Hukum

Kasus Bank Century, Janggal

Friday, 11 April 2014 | View : 1488

JAKARTA-SBN.

Saksi lain, notaris yang mengurus pengikatan jaminan pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP), Buntario Tigris Darmawa NG juga mengaku diminta mendadak untuk mengurus akta pengikatan perjanjian pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan jaminan fidusia dari Bank Indonesia (BI) ke Bank Century.

Pada 14 November 2008, notaris Buntario Tigris Darmawa NG sekitar pukul 12.00 WIB ditelepon Direktur Bank Century Hamidi untuk segera datang ke kantor Bank Indonesia (BI) mengurus akte pengikatan dan penjaminan. "(Kata Pak Hamidi) ada perjanjian mendadak, saya belum tahu perjanjian apa," ungkap notaris Buntario Tigris Darmawa NG. saat bersaksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur BI bidang IV Pengelolaan Moneter dan Devisa dan Kantor Perwakilan (KPW) Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Ternyata ia diminta untuk mengurus akta pengikatan perjanjian pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan jaminan fidusia dari BI ke Bank Century dengan nilai plafon FPJP yang akan diberikan Rp 502,07 miliar untuk 14 hari kedepan dan bisa diperpanjang sampai 40 hari. Bank Century menjaminkan aset berupa surat utang senilai Rp 10 miliar dan aset kredit nasabah senilai Rp 467 miliar.

BI diwakili oleh Eddy Sulaeman Yusuf selaku Direktur Direktorat Moneter, Sugeng Waluyo yaitu Kepala Biro Pengembangan dan Pengaturan Moneter dan Dody Budi Waluyo selaku Kepala Biro Operasi Moneter sedangkan Bank Century diwakili Direktur Utama Bank Century Hermanus Hasan Muslim dan Hamidi yang menjabat Wakil Dirut Century.

Akte jaminan itu baru selesai ditandatangani 15 November 2008 pukul 01.00 WIB dini hari artinya pembuatan akta dan penandatangan dilakukan di hari yang berbeda. "Ini pengalaman saya sebagai notaris, ini belum pernah kejadian sampai dua hari," tambah notaris Buntario Tigris.

Notaris Buntario Tigris juga mengakui bahwa saat akta perjanjian ditandatangani, ada beberapa dokumen yang belum dilengkapi Bank Century, namun dokumen yang ada sudah memenuhi prosedur, sementara dokumen belum dianggap kurang siginfikan. “Yang utama sudah lengkap yaitu hak tanggungan nasabah itu sudah lengkap, yang kurang itu seperti data-data debitur dan lain-lain," jelas notaris Buntario Tigris Darmawa NG.

Notaris Buntario Tigris Darmawa NG yang juga dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan mengaku pernah diminta Bank Indonesia (BI) dan Bank Century agar memajukan tanggal penandatanganan akta pengikatan dan penjaminan antara Bank Indonesia (BI) dan Bank Century terkait pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). “BI dan Bank Century meminta mencatumkan tanggal 14 November 2008 sebagai tanggal pembuatan akta perjanjian FPJP, meski akta itu baru selesai tanggal 15 November 2008,” beber notaris Buntario Tigris saat bersaksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur BI bidang IV Pengelolaan Moneter dan Devisa dan Kantor Perwakilan (KPW) Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Notaris Buntario Tigris mengaku penandatangan akta perjanjian tersebut memang berbeda dengan pembuatan akta pada umumnya. Sebab, biasanya akta dibuat dan ditandatangani pada hari yang sama.

Pemberian FPJP sebesar Rp 689,3 miliar itu pun akhirnya dinilai sebagai kerugian negara oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK). Pasalnya, BPK menilai pemberian FPJP pada 14, 17, dan 18 November 2008 untuk Bank Century itu dianggap melanggar ketentuan. (id/jos)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.648.087 Since: 05.03.13 | 0.1645 sec