Redaksi

Stephen Tong: Stop Ekspor Pelacur, Eksporlah Hamba Tuhan

Friday, 05 Juli 2013 | View : 7121

AIRMADIDI-SBN.

Teguran keras seperti terasa pedang menghujam dan menusuk tajam ke jantung setiap umat yang mendengarkan dan menyimak khotbah yang dilontarkan oleh DR. Stephen Tong saat berkhotbah dalam Kebaktian Pembaruan Iman Nasional (KPIN) di Lapangan Poleko Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) Rabu (3/7/2013) malam. Pendeta yang sudah berkhotbah di hadapan lebih dari 30 juta manusia dalam lebih 29 ribu kali kebaktian, di mana lebih dari 250.000 orang telah menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan ini sangat mengharapkan agar anak-anak muda di daerah ini tidak  dikirim ke daerah lain untuk menjadi pelacur, melainkan dikirim menjadi hamba Tuhan.

“Saya minta agar anak muda di daerah ini jangan dikirim menjadi pelacur di daerah lain, saatnya mengirim anak muda menjadi hamba Tuhan. Stop ekspor pelacur, eksporlah hamba Tuhan untuk mewartakan kebenaran Injil Tuhan,” tutur pendeta yang lahir di Xiamen, Provinsi Fujian, China. DR. Stephen Tong mendengar informasi kalau banyak anak muda di daerah ini kerap dikirim ke luar Sulut untuk menjadi PSK. Karena itulah DR. Stephen Tong menyerukan imbauan ini dalam KPIN tersebut.

Pendeta yang juga bertalenta sebagai komposer, konduktor, dan arsitek ini mengundang anak-anak muda di Minut yang ingin menjadi hamba Tuhan full time untuk maju ke panggung untuk didoakan dan diutusnya. Tak pelak, ratusan anak muda yang menghadiri KPIN ini langsung merespons ajakannya. “Saya dipanggil mewartakan kebenaran Injil Tuhan saat saya berusia 17 tahun memulai pelayanan pada tahun 1957 dan sampai saat ini di umur 73 tahun saya masih menjadi hamba Tuhan yang terus mewartakan kebenaran Firman Tuhan,” ungkap pendeta yang sudah berkhotbah di hadapan lebih dari 30 juta manusia dalam lebih 29 ribu kali kebaktian, di mana lebih dari 250.000 orang telah menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan.

“Saya sudah banyak berkhotbah di 600 daerah dan di hadapan jutaan manusia. Tapi saat ini masih banyak umat manusia yang belum mengenal Tuhan dan Injil. Karena itu saya mengajak kalian (anak muda) untuk bekerja full time mewartakan kebenaran Firman Tuhan. Hindari perbuatan dosa dan rajinlah baca Injil. Jika saya tidak bisa melihat kalian menjadi hamba Tuhan saat saya hidup di dunia, saya yakin dari surga saya akan melihat kalian menjadi hamba Tuhan,” papar pendeta yang kerap melakukan seminar baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti Regent College, China Graduate School of Theology, China Evangelical Seminary, Trinity Theological College, Westminster Theological Seminary, Massachusetts Institute of Technology, Columbia University, University of California Berkeley, Stanford University, University of Maryland, dan Cornell University.

Dalam khotbahnya, pendeta yang merupakan anak keenam dari delapan bersaudara ini mengupas tuntas tentang tema dosa dan anugerah pengampunan dari Tuhan. "Upah dosa adalah maut, tapi Allah yang setia dan adil akan menganugerahkan pengampunan kepada umatnya yang bertobat," tegas pendeta yang empat saudara laki-lakinya menjadi pendeta tersebut. Karena itu, DR. Stephen Tong mengajak seluruh peserta KPIN untuk kembali kepada Tuhan dan tidak lagi menghambakan diri pada perbuatan dosa.

“Jangan lagi berzinah, berjudi, mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba, dan kembalilah pada Tuhan Yesus,” tegas Hamba Tuhan multi talenta ini hingga usianya yang lanjut dan tidak muda lagi masih sebagai penulis banyak buku rohani, pencipta lagu-lagu gereja, dan perancang beberapa bangunan gereja. “Hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus anugerah pengampunan dan keselamatan kita peroleh. Karena Allah mau turun ke dunia menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus, disalibkan dan bahkan wafat di kayu salib lalu bangkit di hari ketiga dan akan kembali untuk kedua kalinya. Inilah rangkaian keselamatan manusia yang hanya diperoleh dalam Tuhan Yesus,” tukas pendeta yang juga bertalenta sebagai komposer, konduktor, dan arsitek ini.

Beberapa kali DR. Stephen Tong menyinggung soal Walikota Manado yang terlibat korupsi. Bahkan DR. Stephen Tong mengungkapkan bahwa sebelum terlibat korupsi Walikota Manado pernah melarangnya untuk berkhotbah di Stadion Klabat Manado. “Saya pernah meminta izin berkhotbah di Stadion Klabat, tapi tidak diijinkan Walikota Manado. Padahal Walikota Manadonya orang Kristen. Tapi kemudian walikota itu terlibat korupsi dan ditahan KPK. Hebatnya, saat diganti oleh walikota (beragama) Islam, saya justru diizinkan berkhotbah di Stadion Klabat,” papar pendeta yang sudah berkhotbah di hadapan lebih dari 30 juta manusia dalam lebih 29 ribu kali kebaktian, di mana lebih dari 250.000 orang telah menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. 

Ev. Michael Liu mengawali dengan memberikan kesaksiannya sebelum DR. Stephen Tong tampil berkhotbah di hadapan lebih dari 6.500 umat yang hadir di mana lebih dari 3.500 orang maju ke depan menyerahkan diri. Michael Liu mengakui awalnya dia mengenal Tuhan tapi kemudian menjadi pemberontak Tuhan. Tapi kemudian setelah mengenal DR. Stephen Tong lewat internet Michael Liu akhirnya bertobat, kemudian menjadi hamba Tuhan mengikuti DR. Stephen Tong. Atas kesaksian ini DR. Stephen Tong pun mengajak kaum muda di daerah ini untuk mengikuti jejak Michael Liu.

Bupati Minut, Drs. Sompie Singal, M.B.A. dalam sambutannya menyambut baik KPIN dan mengapresiasi kehadiran DR. Stephen Tong yang memiliki pengetahuan luas di bidang seni, musik, filsafat, sejarah, dan arsitektur. “Saya berharap agar bukan hanya Minut diberkati melalui KPIN ini, tetapi ke depan banyak anak muda yang mengikuti jejak Pdt. Stephen Tong dan Evangelis Michael Liu menjadi hamba Tuhan,” ajak Bupati Minut.

Warga Minut yang mengikuti KPIN yang menghadirkan DR. Stephen Tong, seakan mendapat pencerahan dan siraman rohani dari pendeta yang pernah tertarik mempelajari komunisme, atheisme, evolusionisme, dialektika materialisme, dan filsafat-filsafat yang paling modern sekali pun. “Puji Tuhan, ada sukacita, berkat dan damai sejahtera yang kami rasakan. Kami berharap akan banyak kegiatan KPIN bahkan KKR di Kabupaten Minut,” pinta seorang warga seperti dilansir Harian Komentar Manado.

Di penghujung khotbahnya, DR. Stephen Tong menegaskan kalau dirinya tidak seperti Ps Benny Hinn yang beberapa hari lalu berkhotbah di Manado. “Saya tidak seperti Benny Hinn. Berkhotbah tapi umat diminta membayar jutaan rupiah," tukas pendeta yang menyampaikan khotbah dalam bahasa Inggris, Indonesia, dialek Fujian, dan Mandarin. "Saya akan memberitakan kebenaran Firman Tuhan tanpa harus memungut biaya sepeser pun pada umat,” sindir pendeta peraih gelar D.L.C.E. dari La Madrid International Academy of Leadership, Manila, Filipina dan gelar D.D. dari Westminster Theological Seminary, Philadelphia, Amerika Serikat tersebut. (komentar manado)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.955.957 Since: 05.03.13 | 1.8024 sec