Hukum

Dua Terdakwa Pembunuh Sisca Yofie Tidak Terima Dan Nyatakan Banding

Monday, 24 Maret 2014 | View : 915

BANDUNG-SBN.

Dua terdakwa pembunuh sadis yaitu Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi alias Epul (24) yang menyebabkan tewasnya Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) silam, akhirnya divonis hukuman seumur hidup di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).

Majelis Hakim kasus tewasnya Sisca Yofie yang diketuai Parulian Lumban Toruan akhirnya memvonis Wawan alias Awing selaku eksekutor dalam aksi penjambretan yang menyebabkan korban tewas dengan hukuman penjara seumur hidup.

Wawan alias Awing mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan rompi merah, celana hitam dan sepatu kets. Peci hitam menutupi kepalanya. Ia serius mendengarkan ucapan hakim. Selama di ruang sidang Wawan didampingi tiga penasihat hukumnya.

Dalam vonis itu, Majelis Hakim membacakan beberapa pertimbangan Wawan bisa divonis penjara seumur hidup. Namun dalam pertimbangan tersebut tidak ada satu pun alasan hakim memberikan keringanan hukuman. "Hakim mengambil kesimpulan dari pemeriksaan saksi dan fakta-fakta, serta pemeriksaan tersangka maka telah terbukti bahwa Wawan bersalah telah melakukan tindak kejahatan perampokan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang," kata Hakim Ketua dalam amar putusannya.

Majelis menilai, Wawan telah menghilangkan nyawa Sisca Yofie dengan sengaja dan membuat Sisca Yofie menderita dengan aksi penyeretan serta pembacokan yang dilakukan. Sebab, sambung Hakim Parulian Lumban Toruan, terdakwa Wawan terbukti menebaskan golok berkali-kali ke kepala Sisca Yofie yang menggelantung di punggungnya ketika sepeda motor yang dikemudikan Ade Ismayadi alias Epul melaju. Akibat bacokan berkali-kali tersebut, korban merasa kesakitan dan perlahan-lahan terlepas dari tubuh terdakwa dan terjatuh. “Terdakwa pasti merasakan tangan korban terlepas dan arah jatuh korban. Pastilah sejak mula terdakwa mengetahui korban menempel pada motor dan terseret tapi tidak menyuruh menghentikan motor yang dikemudikan Ade," papar Hakim Parulian Lumban Toruan.

Adapun hal-hal yang memberatkan hukuman terdakwa adalah, perlakuan Wawan terhadap korban menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat hingga akhirnya korban meninggal dunia. “Terdakwa tidak memberikan kesempatan kepada korban (Sisca Yofie), sehingga membuat penderitaan dialami, serta rasa sakit yang tidak tertahankan menjelang ajal," tutur Hakim. “Perbuatan terdakwa juga membuat kesedihan mendalam di mata keluarga korban (Sisca). Selain itu terdakwa juga tanpa alasan kuat tidak sedikit pun memberikan rasa simpati dan empati saat mengayunkan golok dan menyayat rambut korban," lanjut Hakim.

Tidak hanya itu, hal yang juga memberatkan vonis Wawan adalah lantaran kasus ini menjadi sorotan publik baik melalui media massa cetak, radio, maupun elektronik.

Saat putusan dibacakan, tersangka Wawan alias Awing hanya menerima dengan ekspresi tersenyum sambil memperbaiki posisi kopiah yang dia kenakan saat sidang berlangsung.

Di dalam ruang sidang tampak keempat kakak kandung Sisca Yofie, yaitu Nefie, Silfie, Elfie, Meifie, meneteskan air mata mendengar kronologi peristiwa yang dibacakan majelis hakim dalam persidangan.

Majelis hakim menyatakan kedua terdakwa terbukti mencuri dengan melakukan kekerasan hingga korban mereka tewas. Hukuman atas perbuatan mereka diatur dalam Pasal 365 ayat (2) dan (4) KUHP. “Atas fakta dan pertimbangan tersebut, Wawan terbukti secara sah dan meyakinkan telah bersalah melakukan pencurian dengan kekerasan sesuai dengan dakwaan kesatu Pasal 365 ayat (2) dan (4). Dan menjatuhkan hukuman pidana oleh karenanya dengan pidana penjara seumur hidup," tutur Ketua Majelis Hakim Parulian Lumban Toruan saat membacakan putusan atas terdakwa Wawan alias Awing dalam sidang di Ruang Sidang VI Gedung Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014). Dalam sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum meminta Wawan divonis mati.

Dua terdakwa pembunuh sadis yaitu Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi alias Epul (24) yang menyebabkan tewasnya Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) silam menyatakan keberatan dengan hukuman penjara seumur hidup.

Sementara itu, usai mendengar pembacaan vonis putusan tersebut, terdakwa Wawan alias Awing yang berembuk dengan penasihat hukumnya akan mengajukan banding. Atas vonis tersebut, melalui penasihat hukumnya Dadang Sukmawijaya, terdakwa berstatus paman dan keponakan ini akan menyatakan dan melakukan banding. "Iya Yang Mulia, akan banding," cetus advokat Dadang Sukmawijaya kepada Majelis Hakim di Ruang Sidang VI Gedung Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014). “Kami akan melakukan banding," tukas Dadang Sukmawijaya dalam persidangan.

“Ini sangat berat, banyak kejanggalan dalam vonis ini. Nanti akan kami sampaikan dasar keberatan dalam banding," ketus penasihat hukum terdakwa, Dadang Sukmawijaya usai sidang, di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).

Usai persidangan, dengan pengawalan ketat pihak kepolisian Wawan alias Awing langsung digiring masuk ke dalam ruang tunggu tahanan. Terdakwa Wawan langsung meninggalkan ruang sidang melalui pintu belakang saat sidang resmi ditutup Hakim Ketua dengan pengawalan ketat petugas kepolisian dan Patwal Tahanan Kejari Bandung. Terdakwa Wawan alias Awing yang dikawal petugas dari ruang persidangan sempat berkomentar tentang vonisnya tersebut. “Ini kan bukan kasus pembunuhan berencana. Masa hukumannya seumur hidup," protes terdakwa Wawan alias Awing.

Advokat Dadang Sukmawijaya mengaku kaget ketika kasus yang dijerat kliennya tentang pencurian dengan kekerasan bisa divonis penjara seumur hidup. "Terdakwa ini tidak pernah melakukan secara terencana, jadi ini sangat aneh," ketusnya.

Sidang dimulai sekitar pukul 11.15 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.45 WIB dan dilanjutkan dengan pembacaan vonis terdakwa lainnya, yaitu Ade Ismayadi alias Epul. Beberapa saat kemudian, terdakwa Ade Ismayadi alias Epul pun masuk keruang sidang dan bersiap menerima vonis Hakim.

Majelis Hakim juga menghukum terdakwa Ade Ismayadi alias Epul seumur hidup dalam sidang yang digelar setelah sidang Wawan alias Awing. Vonis untuk Ade Ismayadi ini sama dengan tuntutan Jaksa yang meminta keponakan Wawan ini dihukum seumur hidup.

Terdakwa Ade Ismayadi alias Epul (24) divonis penjara seumur hidup oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung karena telah membantu terdakwa Wawan alias Awing (39) dalam kasus pembunuhan keji dengan tewasnya Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) tahun lalu.

Dalam amar putusannya, Majelis Hakim mengesampingkan pembelaan penasihat hukum bahwa tewasnya Sisca Yofie akibat kelalaian yang tak disengaja para terdakwa saat merampok korban. Majelis Hakim juga mengesampingkan pendapat para pembela bahwa terdakwa Ade Ismayadi terlibat perampokan akibat dipaksa Wawan dengan ancaman senjata golok sebelum mereka berangkat menjambret. “Walaupun terdakwa Ade Ismayadi sifatnya hanya diajak terdakwa Wawan namun hakim tetap melihat ada upaya menghilangkan nyawa seseorang," kata Ketua Majelis Hakim, Parulian Lumban Toruan, dalam amar putusannya di Ruang Sidang VI Gedung Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).

“Begitu juga dengan terdakwa Ade Ismayadi yang sempat merasakan gerakan dan mendengar caci-maki Wawan ketika melepaskan tubuh korban,” terang Hakim Parulian Lumban Toruan.

Pengemudi, imbuh Hakim Parulian Lumban Toruan, pastilah mengetahui korban terseret, tidak hanya sejak motor mati mesin, tapi ketika korban terlepas dari Wawan. "Maka korban bukan lagi terseret, tapi diseret," papar Hakim Parulian Lumban Toruan. “Korban meninggal karena kesengajaan. Argumen penasihat hukum terdakwa harus dikesampingkan,” jelas Hakim Parulian Lumban Toruan.

Sama dengan Wawan, Ade Ismayadi alias Epul juga divonis penjara seumur hidup dengan Pasal yang sama. Vonis terhadap Wawan alias Awing lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sementara, vonis Ade Ismayadi alias Epul sama dengan tuntutan Jaksa.

Baik terdakwa Wawan ataupun Ade, kata hakim, terbukti telah melanggar Pasal 365 ayat (2) dan (4) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian terhadap seseorang. "Tak ada alasan pembenar ataupun pemaaf atas perbuatan terdakwa," kata Hakim Parulian Lumban Toruan.

Vonis untuk Ade Ismayadi alias Epul (24) tersebut sama sesuai dengan tuntutan sebelumnya oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Usai persidangan Ade Ismayadi alias Epul terus menunduk, bahkan ketika dibawa polisi ke luar ruang sidang.

Terdakwa Ade Ismayadi alias Epul enggan berkomentar apapun saat diminta tanggapan soal vonis tersebut oleh wartawan, dia malah berjalan tergesa-gesa menuju mobil tahanan Kejari Bandung yang parkir di halaman Gedung Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan R.E. Martadinata, Jawa Barat.

Atas vonis Majelis Hakim, kubu para terdakwa langsung menyatakan banding. Penasihat hukum kedua terdakwa, Dadang Sukamawijaya mengaku keberatan dengan vonis yang dijatuhkan hakim kepada kliennya. "Kami sungguh kaget dengan putusan hakim ini. Dua-duanya dijatuhi hukuman seumur hidup," tukas penasihat hukum Wawan alias Awing dan Ade Ismayadi alias Epul, Dadang Sukmawijaya saat ditemui usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan LRE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).

Alasan terdakwa menyatakan banding disebut advokat Dadang Sukmawijaya yaitu karena kasus penjambretan ini dijatuhi hukuman lebih berat daripada perkara pembunuhan berencana. "Ini penjambretan disertai kekerasan, sangat jarang sekali kalau dijatuhi hukuman seperti ini. Kami katakan ini aneh kalau sampai seperti ini," ketus pengacara Dadang Sukmawijaya.

Khusus untuk Ade Ismayadi alias Epul (24) yang tidak berperan aktif dalam perkara tersebut, menurutnya, juga sangatlah tidak bisa diterima. “Kami tidak terima atas putusan Majelis. Majelis tidak membedakan mana pelaku utama dan yang bukan. Kami banding atas putusan Majelis," cetus Dadang Sukmawijaya, penasihat hukum para terdakwa seusai sidang. “Tentunya (keberatan), terlebih untuk Ade yang tidak memiliki peran aktif dalam perkara tersebut,” ketus pengacara Dadang Sukmawijaya. “Harusnya tahu, mana pelaku utama, mana pelaku penyertaan. Sungguh sangat kaget kami mendengar keduanya dihukum penjara seumur hidup. Ade di sini disuruh Wawan. Dia pelaku penyertaan,” tegas advokat Dadang Sukmawijaya lagi.

Advokat Dadang Sukmawijaya menilai, Majelis Hakim telah tidak teliti dalam membedakan peran pelaku utama dan pelaku penyerta sehingga memberikan putusan yang sama pada keduanya. Padahal menurutnya, Ade Ismayadi alias Epul seharusnya bisa mendapatkan putusan yang lebih ringan karena perannya hanya penyerta. "Ade itu tidak aktif dalam melakukan tindak pidana. Dia itu kan disuruh, tapi di sini seolah dia menjadi pelaku utama. Kami begitu kecewa," protesnya.

Sementara itu, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan pikir-pikir atas vonis tersebut.

Baik terdakwa Wawan alias Awing (39) maupun Ade Ismayadi alias Epul (24) oleh hakim dijerat Pasal 365 ayat (2) dan (4) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Keduanya dianggap telah melakukan tindakan sadis dengan cara menjambret yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

"Puas tidaknya atau pantas tidaknya hukuman itu kami serahkan ke masyarakat. Kami keluarga menghormati putusan hakim," ucap salah satu kakak Sisca Yofie, Elfie usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan LRE Martadinata, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).

Elfie pun menyatakan, keluarga tak menyimpan dendam pada Wawan dan Ade. Mereka justru berharap keduanya bisa bertobat selama menjalani masa hukuman. "Kami sudah memaafkan, mengampuni. Putusannya kan tidak sampai hukuman mati tuh, berarti Tuhan kasih kesempatan untuk bertobat. Jangan jahat lagi. Bertobat. Jangan jahat lagi," tuturnya.

Elfie berharap, kasus Sisca Yofie ini bisa menjadi pembelajaran hukum bagi masyarakat Indonesia.

Terkait dengan terdakwa Wawan alias Awing dan Ade Ismayadi alias Epul yang menyatakan banding atas putusan tersebut, Elfie pun bijak menanggapi. "Ya biarkan saja, itu kan haknya mereka," tutur Elfie.

Namun ia memastikan keluarga akan terus mengikuti proses hukum kasus ini. "Tentunya kita akan tetap mengikuti," tutupnya.

Seperti diketahui, Wawan alias Awing (39) dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman mati, sementara keponakannya Ade Ismayadi alias Epul dituntut hukuman penjara seumur hidup.

Wawan alias Awing dan Ade Ismayadi alias Epul dituntut hukuman seperti disebutkan diatas karena dinyatakan terbukti melanggar Pasal 365 ayat (2) dan (4) KUHP tentang pencurian disertai dengan kekerasan yang menyebabkan tewasnya korban. Tim Jaksa menuntut terdakwa dengan Pasal 365 ayat (2) dan (4) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

Kedua terdakwa baik Wawan alias Awing maupun Ade Ismayadi alias Epul dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pencurian dengan kekerasan hingga mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang sebagaimana dakwaan dalam Pasal 365 ayat (2) dan ayat (4) KUHP.

Dakwaan primer kedua Pasal 339 KUHP junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan dengan pemberatan. Serta dakwaan subsider Pasal 338 KUHP junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan biasa.

Dari kesemua pasal yang didakwakan itu, terdakwa terancam hukuman mati. (was/det/mer/jos)

See Also

Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.279.523 Since: 05.03.13 | 0.1908 sec