Hukum

KPK Panggil Machfud Suroso Terkait Gratifikasi Anas Urbaningrum

JAKARTA-SBN.

Komisi Pemberantasan Korupsi terus menelisik kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji yang menjerat mantan Ketua Umum Partai Demokrat dan mantan Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum.

Kali ini, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali juga memanggil Direktur Utama PT. Dutasari Citralaras, Machfud Suroso terkait penyidikan kasus dugaan penerimaan hadiah atau gratifikasi atau janji proyek Hambalang dan proyek-proyek lain dengan tersangka mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Machfud Suroso bakal menjadi saksi untuk Anas Urbaningrum. “Dia jadi saksi untuk AU (Anas Urbaningrum),” ungkap Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi Informasi KPK Priharsa Nugraha saat dikonfirmasi, Kamis (10/4/2014).

Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo membenarkan perihal pemeriksaan Machfud Suroso terkait kasus tersebut. “Diperiksa untuk tersangka AU (Anas Urbaningrum)," beber Jubir KPK, Johan Budi SP melalui pesan singkatnya, Kamis (10/4/2014).

Machfud Suroso sendiri sudah tiba di Gedung KPK sekitar pukul 10.00 WIB. Ia nampak mengenakan batik biru motif megamendung khas Cirebon.

Direktur Utama PT. Dutasari Citralaras, Machfud Suroso oleh KPK dimintai keterangan untuk melengkapi berkas tersangka mantan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) itu.

Namun, Machfud Suroso mengaku bila dirinya tidak mengetahui dipanggil dalam kasus apa. “Saya diperiksa saksinya Mas Anas. Tapi tidak tahu dalam kasus apa," tuturnya sambil masuk ke Gedung KPK.

Direktur Utama PT. Dutasari Citralaras Machfud Suroso rampung diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tersangka kasus dugaan korupsi proyek Hambalang itu diperiksa sebagai saksi untuk tersangka penerimaan hadiah atau gratifikasi, Anas Urbaningrum.

Usai diperiksa 4 jam oleh penyidik KPK, Machfud Suroso mengaku hanya ditanya penyidik 2 pertanyaan. "2 Pertanyaan saja," beber Machfud Suroso di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (10/4/2014).

Machfud Suroso yang diketahui sebagai kerabat Anas Urbaningrum itu tak menjelaskan lebih jauh, apa materi yang ditanyakan. Dia memilih bungkam bersama 2 ajudannya. Mereka bergegas masuk ke dalam mobil Daihatsu Terios berwarna silver bernomor polisi B 1257 SKY.

Machfud Suroso yang tadi pagi menenteng dokumen itu juga tak membawa apa-apa usai diperiksa. Diduga, dia telah menyerahkan dokumen yang dibawanya itu kepada penyidik.

Dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang ini, Machfud Suroso sudah dijadikan tersangka oleh KPK, sejak November tahun lalu.

Machfud Suroso dalam kasus proyek Hambalang ini sudah dijadikan tersangka oleh KPK sejak November 2013. Dia diduga menerima uang sebesar Rp 17,3 miliar dari PT. Adhi Karya. Uang sejumlah Rp 28 miliar juga ditransfer ke rekening PT. Dutasari Citralaras.

Uang tersebut diduga bukan merupakan sebagai pembayaran pekerjaan yang dilakukan PT. Dutasari Citralaras, tetapi realisasi pembayaran komisi sebesar 18 persen.

Uang itu diduga untuk dibagi-bagikan kepada para pejabat di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta beberapa politisi di DPR RI.

Machfud Suroso juga pernah membicarakan dengan Anas Urbaningrum terkait pengerjaan proyek Hambalang. Di mana Machfud Suroso mengatakan, bahwa Anas Urbaningrum sudah meminta agar Muhammad Nazaruddin mundur dari proyek Hambalang.

Bersamaan dengan Machfud Suroso, penyidik juga memanggil Alfa Widha Suara dari pihak swasta. Dia juga diperiksa sebagai saksi. "Sama dia juga jadi saksi," beber Priharsa Nugraha.

Dalam kasus penerimaan hadiah atau janji proyek Hambalang dan proyek-proyek lain ini, Anas Urbaningrum disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Mengacu pada pasal tersebut, Anas Urbaningrum terancam hukuman maksimal 20 tahun kurungan penjara.

Penyidik KPK juga menjerat Anas Urbaningrum dengan Pasal 3 dan atau Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010. Penyidik juga mengenakan Pasal 3 ayat (1) UU TPPU Tahun 2002 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Seperti dikabarkan sebelumnya, dalam penyidikan, KPK telah menyita dua bidang tanah di Kelurahan Mantrijero, Jogjakarta dengan luas 7.670 meter persegi dan 200 meter persegi atas nama Kiai Attabik Ali.

Penyidik KPK juga menyita tanah dan bangunan di Jalan Selat Makasar C9/22 di Duren Sawit Jakarta Timur. Kemudian tiga bidang tanah di Desa Panggungharjo, Bantul atas nama Dina Az yang merupakan anak Kiai Attabik Ali.

Anas Urbaningrum diduga menerima hadiah mobil Toyota Harrier dari PT. Adhi Karya dalam proses perencanaan proyek Hambalang.

Dan, seperti diketahui, Anas Urbaningrum juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penerimaan hadiah dari proyek Hambalang dan proyek lain.

Sebelumnya, dari pengembangan perkara penyidikan terkait dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terkait dugaan penerimaan dalam proyek Hambalang dan proyek lainnya, serta temuan sejumlah bukti, KPK menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka.

Selain gratifikasi, dalam pengembangannya penyidik KPK juga menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Saat ini suami Athiyyah Laila itu sendiri telah mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) KPK. Mantan Ketua Umum PB HMI ini ditahan sejak 10 Januari 2014 lalu.

Hingga kini, kasus yang menjerat mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu masih terus didalami oleh penyidik KPK sebelum dilimpahkan ke penuntutan perkara. (jos)

See Also

Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.428.494 Since: 05.03.13 | 0.1761 sec