Politik

Partai Hanura Merapat Ke PDIP

JAKARTA-SBN.

Semakin dekatnya waktu pengajuan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk mengikuti Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014 mendorong beberapa partai politik (parpol) segera membuat keputusan politiknya. Salah satunya adalah Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Sumber yang tidak mau disebutkan namanya di Partai Hanura, Jumat (16/5/2014), menyatakan partainya sudah memutuskan untuk berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan mendukung pencapresan Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’.

"Kalau tidak ada aral melintang, kerja sama politik dengan PDIP diumumkan Pak Wiranto (ketua umum Hanura) setelah salat Jumat," katanya.

Saat ditanya alasan bekerja sama dengan PDIP, dia menyatakan pihaknya memiliki kesamaan visi dan misi, serta arah perjuangan dengan PDIP.

Partai Hanura telah menunjukkan sinyal-sinyal bakal merapat ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk berkoalisi dalam Pilpres 9 Juli mendatang.

Seperti diketahui, antara Partai Hanura dan PDIP terlihat sinyal-sinyal bakal berkoalisi. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto untuk kali pertama bertemu setelah pemilu legislatif Rabu 9 April lalu.

Teranyar, Rabu (7/5/2014), keduanya, Megawati Soekarnoputri dan Wiranto bahkan duduk satu meja dalam sebuah acara di Jakarta. Megawati Soekarnoputri dan Wiranto duduk satu meja di sebuah acara penyematan gelar Guru Besar bidang Intelijen AM Hendropriyono yang digelar di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (7/5/2014).

Rabu (7/5/2014), Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri bersama Gubernur DKI Jakarta Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ menghadiri acara Pengukuhan mantan Kepala (Badan Intelijen Negara) AM Hendropriyono sebagai Guru Besar bidang Intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Cendekia Saswita.

Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi ini tiba bersamaan. Keduanya tiba dengan menaiki mobil yang sama, yaitu Lexus hitam bernomor polisi B 1 PDI.

Namun, Megawati Soekarnoputri yang mengenakan busana batik berwarna kuning keemasan ini tidak duduk satu meja dengan Jokowi yang merupakan bakal calon presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Keduanya duduk terpisah. Jokowi bersama elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sementara Megawati Soekarnoputri duduk bersama dengan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Wiranto.

Megawati Soekarnoputri dan Wiranto terlihat duduk saling berdampingan. Saat bertemu kemudian mereka saling bersalaman. Namun, keduanya nampak ada jarak setengah meter. Selain itu, keduanya nampak kaku ketika duduk berdampingan. Hanya terlihat sesekali dua kali keduanya terlibat perbincangan singkat. Namun lebih banyak diam.

Keduanya mengikuti acara pengukuhan Hendropriyono sebagai guru besar bidang Intelijen sampai selesai. Acara yang juga dihadiri sejumlah tokoh partai maupun nasional ini berlangsung hingga berakhir kurang lebih selama dua setengah jam.

Sejumlah elite partai hari ini menghadiri acara pengukuhan Guru Besar Bidang Intelijen AM Hendropriyono dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara Cendekia Saswita yang digelar di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (7/5/2014). Selain Megawati Soekarnoputri dan Wiranto, hadir juga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golongan Karya (Golkar) Akbar Tandjung, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung dan pengusaha Chairul Tanjung. Kabarnya, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) Aburizal Bakrie (ARB) alias Ical juga diundang. Namun hingga pukul 10.15 WIB, keduanya belum terlihat di lokasi acara.

Dalam Rapimnas Partai Hanura yang berlangsung Selasa (6/5/2014) malam, Partai Hanura belum menentukan arah koalisi.

Terkait pertemuannya dengan mantan panglima ABRI itu, Megawati Soekarnoputri bungkam. Megawati Soekarnoputri sebelumnya juga telah menugaskan Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo untuk menjajaki koalisi dengan Partai Hanura.

“Silakan terjemahkan sendiri,” kata Wiranto di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu, (7/5/2014). Ia mengatakan, dirinya sudah lama kenal dekat dengan Megawati Soekarnoputri saat dirinya masih menjabat sebagai Menkopolkam pada era presiden Abdurrahman Wahid. “Ya, sudah sering ketemu, kenapa dipermasalahkan?” tutur Wiranto.

Meski terlihat duduk semeja, namun Wiranto dan Megawati Soekarnoputri tampak tidak banyak berbicara antara satu sama lain. Wiranto mengatakan, sebagai tamu undangan, dia harus bersikap sopan. “Kita kan ada undangan, masa bincang-bincang sendiri? Enggak sopan,” ucapnya.

Namun, Wiranto menjelaskan, memang, berdasarkan keputusan rapat pimpinan nasional Partai Hanura, dirinya telah diberikan mandat untuk melakukan lobi-lobi politik sekaligus mengambil keputusan mengenai koalisi. “Kalau kebijakan pro-rakyat kita koalisi. Kalau kebijakannya tidak menguntungkan rakyat kita oposisi. Sekarang kita sudah membuka paradigma, Hanura ingin bergabung dengan pemerintahan ke depan,” tuntasnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa sejumlah elite Partai Demokrat (PD) masih berupaya menggalang poros baru yaitu mengusung Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai capres. Hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bahwa ada peluang jika mencalonkan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Di saat-saat akhir, Partai Demokrat (PD) mencoba membuat manuver. Mereka berniat mengusung Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai calon presiden (capres). Sebagai pasangannya, disiapkan Pramono Edhie Wibowo, yang menjadi salah satu peserta konvensi. "Ada wacana seperti itu Sultan dan Pramono," bisik sumber di internal Partai Demokrat (PD) pada wartawan, Jumat (16/5/2014).

Dia menuturkan hingga saat ini elektabilitas Dahlan Iskan memang yang tertinggi dibanding peserta konvensi lain. Namun nama Pramono Edhie Wibowo lebih dipilih karena dinilai lebih loyal pada partai. "Ada yang khawatir kalau Dahlan nanti membandel. Kita lebih pilih yang kooperatif," kata dia.

Mengenai pengusungan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Partai Hanura dikabarkan ikut mengkaji peluang tersebut. Namun, sejumlah petinggi Partai Hanura justru menilai poros baru dengan mengusung Sri Sultan Hamengku Buwono X sudah terlambat dan kemungkinan hanya berakhir sebagai wacana saja. (tri/mer/jos)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.878 Since: 05.03.13 | 0.1552 sec