Hukum

Saksi Benarkan Bank Century Amburadul Sejak Berdiri

Friday, 04 April 2014 | View : 866

JAKARTA-SBN.

Bank Century yang didirikan pada 6 Desember 2004 ini merupakan hasil merger dari tiga bank yaitu Bank CIC International, Bank Pikko, dan Bank Danpac. Kemudian sejak 21 November 2008, bank ini telah diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan kemudian berganti nama menjadi PT. Bank Mutiara Tbk.

Direktur Pengawasan Bank I Bank Indonesia, Zaenal Abidin, menyatakan Bank Century memang sudah tidak beres sejak berdiri. Tetapi menurut dia, meski sudah diperiksa dan diminta memperbaiki kualitas modal dan asetnya, tetap saja diabaikan hingga akhirnya menimbulkan masalah.

Hal itu diungkap oleh Zaenal Abidin saat bersaksi dalam sidang terdakwa dugaan korupsi pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, Budi Mulya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (4/4/2014).

Menurut dia, dalam pemeriksaan pada Juni hingga Oktober 2008, kondisi Bank Century sebenarnya terkuak. "Hasilnya bank ini (Century) mengalami permasalahan dan menghadapi risiko di pasar kredit nasional. Kondisi keuangannya bermasalah, antara lain likuiditas mengalami tekanan dan permodalan juga," kata Zaenal Abidin saat bersaksi dalam sidang Budi Mulya.

Zaenal Abidin juga mengatakan, dari hasil pemeriksaan itu ditemukan ternyata berbagai aset Bank Century seperti Surat-Surat Berharga bermasalah karena nilainya rendah dan sebagian tidak beredar di pasar modal. Apalagi, lanjut dia, keuntungan bank itu rendah. "Neraca pinjaman bank lebih banyak. Kesimpulan dari pemeriksaan, bank mengalami kekurangan modal, tekanan likuiditas sangat berat dan waktu itu saya sebut struktural," ujar Zaenal Abidin.

Kesaksian Zaenal Abidin senada dengan dua saksi lain, yakni mantan Direktur Pengawasan BI, Sabar Anton Tarihoran, dan mantan Direktur Pengawasan Bank 1 Bank Indonesia, Rusli Simanjuntak.

Dalam sidang terdakwa Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (3/4/2014) kemarin, mantan Direktur Pengawasan Bank 1 Bank Indonesia, Rusli Simanjuntak menyatakan sempat heran dengan kondisi Bank Century saat mulai beroperasi. Menurut dia, dalam kondisi normal, bank yang baru beroperasi dua bulan mestinya tidak timpang neraca aktivanya.

Dia menambahkan, dalam pemeriksaan neraca sejak 28 Februari 2005 dan baru rampung pada September 2005 terungkap berbagai fakta-fakta menyatakan Bank Century tidak sehat. "Baik itu dari surat berharga, kualitas aktivitasnya lainnya, maupun permasalahan lainnya adalah permasalahan yang belum terselesaikan sebelum merger," beber Rusli Simanjuntak.

Rusli Simanjuntak menyatakan, setelah hasil pemeriksaan diketahui, pihaknya lantas memanggil pengurus bank itu, mulai dari pemegang saham hingga direksi. Saat pemanggilan, lanjut dia, pihak BI meminta supaya berbagai kekurangan itu segera diperbaiki. Salah satu rekomendasinya adalah supaya secepatnya mengangkat Hisyam Al Warraq sebagai pemegang saham pengendali. "Karena kalau bank tidak memiliki saham pemegang kendali, siapa yang kita minta pertanggungjawaban jika ada kekurangan setoran modal," papar Rusli Simanjuntak.

Namun, menurutnya, Rusli Simanjuntak saran itu tidak pernah dilaksanakan oleh pihak Bank Century. Bahkan hal itu tetap dibiarkan hingga timbul skandal pada akhirnya.
Tidak sehatnya Bank Century ternyata sudah terendus oleh Bank Indonesia sejak awal didirikan. Bahkan dua bulan setelah beroperasi pada 1 Januari 2005, Direktorat Pengawasan Bank Indonesia menemukan banyak permasalahan pada bank yang saat ini bernama Bank Mutiara.

Sementara itu, menurut Sabar Anton Tarihoran, proses penggabungan tiga bank menjadi Bank Century ditengarai bermasalah. Pada 6 Desember 2004, Bank Pikko dan Bank Danpac menggabungkan diri ke Bank CIC. Kemudian, pada 28 Desember 2004, Bank CIC berganti nama menjadi Bank Century.

Menurut dia, proses itu ditengarai tidak sesuai aturan karena salah satu bank ternyata bank bermasalah. Sebab, selain rasio pemilikan modalnya rendah, kualitas asetnya juga jeblok.

Direktur Pengawasan Bank I Bank Indonesia, Zaenal Abidin, menyatakan banyak aset Bank Century tidak jelas nilai dan posisinya. Dia menemukan hal itu setelah memeriksa secara intensif bank yang kini berganti nama menjadi Bank Mutiara sejak Juni hingga Oktober 2008.

Hal itu diungkap oleh Zaenal Abidin saat bersaksi dalam sidang terdakwa dugaan korupsi pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, Budi Mulya.

Zaenal Abidin mengatakan, hasil pemeriksaan itu meminta supaya Bank Century memperbaiki kualitas modal dan likuiditas, dengan cara menjual aset seperti surat-surat berharga (SSB) dan menambah modal sehingga bisa melakukan transaksi. "Penjualan SSB memperbaiki likuiditas dan perbaikan modal. Dia (Bank Century) melakukan, tapi enggak ada yang beli. Wong kualitas SSB-nya enggak bagus," kata Zaenal Abidin saat bersaksi dalam sidang Budi Mulya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (4/4/2014).

Menurut Zaenal Abidin, sebagian aset Bank Century justru berada di luar negeri dan di bawah penguasaan grup dua pemiliknya, Hisyam Al Warraq dan Rafat Ali Rezavi. Menurut dia, mestinya aset mereka bisa ditelusuri jika disimpan di bank custody. Tetapi, menurut dia saat diusut ternyata hasilnya tetap tidak jelas.

Akhirnya, lanjut Zaenal Abidin, pada 6 November 2008, BI menyematkan status khusus SSU (special surveillance unit/unit pengawasan khusus) terhadap Bank Century. Sebabnya adalah kondisi bank itu makin memprihatinkan karena rasio kepemilikan modalnya terus merosot hingga di bawah normal.

Direktur Pengawasan Bank I Bank Indonesia, Zaenal Abidin, menyatakan pernah berkeras meminta supaya Bank Century ditutup dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada 13 hingga 14 November 2008. Tetapi anehnya, saran dia justru ditentang oleh mantan Gubernur BI Boediono dan beberapa Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Hal itu diungkap oleh Zaenal Abidin saat bersaksi dalam sidang terdakwa dugaan korupsi pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, Budi Mulya.

Menurut data yang dikumpulkan selama masa pemeriksaan, Zaenal Abidin yakin dengan pendapatnya Bank Century harus ditutup, apalagi rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) Bank Century negatif. “Alasan saya waktu itu karena kalau mesti mempertahankan Bank Century, maka harus mengeluarkan biaya besar. Karena berapa pun uang yang diberikan, kalau nasabah tahu ada pasokan modal, maka mereka akan langsung menarik uangnya. Maka berapa pun uang yang disetor pasti akan habis," kata Zaenal Abidin saat bersaksi dalam sidang Budi Mulya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat (4/4/2014).

Namun, lanjut Zaenal Abidin, beberapa Deputi Gubernur BI yakni (almarhum) Budi Rochadi, Miranda Swaray Goeltom, Muliaman Hadad (kini Kepala Otoritas Jasa Keuangan) dan Siti Chalimah Fadjrijah menentang saran Zaenal Abidin.

Bahkan, dia mengaku sempat didamprat oleh Miranda Swaray Goeltom. “Waktu itu Ibu Miranda nada bicaranya agak meninggi karena mendengar saran saya. Dia mengatakan, 'Kan kalau soal bank gagal, BI sudah memiliki standar operasi prosedur-nya. Jadi tidak bisa main tutup!' Tapi saya pada prinsip harus ditutup karena berdasarkan bukti yang ada Bank Century tidak layak dibantu. CAR-nya negatif," tukas Zaenal Abidin.

Sementara itu, menurut Zaenal Abidin, sikap Siti Chalimah malah lebih aneh lagi. Saat itu, Siti Chalimah mewantinya tidak memberi saran menutup Bank Century karena ada simpanan uang milik beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bahkan, lanjut dia, Siti Chalimah mengatakan Yayasan Kesejahteraan Karyawan BI juga menyimpan uang di bank itu. "Saya juga enggak mengerti apa maksud pendapat itu," sambung Zaenal Abidin.

Sementara itu, dalam rapat digelar hingga dini hari itu, Zaenal Abidin menjelaskan Boediono justru tak terlalu banyak bicara. Tetapi, lanjutnya, Boediono saat itu juga bersikap ingin mempertahankan Bank Century dan mengucurkan FPJP. “Yang inginkan (pemberian FPJP) tentu pak Gubernur BI (Boediono)," imbuh Zaenal Abidin.

Namun, dalam rapat itu Zaenal Abidin mengaku Dewan Gubernur BI mencabut hak memberikan pendapat atas Direktorat Pengawasan Bank I. Akibatnya, pendapat dan saran Zaenal Abidin diabaikan dan rapat menyetujui pemberian FPJP dan menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Saat dicecar oleh Hakim Anggota I Made Hendra ihwal sikapnya, Zaenal Abidin mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya sebagai bawahan.

Dalam kesaksiannya, Zaenal Abidin mengaku kecewa atas keputusan Dewan Gubernur BI terhadap Bank Century. Sebab, dia merasa kerja kerasnya beserta tim diabaikan begitu saja. “Terus terang saya kecewa karena kerja keras kami yang di bawah tekanan tidak dihargai. Tapi ya enggak apa-apa. Asal kalau ada apa-apa jangan ditimpakan kepada kami para bawahan. Kan Dewan Gubernur yang memutuskan, jadi tanggung jawab ada pada mereka," ucap Zaenal Abidin dengan nada suara lirih. (mer/jos)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.652.289 Since: 05.03.13 | 0.1938 sec