Internasional

Demonstran Ingin Segera Singkirkan Pemerintah

Saturday, 10 Mei 2014 | View : 754

BANGKOK-SBN.

Polisi Thailand pada Jumat (9/5/2014) menembakkan gas air mata ke arah para demonstran antipemerintah, yang mendesak Senat membantu upaya mereka menggulingkan pemerintahan eks perdana menteri (PM) Yingluck Shinawatra. Yingluck Shinawatra dicopot dari jabatannya pada Rabu (7/5/2014) oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena terbukti menyalahgunakan kekuasaan.

Pemimpin demonstran Suthep Thaugsuban menyerahkan petisi kepada majelis tinggi parlemen. Isinya mendesak para senator agar menyingkirkan pemerintah yang dianggap sudah kehilangan seluruh legitimasinya dan menunjuk seorang perdana menteri (PM) yang baru. “Kami ingin presiden majelis tinggi dan para anggota majelis tinggi memikirkan jalan keluar bagi negeri ini,” ketus Suthep Thaugsuban.

Kendati pemerintahan sudah melemah tapi masih bertahan ini, seruan untuk menunjuk pemerintahan baru itu tidak memiliki dasar hukum.

Sebelum menyerahkan petisi, Suthep Thaugsuban memimpin ribuan demonstran bergerak dari perkemahan utamanya di sebuah taman kawasan bisnis Bangkok. Pergerakan demonstran itu mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

Pihak berwenang menyatakan sempat menggunakan meriam air dan gas air mata untuk menahan kelompok garis keras para demonstran antipemerintah yang dipimpin oleh seorang Bhiksu. Para demonstran berusaha merangsek ke arah klub polisi. Pusat darurat Erawan menyatakan enam orang dilarikan ke rumah sakit setelah insiden di klub polisi tersebut.

Setelah sempat tenang selama beberapa bulan, para demonstran kembali turun ke jalan-jalan Bangkok. Hal ini memicu lagi kekhawatiran pecahnya bentrokan antara kelompok-kelompok politik yang berseberangan.

Thailand masih terjebak dalam konflik politik. Pemerintah masih bertahan kendati menghadapi banyak masalah hukum dan demonstrasi di jalan-jalan Bangkok.

Para demonstran antipemerintah, yang menuduh klan Shinawatra meracuni Thailand dengan korupsi, mengatakan akan menunjuk pemerintahan yang baru pada Jumat (9/5/2014). Langkah ini bisa menimbulkan kekerasan politik lebih parah. “Besok (Jumat) kami akan mengambil langkah-langkah untuk mengangkat pemerintahan yang baru. Pemerintahan yang sekarang sudah kehilangan seluruh legitimasinya,” teriak Juru Bicara pemrotes Akanat Promphan.

Para demonstran ini dikenal akan pernyataan-pernyataan mereka yang hiperbolis dan tidak jelas apa dasar hukum mereka untuk mengutarakan berjanji seperti itu.

Tapi, Akanat Promphan berkata konstitusi Thailand memiliki pasal yang memungkinkan penunjukan badan eksekutif yang baru oleh Senat. “Penunjukan perdana menteri yang baru oleh kelompok antipemerintah ini adalah garis merah yang tidak bisa dilewati. Kelompok Kaus Merah akan melawan secara massal,” kata penulis dan akademisi berbasis di Thailand, David Streckfuss, merujuk pada para pendukung Shinawatra, yang akan menggelar unjuk rasa massal pada Sabtu (10/5/2014) di pinggiran kota Bangkok.

Situasi masih mudah memanas karena kelompok propemerintah Kaus Merah dijadwalkan berunjuk rasa di pinggiran kota Bangkok pada Sabtu (10/5/2014) hari ini.

Kedua pihak memiliki para pendukung garis keras bersenjata dan sejarah Thailand akhir-akhir ini tercoreng oleh aksi-aksi kekerasan politik. Keluarga Shinawatra memiliki basis massa rakyat kelas bawah di bagian utara dan timur laut negara. Lawan politiknya adalah kelas menengah dan loyalis kerajaan di wilayah selatan.

Selama enam bulan terakhir hingga tergulingnya Yingluck Shinawatra, aksi unjuk rasa antipemerintah berujung pada setidaknya  tewasnya 25 orang dan ratusan lainnya terluka terkena tembakan dan serangan granat. Mereka tewas dalam bentrokan dengan aparat keamanan.

Setelah Yingluck Shinawatra dicopot MK karena terbukti menyalahgunakan kekuasaan, pemerintahan Puea Thai pun mulai kehilangan kekuatannya.

Tapi, kelompok Kaus Merah yang marah akibat pencopotan Yingluck Shinawatra menuduh pengadilan bersekongkol dengan mafia jalanan untuk memberhentikan PM ketiga yang memiliki kaitan dengan pahlawan mereka Thaksin Shinawatra.

“Sepertinya kekuatan yang sama bersatu melawan pemerintah. Pengadilan dan lembaga independen dan kelompok di jalanan bekerja sama,” tutur Profesor Pusat Studi Asia Tenggara di Universitas Kyoto, Jepang, Pavin Chachavalpongpun.

Pada Kamis (8/5/2014), pemerintah mendapat sedikit ‘kemenangan’ setelah badan antikorupsi memutuskan tidak mendakwa lebih banyak anggota kabinet terkait skema subsidi beras.

Sebelumnya, timbul kekhawatiran badan itu akan mencopot seluruh anggota kabinet dan menciptakan kevakuman kekuasaan.

Jika itu terjadi, kekuasaan akan diisi pemimpin yang ditunjuk, sebagaimana diinginkan oleh kubu pemrotes antipemerintah. (afp)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.491.109 Since: 05.03.13 | 0.3079 sec