Hukum

Wafid Muharram: Choel Mallarangeng Minta Komisi 15 Persen

JAKARTA-SBN.

Mantan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Wafid Muharram mengaku diminta komisi 15 persen oleh Choel Mallarangeng dalam pelaksanaan proyek Pembangunan Lanjutan Pusat Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang yang diajukan Kemenpora.

Mantan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Seskemenpora) Wafid Muharram memastikan Andi Zulkarnain Anwar alais Choel Mallarangeng meminta fee 15% dari proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk mantan Menpora Andi Alfian Mallarangeng.

Penegasan itu terungkap saat Wafid Muharram dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi terdakwa mantan Menpora Andi Alfian Mallarangeng di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta kemarin.

“Apakah waktu itu Choel mengatakan minta fee?” tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (5/5/2014).

“Iya pak, begitu,” jawab Wafid Muharram dalam sidang untuk terdakwa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alfian Mallarangeng.

“Berapa yang diminta?” tanya Jaksa lagi.

“15 persen,” jawab Wafid Muharram.

Wafid Muharram saat ini menjalani hukuman penjara selama lima tahun kurungan dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan penjara sebagai terpidana kasus Wisma Atlet Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, provinsi Jawa Barat.

Permintaan tersebut menurut Wafid Muharram disampaikan oleh adik Menpora Andi Alfian Mallarangeng, Choel Mallarangeng saat pertemuan November 2010 di Plaza Indonesia antara Wafid Muharram, mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora Deddy Kusdinar, Choel Mallarangeng, dan staf khusus Andi M. Fakhruddin.

Wafid Muharram menuturkan, penyidik pernah memeriksanya dalam proses penyidikan dan kesaksiannya dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Sesuai dengan BAP, waktu itu yang meminta fee pada Wafid Muharram, terdakwa mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Hambalang Deddy Kusdinar dan tim asistensi adalah Choel Mallarangeng.

"Pak Choel mengharapkan ada semacam fee ke beliau (Andi Mallarangeng). Pak Choel ingin ketemu dengan saya. Kita bertemu di Plaza Indonesia. Di situ Fakhruddin yang memfasilitasi. Itu semua ada di BAP. Yang diminta 15%. Saya tidak tahu hubungannya dengan 18%, yang pasti disampaikan ke teman-teman Adhi Karya juga," ungkap Wafid Muharram di depan Majelis Hakim.

Anggota JPU Hendra Apriansyah kemudian membacakan BAP Wafid Muharram nomor 46 di halaman 23-24.

Dalam BAP tersebut, Wafid Muharram menyatakan, Choel Mallarangeng mengatakan kira-kira September sampai November 2010 terkait pertemuan di Plaza Indonesia hadir Wafid Muharram, Deddy Kusdinar, Choel Mallarangeng, dan Andi M. Fakhruddin. Choel Mallarangeng mengatakan.kakaknya sudah setahun menjadi Menteri masa belum dapat apa-apa. “Tolong backup dia dan jangan lupa bantu operasional kami. Selama ini saya follow-up kegiatan Kemenpora. Kakak saya juga selalu minta tolong backup Kemenpora, Pak Andi telah mempercayakan saya untuk bantu-bantu di Kemenpora. Kakak saya juga tidak mau minta langsung ke Pak Wafid," ungkap Jaksa Hendra membacakan BAP Wafid Muharram.

Tak lama kemudian Wafid Muharram menyela. Yang benar, tutur Wafid Muharram, bukan tidak mau meminta langsung, tapi tidak mungkin meminta langsung.

JPU kemudian melanjutkan, dalam BAP nomor 119, Wafid Muharram mengatakan, Choel Mallarangeng menyampaikan tidak mungkin kakaknya dalam hal ini, Andi Alfian Mallarangeng, secara langsung meminta fee ini.

Dalam BAP nomor 143, Wafid Muharram menjelaskan, Choel Mallarangeng pernah mengatakan lagi tidak mungkin Andi Alfian Mallarangeng meminta langsung juga kepada Deddy Kusdinar. "Tidak mungkin kakak saya meminta kepada saya (Wafid) atau Deddy Kusdinar,"beber JPU.

Wafid Muharram melanjutkan, dalam pertemuan tersebut Andi M. Fakhruddin yang menjabat staf khusus Menpora saat itu menimpali pernyataan Choel Mallarangeng dan menyampaikan kepada Wafid Muharram dan Deddy Kusdinar agar tolong dibantu. Nanti Andi M. Fakhruddin yang akan komunikasi lebih lanjut. Andi M. Fakhruddin bahkan mengaku akan berkoordinasi dengan Wafid Muharram soal jatah fee tersebut.

Dia memastikan fee yang diminta Choel Mallarangeng saat itu sebesar 15%. Selain kepada PT. Adhi Karya, Wafid Muharram juga menyampaikan kepada anggota Tim Asistensi Paul Nelwan dan Lisa Lukitawati Isa.

Wafid Muharram mengaku tidak mengetahui dari mana dan bagaimana caranya Choel Mallarangeng mengetahui soal PT. Adhi Karya.

Wafid Muharram pun mengaku pernah diperkenalkan Andi Alfian Mallarangeng kepada Choel Mallarangeng di kantor Kemenpora.

“Pernah (diperkenalkan) waktu awal-awal di lantai 10. Di situ ada Pak Choel dan beberapa keluarga yang lain,” ungkap Wafid Muharram.

Dalam kesempatan lain, Choel Mallarangeng juga bertemu dengan Kepala Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya, Teuku Bagus Mokhamad Noor dan Manajer Pemasaran Divisi Konstruksi PT. Adhi Karya Muhammad Arief Taufiqurrahman.

“Pertemuannya di lantai 10 gedung Kemenpora. Ada saya, Pak Deddy, Pak Arif, Fakhrudin. Di situ ada Pak Choel juga dan dia nanya soal kesanggupan Adhi Karya. Pak Choel langsung bicara karena sama-sama alumni dari UGM Yogya dan langsung bicara mengenai alumni saja di situ. Setelah Pak Choel tanya mengenai Adhi Karya, Pak Choel bilang go on,” jelas Wafid Muharram.

Pertemuan yang dilaksanakan pada hari libur tersebut, Wafid Muharram mengaku bahwa karena Choel Mallarangeng adalah adik Menpora maka ia tidak dapat menolaknya.

“Saya pikir Pak Choel itu adik Menteri, jadi gak mungkin saya menolak,” tambah Wafid Muharram.

Namun komisi 15 persen tersebut pun belum terlaksana

“Itu belum terlaksana juga kalau menurut saya karena belum bicara detil dengan teman-teman mengenai 15 persen itu. Kebetulan waktu itu ada Bu Rosa dan Pak Paul datang ke saya kirim uang. Kata teman-teman ya sudah Pak, pakai saja uang itu. Ya sudah langsung kita kirim ke Pak Choel,” jelas Wafid Muharram.

“Pernah tanya kenapa Choel minta fee?” tanya anggota Majelis Hakim Anwar.

“Tidak,” jawab Wafid Muharram.

“Kok percaya?” tanya Hakim lagi.

“Percaya saja tidak tanya, kalau namanya bukan Mallarangeng juga saya tidak mau,” jawab Wafid Muharram. (ant/sin/jos)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.605.155 Since: 05.03.13 | 0.1722 sec