Hukum

Rudi Rubiandini Sudah Lama Dibidik Komisi Antirasuah

Wednesday, 19 Maret 2014 | View : 728

JAKARTA-SBN.

Komisi Pemberantasan Jorupsi (KPK) ternyata telah lama membidik mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R). Hal ini terungkap di persidangan Rudi Rubiandini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Selasa (18/3/2014) siang.

Sejumlah penyidik perkara dugaan penerimaan suap SKK Migas, dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK dalam sidang terdakwa Rudi Rubiandini, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (18/3/2014) siang. Para saksi verbal lisan itu dihadirkan Jaksa KPK guna mengungkapkan proses penangkapan Rudi Rubiandini, Deviardi, dan Simon Gunawan Tanjaya.

Dari keterangan penyidik Bhakti Suhendrawan, terkuak bahwa mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R). sudah lama menjadi target KPK. Saksi Penyidik KPK Bhakti Suhendrawan mengatakan, KPK telah mengintai Rudi Rubiandini, setelah pihaknya menerima laporan masyarakat akan dugaan penerimaan barang atau uang untuk pejabat SKK Migas terkait penanganan tender. Atas dasar itu, KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT). “Penangkapan berdasarkan laporan masyarakat, dan saya masuk tim penangkapan yang bersangkutan pada 13 Agustus di rumah Rudi, tapi surat penyelidikan (sprindik) dari sekitar bulan Mei sudah ada," beber Bhakti Suhendrawan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Selasa (18/3/2014).

Bhakti Suhendrawan kembali menjelaskan, ketika lama melakukan pengintaian. Timnya mendapat informasi dari tim lain, bahwa diduga Rudi Rubiandini telah menerima sebuah uang atau barang. "Setelah dapat informasi itu, kami langsung dapat perintah penangkapan, karena terdakwa diduga menerima sesuatu," papar Bakti Suhendrawan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Selasa (18/3/2014).

Mendengar kesaksian itu Penasihat Hukum Rudi Rubiandini, mencecar berbagai pertanyaan kepada para saksi. Semua terjawab oleh para penyidik. Tetapi setelah Penasihat Hukum menanyakan soal pola penyelidikan KPK, Bhakti Suhendrawan menolak untuk membukanya. Menurutnya hal itu tidak dapat dibuka di depan publik, lantaran menyangkut soal strategi KPK. "Saya tidak boleh membukanya," tegas Bhakti Suhendrawan.

Mendengar itu, langsung Hakim Matheus Samiaji menanyakan ihwal pola transaksi uang yang dilakukan oleh Rudi Rubiandini dan Deviardi dalam menerima uang yang diduga didapat dari rekanan kerja di SKK Migas. Hal itu ditanyakan guna menguak lebih rinci pola dugaan kejahatan yang dilakukan terdakwa.

Ketua Majelis Hakim Amin Ismanto menggali pola transaksi uang yang dilakukan oleh Rudi Rubiandini dan Deviardi yang diduga didapat dari rekanan kerja di SKK Migas melalui Bhakti Suhendrawan.

Dijelaskan, kalau barang berupa uang itu diduga didapat dari peserta tender yakni, Komisaris PT. Kernel Oil Private Limited (KOPL), Simon Gunawan Tanjaya yang telah menjadi terpidana. “Uang atau barang tersebut diduga dari peserta tender terkait pekerjaan di SKK Migas. Polanya Simon mengambil uang dari bank, lalu diserahkan ke Deviardi baru diserahkan kepada Rudi,” ungkapnya.

Saksi penyidik Bhakti Suhendrawan menambahkan, bahwa setelah menangkap Rudi Rubiandini dan Deviardi, Rudi Rubiandini mengakui bahwa masih ada uang yang dia simpan di dalam kamarnya. "Rudi memberitahukan masih ada uang lagi yang disimpan di kamarnya di dalam brangkas," pungkasnya. 

Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R).  ditangkap KPK pada Selasa malam (13/8/2013), sekitar pukul 22.30 WIB.

Rudi Rubiandini diduga menerima suap sebesar US$ 700 ribu dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan pada bulan Ramadhan sebesar US$ 300 ribu, sedangkan tahap kedua sebesar US$ 400 ribu diterima usai Lebaran. (ip/viv)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.183.007 Since: 05.03.13 | 0.2506 sec