Hukum

Perdebatan Sengit Mantan Menkeu Dengan Jaksa KPK

Friday, 02 Mei 2014 | View : 1012

JAKARTA-SBN.

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Indonesia Bersatu sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang kini menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati kerap berseteru sengit dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam mempertahankan keterangannya ketika bersaksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Pengelolaan Moneter, Budi Mulya (BM), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Bahkan tidak jarang, antara Sri Mulyani Indrawati dengan Jaksa KPK, terjadi perdebatan.

Satu di antara perdebatan itu, ketika Ketua Tim Jaksa KMS Roni kembali bertanya mengenai krisis ekonom global di tahun 2008, yang juga berimbas ke Indonesia. Padahal di awal persidangan, mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) itu sudah menjelaskan panjang lebar soal potensi terjadinya krisis keuangan di Indonesia. “Bapak Jaksa ini, apa saya harus ulang lagi? Krisis dari rusaknya perbankan belum terjadi. Saya cegah karena tanda-tanda menuju ke situ sudah semakin nyata,” terang Sri Mulyani Indrawati lagi.

Mendengar itu, Jaksa Roni langsung mempertanyakan alasan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono ketika itu yang memberikan pernyataan kondisi perbankan Indonesia sehat. Padahal nyatanya bertolak belakang, dengan potensi yang dipaparkan Sri Mulyani Indrawati. “Bisa kontradiksi seperti itu, bagaimana itu?” tanya Jaksa Roni.

Mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu tersebut, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan yang dilakukan Gubernur BI waktu itu Boediono adalah untuk menjaga ketenangan dalam masyarakat. Menurutnya, jika diungkap kondisi sebenarnya saat itu, maka akan semakin terjadi kerusuhan.

"Lalu, masyarakat resah nggak?" tanya Jaksa Roni.

Mantan Gubernur Bank Indonesia, Boediono, diketahui pernah mengeluarkan rilis kepada sejumlah media mengenai kondisi perbankan Indonesia yang stabil dan sehat.

Rilis itu dikirim oleh BI pada tanggal 14 November 2008 silam. Intinya rilis tersebut menegaskan kondisi perbankan Indonesia tetap stabil dan mantap.

Padahal di satu sisi, kondisi perbankan dunia sedang terguncang hebat akibat persoalan Lehman Brothers. Di sejumlah wilayah di Indonesia, juga mulai timbul rumor adanya antrean di bank.

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Indonesia Bersatu Sri Mulyani Indrawati yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Pengelolaan Moneter, Budi Mulya (BM), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (2/5/2014), juga menjelaskan latar belakang terbitnya rilis tersebut dari Wapres Boediono tersebut. “Tujuannya untuk menenangkan masyarakat,” jelas Sri Mulyani Indrawati, yang pernah menjabat sebagai Ketua KSSK.

Apabila Gubernur BI Boediono saat itu mengumumkan kondisi perbankan Indonesia yang mulai terguncang, Sri Mulyani Indrawati yakin akan terjadi kekisruhan perbankan. Publik diprediksinya akan mengalami kepanikan luar biasa.

"Seandainya anda sebagai Gubernur BI mengatakan sistem keuangan tidak stabil, yah itu sama saja mengundang orang untuk panik. Situasi saat itu kami ingin tenangkan masyarakat," urai Sri Mulyani Indrawati yang dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura.

Menurut wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia yang diembannya mulai 1 Juni 2010, Sri Mulyani Indrawati, di tahun 2009, masyarakat akhirnya tenang karena tahu Bank Century sudah diambil alih LPS. Bahkan, antrian nasabah yang akan menarik uangnya di Kantor Cabang Bank Century Surabaya dan Medan mulai berkurang.

Namun kondisi tersebut justru dipertanyakan Jaksa Roni. Karena faktanya uang yang ditanam di Bank Century itu merupakan milik negara.

"Kalau ketenangan masyarakat nilainya berapa kira-kira?" tanya balik Sri Mulyani Indrawati ke Jaksa Roni.

"Oh tidak bisa diukur," jawab Jaksa Roni.

"Bisa dong pak," kata Sri Mulyani Indrawati yang pernah terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.

"Dari mana bisa diukurnya?" tanya balik Jaksa Roni.

Menurut mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu tersebut, Sri Mulyani Indrawati, saat itu ada Rp 1.700 triliun uang rakyat di seluruh bank. Lalu ada juga 82 juta akun rekening. Menurutnya angka-angka itulah yang dijaga agar tak terjadi kepanikan.

"Itulah nilai keamanannya. Makanya mudarat paling kecil saya ambil tapi saya tahu manfaat besar terhadap Indonesia dan itu terbukti,” pungkas Sri Mulyani Indrawati yang dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. (tri/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.538.857 Since: 05.03.13 | 0.1905 sec