Internasional

Putaran Pertama Perundingan Suriah Berakhir Di Jenewa

Saturday, 01 Februari 2014 | View : 825
Tags : Jenewa, Suriah

JENEWA-SBN.

Delegasi dari lebih 30 negara, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pihak-pihak yang bermusuhan dalam perang saudara Suriah yang memasuki tahun ketiga berkumpul di Montreux, Swiss, Rabu (22/1/2014), untuk pembicaraan perdamaian tahap pertama yang sudah lama ditunggu.

Sasaran konferensi yang sudah dinyatakan adalah untuk mengusahakan agar pemerintah Suriah dan pemberontak yang berusaha menggulingkan Presiden Bashar al-Assad menyepakati pemerintahan transisi.

Pemerintah Suriah sudah lama bersikeras bahwa Presiden Bashar al-Assad tidak akan mengundurkan diri, dan perbedaan ini telah menimbulkan keraguan akan prospek terobosan utama dalam perundingan.

Namun Menteri Penerangan Suriah mengatakan Selasa (21/1/2014) bahwa pemerintah optimistis, dan delapan bulan setelah usaha pertama untuk mengadakan pembicaraan, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague menekankan perlunya memanfaatkan kesempatan  itu.

Pertemuan Rabu (22/1/2014) akan memberi delegasi kesempatan membicarakan usaha perdamaian sebelum proses bergeser ke pembicaraan Jumat (24/1/2014) di Jenewa hanya antara pihak Suriah dan utusan Liga Arab/PBB, Lakhdar  Brahimi.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov memimpin pembicaraan itu.

Tetapi, sekutu utama Suriah di kawasan itu, Iran, tidak akan hadir. Sekjen PBB Ban Ki-moon membatalkan undangan untuk Iran ketika negara itu tidak mau menerima sasaran pembentukan pemerintah transisi di Suriah yang kemungkinan besar tidak akan mengikutkan Presiden Bashar al-Asaad.

Menlu Rusia Sergei Lavrov menyebut keputusan Ban itu kekeliruan, tetapi bukan bencana.  Ia mengatakan kehadiran Iran sangat penting untuk keberhasilan.

Mediator PBB Lakhdar Brahimi mengumumkan negosiasi putaran berikutnya mungkin akan dimulai Senin (10/2/2014), menunggu persetujuan dari pemerintah Suriah.

Babak pertama pembicaraan perdamaian yang melibatkan pemerintah Suriah dan oposisi akan diselesaikan Jumat (31/1/2014), dan hampir tidak ada kemajuan mengenai masalah-masalah utama.

Persetujuan untuk bertemu lagi kemungkinan satu minggu lagi diprediksi akan menjadi satu-satunya hasil perundingan hari ketujuh dan terakhir di Jenewa itu.

Mediator PBB Lakhdar Brahimi mengatakan ia berharap akan pembicaraan yang lebih mendalam pada pembicaraan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu, dan mengemukakan ini “baru permulaan dari proses tersebut.”

Lakhdar Brahimi mengumumkan negosiasi putaran berikutnya mungkin akan dimulai Senin (10/2/2014), menunggu persetujuan dari pemerintah Suriah.

Namun Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem mengatakan delegasi pemerintah tidak akan segera berkomitmen untuk kembali berunding lebih jauh tanpa masukan dari Presiden Bashar al-Assad. "Pertama-tama dia akan membaca laporan kami tentang apa yang terjadi pekan ini dan kemudian akan berdiskusi dengan kami, dan pemerintah, lalu mengambil keputusan," kata Menlu Suriah Walid al-Moallem.

Para pihak yang bertikai sepakat untuk menggunakan komunike 2012 sebagai dasar bagi peta jalan menuju perdamaian. Namun pemerintah menolak permintaan oposisi untuk dibentuknya badan baru Suriah tanpa keterlibatan Presiden Bashar al-Assad.

Kedua pihak bahkan bertengkar mengenai topik apa yang dibicarakan pada pembicaraan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu. Pemerintah ingin memulai dengan pembicaraan terorisme. Pada Kamis (30/1/2014), pemerintah mengajukan resolusi yang menghendaki pengakhiran pendanaan tindak teroris.

Oposisi menolaknya dengan menyebutnya sepihak, dan mengatakan tidaklah bermanfaat membicarakannnya tanpa lebih dahulu membentuk pemerintah transisi.

Dalam jawabannya, delegasi Damaskus menganggap bahwa delegasi oposisi menolak pernyataan mengutuk terorisme karena mereka sendiri teroris.

Amerika Serikat (AS) meminta Suriah agar mempercepat upaya menyerahkan senjata kimia untuk dihancurkan. Berbicara di Jerman hari Jumat, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan "tidak ada alasan yang sah" untuk keterlambatan dalam memberikan dan menghancurkan senjata itu.

Menlu AS John Kerry meminta Presiden Bashar al-Assad dan Suriah untuk "memenuhi kewajibannya," atau Amerika Serikat akan mempertimbangkan langkah-langkah lebih lanjut, dan mengemukakan bahwa "semua opsi ada di atas meja."

Seperti dikabarkan sebelumnya, peluang mendapatkan dukungan dari Inggris dalam rencana Amerika Serikat (AS) melakukan serbuan militer terhadap Suriah sepertinya sia-sia saja. Hal ini bisa terjadi setelah Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron, tak berhasil membujuk parlemen Inggris untuk mendukung rencana terjun bersama AS melakukan serbuan militer ke Suriah guna menyudahi konflik sipil yang telah merenggut ribuan nyawa.

Penolakan parlemen Inggris itu dilakukan lewat pemungutan suara yang dilakukan pada Kamis (29/8/2013) waktu setempat. "Jelas bagi saya bahwa hasil pemungutan suara yang dilakukan oleh parlemen Inggris menggambarkan aspirasi masyarakat Inggris. Mereka tidak ingin melihat Inggris terlibat dalam serbuan militer ke Suriah. Saya memahami itu, dan pemerintah akan segera mengambil sikap," tanggap PM David Cameron dengan kecewa, Jumat (30/8/2013).

Sebelumnya, Inggris mengumumkan akan menyerahkan sebuah rancangan resolusi kepada Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mengutuk penggunaan senjata kimia yang diduga kuat dilakukan oleh tentara Suriah dengan alasan melindungi warga sipil.

PM David Cameron pantang menyerah mendesak agar Inggris segera menentukan sikap. "Jika konflik Suriah tidak segera disikapi, penggunaan senjata berbahaya akan kembali digunakan, lagi dan lagi, bahkan dalam skala yang lebih besar," kata PM David Cameron di hadapan anggota parlemen Inggris.

Sejauh ini, AS menyalahkan rezim Pemerintah Suriah atas dugaan serangan gas beracun pada Rabu pekan lalu di pinggir Kota Damaskus, yang menewaskan hingga ratusan warga sipil. Menurut intelijen AS, Suriah telah 14 kali menggunakan senjata kimia untuk membasmi oposisi pemberontak.

Untuk memperoleh justifikasi bagi serbuan ke Suriah, saat ini AS dan sekutunya mencari bukti-bukti konkret tambahan lewat jalur intelijennya untuk membantu tim penyelidik PBB atas penggunaan senjata kimia.

Menurut Aljazeera, Jumat (30/8/2013), sejauh ini pihak AS telah berhasil mengumpulkan rekaman sadapan percakapan telepon dari pejabat penting Suriah yang isinya menjelaskan bahwa serangan senjata kimia dilancarkan atas komando dari pihak rezim Bashar al-Assad.

Di pihak lain, tim penyelidik PBB yang sudah berada di Suriah selama empat hari, pada Sabtu (31/8/2013) pagi, sudah bisa meninggalkan Suriah untuk melaporkan hasil temuan mereka ke Sekjen PBB, Ban Ki-moon, dan mengirimkan analisis sampel ke laboratorium rekanan badan PBB di Swedia dan Finlandia untuk diteliti secara lengkap.

Pada bagian lain, sampai Kamis (29/8/2013) malam, Presiden AS, Barack Obama, mengaku masih menimbang-nimbang sikap apa yang hendak diambil AS terkait dugaan penggunaan senjata kimia berbahaya dalam konflik Suriah. Sama seperti Inggris, pertimbangan itu juga didasarkan atas masukan dari anggota senat kepada pemerintah dan penasihat khususnya.

Namun, sejauh ini, baik Inggris maupun Amerika Serikat (AS) belum memutuskan akan menggunakan kekuatan militer atau tidak. Kedua negara dan sekutu-sekutu AS masih menunggu bukti-bukti benar atau tidaknya penggunaan senjata kimia berbahaya yang dikumpulkan dari "berbagai sumber".

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama didesak oleh para pembuat kebijakan di AS agar segera berkonsultasi dengan mereka dan segera mengambil keputusan menindaklanjuti dugaan kuat penggunaan gas beracun dalam serangan Rabu pekan ketiga Agustus 2013.

Sebagai negara terkuat di dunia, AS dibanjiri tekanan untuk segera mengambil tindakan atas konflik Suriah yang sudah berjalan 2 tahun lebih.

Menteri Luar Negeri John Kerry mengeluarkan pernyataan keras pada Senin (26/8/2013). Dia mengatakan bahwa serangan senjata kimia yang diduga dilakukan oleh Pemerintah Suriah adalah perbuatan "pencabulan moral" dan menuduh Pemerintah Suriah telah menutup-nutupi hal ini.

Dikatakan John Kerry, saat ini Presiden Barack Obama sedang berkonsultasi dengan sekutu-sekutunya dan anggota kongres. Keputusan untuk mengatasi konflik Suriah diharapkan bisa diputuskan dalam waktu sesegera mungkin.

Dua partai besar di AS, partai Demokrat dan partai Republik, keduanya sama-sama menekankan agar Barack Obama berjanji untuk berkonsultasi dulu dengan para anggota parlemen dalam menentukan masa depan AS, termasuk pilihan untuk melakukan agresi militer terhadap negara yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad. "Tim keamanan nasional presiden mengatakan dia (Obama) masih menimbang-nimbang segala pilihan yang ada dan akan berkonsultasi dengan anggota parlemen," kata Eliot Engel, wakil Partai Demokrat di Badan Komisi Hubungan Internasional AS.

Konflik Suriah yang semakin memburuk telah membuat lebih dari 140 pembuat kebijakan di AS mengimbau Barack Obama agar menggunakan wewenangnya agar AS melakukan agresi militer ke Suriah tanpa harus meminta restu dari anggota parlemen, restu PBB, ataupun tanpa didukung sekutu.

Desakan itu kian deras muncul setelah Pemerintah Inggris dan Jerman, yang terakhir dimintai dukungannya, menolak opsi serbuan militer sekutu ke Suriah.

Saat ini, yang tetap setia mendukung AS bagi serbuan militer ke Suriah hanya Prancis. "Prancis masih ingin melalukan aksi (serbuan militer) terhadap rezim di Damaskus. Kami telah bersiap diri dan menempatkan posisi kami bersama sekutu," tegas Presiden Prancis, Francois Hollande.

Sementara itu, untuk mempersiapkan diri atas kemungkinan terjadi serbuan ke Suriah, armada Angkatan Laut AS telah menambah pengiriman satu kapal perang lagi ke perairan di Mediterania.

Sementara dari pihak Prancis, kekuatan militer belum dijelaskan akan ditempatkan di mana. Kabar terakhir, Pemerintah Prancis telah siap mengirimkan jet tempur Rafale yang tercanggih jika serbuan terjadi.

Dua anggota DK PBB yang menentang serbuan militer ke Suriah, Rusia dan China, belum mengeluarkan veto. Kedua negara itu malah mengharapkan AS mau bersabar agar tak mengambil "jalan pintas" untuk menuntaskan konflik di Suriah sambil menunggu laporan secara terperinci dari penyelidikan PBB atas penggunaan senjata kimia.

Dari pihak Suriah, ancang-ancang pergerakan militer pun telah dilakukan. Menurut informasi oposisi pemberontak di Suriah, pasukan militer Suriah telah memindahkan lokasi peluncuran misil Scud dari markas militer di Damaskus utara. Tak hanya alutsista militer, para personel dan pejabat penting Suriah pun telah diungsikan ke tempat yang aman agar terhindar jadi korban serbuan militer AS dan sekutunya.

Rencana Amerika Serikat (AS) melakukan agresi militer ke Suriah kian menguat setelah Inggris dan Prancis mendukung rencana tersebut. Bahkan, AS dikabarkan akan mengintervensi Suriah tanpa menunggu persetujuan Dewan Keamanan PBB karena khawatir Rusia melakukan veto.

Selain itu, dukungan kepada AS juga didapat dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, setelah Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, melakukan kunjungan.

Bahkan, saat menghadiri pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN di Brunei, Rabu (28/8/2013), Menhan AS, Chuck Hagel mengatakan jika Presiden Barack Obama memberikan perintah maka pasukan AS siap melancarkan serangan terhadap rezim Suriah yang menggunakan senjata kimia saat melawan oposisi. "Kami siap dan telah memindahkan aset-aset yang ada untuk memenuhi dan mematuhi pilihan apa pun yang Presiden ingin ambil," tegas Chuck Hagel.

Serangan yang terjadi akhir pekan lalu di Damaskus itu telah mengakibatkan lebih dari 300 orang tewas.

Wakil Presiden AS, Joe Biden, di depan para veteran perang yang tengah berkumpul di Houston, Texas  mengatakan bahwa yang bertanggung jawab atas penggunaan senjata di Suriah adalah Pemerintah Suriah saat ini. "Mereka menggunakan senjata kimia terhadap pria, wanita, dan anak-anak yang tidak berdaya. Mereka harus bertanggung jawab," cetus Wapres AS Joe Biden.

Inggris dan Prancis, secara terbuka, mendukung rencana AS untuk melakukan intervensi ke Suriah untuk menyudahi konflik. Dukungan itu kian menguat kala kecurigaan terhadap rezim yang berkuasa di Suriah saat ini menggunakan senjata kimia untuk menumpas oposisi pemberontak Suriah. Suriah terus mendapat kecaman karena diyakini telah menggunakan senjata militer berbahaya dalam menghadapi pejuang oposisi.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, sampai mengatakan penggunaan senjata kimia itu "sungguh mengerikan" dan dibutuhkan tindakan dari dunia internasional untuk menghentikan hal tersebut. "Dibutuhkan respons yang proporsional," tukas PM Inggris David Cameron, Selasa (27/8/2013).

Bagi David Cameron, konflik Suriah sudah saatnya "diperjelas", bahkan jika memang memungkinkan dia tidak ragu menggunakan langkah "keras" sebagai bagian dari pengambilan keputusan. Dia bahkan meyakinkan pasukan militer Inggris saat ini sudah berada dalam posisi siap jika memang langkah militer diperlukan. “Ini sangat masuk akal untuk memastikan kekuatan militer telah tanggap dengan rencana darurat yang dibuat," kata Juru Bicara David Cameron.

Inggris bahkan akan menyerahkan sebuah rancangan resolusi kepada Dewan Keamanan PBB mengutuk penggunaan senjata kimia yang diduga kuat dilakukan oleh tentara Suriah dengan alasan melindungi warga sipil. "Resolusi itu akan dimasukkan pada sebuah pertemuan dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB Rabu ini di New York," kata Perdana Menteri Inggris, David Cameron.

Bagi Inggris, konflik Suriah telah menjadi prioritas untuk segera diselesaikan. David Cameron bahkan sampai mempersingkat liburan musim panasnya agar bisa melakukan pertemuan dengan anggota parlemen guna membahas cara terbaik menindaklanjuti perkembangan konflik Suriah.

Rencananya, David Cameron akan melakukan pertemuan dengan National Security Council Inggris pada Rabu (28/8/2013) untuk membahas konflik Suriah dan diharapkan pertemuan dengan para pemimpin dunia bisa menyusul segera agar konflik di sana tidak berlarut-larut.  "Setiap keputusan akan diambil dibawah kerangka peraturan internasional yang ketat. Segala tindakan penggunaan senjata kimia benar-benar tidak dapat diterima dan sangat mengerikan serta masyarakat internasional harus menanggapi itu," ujar Juru Bicara David Cameron.

Selain Inggris, Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, juga mengecam "kejahatan kemanusiaan" di Suriah.

Bagi negara tetangga dekat Suriah itu, serangan gas beracun dalam konflik antar tentara Suriah dengan pejuang oposisi pada Rabu (21/8/2013) lalu hingga menewaskan ratusan orang merupakan sebuah ujian bagi masyarakat internasional. "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, apa yang perlu dilakukan harus segera dilakukan," kata Ahmet Davutoglu kepada para wartawan, Selasa (27/8/2013).

Senada dengan AS, Inggris, dan Turki, Indonesia juga mengecam penggunaan senjata kimia berbahaya di Suriah hingga mengakibatkan ratusan warga sipil meninggal dunia. Dalam pertemuan dengan Deputi Sekjen PBB, Senin (26/8/2013) kemarin waktu setempat di Markas Besar PBB di New York, Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, menegaskan sikap Indonesia amat mengecam penggunaan senjata kimia di Suriah. "Masyarakat internasional tidak dapat membiarkan semakin memburuknya situasi di Suriah. Jika terbukti, penggunaan senjata kimia menandai titik terendah dalam konflik di Suriah. Kita perlu memberikan dukungan kepada upaya investigasi PBB atas dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah dan masyarakat internasional perlu memastikan agar pelaku tindakan tidak berperikemanusiaan tersebut mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Marty Natalegawa.

Secara khusus, Menlu RI kembali menegaskan perlunya peran utama PBB, khususnya Dewan Keamanan PBB, dalam menyelesaikan berbagai situasi yang dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Pada kesempatan terpisah, Marty Natalegawa juga melakukan pembicaraan per telepon dengan Menlu Turki membahas masalah Suriah.

Di Paris, Presiden Prancis, Francois Hollande, pun mengatakan negerinya "siap menghukum" mereka yang berada di belakangan tuduhan serangan-serangan kimia. Francois Hollande juga mengatakan Prancis akan meningkatkan dukungan militer bagi Koalisi Nasional Suriah yang beroposisi dan akan bertemu dengan ketuanya, Ahmad al-Jarba, pada Kamis.

Surat kabar the Washington Post yang mengutip pernyataan beberapa pejabat senior Pemerintah AS melaporkan aksi serangan mungkin akan berlangsung tak lebih daripada dua hari dan melibatkan peluru-peluru kendali atau pengebom jarak jauh menyerang sasaran militer yang tidak terkait langsung dengan gudang senjata kimia Suriah.

Rusia yang selama ini setia mendukung rezim Suriah, melalui pernyataan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, telah mengatakan Moskwa tidak akan terlibat dalam konflik militer dan telah memperingatkan intervensi terhadap Suriah akan memunyai konsekuensi bencana besar bagi Timur Tengah yang rentan.

Buntut dari bergulirnya keyakinan penggunaan senjata kimia di Suriah, Pemerintah Rusia mengkonfirmasi telah mengevakuasi 116 warga negaranya dari sana, termasuk warga negara yang berasal dari negera-negara bekas Uni Soviet. Moskwa mengerahkan dua pesawat terbang milik Kementerian Gawat Darurat untuk mengangkut mereka dari Bandar Udara Latakia, Suriah. (aljazeera/afp/washingtonpost)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.405.782 Since: 05.03.13 | 0.2751 sec