Politik

Rhoma Irama Protes Etika Politik PKB

Sunday, 11 Mei 2014 | View : 1242

JAKARTA-SBN.

Setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memutuskan berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan mendukung Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ jadi capres, Rhoma Irama memutuskan menarik dukungannya untuk PKB.  “Sebagaimana saya utarakan selama ini. Saya akan menarik dukungan dari PKB," ujarnya kepada wartawan, Minggu (11/5/2014).

Rhoma Irama memberikan dua alasan penarikan itu. Pertama dia menghormati aspirasi masyarakat Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya, yang menganggap Ir. H. Joko Widodo alias Jokowi tidak menepati janji. "Jokowi semestinya menepati janji dan sumpahnya pada Allah, yang akan melaksanakan tugasnya selama 5 tahun," terang Rhoma Irama.

Kedua, dia melanjutkan, PKB tidak lagi mengakui Rhoma effect, sehingga tidak ada gunanya lagi mendukung PKB. "Mereka (PKB) klaim (keberhasilan) ini adalah NU effect, sementara Gus Dur dan keluarga mencabut dukungan untuk PKB. NU DKI Jakarta secara institusional juga melarang anggotanya mendukung PKB. Tapi mereka (PKB) menafikan Rhoma effect," tukas si Raja Dangdut. "Mereka menilai (Rhoma) tidak efektif. Sementara masyarakat menilai itu effect Rhoma, tapi tidak dianggap," pungkasnya.

Setelah menarik dukungan terhadap PKB, Rhoma Irama bakal melihat konstelasi politik selanjutnya, apakah ada partai lain meminta dukungan dirinya. "Selanjutnya kita lihat, apakah ada partai lain yang meminta dukungan saya. Saya siap maju itu kan bila ada dukungan rakyat dan partai yang siap jadi kendaraan politik," tandasnya.

Setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) resmi berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), si Raja Dangdut, Rhoma Irama mengaku sudah dihubungi lewat telepon oleh Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar. Muhaimin Iskandar bercerita tentang kondisi politik PKB. “Sudah (dihubungi Cak Imin) by phone, tapi yang ingin saya katakan, pertama kontrak politik (antara dirinya dan Cak Imin) itu basa-basi aja, karena ilegal dan tidak sesuai dengan AD/ART," papar Rhoma Irama kepada wartawan, Minggu (11/5/2014).

Si raja dangdut, Rhoma Irama melanjutkan, pastinya nanti yang menentukan arah politik PKB, termasuk siapa calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres)-nya adalah rapat kerja nasional (rakernas) juga. "Tapi sebetulnya, saya bersedia kemarin (menjadi capres PKB), ingin mengharapkan itikad baik. Jadi di sini etika politik yang seharusnya berlaku," cetusnya lagi.

Artinya anda mau bilang etika politik Cak Imin dan PKB tidak baik? Mendengar pertanyaan itu si raja dangdut tertawa.

Capres yang juga Raja Dangdut itu menjelaskan, semua biaya kampanye dirinya untuk PKB merupakan sumbangan dari pendukungnya. Misalnya tablig akbar juga dari para pendukung, pemasangan billboard di Jawa Barat, juga dari pendukung. "Yang namanya pembentukan posko-posko Riffori, juga atas nama pendukung dan mereka biayai, mereka menyerahkan gedung, biaya segala macam. Saya diundang meresmikan, biaya transportasi tiket dan lainnya, juga mereka yang membiayai," tukas Rhoma Irama.

Oleh sebab itu, sambung Rhoma Irama, wajar bila pendukungnya kecewa. Tim Rhoma Irama, di antaranya para ulama, habaib, Fahmi Tamami (Forum Silaturahmi Ta'mir Masjid dan Musala Indonesia), anggota NU struktural maupun kultural, kecewa terhadap PKB. "Pendukung Rhoma sakit hati, mereka mati-matian, keluar tenaga, dana, untuk membesarkan PKB tanpa dihargai sedikit pun," ketus Rhoma Irama ketika dihubungi wartawan, Minggu (11/5/2014).

Pendukung Rhoma Irama yang tergabung dalam Forum Ulama Habaib Betawi (Fuhab) dan Riforri (Rhoma Irama For Republik Indonesia) telah mengancam menarik dukungan kepada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Hal itu terkait tidak jelasnya pencapresan Rhoma di PKB. “(Narik dukungan) itu pendapat pendukung saya. Saya tentu harus menentukan sikap sendiri,” ungkap si Raja Dangdut, Rhoma Irama di hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (28/4/2014).

Rhoma Irama menuturkan, sah-sah saja pendukungnya mengutarakan pendapat. Namun, bagi Rhoma Irama yang terpenting PKB harus mengadakan rapat kerja nasional (Rakernas) untuk menentukan figur yang akan diusung sebagai calon presiden (Capres) maupun calon wakil presiden (Cawapres) mendatang.

Menurutnya itu untuk menghindarkan pandangan-pandangan negatif yang berkembang di masyarakat terhadap PKB. "Dengan adanya Rakernas itu semua clear. Siapa yang dicapreskan atau cawapreskan jelas," tuturnya.

Rhoma Irama pun tak mau disebut sebagai vote getter belaka untuk PKB. Menurutnya dia sudah berbuat yang terbaik untuk PKB yakni turut membesarkan dan berkontribusi menyumbang suara. "Tidak (sakit hati). Apa yang saya lakukan untuk PKB tidak ada perbuatan yang sia-sia. Saya ikut besarkan PKB," tukasnya.

Bukan hanya Rhoma Irama yang kecewa dengan pilihan sikap politik PKB, tapi pendukungnya di seluruh Indonesia juga. Para pendukung Rhoma Irama kecewa karena usahanya membantu perolehan suara PKB tidak dihargai sedikitpun.

Pasca-keputusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan membatalkan mencalonkan Rhoma Irama sebagai calon presiden (capres), para fans si Raja Dangdut, sapaan akrab Rhoma Irama, langsung bereaksi.

Keputusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan batal mengusung Rhoma Irama sebagai calon presiden (capres), membuat fans Raja Dangdut itu murka. Salah satunya, Fans of Rhoma Irama dan Soneta (Forsa) Sumatera Selatan (Sumsel).

Basis pendukung Rhoma Irama di Sumatera Selatan langsung berkomentar terkait gagalnya Rhoma nyapres. Mereka memutuskan tak bakal mendukung Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ pada pemilihan umum presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang.

Keputusan itu diambil berdasarkan hasil musyawarah pendukung Raja Dangdut yang tergabung dalam Fans of Rhoma Irama dan Soneta (Forsa) Sumatera Selatan (Sumsel). Keputusan itu imbas dari sikap pimpinan PKB yang tidak mengakui Rhoma Irama effect.

Sebagai bentuk kekecewaannya, Forsa Sumsel dan seluruh Forsa di tanah air bahkan di dunia, memboikot PKB dan tidak memilih capres dari koalisi partai tersebut. Tak hanya itu, seluruh sayap organisasi pendukung Rhoma Irama lain akan melepas logo dan lambang PKB dari semua atribut Rhoma Irama. (mer/tri/jos)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.468 Since: 05.03.13 | 0.1474 sec