Politik

Dua Staf Pribadi Wagub DKI Gagal Jadi Anggota DPRD DKI Jakarta

Tuesday, 29 April 2014 | View : 2832

JAKARTA-SBN.

Staf pribadi Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa 'Ahok', Yudha Permana dan Michael Victor Sianipar, gagal melenggang ke DPRD DKI Jakarta dalam Pemilihan umum legislatif (Pileg) 2014.

Namun, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa ‘Ahok’ mengaku tidak mempermasalahkan kedua staf pribadinya, Yudha Permana dan Michael Victor Sianipar, gagal melenggang ke DPRD DKI Jakarta dalam Pemilihan Legislatif (pileg) 2014 dan tidak menjadi anggota DPRD DKI Jakarta karena kedua stafnya itu tidak melakukan politik uang sebagaimana yang umumnya terjadi di kalangan caleg-caleg senior.

Tapi, kendati demikian, mantan anggota DPR RI Komisi II tersebut, Basuki Tjahaja Purnama kecewa dan masih menyesalkan terhadap perilaku dan sikap masyarakat Jakarta karena memilih calon legislatif (caleg) yang memberikan uang. "Untuk pemula, mereka itu kan enggak mau kasih uang (ke masyarakat), itu yang jadi masalah. Makanya, saya bilang, saya sayangkan di Jakarta masih banyak yang terima uang," papar Basuki Tjahaja Purnama, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (29/4/2014).

Apabila di Jakarta ada DPRD tingkat II Kabupaten/Kota seperti halnya di Bangka Belitung, sambung Basuki Tjahaja Purnama, maka mereka berdua, Yudha Permana dan Michael Victor Sianipar diyakininya mampu dapat lolos menjadi anggota legislatif karena sudah berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 suara. Ini sebab, untuk menduduki posisi tersebut, paling tidak hanya dibutuhkan dengan mengumpulkan sekitar 3.000 suara.

Sementara itu, untuk mendapatkan satu kursi di DPRD DKI Jakarta, seorang calon legislatif (caleg) harus dapat mengumpulkan sebanyak 35.000 suara.

Kedua staf pribadi Basuki Tjahaja Purnama itu sebelumnya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Partai Gerindra. Namun berdasarkan rapat pleno penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, perolehan suara keduanya tidak mencukupi untuk mendapatkan 1 kursi di DPRD DKI Jakarta yang syaratnya 35.000 suara.

Sebab menurut Basuki Tjahaja Purnama, Ahok menambahkan panggung politik yang paling murah dan paling mudah diraih adalah DPRD tingkat II. Oleh karena itu, sehingga, mau tidak mau, kedua staf pribadinya harus bersaing di DPRD tingkat I atau provinsi.

"Itu yang saya bilang, ketika semua orang pakai uang, ini masih ada dua orang jujur, seharusnya warga dapat memilih untuk menguji karakter mereka. Tapi, sudah ada 3.000-an lebih warga yang memilih mereka ya sudah bagus," terang mantan Bupati Belitung Timur ini, Basuki Tjahaja Purnama.

Kedua staf pribadi Basuki Tjahaja Purnama itu mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Partai Gerindra.

Setelah melalui perhitungan manual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI, perolehan suara keduanya tidak mencukupi untuk mendapatkan satu kursi di DPRD DKI Jakarta.

Yudha Permana merupakan calon legislatif DPRD DKI dari daerah pemilihan (dapil) 10 Jakarta Barat dengan nomor urut 6 yang mencakup Kebon Jeruk, Kembangan, Grogol Petamburan, Taman Sari, Palmerah. Tetapi, ia hanya memperoleh 4.439 suara.

Sementara itu, Michael Victor Sianipar yang menjadi calon legislatif (caleg) dapil 1 Jakarta Pusat dengan nomor urut 11 yang meliputi Cempaka Putih, Gambir, Kemayoran, Menteng, Johar Baru, Sawah Besar, Senen, Tanah Abang dan hanya memperoleh 3.088 suara.

Keduanya berada di nomor urut buncit, Michael Victor Sianipar mendapat nomor urut 11 dan Yudha Permana mendapat nomor urut 6.

Ada 106 kursi DPRD DKI yang diperebutkan. Dari sekitar daftar pemilih tetap (DPT) 7.001.520, paling tidak tiap caleg harus dapat mengumpulkan hingga 35.000 suara.

Beberapa waktu lalu, sebelum hari pencoblosan, pada (9/4/2014) silam, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, dia berharap masyarakat dapat memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Jakarta.

Awalnya, Michael Victor Sianipar dan Yudha Permana enggan terjun ke dunia politik. Mantan anggota DPR RI Komisi II ini, Basuki Tjahaja Purnama menceritakan, sebelum Michael Victor Sianipar memutuskan menjadi caleg, ia telah mendapat beasiswa ke Amerika Serikat untuk melanjutkan sekolah politik.

Basuki Tjahaja Purnama pun mencoba menjelaskan kepada Michael Victor Sianipar. Ia menceritakan, jika orang-orang yang pintar dan memiliki pendidikan tinggi tidak masuk ke politik, maka akan berpengaruh buruk pada bangsa Indonesia. Dengan demikian, jika nasib Indonesia tidak baik, maka setengah kesalahan terdapat pada Michael Victor Sianipar.

Setelah mendengar petuah Basuki Tjahaja Purnama, Michael Victor Sianipar pun memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa itu dan menjadi calon legislatif (caleg).

Seperti Michael Victor Sianipar, Yudha Permana juga enggan terjun ke dunia politik. Sebelumnya Yudha Permana bekerja di Amerika Serikat.

Ketika pulang ke Indonesia, Yudha Permana magang di Balai Kota DKI Jakarta mengikuti kerja Basuki Tjahaja Purnama.

Melihat kerja orang nomor 2 di DKI Jakarta itu rupanya membuat Yudha Permana tertarik untuk dapat mengenal birokrasi Pemprov DKI Jakarta dan mengetahui bagaimana sebuah kebijakan itu terbentuk.

Selain Yudha Permana dan Michael Victor Sianipar, lanjut dia, sebenarnya ada beberapa staf lainnya yang ikut menjadi calon legislatif (caleg). Namun saat mendaftar di partai, nama mereka tercoret dan tidak memenuhi persyaratan.

Mantan Bupati Belitung Timur ini, Basuki Tjahaja Purnama tidak memberi bekal apa pun kepada kedua stafnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengingatkan Michael Victor Sianipar dan Yudha Permana untuk tidak melakukan politik uang. Oleh karena itu, saat kampanye strategi yang mereka gunakan adalah pembagian kartu nama dan mendatangi masyarakat.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menambahkan, dia tidak bisa memaksa warga untuk memilih kedua stafnya. "Tapi, saya berharap mereka terpilih, agar menjadi model bahwa kampanye tidak harus keluar uang banyak. Selain itu, mengajarkan kepada orang yang tidak mau masuk politik untuk terpanggil mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, itu hal yang bagus," pungkas Basuki Tjahaja Purnama. (tri)

See Also

Sosialisasi Pilkada Jadi Tantangan KPU
Bawaslu RI Pastikan Pilkada Luber Dan Jurdil
Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.289.028 Since: 05.03.13 | 0.2335 sec