Hukum

Artis Eddies Adelia Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus TPPU

Friday, 28 Februari 2014 | View : 1328

JAKARTA-SBN.

Artis Ronia Ismawati Nur Azizah atau lebih dikenal Eddies Adelia menerima aliran dana kasus penipuan investasi batu bara yang dilakukan oleh suaminya, Ferry Ludwankara alias Ferry Setiawan, 35 tahun.

Artis Eddies Adelia hari ini Jumat (28/2/2014) rencananya mendatangi Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. “Senin kami pastikan Eddies akan hadir,” papar pengacara Eddies Adelia, Radhitya Yosodiningrat, kepada wartawan akhir pekan lalu.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menetapkan artis Eddies Adelia sebagai tersangka. Eddies Adelia dinyatakan ikut menikmati uang hasil penipuan yang dilakukan suaminya, Ferry Ludwankara alias Ferry Setiawan, 35 tahun. "Status hukum Eddies sudah ditingkatkan dari saksi menjadi tersangka. Hari ini merupakan pemeriksaan perdana sebagai tersangka, namun dia belum juga datang," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Rikwanto, di Jakarta, Jumat (28/2/2014). Hal tersebut merupakan buntut dari penahanan Ferry Setiawan dan rekan bisnisnya, Rizky Rachmad Agung Basuki, 32. Keduanya diamankan pada pertengahan Oktober 2013, karena terbukti melakukan bisnis batubara fiktif senilai Rp 21,2 miliar. Korbannya adalah seorang pengusaha bernama Apriyadi Malik alias AM.

Eddies Adelia, lanjut Kombes Pol. Rikwanto, diperiksa lantaran menerima aliran dana sebesar Rp 1 miliar dari hasil penipuan yang dilakukan oleh suaminya.

Sumber yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan, sejumlah uang Yaya, sapaan Apriyadi Malik, tersebut terlacak ditransfer ke rekening atas nama Eddies Adelia. Menurut sumber itu, sejumlah uang ini di antaranya digunakan untuk keperluan sehari-hari dan juga cicilan mobil Toyota Alphard milik Eddies Adelia berpelat nomor B-333-DIS. “Nilainya sampai ratusan juta,” bebernya.

Selain itu, uang ini digunakan Ferry Setiawan untuk membeli Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi atas nama CV. Cantung Mitra Karya Mandiri. Ferry Setiawan juga diketahui menggunakan uang itu untuk membayar sewa rumah untuk Direktur CV. Cantung Mitra Karya Mandiri, Erwin Hendrawin S., di kawasan Pondok Indah. “Untuk rumah itu sewanya Rp 200 juta per tahun,” paparnya.

Aliran dana ini juga mengalir kepada Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) M. Kholid Syeirazi. Soal ini, M. Kholid Syeirazi mengakuinya. Kepada wartawan pekan lalu, Staf Ahli Anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Ali Masykur Musa, ini mengatakan bahwa uang itu memang digunakan untuk kepentingan ISNU. “Tapi kami tidak tahu soal kasus atau bisnis Ferry,” katanya.

Adapun penasihat hukum Eddies Adelia, Radhitya Yosodiningrat enggan menanggapi soal aliran dana Ferry Setiawan ini. “Soal materi penyidikan, kami tidak bisa bicara, kami serahkan semuanya kepada penyidik,” ujarnya.

Fakta keterlibatan Eddies Adelia pun terkuak pascapenyerahan berkas perkara Ferry Setiawan dan Rizky Rachmad Agung Basuki oleh penyidik kepolisian ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Pasalnya, imbuh Kombes Pol. Rikwanto, Eddies Adelia selalu mengelak memberi penjelasan perihal pekerjaan sang suami.

Tindakan yang dilakukan Eddies Adelia ini dapat dikategorikan pelanggaran Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). "Ada aliran dana yang tidak wajar dan sedang diusut. Kalau memang tidak tahu apa bisnis suaminya, seharusnya dia (Eddies) curiga, bertanya, dan menolaknya. Ini jadi terkesan menutup-nutupi," beber Kombes Pol. Rikwanto.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya telah mengamankan Ferry Ludwankara alias Ferry Setiawan, 35, suami artis Eddies Adelia. Ferry Setiawan dicokok penyidik Satuan Sumber Daya Lingkungan Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya pada 18 Oktober lalu di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta sesaat setelah tiba dari Singapura.

Tersangka Ferry Setiawan dibekuk lantaran terlibat investasi batubara fiktif senilai Rp 21,2 miliar. Ferry Setiawan ditangkap setelah dirinya diadukan oleh rekan bisnisnya, Apriyadi Malik. Yaya, sapaan Apriyadi Malik, menuding Ferry Setiawan menipunya karena Bendahara Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) ini menggunakan dokumen palsu untuk mengiming-iminginya berinvestasi batu bara. Yaya mengaku telah menyetor uang sebesar Rp 21,2 miliar kepada Ferry Setiawan yang tak jelas ujungnya.

Tersangka Ferry Setiawan akan dikenakan dengan pasal berlapis. Penyidik Polda Metro Jaya akan menjerat pria yang merupakan mantan Bendahara Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) tersebut dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 372 KUHP tentang penggelapan, dan Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Selain Ferry Setiawan, penyidik juga melakukan penahanan terhadap Rizky Rachmad Agung Basuki, 32. Kedua pelaku terbukti bersalah lantaran bersekongkol menipu pengusaha berinisial AM.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Rikwanto, Senin (28/10/2013) menyebutkan, AM merupakan korban sekaligus pelapor atas kasus dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, dan pencucian uang. Laporan tertuang dalam LP/3330/IX/2013/PMJ/Dit Reskrimsus, tanggal 24 September 2013. Perkara penipuan yang diadukan Apriyadi Malik tertuang dalam LP/3330/IX/2013/PMJ/Dit Reskrimsus, 24 September 2013.

Modus operandi kedua pelaku, Ferry  Setiawan dan Rizky Rachmad Agung Basuki, yakni berpura-pura sebagai rekanan PT. PLN Batubara. Berbekal akta perjanjian kontrak kerjasama palsu, AM akhirnya terperangkap dalam tipu daya. "Mereka mencari mangsa dengan alasan punya hubungan dengan PT PLN sebagai PLTU (pembangkit listrik tenaga usap) yang menyerap sejumlah batubara," beber Kombes Pol. Rikwanto.

Apriyadi Malik dijanjikan keuntungan sebesar Rp 12 ribu/metrik ton untuk setiap pengiriman batubara yang diangkut menggunakan kapal tongkang dari Kalimantan. Korban tergiur keuntungan dan tidak menyadari kalau akta perjanjian tersebut ternyata dipalsukan. Dalam kasus ini, sambung Kombes Pol. Rikwanto, AM dijanjikan keuntungan (fee) sebesar Rp 12 ribu/metrik ton untuk setiap pengiriman batubara yang diangkut menggunakan kapal tongkang dari Kalimantan.

Agar bisnis berjalan lancar, investor tersebut yakni AM wajib mengucurkan dana segar sebesar Rp 300 juta untuk tiap bongkar muat kapal. Namun hingga tujuh kali pengiriman dengan total dana Rp 21.208.090.000, korban tidak juga menerima keuntungan seperti yang telah disepakati.

Perjanjian bisnis antara korban dan pelaku terjadi pada 1 Juli 2013. Bahkan sejak 23 Juli hingga 3 Agustus, pelaku mengaku sudah melakukan transaksi dan dibuktikan dengan tujuh lembar berkas final draft loading pengiriman batubara. Menurut Kombes Pol. Rikwanto, perjanjian bisnis antara korban dan pelaku terjadi pada 1 Juli 2013. Bahkan sejak 23 Juli hingga 3 Agustus, pelaku mengaku sudah melakukan transaksi dan dibuktikan dengan tujuh lembar berkas final draft loading pengiriman batubara. "Dan memang setelah dilakukan pemeriksaan, untuk pengiriman tidak ada dan dokumen final draft loading juga palsu alias fiktif. Tidak benar ada pengiriman batubara," pungkas mantan Kapolres Klaten, Kombes Pol. Rikwanto.

Mantan Wakapolwil Banyumas, Kombes Pol. Rikwanto menuturkan, Ferry Setiawan yang kini telah meringkuk diruang tahanan bertindak sebagai pencari investor. Sementara Rizky Rachmad Agung Basuki, 32 yang juga sudah ditahan bertugas membuat final draft loading palsu yang nantinya akan digunakan oleh Ferry Setiawan. (tem/kom)

See Also

Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.787.859 Since: 05.03.13 | 0.1323 sec