Opini

Eutanasia Vs Etika

Author : Joseph H Gunawan | Tuesday, 18 Februari 2014 | View : 1369

SBN

Legalisasi tindakan untuk memperpendek hidup dengan sengaja atau eutanasia di Indonesia masih menjadi perdebatan etika dan moral di kalangan aparat hukum dan dunia kedokteran dewasa ini. Namun, dari sisi agama, prinsipnya jelas, yakni tak seorang pun yang berhak atas hidup dan matinya orang lain.

Permohonan suntik mati (eutanasia) keluarga miskin, Kardjali Karsoud (69) atas istrinya, Samik (52) yang sakit, karena ketiadaan biaya pengobatan kemoterapi akibat penyakit kanker payudara akhirnya tidak dikabulkan. Pada pertengahan Desember lalu, Pemerintah Kota Surabaya pun telah membayar dan mengangsur tunggakan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) berobat warga miskin Surabaya ke pihak RSUD Dr. Soetomo senilai Rp 38 miliar dari total utang Rp 58 miliar.

Fakta tersebut menunjukkan eutanasia merupakan salah satu masalah pertentangan etika yang menarik dan telah menjadi perdebatan moral yang sengit, tidak terkecuali di Indonesia.

Beragam Pandangan

Terminologi eutanasia berasal dari bahasa Yunani eu yang artinya baik, indah, bagus, dan thanatos yang berarti kematian. Dipandang dari segi etimologis, eutanasia berarti kematian yang baik, menyenangkan atau bahagia. Eutanasia atau mercy killing yang berarti tindakan pembunuhan secara sengaja atas pasien yang sakit sangat parah, menderita, tanpa harapan hidup, dan menjelang maut menjemput untuk mengakhiri hidup pasien atas permintaannya sendiri.

Hal itu dilakukan dengan memberikan kepada sang pasien atas permintaannya sendiri zat-zat yang mematikan, atau sarana-sarana lain yakni menghentikan alat-alat atau mesin penunjang dan penyambung kehidupan yang canggih seperti alat pernafasan (respirator), ventilator, mesin jantung, dan paru-paru.

Alasan yang paling mendasar untuk eutanasia adalah menghindari rasa sakit serta membebaskan penderitaan akut yang biasanya dari natur fisik.

Ada banyak pandangan tentang penghentian rasa sakit atau penderitaan tersebut. Profesor hukum di The University of San Diego, Yale Kamisar, menemukan kontradiksi bahwa pasien dalam keadaan kesakitan yang tak tertahankan tidak cukup rasional berpikir jernih untuk memilih kematian dirinya sendiri. Karena itu, tepatlah kata Olga Lelacic, profesor hukum dari University of Split, bahwa seorang pasien yang meminta kepada dokter untuk memperpendek atau mengakhiri hidupnya, sebenarnya tidak ingin mati, namun ingin menghentikan dan lepas dari penderitaan karena penyakitnya.

Sementara itu, Bonnie Steinbock, profesor bioetikdari The University at Albany, The State University of New York berpendapat bahwa terdapat dua keadaan ketika penghentian dan pengakhiran perawatan untuk mempertahankan kehidupan tidak dapat disamakan dengan membiarkan mati secara sengaja.

Pertama, berkaitan dengan penghargaan dokter terhadap hak pasien untuk menolak perawatan dan untuk bebas dari campur tangan yang tidak dapat dibenarkan. Kedua, terkait dengan mengakhiri perawatan alat bantu khusus yang dianggap memberikan keuntungan sedikit saja bagi si pasien. Keputusan juga tergantung dari harapan akan manfaat sesungguhnya bagi pasien, karena dokter tidak dimandati tugas untuk melakukan apa yang tidak bermanfaat.

Eutanasia Dalam KUHP                               

Sampai saat ini belum ada payung hukum yang membolehkan tindakan eutanasia. Justru yang masih berlaku saat ini adalah KUHP yang melarang orang menghilangkan nyawa orang lain meski atas permintaan orang tersebut.

Meski pun tidak secara tegas diatur, eutanasia Tetap Melanggar KUHP. Pasal dalam KUHP secara jelas mengatur pemidanaan untuk penghentian nyawa seseorang, walaupun tidak jelas menyebutkan eutanasia sebagai salah satu bentuknya.

Di dalam Pasal 344 KUHP dinyatakan: “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sunguh-sunguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.”

Berdasarkan pasal ini, seorang dokter bias dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia, walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum.

Hanya saja isi Pasal 344 KUHP itu masih mengandung masalah. Sebagai terlihat pada pasal itu, bahwa permintaan menghilangkan nyawa itu harus disebut dengan nyata dan sungguh-sungguh. Maka bagaimanakah pasien yang sakit jiwa, anak-anak, atau penderita yang sedang dalam kondisi koma.

Pasien tersebut tidaklah mungkin membuat pernyataan secara tertulis sebagai tanda bukti sungguh-sungguh. Apabila eutanasia dilakukan juga, mungkin saja dokter atau keluarga terlepas dari tuntutan Pasal 344 itu, tetapi ia tidak bias melepaskan diri dari tuntutan Pasal 388 yang berbunyi: “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun.” Dokter melakukan tindakan eutanasia (aktif khususnya), bisa diberhentikan dari jabatannya, karena melanggar etik kedokteran.

Di dalam Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Menteri Kesehatan Nomor: 434/Men.Kes./SK/X/1983 disebutkan pada Pasal 10: “Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani.” Kemudian di dalam penjelasan pasal 10 itu dengan tegas disebutkan bahwa naluri yang kuat pada setiap makhluk yang bernyawa, termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya. Usaha untuk itu merupakan tugas seorang dokter. Dokter harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani, berarti bahwa baik menurut agama dan Undang-undang Negara, maupun menurut Etika Kedokteran, seorang dokter tidak dibolehkan mengakhiri hidup seseorang penderita, yang menurut ilmu dan pengalaman tidak mungkin akan sembuh lagi (eutanasia).

Jadi sangat tegas, berdasarkan peraturan perundang-undangan maupun kode etik kedokteran, seorang dokter bisa dituntut penegak hukum apabila dokter tersebut melakukan eutanasia, tidak peduli jika itu adalah permintaan si pasien atau pun keluarganya. Para dokter di Indonesia secara tegas dilarang melakukan eutanasia. Apabila seorang dokter menuruti permintaan pasien untuk melakukan eutanasia, maka dokter tersebut bisa terkena sanksi.

Di dalam kode etika itu tersirat suatu pengertian, bahwa seorang dokter harus mengerahkan segala kepandaiannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan memelihara hidup manusia (pasien), tetapi tidak untuk mengakhirinya.

Kedaulatan Allah

Kemajuan teknis biomedis dan teknologi kedokteran memang harus membantu meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup individu, bukan malah mengaburkan batas antara hidup dan mati. Jadi tak ada alasan untuk mengakhiri hidup seseorang, meski dengan teknologi yang paling canggih sekalipun.

Di sini, patut diteladani gerakan klinik kematian atau hospice care movement yang dipelopori Dame Cicely Mary Saunders(1918-2005). Ia mencoba mencari jalan keluar dengan dengan mendirikan St. Christopher’s Hospice di London pada 1967 dengan menyiapkan perawatan paliatif dalam kedokteran modern, clinical care, dan penanganan nyeri.

Pandangan yang lebih menukik datang dari Adrian Holderegger, profesor teologi moral dan etikapada Universite de Fribourg. Dia menilai manusia harus menghadapi kesulitan, situasi malang, sakit, penderitaan yang bisa mendorong melakukan bunuh diri. Namun, sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia wajib memaksimalkan kemampuan potensi dirinya.

Selain penetapan Pengadilan, keterangan dari Kejaksaan juga harus diminta agar di kemudian hari negara tidak menuntut masalah eutanasia tersebut. Terlepas dari masalah diatas, menurutnya hidup mati seseorang hanya dapat ditentukan oleh Allah.

Ini harus dilihat sebagai tahap proses pematangan, pendewasaan diri tertinggi, dan tidak boleh diperpendek manusia. Ini berarti termasuk pelarangan tindakan memperpendek umur serta mempersingkat hidup secara langsung maupun tidak langsung. Penderitaan mempunyai makna dan arti khusus dalam rencana keselamatan Allah yang indah.

Manusia dapat belajar dari penderitaan. Penderitaan dapat menguatkan manusia dan dapat memperkaya hidup rohaninya. Penderitaan bukan untuk dihindari, tetapi dapat menjadi suatu masa yang menguji dan membangun karakter. Manusia harus selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dan meringankan penderitaan.

Karena itu, penyebab kematian manusia dengan eutanasia tidak dapat diterima dengan alasan apa pun, karena hal ini menolak kedaulatan Allah atas maksud dan tujuan pemberian hidup kepada manusia serta bertentangan dengan prinsip pro-life. Eutanasia melihat manusia sebagai tuan atas kehidupan dirinya sendiri. Kehidupan manusia sebagai anugerah dari Allah, harus dipelihara dalam perwalian sepanjang kehidupan manusia di bumi.

Menentukan saat kematian adalah hak prerogatif Allah, bukan manusia. Hak mutlak yang ada pada Allah atas hidup dan mati manusia. Hidup dan mati manusia berada dalam tangan Allah. Allah yang menguasainya. Manusia tidak memiliki hak mutlak untuk mengambil keputusan tentang hidup atau matinya manusia. Keputusan berada dalam tangan Allah.

Tugas manusia adalah bukan mengambil keputusan menggantikan Allah, tetapi menunggu keputusan itu dari Allah atau harus menunggu waktu Allah yang membuktikan tanggung jawab manusia untuk hidupnya di hadapan Allah. Allah yang menciptakan manusia sebagai makhluk yang unik dan hanya Allahlah berhak memanggilnya kembali, kalau saatnya sudah tiba.

Akhirnya, semua terletak pada Allah. Allah adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Meminjam pemikiran teolog Pdt. Dr. Stephen Tong bahwa identitas manusia ditetapkan sedemikian tinggi, anggun, hormat, dan mulia karena rencana dan kehendak Allah yang kekal menjadikan manusia dicipta mirip Allah menurut peta dan teladan-Nya sendiri (imago Dei). Manusia menjadi reflektor Allah dan Allah memberikan tanggung jawab kepada manusia atas hidup manusia. (jos)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
jQuery Slider
Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.787.821 Since: 05.03.13 | 0.1268 sec