Politik

Tak Tahan Tekanan, Tri Rismaharini Ingin Mundur Dari Wali Kota Surabaya?

Friday, 14 Februari 2014 | View : 1174

SURABAYA-SBN.

Beredar rumor Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, yang merupakan Wali Kota Surabaya wanita yang pertama menjabat untuk periode 2010-2015 dan alumnus Arsitektur ITS Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T. ingin mengundurkan diri dari jabatannya.

Sebelum menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, ia menduduki posisi sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Di bawah kepemimpinannya sebagai Kepala DKP hingga Wali Kota saat ini, Surabaya menjadi kota yang bersih dan asri. Bahkan kota yang mendapat sebutan Kota Pahlawan ini berhasil meraih kembali Piala Adipura 2011 untuk kategori kota metropolitan setelah lima tahun berturut-turut tak lagi memperolehnya.

Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini yang menjabat sejak 28 September 2010 akhirnya menerima Piala Adipura Kencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/3/2013). Perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013 diperingati dengan pemberian penghargaan Adipura bagi kota/provinsi dan Kalpataru bagi individu yang peduli pada lingkungan hidup.

Wanita yang akrab disapa dengan nama Risma ini berada di bawah naungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ia terkenal sebagai sosok wanita yang tegas dan tak kenal kompromi dalam menjalankan tugasnya. Wanita kelahiran 20 November 2011 ini menjadi salah satu nominasi Wali Kota terbaik di dunia, 2012 World Mayor Prize, yang digelar oleh The City Mayors Foundation. Ia terpilih karena segudang prestasi yang sudah ia torehkan selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Ia dinilai berhasil menata kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan penuh taman. Salah satu buktinya adalah pemugaran Taman Bungkul di tengah kota. Dulunya, taman tersebut tidak layak disebut taman, namun kini Taman Bungkul menjadi taman terbesar dan terkenal di kota Surabaya. Selain itu, ia juga telah berperan besar dalam membangun pedestrian bagi pejalan kaki dengan konsep modern di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang kemudian dilanjutkan hingga jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman. Di bawah kepemimpinannya pula, ia sukses mengantarkan Surabaya memperoleh penghargaan Adipura di tahun 2011. Risma menjadi kandidat Wali Kota terbaik dunia asal Indonesia bersama dua orang lainnya, yaitu Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Wali Kota Solo Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa 'Jokowi'. Joko Widodo atau Jokowi, mantan Wali Kota Surakarta yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta, akhirnya sukses terpilih sebagai Wali Kota terbaik ketiga sedunia dalam pemilihan World Mayor Project 2012. Di atas Jokowi, Wali Kota terbaik sedunia 2012 adalah Wali Kota Bilbao dari negeri Matador, Spanyol, Inaki Azkuna diikuti Wali Kota Perth, Australia Barat dari negeri Kanguru, Australia, Lisa Scaffidi berada pada peringkat kedua.

Wali Kota Risma dengan seabrek prestasi ini disebut tak tahan dengan tekanan politik yang dihadapinya. Benarkah?

Dalam acara talkshow Mata Najwa, Rabu (12/12/2014) malam, meski tak lugas, Tri Rismaharini (52 tahun) menyiratkan keinginannya mundur dari jabatan Wali Kota Surabaya. Berulang kali ditanya Najwa Shihab, sang pemandu acara, soal rumor ini, Risma meneteskan air mata. Ia mengakui, tugas yang diembannya sangat berat.

"Apakah Ibu memang pernah tebersit untuk mundur dari jabatan Ibu?" tanya Najwa Shihab.

"Tebersit pernah, bagi saya jabatan cuma titipan, jadi saya tidak bisa memaksakan. Kalau saya tak bisa, untuk apa memaksakan, kalau saya merasa tidak mampu," jawab Risma.

Ketika ditanya apakah keinginannya mundur karena ada gonjang-ganjing terkait pendampingnya, Wakil Wali Kota, Risma tak menjawab tegas. "Secara pribadi tidak. Cuma saya takut. Bagi saya, prinsipnya aturan harus dipegang," ujarnya.

Selanjutnya, menjelang akhir tayangan, Najwa Shihab kembali menanyakan niatnya untuk mundur. Berulang kali air mata Risma menetes, ia menangis.

Terutama, ketika ditanya, apakah ia masih berkeinginan kuat untuk mundur sementara banyak masyarakat kecil yang berharap padanya? "Itu yang saya pikirkan. Saya cari mereka satu-satu. Anak yatim kami berikan makan tiga kali sehari, lansia, anak miskin bisa sekolah, anak miskin pandai kami berikan beasiswa. Bahkan, ada yang dikirim ke Malaysia untuk S-1 sampai S-3. Saya cari satu-satu. Saya minta ke lurah untuk mencari, saya nitip ke warga. Itu yang saya pikirkan. Itu saja yang jadi pertimbangan saya. Kalau yang lain, saya bisa ngatasin," papar Risma.

Apa yang membebaninya? Menurut Risma, ada sejumlah risiko terkait jabatannya. Ancaman pernah diterima anaknya.

Namun, ia mengaku ikhlas jika sesuatu terjadi padanya karena apa yang dilakukannya selama menjabat Wali Kota Surabaya. "Saya sudah ikhlas kalau itu terjadi pada saya. semua hanya titipan, tinggal Tuhan kapan ambilnya. Itu rahasia Illahi. Saya tidak tahu nanti sore, besok. Saya sudah sampaikan, itu risiko (ke keluarga). Waktu saya nyalon kan keluarga saya tidak ikhlas. Tapi, saya enggak ngira kalau jadi. Setelah jadi, saya jalani saja takdir Tuhan," katanya.

Ketika pertanyaan kembali mengarah pada keinginannya mundur, air mata Risma kembali menetes.

Ini yang disampaikannya kepada para warga Surabaya. "Saya selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang saya miliki sudah saya berikan. Saya tidak punya apa-apa lagi, semua sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun tidak terlalu saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi saya mohon maaf," katanya dengan berurai air mata.

"Saya mohon maaf saja kalau ada kurang," kata Risma lagi.

"Ibu mau janji kalau Ibu tidak akan mundur?" tanya Najwa Shihab. "Tidak mau," jawab Risma.

Wali Kota Surabaya Ir. Tri Rismaharini, M.T. alias Risma santer dikabarkan akan mundur dari jabatannya. Diduga, ketidakcocokan dengan wakil Wali Kota yang baru, Wisnu Sakti Buana, menjadi pemicu kabar itu. Wali Kota dikabarkan telah melayangkan surat mundur dari jabatannya ke DPRD Surabaya dengan alasan tidak cocok dengan Wawalinya dan juga proses pemilihan Wawali dianggap tidak sesuai prosedur.

Namun hal itu dibantah oleh Ketua DPRD Surabaya M. Machmud dengan mengatakan hingga saat ini belum menerima surat pengunduran diri dari Wali Kota. "Jika surat itu dilayangkan, saya tidak akan memprosesnya karena Wali Kota masih dibutuhkan masyarakat Surabaya," tukasnya.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Saleh Mukadar mengaku juga menerima kabar Risma mengundurkan diri. "Saya dapat kabar seperti itu dari beberapa teman," katanya.

Saat ditanyakan alasannya, Saleh Mukadar mengatakan pihaknya mempersilahkan wartawan bertanya langsung ke DPRD Surabaya. "Coba cek langsung ke DPRD Surabaya. Saya tidak tahu kejelasannya. Tapi kalau beliau tidak suka dengan Wawalinya bukan lagi sebuah rahasia," katanya.

Namun saat dikonfirmasi, Risma meminta waktu untuk menjelaskan perihal kabar pengunduran dirinya itu. Wali Kota Surabaya Ir. Tri Rismaharini, M.T. alias Risma meminta waktu untuk menjelaskan seputar kabar yang berkembang akhir-akhir ini terkait mundurnya ia dari jabatannya karena tidak cocok dengan wakilnya.

"Nanti dilihat, nanti saya akan ngomong, nanti nunggu ya," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat berkunjung di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Kalijudan Surabaya, Kamis (30/1/2014).

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akhirnya muncul setelah sebelumnya banyak dikabarkan beragam, mulai dari sakit hingga mundur dari jabatannya karena tidak cocok dengan Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana sejak Jumat (24/1/2014). "Bu Wali tadi sudah masuk kerja, sekarang lagi di lapangan," kata Sekretaris Kota Surabaya Hendro Gunawan kepada wartawan melalui pesan singkat melalui ponselnya, Kamis (30/1/2014).

Menurut dia, Wali Kota selama ini sedang istirahat karena sakit radang tenggorokan. "Kalo sakit ya cukup di rumah, kecuali rekomendasi harus segera dirawat," ujarnya.

Hendro Gunawan mengatakan pihaknya sempat mengunjungi Wali Kota di rumahnya, namun radang tenggorokan yang diderita mengakibatkan suaranya hilang sehingga tidak bisa ngomong.

Menurut Risma, hingga saat ini pihaknya belum bertemu dengan Wakil Walikota (Wawali) Surabaya Wisnu Sakti Buana karena pada saat dilantik sedang berhalangan atau sakit. Risma mengaku belum pernah bertemu dengan Wisnu Sakti Buana sejak dilantik sebagai Wakil Walikota menggantikan Bambang Dwi Hartono pada Jumat (24/1/2014).

Seperti dikabarkan sebelumnya, Wakil Wali Kota Bambang Dwi Hartono yang mundur dari jabatannya secara resmi ke DPRD Surabaya pada Senin (6/5/2013).

Tri Rismaharini menggantikan Bambang Dwi Hartono sebagai Wali Kota Surabaya yang kemudian menjabat sebagai wakilnya hingga resmi mengundurkan diri pada 14 Juni 2013. Risma/Bambang D.H. diusung oleh partai PDI-P dan memenangi pemilukada dengan jumlah suara 358.187 suara atau sebesar 38,53 persen. Pasangan ini dilantik pada tanggal 28 September 2010.

Bambang Dwi Hartono mundur dari jabatannya karena mendapat tugas dari DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk menjadi calon Gubernur Jatim berpasangan dengan calon wakil Gubernur Jatim Said Abdullah.

Bambang Dwi Hartono mengatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya secara resmi dengan mengirim surat melalui DPRD Surabaya pada Senin (6/5/2013). "Besok (6/5/2013) pagi, saya menyerahkan surat resmi ke DPRD Surabaya," kata Bambang Dwi Hartono saat pamitan ke kantor DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuanga (PDIP) Surabaya.

Selama pencalonnya tersebut, lanjut Bambang Dwi Hartono, pihaknya tidak mau kinerjanya di Pemkot Surabaya terganggu sehingga memutuskan untuk mundur dari jabatannya dan konsentrasi ke Pemilukada Jatim.

"Kami berharap secepatnya ada pengganti Wakil Wali Kota. Semoga ada perbaikan yang lebih baik lagi," imbuhnya.

Saat pelantikan itu, Risma mengaku sedang sakit. "Saya belum ketemu, tadi pagi saya ke kantor terus ke dokter terus ke sini. Kalau sudah sehat saya ketemu. Kalau ketemu sekarang saya nggak enak nanti ketularan saya," tutur dia.

Risma menjelaskan sebetulnya tidak ada persoalan dirinya yang bersifat secara personal antara dirinya dengan Wisnu Sakti Buana. Hanya saja, lanjut dia, pihaknya masih mempersoalkan proses pemilihan Wakil Wali Kota atau Wawali Surabaya yang dinilai tidak sesuai prosedur.

"Saya minta itu sesuai prosedur. Jangan sampai masyarakat menggugat karena itu akan menjadi beban kita semua," ujar dia.

Laporan yang diterima Risma, bahwa Ketua Panitia Pemilihan (Panlih) Wakil Wali Kota Surabaya Eddie Budi Prabowo merasa tidak tanda tangan soal kelengkapan berkas calon Wawali sebagaimana yang diminta Kemendagri. Risma mengaku menerima laporan bahwa Ketua Panitia Pemilihan (Panlih) Wakil Wali Kota Surabaya Eddie Budi Prabowo merasa tidak menandatangani kelengkapan berkas calon wakil Wali Kota sebagaimana diminta Kemendagri. "Tidak ada tanda, kenapa ada tanda tangan. Saya hanya terima tembusannya. Jadi ada proses yang tidak dilalui. Ada tanda tangan yang dipalsukan," tutur Risma.

Apalagi, lanjut dia, panlih juga mengirim surat ke Mendagri soal tidak sesuainya prosedur pemilihan Wakil Wali Kota atau Wawali.

Risma menekankan agar jangan sampai persoalan itu tidak akan sampai berimbas terhadap pemerintahan Kota Surabaya mendatang. "Kita tunggu saja prosesnya," kata dia.

Ketua Panitia Pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya Eddie Budi Prabowo sebelumnya menegaskan kelengkapan berkas persyaratan calon Wakil Wali Kota Surabaya atau Wawali yang diminta Kemendagri telah dimanipulasi.

Eddie Budi Prabowo mengaku terakhir tanda tangan berkas kelengkapan pemilihan pada 30 Oktober 2013. Saat itu ada 2 anggota panlih yang tanda tangan, yakni Eddie Budi Prabowo dan Adi Sutarwijono. Tapi saat Kemendagri meminta kelengkapan syarat pada 23 Desember 2013, tanda tangannya sudah bertambah 2 anggota panlih yakni Junaedi dan Sudarwati Rorong. "Terakhir saya tanda tangan pada 30 Oktober 2013, itu pun saat verifikasi persyaratan calon. Saat itu ada dua anggota panlih (panitia pemilihan) yang tanda tangan yakni saya dan Adi Sutarwijono. Tapi saat Kemendagri meminta kelengkapan syarat pada 23 Desember 2013, tanda tangannya sudah bertambah dua anggota panlih yakni Junaedi dan Sudarwati Rorong," kata Eddie Budi Prabowo kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Namun hal itu dibantah anggota Panlih dari PDIP Adi Sutarwijono. Adi Sutarwijono mengatakan bahwa adanya tanda tangan dari dua anggota panlih yang menyusul saat verifikasi kelengkapan tidak perlu dipersoalkan lagi.

Jika dipersoalkan, maka tanda tangan Eddie Budi Prabowo juga bermasalah karena ditandatangani setelah rapat. Menurutnya jika itu dipersoalkan, maka pihaknya menuding balik bahwa tanda tangan Eddie Budi Prabowo juga bermasalah karena ditandatangai setelah rapat. “Mestinya tanda tangan kan dilakukan pada saat rapat berlangsung. Tapi dia tanda tangan satu jam lebih setelah rapat. Terus apa bedanya jika tanda tangan itu dilakukan tiga bulan setelahnya. Intinya kan itu ditandatangani setelah rapat," katanya. (ant/tem)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.669.789 Since: 05.03.13 | 0.179 sec