Hukum

Sri Mulyani Merasa Dikelabui Bank Indonesia

Friday, 02 Mei 2014 | View : 790

JAKARTA-SBN.

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Indonesia Bersatu sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang kini menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati, mencapai puncak kekesalannya karena dana talangan ke Bank Century terus bertambah. Dia bahkan sampai melontarkan pernyataan "bisa mati berdiri" bila dana talangan terus-terusan membengkak. Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Indonesia Bersatu sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Sri Mulyani Indrawati mengakui sempat berkelakar bisa mati berdiri ketika mengurai masalah Bank Century. Sebab saat itu, menurut Sri Mulyani Indrawati, biaya menutup modal Bank Century, terus merangkak dari hitungan awal pihaknya. “Kalau angkanya meloncat-loncat seperti itu saya bisa mati berdiri," kata Sri Mulyani Indrawati saat bersaksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Dijelaskan Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) pada tanggal 20-21 November 2008, ditetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Kemudian, ditetapkan juga kebutuhan biaya menyelamatkan Bank Century dengan penambahan modal adalah Rp 632 miliar. Namun, beberapa hari usai rapat tersebut, ternyata Sri Mulyani Indrawati ditemui mantan pejabat Bank Indonesia, Darmin Nasution,di Padang, Sumatera Barat, yang mengatakan bahwa penambahan modal Bank Century lebih besar dari hitungan awal. "Saya jadi berpikir, kalau Bank Century seperti ini, bagaimana dengan bank yang lain? Waktu itu BI juga menyatakan ada 18 bank yang kesulitan modal dan lima bank yang kondisinya mirip Bank Century,” ungkap Sri Mulyani Indrawati bersaksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Pengelolaan Moneter, Budi Mulya (BM) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Beberapa hari kemudian, mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Indonesia Bersatu sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Sri Mulyani Indrawati mengatakan dirinya diberi tahu ternyata biaya menyelamatkan Bank Century membengkak menjadi Rp 2,6 triliun dan masih terus bertambah. Dia lantas menanyakan alasannya kepada Bank Indonesia (BI).

Dalam dakwaan Budi Mulya, Sri Mulyani disebut berperan memimpin rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada 21 November 2008 yang menetapkan Bank Century sebagi bank gagal berdampak sistemik. Karena penetapan ini, Bank Century mendapat dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun yang dicairkan dalam empat tahap. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) itu dipimpin Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Adapun salah satu anggotanya adalah Gubernur Bank Indonesia Boediono.

Angka yang dimaksud Sri Mulyani Indrawati adalah posisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Century yang menurun drastis dari angka ketika ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik pada Jumat dinihari, 21 November 2008. Pada saat rapat penetapan itu, sambung dia, BI menyajikan data per 31 Oktober 2008 dengan posisi CAR minus 3,53 persen. Namun pada Senin, CAR Century turun drastis menjadi minus 35,95 persen.

Akibatnya, dana talangan yang pada saat rapat  KSSK Century diputuskan hanya sebesar Rp 632 miliar agar posisi CAR mencapai  8 persen, membengkak. Karena CAR menurun, akhirnya Lembaga Penjamin Simpanan mengucurkan dana talangan Rp 1,7 triliun. “Saya merasa sangat kaget dengan angka yang berubah dari Rp 632 miliar menjadi Rp 2,6 triliun, atau CAR yang dari minus 3,5 jadi 35 persen lebih dalam waktu hanya dalam sehari sesudah weekend," beber Sri Mulyani Indrawati yang dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura.

Dana itu terus bertambah menyusul laporan dari manajemen baru Bank Century bahwa surat-surat berharga milik bank itu macet,  serta adanya beberapa masalah kredit fiktif dan kredit macet. Pada akhirnya LPS harus mengucurkan dana Rp 6,7 triliun ke Bank Century dalam beberapa tahap.

Menghadapi masalah tersebut, mantan Ketua Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) itu merasa kewalahan. Dia bahkan menilai seperti dikelabui oleh pihak Bank Indonesia (BI). "Dalam rapat lanjutan, saya pernah mengatakan 'saya bisa mati berdiri kalau angkanya berubah-ubah dan loncat seperti itu'," imbuh Sri Mulyani Indrawati yang pernah terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007. (tri/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.505 Since: 05.03.13 | 0.1453 sec