Hukum

Rudi Rubiandini Sangkal Lakukan TPPU Di Kasus SKK Migas

Tuesday, 15 April 2014 | View : 876

JAKARTA-SBN.

Terdakwa suap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) membacakan nota pembelaan atau pledoi setebal 26 halaman di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (15/4/2014). Rudi Rubiandini duduk sebagai terdakwa suap saat menjabat sebagai Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) tampak mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang.

Pembelaan berjudul “Restorative Justice, memperbaiki: ‘Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga’” itu dibacakan atas tuntutan 10 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sedangkan terkait Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Rudi Rubiandini juga melimpahkannya kepada Deviardi alias Ardi. Terdakwa suap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) menyangkal melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Rudi Rubiandini menuding pelatih golf pribadinya, Deviardi alias Ardi yang melakukan perbuatan yang dituntut Jaksa. “Tuntutan yang ditimpakan kepada saya yang fakta hukumnya dilakukan Deviardi dan tidak pernah saya perintahkan apapun dalam hal ini menitipkan, menempatkan, membelanjakan, membayarkan, mengalihkan, menukarkan mata uang dan lain-lain tidak pada tempatnya dibebankan kepada saya harus batal demi hukum," kata Rudi Rubiandini membacakan nota pembelaannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (15/4/2014).

Rudi Rubiandini menyebut sejumlah uang yang disimpan Deviardi di safe deposit box, bukan miliknya. "Saya tidak pernah menyuruh untuk menitipkan uang di sana," ujarnya.

Dia menyebut Deviardi berinisiatif membelikan sejumlah barang di antaranya mobil Volvo, jam Rolex, mobil Toyota Camry, jam Citizen, dan tanah di Jalan H. Ramli, Jakarta Selatan.

Rudi Rubiandini membantah memerintahkan Deviardi menukarkan mata uang asing menjadi pecahan rupiah.

Dalam permohonannya Rudi Rubiandini meminta Majelis Hakim memerintahkan Jaksa mengembalikan barang sitaan termasuk uang pribadinya sebesar US$ 190,100 dan SIN$ 187,000. “Saya memohon setelah tanggal 22 April 2014, hari terakhir penahanan saya di Rutan KPK untuk segera ditempatkan di LP Sukamiskin, Bandung terlepas dari status inkracht atau belum atas perkara saya ini mengingat keluarga dan ibu saya sedang sakit terlalu sulit mengunjungi saya," pintanya.

Rudi Rubiandini dinilai Jaksa terbukti menerima uang dari sejumlah pihak yang terkait dengan SKK Migas.

Rudi Rubiandini selaku mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dituntut hukuman  dengan pidana penjara selama 10 tahun dan denda Rp 250 juta subsider tiga bulan kurungan.

Sebab, dinyatakan terbukti menerima hadiah dan janji, berupa uang sebesar SIN$ 200 ribu, US$ 900 ribu dari Widodo Ratanachaitong selaku boss Kernel Oil Pte. Ltd. (KOPL) Singapura dan Fossus Energy melalui Direktur Operasional PT. Kernel Oil Pte Ltd Indonesia, Simon Gunawan Tanjaya. Serta, US$ 522,500 dari Artha Merish Simbolon selaku Dirut PT. Kaltim Parna Industri (KPI).

Terhadap Rudi Rubiandini juga dikatakan terbukti melakukan pencucian uang dari sejumlah uang yang diterimanya dari Widodo Ratanachaitong dan Artha Merish Simbolon.

Jaksa Riyono menyatakan berdasarkan fakta persidangan terdakwa menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menhibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga dari perbuatan yang patut diduga dari hasil tindak pidana.

Dalam pertimbangannya, Jaksa Riyono mengatakan terdakwa didakwa melakukan pencucian uang atas harta yang diterima dari Widodo Ratanachaitong dan Artha Merish Simbolon. Walaupun, dalam persidangan terdakwa berusaha membuktikan penghasilan dan pengeluaran yang seimbang.

Jaksa Andi Suharlis melanjutkan, sejak 11 Januari 2013 sampai 13 Agustus 2013, terdakwa bersama-sama dengan Deviardi (perantara) menitipkan uang US$ 772.500 dan SIN$ 800.000, membelanjakan dan membayarkan Rp 3.679.301.000.

Kemudian, menempatkan uang US$ 300.000, mengalihkan Rp 300 juta, menukarkan mata uang asing mencapai Rp 2.989 miliar.

Menurut Jaksa Andi Suharlis, semua itu dilakukan dengan tujuan menyembunyikan dan menyamarkan asal usul uang yang berasal dari Widodo Ratanachaitong dan Artha Merish Simbolon dilakukan dengan beberapa cara.

Di antaranya, disimpan dengan dititipkan ke Deviardi. Kemudian, oleh Deviardi ditindaklanjuti dengan memasukan uang USD 250.000, USD 22.500, USD 50.000, USD 200.000 dari Artha Meris Simbolon ke Safe Deposite Box (SDB) atas nama Deviardi pada Bank CIMB Niaga cabang Pondok Indah.

Selanjutnya, Deviardi memasukan uang US$ 50.000 dari Iwan Ratman dalam SDB atas nama Deviardi pada Bank CIMB Niaga cabang Pondok Indah yang sama.

Demikian juga, uang sebesar US$ 200.000 dari Gerhard Rumesser, uang SIN$ 600.000 dari Yohanes Widjonarko, uang SIN$ 200.000 dari Widodo Ratanachaitong dimasukkan ke rekening atas nama Deviardi pada Bank CIMB Singapura. Serta, uang US$ 200.000 ke SDB milik Rudi Rubiandini pada Bank Mandiri Outlet Prioritas Thamrin No Box 303 dan uang US$ 100.000 di brangkas milik Rudi Rubiandini di kantor SKK Migas.

Tetapi, atas uang yang disimpan tersebut dibelanjakan oleh Rudi Rubiandini. Di antaranya, membeli mobil Volvo XC90 3.2 R Design seharga Rp 1,6 miliar. Dengan pembayaran uang muka Rp 498,450 juta dibayarkan oleh Deviardi dengan menukarkan US$ 50.000 di Money Changer PT. Dua Putra Valutama kemudian ditransfer ke BCA atas nama PT. Indobuana Autoraya, pada 7 Maret 2013 di dealer mobil PT. Indobuana Autoraya Suryopranoto, Jakarta Pusat.

Selanjutnya, terdakwa pada Mei 2013 membeli rumah di Jalan Haji Ramli No.15, Menteng Dalam, Tebet Jakarta Selatan. Untuk membelinya terdakwa meminta Deviardi untuk menukarkan uang dolar Singapura dengan uang senilai Rp 2 miliar.

Terdakwa juga, meminta Deviardi membelikan jam Rolex Datejust seharga US$ 11.500 atau senilai Rp 106 juta untuk diberikan kepada Elin Herlina, istri terdakwa. Sedangkan, untuk terdakwa sendiri meminta Deviardi membelikan jam tangan merek Citizen Echo Drive Saphire warna silver.

"Terdakwa membeli mobil Toyota Sedan Camry seharga Rp 669 juta dari dealer Toyota Auto2000 Cilandak, Jakarta Selatan. Untuk menyamarkan diatasnamakan Deviardi dengan alamat Jl Holtikultura No.15 RT008/006, Jati Padang, Pasar Minggu," papar Jaksa Andi Suharlis.

Selain itu, Rudi Rubiandini juga dikatakan membayarkan sejumlah uang senilai Rp 405.051.500 kepada Mayaza Wedding Organizer di Jalan Cigadung Raya Barat Bandung sebagai biaya cicilan pernikahan anaknya.

Tidak hanya membelanjakan, Rudi Rubiandini juga dikatakan mengalihkan sejumlah uang yang berada di brangkas terdakwa di ruang kerja kantor SKK Migas maupun pada safe deposit box Bank Mandiri Thamrin melalui Asep Toni ke beberapa rekening antara lain atas nama Rudy Gunawan sebesar Rp 100 juta, Ela Riyela Ria Soch sebesar Rp 50 juta, Refabbia Adha dan Rizkie Belandie masing-masing Rp 50 juta. Serta Rp 100 juta kepada Rafi Herfini.

Kemudian, terdakwa disebut memerintahkan Deviardi menukarkan mata uang dolar Singapura di PT. Dua Putra Valutama dan PT. Gunung Putri Mandiri senilai Rp 700 juta. Selanjutnya, uang tersebut dikirimkan ke adik terdakwa Yuni Ria Arlon.

Tidak hanya melalui Deviardi, terdakwa Rudi Rubiandini juga diketahui memerintahkan Trikusuma Lydia menukarkan sebesar SIN$ 20 ribu, SIN$ 50 ribu di money changer PT. SLY Danamas. Kemudian, masing-masing ditransfer ke Rudy Gunawan Rp 150 juta dan Rp 350 juta. Sisanya diambil terdakwa.

Terdakwa juga memerintahkan Trikusuma Lydia menukarkan sebesar SIN$ 20.000 di money changer PT. SLY Danamas. Selanjutnya, ditransfer ke Icah Aisyah Rp 50 juta. Sisanya diserahkan ke terdakwa.

Selanjutnya, memerintahkan Asep Toni menukarkan mata uang dolar Singapura 160.000 di PT. Jala Exchange Sejahtera sebanyak 9 kali dengan total penukaran berjumlah Rp 1,597 miliar. Kemudian disetorkan ke beberapa bank.

Oleh karena itu, sisa uang di SDB milik Deviardi US$ 60.000 dan SIN$ 252.000. Sedangkan, sisa di rekening Deviardi pada Bank CIMB cabang Pondok Indah sebesar Rp 1.028.099.137. Terhadap sisa uang tersebut saat ini telah disita KPK.

Selain itu, Jaksa KPK meyebut Rudi Rubiandini melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) pada 11 Januari 2013-13 Agustus 2013. Ini dilakukan Rudi Rubiandini dengan cara menitipkan uang sejumlah US$ 772,500 dan SIN$ 800 ribu. Membelanjakan dan membayarkan sejumlah Rp 3,679 miliar, menempatkan uang sejumlah US$ 300 ribu, mengalihkan uang Rp 300 juta, menukarkan mata uang asing Rp 2,989 miliar. “Terdakwa tidak bisa membuktikan uang yang dimiliki berasal dari penghasilan yang sah," kata Jaksa Riyono membaca surat tuntutan, Selasa (8/4/2014).

Rudi Rubiandini dijerat dengan melanggar Pasal 12 huruf a, Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 3 UU No.8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.483.194 Since: 05.03.13 | 0.2988 sec