Hukum

Mantan Kepala SKK Migas Tuding Pelatih Golfnya Deviardi

Tuesday, 15 April 2014 | View : 837

JAKARTA-SBN.

Terdakwa suap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) membacakan nota pembelaan atau pledoi setebal 26 halaman di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (15/4/2014). Rudi Rubiandini duduk sebagai terdakwa suap saat menjabat sebagai Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Pembelaan berjudul “Restorative Justice, memperbaiki: ‘Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga’” itu dibacakan atas tuntutan 10 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Meski demikian, tersangka mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) membantah jika semua penerimaan tersebut diketahui olehnya.

Rudi Rubiandini menuding pelatih golf pribadinya, Deviardi alias Ardi memanfaatkan posisinya yang terdesak dengan mengatasnamakan dirinya untuk menerima titipan dari sejumlah pihak. “Ternyata baru tahu saat ini, Deviardi, seorang yang penuh kreativitas dan inovasi, malah mengatasnamakan saya dan memfitnah seolah-olah apapun yang dilakukannya atas perintah atau sepengetahuan saya,” tegas Rudi Rubiandini.

Rudi Rubiandini menuding pelatih golfnya, Deviardi alias Ardi memanfaatkan posisinya yang "terdesak" untuk menerima titipan dari sejumlah pihak. Dia menyebut Deviardi menyerahkan duit US$ 10 ribu pada awal Mei 2013, US$ 20 ribu dan US$ 150 ribu pada Juni 2013. Uang-uang menurut Rudi Rubiandini tidak digunakan melainkan disimpan.

Rudi Rubiandini mencontohkan salah satunya adalah uang dari Artha Meris Simbolon sebesar US$ 522,500 yang diakui Deviardi alias Ardi tidak pernah diberikan kepada dirinya. “Diakui Artha Meris Simbolon tidak pernah memberi sesuatu ataupun uang kepada saya agar saya melakukan sesuatu yang melanggar tugas jabatan saya,” beber Rudi Rubiandini.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai Rudi Rubiandini terbukti menerima suap terkait pelaksanaan proyek di SKK Migas dan melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Terdakwa suap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) membantah melakukan serangkaian perbuatan yang dikualifikasi sebagai Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), sebagaimana dalam tuntutan ataupun dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebaliknya, Rudi Rubiandini kembali menyalahkan bekas pelatih golfnya, Deviardi yang melakukan serangkaian perbuatan, seperti menyimpan, membelanjakan, mentransfer ataupun menukarkan mata uang asing, tanpa diketahuinya.

Menurut dia, Deviardi lah yang melakukan serangkaian perbuatan, seperti menyimpan, membelanjakan, mentransfer, ataupun menukarkan mata uang asing, tanpa diketahuinya.

“Uang yang disimpan Deviardi, baik yang di Safe Deposit Box (SDB) Pondok Indah maupun yang di SDB CIMB Singapura bukan milik saya dan tidak atas penguasaan saya. Saya tidak pernah menyuruh untuk menitipkan uang di sana,” kata Rudi Rubiandini saat membacakan pledoi atau nota pembelaan pribadinya dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (15/4/2014)..

Terkait pembelian sejumlah barang, Rudi Rubiandini juga menegaskan tidak pernah memerintahkan Deviardi alias Ardi. Tetapi, Deviardi alias Ardi sendiri yang berinisiatif membeli sejumlah barang untuk dirinya, seperti sebuah mobil merek Volvo, jam Rolex, sebuah mobil Toyota Camry, jam Citizen, dan tanah di Jalan H. Ramli, Jakarta Selatan.

Selain itu, dalam pledoinya, Rudi Rubiandini juga menegaskan tidak pernah memerintahkan Deviardi ataupun istrinya, Lidya menukarkan mata uang asing, seperti SIN$ 90,000. “Semua yang ditukarkan Asep Toni atas perintah saya total sebesar SIN$ 200,000 adalah uang pribadi saya sendiri. Uang yang disetor Toni total Rp 300 juta adalah kepunyaan saya sendiri," tegas Rudi Rubiandini.

Tetapi, lanjut Rudi Rubiandini, uang yang ada pada Deviardi, yaitu US$ 60,000, SIN$ 252,000 dan Rp 1.028.009.137 bukanlah miliknya. Melainkan, milik Deviardi.

Oleh karena itu, Rudi Rubiandini menegaskan tuntutan Jaksa terkait TPPU harus batal demi hukum. Sebab, berdasarkan fakta hukum tidak pernah terbukti memerintahkan Deviardi, seperti menitipkan, menempatkan, membelanjakan, membayarkan, mengalihkan, menukarkan mata uang dan lain-lain.

Sebelumnya, Rudi Rubiandini dituntut 10 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider tiga bulan kurungan.

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.499.783 Since: 05.03.13 | 0.2733 sec