Olah Raga

M. Ahsan/Hendra Setiawan Akhiri 11 Tahun Puasa Gelar Di All England

Sunday, 09 Maret 2014 | View : 1303

BIRMINGHAM-SBN.

Di The National Indoor Stadium, Birmingham, Inggris, Minggu (9/3/2014) malam WIB, pasangan ganda putra andalan tim bulutangkis Indonesia Juara dunia 2013, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan, akhirnya mengembalikan pamor bulu tangkis Indonesia dan supremasi Indonesia di nomor ganda putra di kejuaraan paling tua All England setelah berhasil merebut gelar sekaligus menjuarai All England Super Series Premier 2014.

Unggulan pertama ganda putra ini menundukkan pasangan unggulan kedua asal Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa pada pertandingan laga final yang riuh oleh penonton Indonesia di The National Indoor Arena, Birmingham, Inggris, Minggu (9/3/2014).

Dalam partai babak final, ganda putra Indonesia, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan yang diunggulkan di tempat pertama  memastikan diri menjadi Juara All England Terbuka 2014 usai menyudahi perlawanan a lot dari pasangan ganda putra Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, di The National Indoor Arena, Birmingham, Inggris, Minggu (9/3/2014) lewat pertarungan dua set langsung dengan skor akhir 21-19 dan 21-19 dalam waktu 45 menit.

Di atas kertas, pasangan ganda putra andalan tim bulutangkis Indonesia, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan memang lebih unggul daripada lawannya. Catatan pertemuan mereka menunjukkan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan belum pernah kalah selama lima kali bertanding.

Pertemuan terakhir Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan dengan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa terjadi pada Denmark Terbuka tahun lalu. Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa kandas di semifinal setelah ditaklukan dengan skor sangat ketat, 27-25, 23-21.

Perjuangan pasangan rangking satu dunia ini terbilang mudah. Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan di babak pertama mampu mengalahkan pasangan asal Rusia, Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov dengan dua set langsung 21-14 dab 21-18.

Pada laga pertandingan babak kedua, pasangan Juara dunia ini harus berjuang sedikit keras. Saat menghadapi pasangan asal tuan rumah, Inggris, Chris Langridge/Peter Mills dengan rubber game 8-21, 21-17 dan 21-14.

Di perempatfinal, harapan Indonesia untuk nomor ganda putra itu memang mampu menang dua set langsung atas pasangan China, Fu Haifeng/Zhang Nan. Hanya saja untuk meraih kemenangan harus berjuang keras karena perolehan poin ketat yaitu 23-21 dan 22-20.

Kondisi berbeda di babak semifinal. Diprediksi akan mendapatkan perlawanan yang ketat dari pasangan Markis Kido/Marcus Fernaldi Gideon, ternyata hal tersebut tidak terjadi. Dalam All England tahun ini, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan melaju ke final setelah mampu menang mudah dengan mengalahkan kompatriotnya, pasangan non-pelatnas Maris Kido/Marcus Fernaldi Gideon dengan angka 21-7, 21-12 serta membawanya ke final kejuaraan bulutangkis tertua di dunia itu.

Di partai puncak, pasangan rangking satu dunia ini menghadapi pasangan asal Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Pasangan ini merupakan rangking dua dunia atau dibawah Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Bagi Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan kemenangan ini juga istimewa karena mampu melengkapi predikat juara dunia, rangking satu dunia serta menjuarai kejuaraan paling tua di dunia. Kemenangan ini juga memenuhi target oleh PBSI.

Ganda putra andalan tim bulutangkis Indonesia, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan mempersembahkan gelar pertama bagi Indonesia di All England. Ini juga merupakan gelar juara All England yang pertama bagi Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Tahun ini adalah All England kedua bagi Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan yang baru diduetkan pada tahun 2012. Di edisi sebelumnya di All England 2013, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan kandas di semifinal. Ketika itu, pasangan Juara dunia tersebut menyerah tiga set dari ganda putra China yang kemudian menjadi Juara yakni Liu Xiaolong/Qiu Zihan.

Selain itu, kemenangan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan ini cukup istimewa karena mampu memutus rentetan kegagalan ganda putra di kejuaraan paling tua di dunia ini. Sukses ini sekaligus menjadi yang pertama di nomor ganda putra setelah lebih dari satu dekade. Dengan kemenangan ini, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan turut mengakhiri puasa gelar Indonesia di sektor nomor ganda putra di All England selama 11 tahun. Unggulan pertama dalam turnamen ini, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan juga untuk pertama kalinya sejak 2003 membawa pulang gelar All England dari nomor ganda putra. 11 tahun lalu, adalah lewat pasangan Sigit Budiarto/Candra Wijaya yang membawa gelar Juara ganda putra terakhir kali pada 2003 mengibarkan Merah Putih berjaya di All England untuk nomor ganda putra.

Indonesia merebut gelar juara ganda putra pertama kali pada 1972 atas nama Christian Hadinata/Ade Chandra. Setelah itu supremasi dilanjutkan Tjuntjun/Johan Wahyudi, Kartono/Heryanto, Ricky Subagja/Rexy Mainaky hingga 2003 atas nama Candra Wijaya/Sigit Budiarto.

Gelar juara ini merupakan gelar ke-18 bagi Indonesia di nomor ganda putra All England. Muhammad Ahsan/Hendra  Setiawan menyumbangkan gelar ke-18 bagi ganda putra All-England.

Sepanjang pertandingan, kedua pasangan memperlihatkan permainan cepat, dan kejar-kejaran poin pun terjadi. Pertandingan set pertama berlangsung ketat dan menegangkan.

Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa bermain agresif sejak pertandingan dimulai. Sekalipun begitu, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan justru bisa mencuri poin. Pada pertandingan final, unggulan pertama ini bermain dengan taktis dan langsung mengebrak. Kondisi ini membuat pasangan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa tertinggal. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena pasangan Jepang itu mampu mengejar dan berbalik unggul. Beberapa kesalahan dari unggulan pertama membuat pasangan Jepang justru unggul 6-4. Tapi, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan kemudian berhasil menyamakan kedudukan menjadi 6-6. Di set pertama, kedudukan sempat 6-6, sebelum Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa kemudian memimpin 11-13.

Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan sempat tertekan dan tertinggal hingga 14-16, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan bisa menyamakan kedudukan 16-16. Setelah tertinggal, pasangan rangking satu dunia itu terlihat kesulitan untuk menyalip. Momen menyalip itu terjadi setelah kedudukan imbang 16-16. Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan lalu memainkan drive-drive silang yang merepotkan lawan hingga mereka unggul 18-16. Pertarungan kian sengit, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan kemudian membalikkan keadaan menjadi 18-16. Namun, di posisi ini mereka seperti mendapat angin kedua. Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan terus mendominasi hingga mampu berbalik unggul sebelum mengakhiri set pertama dengan menang 21-19. Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan mencapai game point setelah lawan melakukan kesalahan. Lalu, ganda putra nomor satu dunia ini kemudian mengakhiri set pertama dengan kemenangan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan 21-19 atas Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.

Pada set kedua, pertandingan masih berjalan ketat, terutama kengototan pasangan Jepang untuk mencuri kemenangan. Memasuki set kedua, unggulan pertama kejuaraan dengan total hadiah US$ 400 ribu kembali langsung menghentak bahkan langsung unggul. Tapi, Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan memimpin lebih dulu atas unggulan kedua ini dengan 6-4 di awal set kedua.

Pada game kedua, pertandingan berlangsung lebih ketat. Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan sempat memimpin dan unggul lebih dulu 11-9. Namun, pasangan Jepang juga tidak tinggal diam. Unggulan kedua ini juga memberikan tekanan hingga kesalahan mereka membuat pasangan Jepang bisa menyamakan kedudukan 11-11.

Di set kedua, pertandingan juga berlangsung  ketat. Skor ketat terus terjadi di set kedua, bahkan pasangan Jepang tidak mau menyerah dan mengejar hingga kedudukan sempat sama 15-15. Skor berkejar-kejaran hingga 17-17 sebelum Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan kemudian memimpin lagi 19-17. Setelah perolehan poin semakin ketat, tidak ada pasangan yang mampu unggul dua poin. Hingga akhirnya, smes keras Muhammad Ahsan membuat pasangan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan mampu unggul dua poin pada 19-17. Match point diraih melalui smes Muhammad Ahsan yang tak bisa diantisipasi lawan. Pertandingan pun berakhir setelah pukulan lawan tak bisa menyeberang net. Akhirnya, Dengan kerja keras akhirnya pasangan terbaik Indonesia mampu membuat kemenangan pun diraih Merah Putih setelah pasangan Indonesia Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan menyudahi set kedua dengan 21-19.

Di partai sebelumnya, ganda putri Cina nomor satu dunia, Wang Xiaoli/Yu Yang, menjadi juara All England setelah mengalahkan pasangan baru yang juga dari Cina, Ma Jin/Tang Yuanting, 21-17, 18-21, 23-21. Sekalipun Ma Jin/Tang Yuanting adalah pasangan baru, pertandingan berlangsung sangat ketat. Ma Jin sendiri adalah pemain senior yang dulu pernah berpasangan dengan Wang Xiaoli.

Berikut Juara All England Ganda Putra:

2014 - Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan (Indonesia)

2013 - Liu Xiaolong/Zihan Qiu (China)

2012 - Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (Korea Selatan)

2011 - Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark)

2010 - Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Denmark)

2009 - Cai Yun/Fu Haifeng (China)

2008 - Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (Korea Selatan)

2007 - Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia)

2006 - Jens Eriksen/Martin Lundgaard Hansen (Denmark)

2005 - Cai Yun/Fu Haifeng (China)

2004 - Jens Eriksen/Martin Kundgaard Hansen (Denmark)

2003 - Sigit Budiarto/Candra Wijaya (Indonesia)

2002 - Ha Tae-Kwon/Kim Dong-Moon (Korea Selatan)

2001 - Tony Gunawan/Halim Heryanto (Indonesia)

2000 - Ha Tae-Kwon/Kim Dong-Moon (Korea Selatan)

1999 - Tony Gunawan/Candra Wijaya (Indonesia)

1998 - Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung (Korea Selatan)

1997 - Ha Tae-Kwon/Kang Kyung-Jin (Korea Selatan)

1995-1996 - Rexy Mainaky/Ricky Subagja (Indonesia)

1994 - Rudy Gunawan/Bambang Suprianto (Indonesia)

1993 - Jon Holst-Christensen/Thomas Lund (Denmark)

1992 - Rudy Gunawan/Eddy Hartono (Indonesia)

1991 - Li Yongbo/Tian Bingyi (China)

1990 - Kim Moon Soo/Park Joo Bong (Korea Selatan)

1989 - Lee Sang Bok/Park Joo Bong (Korea Selatan)

1987-1988 - Li Yongbo/Tian Bingyi (China)

1985-1986 - Kim Moon Soo/Park Joo Bong (Korea Selatan)

1984 - Kartono/Heryanto (Indonesia)

1983 - Thomas Kihlstrøm/Stefan Karlsson (Swedia)

1982 - Razif Sidek/Jaelani Sidek (Malaysia)

1981 - Kartono/Heryanto (Indonesia)

1977-1980 - Tjun Tjun/Johan Wahyudi (Indonesia)

1976 - Bengt Fröman/Thomas Kihlström (Swedia)

1974-1975 - Tjun Tjun/Johan Wahyudi (Indonesia)

1973 - Christian Hadinata/Ade Chandra (Indonesia)

1972 - Christian Hadinata/Ade Chandra (Indonesia)

1971 - Ng Boon Bee/Punch Gunalan (Malaysia)

1970 - Tom Bacher/Poul Petersen (Denmark)

1967-1969 - Henning Borch/Erland Kops (Denmark)

1965-1966 - Ng Boon Bee/Tan Yee Khan (Malaysia)

1961-1964 - Finn Kobberø/Jørgen Hammergaard Hansen (Denmark)

1960 - Finn Kobberø/Poul Erik Nielsen (Denmark)

1959 - Lim Say Hup/Teh Kew San (Malaysia)

1958 - Erland Kops/Poul Erik Nielsen (Denmark)

1957 - J.C. Alston (AS)/\'Johnnie\' Heah (Malaysia)

1955-1956 - Finn Kobberø/Jørgen Hammergaard Hansen (Denmark)

1954 - Ooi Teik Hock/Ong Poh Lim (Malaysia)

1951-1953 - David Ewe Choong/Eddy B. Choong (Malaysia)

1950 - Jørn Skaarup/Preben Dabelsteen (Denmark)

1949 - Ool Teik Hock/Tech Seng Khoon (Malaysia)

1948 - Preben Dabelsteen/Børge Frederiksen (Denmark)

1947 - Tage Madsen/Poul Holm (Denmark)

1940-1946 - tidak diadakan (Perang Dunia II)

1939 - T.H. Boyle/J.L. Rankin (Irlandia)

1936-1938 - L. Nichols/Ralph C.F. Nichols (Inggris)

1932-1935 - Donald C. Hume/R.M. White (Inggris)

1929-1931 - Frank Devlin/Gordon "Curly" Mack (Irlandia)

1928 - Sir George Alan Thomas/Frank Hodge (Inggris)

1926-1927 - Frank Devlin/Gordon "Curly" Mack (Irlandia)

1925 - Herbert Uber/A.K. Jones (Inggris)

1924 - Sir George Alan Thomas/Frank Hodge (Inggris)

1923 - Frank Devlin/Gordon "Curly" Mack (Irlandia)

1922 - Guy A. Sautter (Inggris)/Frank Devlin (Irlandia)

1921 - Sir George Alan Thomas/Frank Hodge (Inggris)

1920 - A.F. Engelbach/R. du Roveray (Inggris)

1915-1919 - tidak diadakan (Perang Dunia I)

1913-1914 - Frank Chesterton/George Alan Thomas (Inggris)

1912 - Henry Norman Marrett/George Alan Thomas (Inggris)

1911 - P.D. Fitton/Ernest Edward Shedden Hawthorn (Inggris)

1910 - Henry Norman Marrett/George Alan Thomas (Inggris)

1909 - Frank Chesterton/Albert Davis Prebble (Inggris)

1908 - Henry Norman Marrett/George Alan Thomas (Inggris)

1907 - Albert Davis Prebble/Norman Wood (Inggris)

1906 - Henry Norman Marrett/George Alan Thomas (Inggris)

1905 - C.T.J. Barnes/Stewart Marsden Massey (Inggris)

1904 - Albert Davis Prebble/Henry Norman Marrett (Inggris)

1903 - Stewart Marsden Massey/E.L. Huson (Inggris)

1900-1902 - H.L. Mellersh/F.S. Collier (Inggris)

1899 - D. Oakes/Stewart Marsden Massey (Inggris) (jos)

See Also

Berawal Dari Hobi, Bernard Gregory Susilo Toreh Prestasi Cabor Wushu
The Reds Juara Piala Super Eropa 2019
Santoso Nahkodai Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kudus 2019-2024
Manny Pacquiao Rebut Gelar Dunia WBA Super Kelas Welter
All Indonesian Final Di Indonesia Terbuka 2019
Manchester United Tunjuk Ole Gunnar Solskjaer Gantikan Jose Mourinho
Manchester United Pecat Pelatih Jose Mourinho
Persija Jakarta Juara Liga 1 Tahun 2018
Maroko Menahan Spanyol 2-2
Uruguay Juara Grup A Libas Tuan Rumah Rusia 3-0
Asa Jerman Terbuka, Jerman Tundukkan Swedia 2-1
Meksiko Kirim Pulang Korea Selatan 2-1
Belgia Bantai Tunisia 5-2
Swiss Atasi Perlawanan Serbia 2-1
Nigeria Hempaskan Islandia 2-0
Brazil Pupus Harapan Kosta Rika 2-0
Ryan Giggs Jadi Direktur Akademi Sepakbola Di Vietnam
SEA Games 2017, Indonesia-Thailand Imbang 1-1
Tumbuhkan Kebersamaan, Dandim 0716/Demak Ikuti Jalan Sehat
Pos Koramil 02/Bogorejo Gelar Senam Bersama Forkopimcam
Pos Koramil 02/Bogorejo Gelar Senam Bersama Forkopimcam
Hermansyah Pelatih Kiper Baru Madura United FC
Pelatihan Dayung, Babinsa Koramil 01/Kota Kodim 0721/Blora Instruktur Pelatih
Koramil 14/Todanan Besama Muspika Gelar Senam Bersama
Personel Koramil 13/Kunduran Melaksanakan Pembinaan Fisik
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.798.726 Since: 05.03.13 | 0.1218 sec