Agama & Masyarakat

Pulau Bali Gelap Gulita Di Tahun Baru Saka 1936, Umat Hindu Tapa Brata

Monday, 31 Maret 2014 | View : 1472
Tags : Bali, Hindu, Nyepi

DENPASAR-SBN.

Senin (31/3/2014) hari ini, umat Hindu di Bali serentak merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936. Senin (31/3/2014), seluruh warga di Bali sejak pukul 06.00 WITA sampai Selasa (1/4/2014) pukul 06.00 WITA, Bali laksana kota mati.

Pulau Bali mengalami gelap gulita tanpa penerangan setitik cahaya lampupun saat umat Hindu menunaikan ibadah ritual Tapa Brata Penyepian menyambut dan menandai Tahun Baru Saka 1936, Senin (31/3/2014) malam. Umat Hindu Bali khusyuk melaksanakan tapa bratha penyepian.

Bali bak kota tak berpenduduk. lampu-lampu tak ada satupun yang menyala bahkan satu suarapun tidak terdengar. Bali gelap gulita bak kota mati, Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936 mewajibkan buat umat Hindu di pulau Bali menghentikan semua aktivitasnya. Malam ini, pulau yang dikenal dengan ‘Pulau Seribu Pura’ ini bak ‘pulau tak berpenghuni’.

Setidaknya ada 4 hal yang tak boleh dilakukan selama tapa bhrata penyepian. Keempat larangan tersebut meliputi tidak melakukan kegiatan/bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan lampu atau api (Amati geni), tidak bepergian (Amati Lelungan) serta tidak mengadakan rekreasi, bersenang-senang atau hura-hura (Amati Lelanguan).

Salah satu dari empat pantangan yang dilakukan Umat Hindu pada malam pergantian tahun Saka itu atau hari peralihan tahun baru dari tahun Saka 1935 ke 1936 itu menyangkut ‘Amati Geni’ yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerangan listrik. Dengan demikian suasana gelap gulita terjadi di mana-mana di setiap penjuru. Masyarakat sejak pagi hari telah mengurung diri dalam rumah masing-masing.

Cuma tampak terlihat beberapa pecalang atau pengaman desa adat yang berkeliling dengan menggunakan sepeda kayuh menyusuri jalan lenggang tanpa kendaraan yang melintas satupun demi kenyaman pelaksanaan Nyepi.

Pada malam kegelapan itu petugas keamanan desa adat atau pecalang dan tokoh masyarakat di masing-masing desa adat atau pekraman melakukan pemantauan menyangkut keamanan di wilayahnya masing-masing.

Bali pada malam Hari Raya Nyepi menjadi gelap gulita, karena seluruh penerangan listrik di jalan, rumah-rumah penduduk lebih dari satu juta konsumen PLN tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini dipadamkan.

Pada saat Nyepi, aktivitas Bali lumpuh total. Bali pun gelap gulita. Seperti halnya kawasan wisata Pantai Kuta yang setiap harinya selalu dipenuhi wisatawan asing atau domestik.

Semua hotel yang tersebar di kawasan Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan pusat-pusat kawasan wisata lainnya di Bali jauh sebelumnya telah diimbau untuk sedapat mungkin tidak menyalakan listrik yang sinarnya sampai memantul ke luar.

Hampir tidak ada lampu yang menyala, hanya kegelapan dan kesunyian yang nyaris menjadikan ‘Pulau Seribu Pura’ itu bagaikan ‘Pulau mati tanpa penghuni’.

Kondisi demikian menambah kekhusukan umat Hindu melaksanakan Catur Tapa Brata Penyepian yang meliputi Amati Geni atau tidak menyalakan api atau listrik, menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, pada hakekatnya merupakan tuntunan untuk mengheningkan pikiran dengan mengendalikan api nafsu indria atau keserakahan.

Umat Hindu wajib mematuhinya, dan umat lain diimbau dapat melakukan hal yang yang sama, namun kalau toh harus menyalakan lampu diharapkan tidak mencolok, yakni sinarnya tidak sampai menyorot ke luar rumah.

PT. PLN Distribusi Bali menurut Kepala Humasnya I Wayan Redika penggunaan listrik di Bali berkurang sampai 50%. Penggunaan listrik di Pulau Dewata selama itu hanya 30% untuk konsumsi rumah tangga dan 70% untuk kalangan industri pariwisata, perusahaan dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Penerangan di jalan umum dan rumah-rumah penduduk dipadamkan sehingga terjadi penghematan energi selama sehari.

Konsumsi listrik berkurang separuhnya dari rata-rata 690 mega watt per hari menjadi 350 mega watt dalam 24 jam tersebut.

Oleh sebab itu ada beberapa pembangkit yang tidak beroperasi sehingga PLN bisa menghemat konsumsi bahan bakar jenis solar sebanyak satu juta liter atau setara dengan Rp 12 miliar.

Pemadaman beberapa pembangkit itu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Di Bali terdapat beberapa pembangkit utama di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Pesanggaran Denpasar yang memiliki kapasitas 280 mega watt, PLTG Gilimanuk sebesar 130 mega watt, PLTGU Pemaron sebesar 210 mega watt dan kabel bawah laut Jawa-Bali sebesar 2x100 mega watt.

Namun ritual ini tidak dilakukan warga di Desa Tenganan, Karangasem. Meski penganut agama Hindu seperti masyarakat Bali pada umumnya, mereka tetap berkativitas seperti hari biasa. Hanya saja tidak boleh ke luar kampung untuk menghargai warga yang sedang melakukan Tapa Brata Penyepian.

Warga Desa Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, Bali, ini tidak merayakan Nyepi lantaran ajaran yang diterima dari nenek moyangnya tidak mengenal perayaan Nyepi maupun tradisi mengarak Ogoh-ogoh.

Salah seorang warga, Luh Winarti, mengatakan pada saat Nyepi, umat Hindu di Bali akan melakukan Tapa Brata Penyepian. Ada empat hal yang tidak boleh dilakukan saat Nyepi, yaitu Amati Geni atau tidak menyalakan api, Amati Karya atau tidak bekerja. Kemudian Amati Lelanguan atau tidak menikmati keindahan dan Amati  Lelungan yang berarti  tidak bepergian.

Jelang perayaan Nyepi, kemarin warga di Gianyar Bali menggelar perang api. Tradisi ini dilakukan untuk membersihkan diri dari rasa dengki dan mengusir roh jahat agar tidak mengganggu masyarakat pada saat menjalankan Tapa Brata Penyepian.

Tradisi Mesiat Geni atau perang api digelar warga di desa ini pada malam sebelum Nyepi. Peserta terdiri dari puluhan pemuda desa. Sedangkan yang digunakan untuk berperang adalah serabut kelapa yang sudah kering dan dibakar terlebih dahulu.

Meski cukup berbahaya namun para peserta tak tampak merasa kesakitan saat terkena lemparan api dari lawannya. Selain mengusir rasa dengki, tradisi turun temurun ini dipercaya dapat menyucikan desa dari hal-hal buruk.

Provinsi Bali atau Pulau Dewata menjadi satu-satunya wilayah yang menerapkan larangan warga atau penghuni melakukan kegiatan di tempat umum saat prosesi catur brata penyepian. Bagi pelanggar akan dikenakan sanksi hukuman sosial. (ant/viv/jos)

See Also

Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Anton Ferdian Rilis Kisahku
Marie Muhammad Berpulang
K.H. Sofiyan Hadi Sebut Setiap Anak Itu Spesial
Istri Bung Tomo Wafat
Tradisi Grebeg Besar
Dandim 0716/Demak Hadiri Ziarah Ke Makam Sultan Demak & Sunan Kalijaga
Selamat Jalan Mike Mohede
Rais Syuriah PB NU KH Mas Subadar Wafat
22 Acara Puncak Satu Abad Qudsiyyah
Kasdim 0716/Demak Hadiri Silaturahmi Bupati, Wakil Bupati Dengan Ulama & Tokoh Masyarakat
Kuatkan Nilai-nilai Aswaja, Iksab TBS Agendakan Silatnas
Dandim 0716/Demak Hadiri Open House Bupati
Marwah Band Semarakkan Halalbihalal UMK
Ibunda Nyai Hajjah Siti Fatmah Berpulang Ke Rahmatullah
Pelantikan PDM & PDA Kudus, Kuatkan Sinergitas Dengan AUM
Launching Rembug Warga NU Dengan Bedah Buku Masterpiece Islam Nusantara
Khosifah Nahkodai Aisyiyah Kudus
Ahmad Hilal Majdi Kembali Pimpin PDM Kudus
Pembukaan Musyda Muhammadiyah Dan Aisyiyah Kudus Periode Muktamar Ke-47
jQuery Slider

Comments

Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.415.065 Since: 05.03.13 | 0.1689 sec