Hukum

KPK Klarifikasi Kepemilikan Dua Pulau

Sunday, 16 Februari 2014 | View : 905

JAKARTA-SBN.

Terkait dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang disangkakan kepada Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, adik kandung Gubernur provinsi Banten nonaktif, Ratu Atut Chosiyah. Sejumlah aset yang dimiliki keluarga Ratu Atut Chosiyah diduga bersumber dari aliran dana hasil pencucian uang.

Lembaga antirasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku terus menelusuri dan mengusut aset yang dimiliki Gubernur provinsi Banten nonaktif Ratu Atut Chosyiah. Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah Chasan diduga memiliki dua pulau di provinsi tersebut. Informasi ini muncul dari dijeratnya Tubagus Chaery Wardana dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Termasuk adanya informasi dugaan dua pulau yang dimiliki keluarga Ratu Atut Chosiyah. “Belum ada informasi itu, tapi (jika ada) akan ditelusuri,'' tutur Kepala Biro Humas atau Juru Bicara KPK Johan Budi Sapto Prabowo kepada wartawan, Sabtu (15/2/2014) petang.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto angkat bicara mengenai dua pulau di Pandeglang, Banten, yang disebut-sebut dimiliki Gubernur Banten nonaktif Ratu Atut Chosiyah (52).

Menurut Bambang Widjojanto pihaknya segera menelusuri kepemilikan harta tersebut, mengingat KPK tengah melakukan penelusuran aset Ratu Atut Chosiyah selaku tersangka.

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyatakan, pihaknya akan mengklarifikasi terlebih dahulu soal keluarga Ratu Atut Chosiyah yang diduga memiliki dua pulau di Banten. "Tentu harus diklarifikasi lagi," kata Bambang Widjojanto dikonfirmasi, Minggu (16/2/2014) malam.

Menurut Bambang Widjojanto, pihaknya mengharapkan informasi lebih soal kepemilikan pulau itu. Sebab, komisi kini masih menyidik kasus korupsi yang telah menjerat Ratu Atut Chosiyah dan pencucian uang yang menjerat adik Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan. "KPK mengharapkan bila ada masyarakat yang mengetahui rincian informasi soal kepemilikan kedua pulau tersebut dan juga jika ditemukan harta kekayaan lain yang diduga dimiliki tersangka lain, KPK imbau masyarakat segera memberitahukannya ke KPK dan kami sangat berterima kasih atas hal itu," jelas Bambang Widjojanto melalui pesan singkatnya, Minggu (16/2/2014).

Tak hanya itu, Bambang Widjojanto juga mengimbau agar masyarakat bisa berpartisipasi dalam rangka penyidikan kasus dugaan suap pemilukada Kabupaten Lebak, Banten dan korupsi Alat Kesehatan (Alkes) provinsi Banten.

KPK, sambung dia, berharap masyarakat dapat memberikan informasi soal dugaan kepemilikan dua pulau itu. Harap BW begitu biasa disapa, masyarakat bisa memberi informasi kepada KPK, bila mengetahui adanya harta tersangka yang belum diketahui KPK. "KPK mengharapkan bila ada masyarakat yang mengetahui rincian informasi soal kepemilikan kedua pulau tersebut segera memberitahu KPK dan kami sangat berterima kasih atas hal itu," kata Bambang Widjojanto dalam pesan singkat kepada wartawan. "Jika yang ditemukan harta kekayaan lain yang diduga dimiliki tersangka lainnya, KPK imbau agar masyarakat segera memberitahukannya ke KPK," tukas Bambang Widjojanto.

Juru Bicara keluarga Ratu Atut Chosiyah, Fitron Nur Ikhsan belum mengetahui soal keluarga Ratu Atut Chosiyah yang memiliki dua pulau di Banten. "Saya sampai sekarang belum berhasil mengkonfirmasi," ucap Fitron Nur Ikhsan.

Juru Bicara keluarga Ratu Atut Chosiyah tidak mengetahui secara pasti kebenaran kabar tersebut. Pihaknya meminta agar media dapat memberikan berita yang seimbang dan tidak sumir dalam pemberitaan kasus ini, dengan meminta keterangan dari pihak yang berwenang.

Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, yang kini menjadi penghuni terungku Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ternyata memiliki kekayaan yang luar biasa.

Betapa tidak, belakangan mencuat dua pulau kecil yang berada di Provinsi Banten turut dikuasai sebagai hak milik Ratu Atut Chosiyah dan keluarganya. "Sang Ratu" ternyata mempunyai dua pulau di wilayah  Pandeglang, Provinsi Banten. Dua pulau kecil yang berada di Banten diduga telah dijadikan hak milik oleh wanita yang telah mendekam di Rutan KPK itu.

Keluarga Ratu Atut Chosiyah disebut-sebut memiliki dua pulau di wilayah Pandeglang, Provinsi Banten. Pulau itu ialah, Pulau Liwungan dan Pulau Popole.

Namun dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2006 milik Ratu Atut Chosiyah, tidak tercatat kepemilikan dua pulau itu.

Dari LHKPN yang diterima KPK, Ratu Atut Chosiyah mempunyai total kekayaan Rp 41,93 miliar. Ratu Atut Chosiyah memiliki sejumlah bidang tanah dan bangunan yang tersebar di sejumlah tempat, seperti Serang, Bandung, Cirebon, dan Jakarta.

Adapun nilai total harta tak bergerak ini mencapai Rp 19,1 miliar. Selain itu, kekayaan Ratu Atut Chosiyah tersimpan dalam bentuk harta bergerak, yakni mobil dan motor.

Total nilai mobil dan motornya adalah Rp 3,93 miliar. Harta bergerak lainnya logam mulia dan batu mulia senilai Rp 8,22 miliar. Surat berharga Rp 7,85 miliar dan giro Rp 2,77 miliar.

Untuk diketahui, kontroversi soal dugaan kepemilikan pulau dan tanah  ini muncul dan mencuat pascapenelusuran aliran dana tersangka adik Gubernur provinsi Banten, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan.

Kedua pulau tersebut diduga berada di kawasan Banten Selatan. Lokasi tersebut yang juga telah ditetapkan sebagai zona kawasan ekonomi khusus daerah pariwisata oleh pemerintah pusat. Pulau Popole dan Liwungan terletak di sebelah barat Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang.

Pulau pertama yang dimiliki keluarga Ratu Atut Chosiyah adalah Pulau Liwungan, yang berlokasi di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang.

Untuk mencapai pulau itu, bisa ditempuh melalui Tanjung Lesung dalam waktu setengah jam apabila menggunakan  kapal wisata milik warga.

Pulau Popole, bisa ditempuh dari Tanjung Lesung dalam waktu tiga jam dengan kapal yang sama. Pulau Popole ini letaknya di Kecamatan Labuan,  juga Kabupaten Pandeglang.

Sebenarnya, untuk menuju Pulau Popole lebih enak ditempuh dari Kampung Karangsari, RT04/RW07, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan. Dari situ waktu tempuhnya  hanya setengah jam naik perahu dengan kekuatan mesin 10 PK.

Tapi sejak Ratu Atut Chosiyah menjadi tahanan KPK, kondisi kedua pulau itu telantar.

Pulau Liwungan dan Pulau Popole ini, punya kontur alam yang mirip-mirip. Tapi Pulau Liwungan, sama sekali belum tergarap.

Pulau Liwungan dan Pulau Popole ini, sama-sama dijaga pasutri berusia lanjut. Penjaga Pulau Liwungan adalah Jarkan (75) dan Siti Aisyah (60), warga Kampung Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang.

Mereka baru tiga bulan menjaga pulau itu, menggantikan penjaga pulau sebelumnya yang mengundurkan diri karena matanya sudah sulit melihat.

Sedangkan penjaga Pulau Popole adalah pasutri Sapri (65) dan Yunti (45).

Jarkan menceritakan, penanggungjawab kedua pulau itu bernama Ipah, seorang perempuan berusia 60-an tahun.

Ipah adalah keluarga Ratu Atut Chosiyah. Ipah pula yang mempekerjakan Jarkan. Ipah masih memiliki ikatan persaudaraan dengan Ratu Atut Chosiyah. Ipah juga masih keturunan Sultan Banten. Makanya, Ipah ini adalah kepercayaan keluarga Ratu Atut Chosiyah, sehingga urusan pulau diserahkan kepadanya. di kawasan Labuan Ipah termasuk terkenal. Umur wanita ini sudah 60 tahun. Dia punya usaha pariwisata di Labuan. Tadinya Ipah punya empat kapal boat untuk mengantar turis berkeliling laut di Labuan. Tapi kini Ipah tinggal punya dua kapal boat saja.

Pulau Liwungan, kata Jarkan, menurut Ipah memang milik keluarga Ratu Atut Chosiyah. Tapi soal kepemilikannya, masih simpang siur karena ada yang menyebutkan bahwa pulau itu adalah milik keluarga Ratu Atut Chosiyah.

Tapi Jarkan mendengar pula, bahwa Pulau itu milik orang lain yang disewa keluarga Ratu Atut Chosiyah.

Konon kabarnya pulau itu disewa selama 25 tahun. Sekarang sudah masuk tahun ke-20. Berarti lima tahun lagi masa sewanya habis. "Tapi, dulu ada informasi bahwa almarhum Chasan (ayah Atut), pernah mengatakan kepada warga bahwa dia punya sertifikat hak milik Pulau Liwungan," kata Jarkan.

Sekitar tahun 90-an, pulau itu disewakan untuk menanam pohon kelapa. Di Tanjung Lesung, tadinya Chasan Sochib memang menyewa Pulau Liwungan untuk ditanami pohon kelapa. Makanya, banyak pohon kelapa di pulau itu. Tapi, kemudian usaha budidaya kelapa itu tak diteruskan lagi. Saat ini, kelapa-kelapa itu cuma jadi bagian wisata. Pengunjung yang mau memetik kelapa harus membayar Rp 5 ribu.

Tercium kabar juga Pulau Liwung milik keluarga Ratu Atut Chosiyah. Konon, setiap Chasan Sochib datang ke Tanjung Lesung, selalu menceritakan bahwa dia memiliki sertifikat hak milik Pulau Liwungan dan hal itu pernah diucapkan di pertemuan-pertemuan di desa.

Chasan Sochib, ayah Ratu Atut Chosiyah, sempat mencoba membuat tempat penyewaan mewah untuk disewakan di pulau ini. Pembangunannya sekitar pertengahan tahun 1990-an. Tapi pada 1998, tak lagi ada penggarapan pulau yang serius. Kini kondisi resort itu mangkrak tak terurus. (tri/jos/jpnn/met)

See Also

Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.787.903 Since: 05.03.13 | 0.1853 sec