh melakukan kasus pelecehan seksual tidak pernah mengajar sendirian, dia selalu ditemani oleh guru pendamping serta 12 anak lainnya ketika mengajar, selain itu Miss H. tidak pernah berduaan dengan korban.

3. Bahwa ada peraturan di Saint Monica Jakarta school yang melarang guru melakukan kontak fisik seperti mencium atau memeluk muridnya kecuali bila murid sedang terjatuh atau menangis. Dan untuk masalah mengantar ke toilet ataupun mengganti celana, hal tersebut dilakukan oleh suster sekolah yang khusus untuk melakukan hal tersebut.

4. Bahwa berita korban disodomi 3x oleh salah satu guru di TK Saint Monica Jakarta School adalah tidak benar, mengingat peristiwa sodomi adalah memasukan alat kelamin pria ke dubur atau dilakukan oleh sesama lelaki, sedangkan pada kasus ini baik suster, guru, kepala sekolah, maupun staf tata usaha yang ada di TK Saint Monica berjenis kelamin perempuan.

5. Bahwa berita yang menyatakan kasus dugaan balita siswa playgroup sudah ditiadakan ke pihak sekolah adalah tidak benar mengingat dari pihak sekolah tidak pernah sekalipun mendapat laporan dari pihak orang tua korban mengenai masalah tersebut.

6. Bahwa pihak sekolah malah kaget begitu mendapat surat panggilan dari Polres Jakarta Utara untuk dimintai keterangan mengenai hal tersebut sedangkan sebelumnya tidak pernah mendengar laporan dari korban, susternya, maupun orang tuanya mengenai hal tersebut.

7. Bahwa pernyataan dari orang tua korban yang menyatakan dubur anak mereka sakit hingga tidak mau pakai celana dan hal tersebut sudah terjadi selama 3 bulan, serta sang korban tidak mau pakai celana dikarenakan duburnya sakit jika menggunakan celana sangat bertentangan dengan fakta dimana 3 bulan terakhir korban ke sekolah seperti biasanya, bahkan cenderung ceria, suka senyum, dan terlihat nyaman ketika duduk. Tidak ada tanda-tanda korban sedang mengalami kesakitan

8. Bahwa pada tanggal 11 April 2014 korban ikut berwisata ke Ancol bersama dengan omanya dan terlihat sangat senang, tanggal 21 April korban ikut lomba busana daerah Kartini di Mall of Indonesia (MoI) dan mendapat juara harapan 3, dan yang terakhir korban juga masih mengikuti lomba Paskah dan mendapat juara 3, korban terlihat senang dan ceria.

9. Bahwa menurut berita, orang tua korban menyatakan bahwa anaknya berkali-kali mendapat pelecehan seksual, faktanya selama proses belajar Taman Kanak-kanak (TK) yang hanya berkisar 1-2,5 jam, pihak sekolah tidak pernah mendengar teriakan dari anak tersebut ataupun melihat anak tersebut menangis. Kondisi ruangan sekolah yang hanya ditutupi kaca (seperti aquarium) tentunya sangat memungkinkan jika ada anak menangis atau berteriak, guru-guru atau anak-anak lain pasti dapat mlihatnya.

10. Bahwa berita yang menyatakan bahwa pihak sekolah menutupi hal ini adalah tidak benar, pihak sekolah telah mengikuti prosedur hukum dari pihak yang berwajib dan telah bekerja sama dengan Polres Jakarta Utara untuk menuntaskan kasus ini.

11. Bahwa kami dari pihak Saint Monica Jakarta School sangat yakin bahwa kejadian yang disangkakan pada salah satu guru di sekolah kami adalah tidak benar. (lip6/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.480 Since: 05.03.13 | 0.1759 sec