Internasional

Pembicaraan Damai Suriah Kedua Di Jenewa Buntu

Friday, 14 Februari 2014 | View : 851
Tags : Jenewa, Suriah

BEIRUT-SBN.

Pembicaraan damai Suriah kedua di Jenewa, Jumat (14/2/2014), menemui jalan buntu terkait soal masa depan Bashar al-Assad di pemerintahan transisi.

Negosiator dari Suriah, yang didukung Rusia, dan blok oposisi yang didukung Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa tak ada kemajuan dalam perundingan perdamaian kedua di Jenewa ini.

Di Suriah, pasukan pemerintah dilaporkan akan mengumpulkan pasukan untuk melakukan serangan terhadap kota yang dikuasai pemberontak di Yabroud, di daerah pegunungan Qalamoun, dekat perbatasan Libanon. Menurut berbagai laporan, Yabroud dihujani serangan udara dan penembakan dalam beberapa hari terakhir. 

Amerika Serikat (AS) menyatakan serangan di Yabroud akan "merusak proses dan prospek perdamaian Suriah di Jenewa," cetus Edgar Vasquez, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Militer Suriah telah membuat kemajuan signifikan di daerah Qalamoun. Yabroud, kota besar terakhir yang dikuasai pemberontak di zona itu, berada beberapa mil dari jalan raya strategis utara-selatan dari Damaskus ke Homs dan pantai Mediterania.

Saat serangan pemerintah makin intensif, pengungsi dari Yabroud telah mengalir melintasi perbatasan ke Kota Arsaal, Libanon.

Ada kesepakatan luas di kalangan diplomat bahwa hanya solusi politik yang dapat mengakhiri perang saudara yang hampir berlangsung tiga tahun dan menewaskan lebih dari 130 ribu orang itu.

Pembicaraan damai pertama Januari lalu gagal membuahkan hasil nyata. Namun masih ada harapan karena perwakilan dari pihak yang bertikai akhirnya bersedia melakukan negosiasi.

Harapan kini bertumpu pada perundingan kedua, yang ternyata juga berakhir mengecewakan. Masing-masing yang lain ngotot dengan pendiriannya.

Ada sedikit tanda bahwa kedua pihak akan berkompromi pada tujuan dasar dari pembicaraan damai ini.

Pihak oposisi menegaskan bahwa perundingan Jenewa harus fokus pada pembentukan pemerintah transisi Suriah, transisi yang akan mengecualikan Bashar al-Assad dan sekutu utamanya dalam skema itu. Wakil pemerintah Suriah menegaskan bahwa masa depan Bashar al-Assad tak bisa ditawar-tawar.

"Kami sangat menyesal bahwa putaran ini tidak menghasilkan kemajuan apa pun," tukas Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad kepada wartawan di Jenewa.

Secara terpisah, Louay Safi, Juru Bicara blok oposisi, mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan menemui jalan "buntu" karena tim negosiasi pemerintah yang dinilainya bersikap "agresif."

Mengingat sedikitnya kemajuan yang dihasilkan dalam perundingan kedua ini, kepala perunding PBB, Lakhdar Brahimi, diharapkan melakukan penjadwalan untuk sesi negosiasi ketiga.

Media Suriah melaporkan bahwa delegasi pemerintah dan oposisi dijadwalkan bertemu Brahimi, Sabtu (15/2/2014), di Jenewa.

Kantor berita Rusia melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuding oposisi Suriah dan sekutu-sekutunya di Washington merusak pembicaraan damai ini dengan berfokus pada "pergantian pemerintahan."

Konflik yang tak kunjung berakhir telah membuat anak-anak Suriah ikut menjadi korban. Seperti diberitakan sebelumnya, sampai Jumat (23/8/2013), satu juta anak telah meninggalkan negara itu dan dua juta anak-anak kini hidup terlunta-lunta sebagai pengungsi di wilayah-wilayah perbatasan. Demikian dilaporkan PBB, Jumat (23/8/2013). "Laporan ini bukan sekadar angka, tapi seperempat juta anak-anak telah menjadi pengungsi. Anak-anak ini telah meninggalkan rumah mereka, bahkan mungkin keluarganya. Mereka menghadapi segala kengerian, dan kita hanya bisa memahami," kata Anthony Lake, Kepala UNICEF, Jumat (23/8/2013).

PBB menyebutkan separo dari jumlah pengungsi Suriah adalah anak-anak. Kebanyakan dari mereka berlindung di Lebanon, Yordania, Turki, Irak, dan Mesir. Akan tetapi, belakangan, mereka mulai melarikan diri sampai ke Afrika Utara dan Eropa. Data terbaru yang dikeluarkan PBB menyebutkan 740 ribu pengungsi Suriah adalah mereka yang berusia di bawah 11 tahun. “Yang sedang dipertaruhkan adalah harapan hidup dan kesejahteraan generasi tidak berdosa. Kalangan muda Suriah sudah kehilangan tempat tinggal mereka, keluarga, dan masa depan mereka. Walaupun mereka sudah melintasi wilayah perbatasan untuk berlindung, mereka mengalami trauma, tertekan, dan perlu harapan," ucap Anthony Lake.

Konflik Suriah sudah lebih dari dua tahun meletup, dan selama itu pula PBB mencatat sudah lebih dari 100 ribu orang tewas dalam konflik antar pejuang oposisi yang menuntut agar Presiden Suriah, Bashar al-Assad, turun.

PBB melaporkan pula, dari jumlah korban tewas itu, tujuh di antaranya adalah kalangan usia muda.

Selain memperingatkan bahwa anak-anak yang menjadi korban dalam konflik Suriah sudah semakin meningkat, PBB menyerukan bahwa anak-anak yang kini hidup mengungsi menghadapi ancaman pernikahan dini, bekerja di usia muda, kejahatan seksual, dan perdagangan manusia.

Dikatakan pula, lebih dari 3.500 anak-anak yang mengungsi di Yordania, Lebanon, dan Irak pergi mengungsi tanpa didampingi oleh keluarga mereka. "Suriah menghadapi risiko kehilangan satu generasi," kata Anthonio Guteres, Kepala UNHCR, badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi, Jumat (23/8/2013), seperti diungkapkan pada sesi wawancara dengan radio BBC.

Untuk membantu mengurangi penderitaan anak-anak itu, sejumlah badan bantuan sudah berusaha mengirimkan pertolongan untuk mereka. Bantuan yang dikirimkan bukan sekadar kebutuhan bagi anak-anak, melainkan ratusan ribu vaksin campak serta peralatan sekolah.

Yang tidak kalah penting, UNHCR telah mencoba melakukan pendaftaran satu juta nama anak yang kini hidup mengungsi dan membantu membuatkan akta kelahiran bagi bayi-bayi yang lahir di tempat pengungsian agar mereka tidak kehilangan hak kewarganegaraan (stateless) mereka.

Kecaman datang dari Sekjen PBB asal Korea Selatan (Korsel), Ban Ki-moon, atas kabar penggunaan senjata kimia berbahaya di Suriah. Baginya, penggunaan senjata itu sama dengan "kejahatan melawan kemanusiaan".

Orang nomor satu di PBB itu melihat bentrokan yang terjadi di dekat Kota Damaskus pada Rabu (21/8/2013) adalah peringatan yang sangat mengejutkan. Untuk itu, dia mendesak rezim Suriah agar mengizinkan tim inspeksi dari PBB yang sudah tiba di Suriah masuk ke lokasi bentrokan sehingga penyidikan penggunaan senjata kimia berbahaya bisa segera dilakukan tanpa tertunda lagi.

Harapan yang sama disampaikan sekutu dekat Suriah, Rusia. Pada Jumat (23/8/2013), Moskwa mengumumkan sudah meminta Pemerintah Suriah bekerja sama dengan para ahli yang diterjunkan PBB ke Suriah. "Rusia menyerukan kepada Pemerintah Suriah untuk bekerja sama dengan para ahli kimia dari PBB yang sudah dikerahkan ke sana. Kini tinggal tugas oposisi untuk memastikan akses bagi para ahli PBB itu ke lokasi kejadian, aman," kata Menteri Luar Negeri Suriah, Sergei Lavrov.

Terkait penggunaan senjata kimia, Amerika Serikat (AS) melaporkan belum bisa memastikan jenis senjata kimia jenis apa yang digunakan dalam konflik Suriah. Presiden AS, Barack Obama, juga sudah mengarahkan badan intelijen AS untuk segera membantu mencari tahu kebenaran tuduhan penggunaan senjata kimia di sana. "Pada saat ini, kami belum bisa menentukan jenis senjata kimia yang digunakan. Kami sedang melakukan hal yang mungkin kami lakukan untuk menemukan fakta," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jen Psaki.

Jen Psaki membenarkan bahwa Barack Obama telah menginstruksikan intelijen AS untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah.

Saat berita ini diturunkan, pihak oposisi sedang berusaha mencari sampel biologis sebagai bukti penggunaan senjata kimia beracun yang amat berbahaya ini.

Seperti dikabarkan sebelumnya, keyakinan penggunaan senjata kimia berbahaya dalam konflik Suriah semakin kuat. Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, dengan pucuk pimpinan militer AS, menyebut penggunaan senjata kimia di negara itu menunjukkan bahwa konflik Suriah sudah sangat memburuk.

Sejak konflik Suriah meletup pada Maret 2011, AS cenderung mendukung oposisi. Negara Paman Sam itu juga sangat yakin rezim Suriah telah menggunakan gas beracun untuk melawan oposisi.

Untuk menghentikan konflik yang semakin memburuk, Barack Obama mengaku sudah berkonsultasi dengan Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron, serta para pucuk pimpinan sekutu-sekutu AS.

Seluruh pihak itu sepakat penggunaan senjata kimia yang dilakukan militer pimpinan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, harus ditindaklanjuti secara serius.

Menurut catatan oposisi, jumlah warga sipil yang meninggal dunia dalam sepekan karena serangan gas beracun lebih dari seribu orang. Gas-gas beracun itu ditembakkan oleh tentara Suriah, yang bisa dibuktikan melalui rekaman-rekaman video yang memperlihatkan gelimpangan tubuh para korban.

Menjawab rentetan tudingan oposisi dan AS itu, Pemerintah Suriah tegas menyangkalnya. Rezim bahkan menegaskan tentaranya malah menemukan senjata kimia di terowongan milik pejuang oposisi.

Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, pada Kamis (22/8/2013), telah mengungkapkan kekecewaannya karena Pemerintah Suriah tidak mau mengeluarkan izin bagi tim inspeksi dari PBB yang sudah berada di Damaskus agar bisa masuk ke lokasi konflik, tempat senjata-senjata kimia berbahaya diyakini telah dilontarkan.

Kekecewaan terhadap sikap Pemerintah Suriah juga ditunjukkan Barack Obama. Orang nomor satu di AS itu mengaku sudah tidak ingin campur tangan terhadap konflik Suriah.

Akan tetapi, derasnya laporan atas konflik di dekat Kota Damaskus yang menewaskan ratusan orang telah menekan Gedung Putih terkait komitmen Presiden Barack Obama setahun lalu yang menyatakan bahwa pelanggaran penggunaan senjata kimia berbahaya akan menjadi "prioritas utama" AS. "Presiden Obama telah meminta Kementerian Pertahanan untuk mempersiapkan segala kemungkinan, dan kami siap melaksanakan pilihan apa pun jika Presiden menggunakan salah satu dari beberapa pilihan yang ada," tandas Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel, di sela-sela kunjungannya ke Malaysia, terkait kunjungannya ke negara-negara kawasan Asia, Minggu (25/8/2013).

Dikabarkan sebelumnya, konflik Suriah menjadi topik pembahasan utama dalam hari pertama Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) Menteri-menteri Pertahanan Se-ASEAN yang digelar Rabu (28/8/2013) di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Pertemuan akbar itu dihadiri juga oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Chuck Hagel.

Di hadapan para menteri dan perwakilan negara-negara ASEAN, Chuck Hagel mengungkapkan bahwa Washington saat ini memiliki agenda yang amat mendesak terkait eskalasi konflik politik di Suriah yang sudah mengarah pada krisis jangka panjang.

Kepada BBC, Chuck Hagel secara blak-blakan bahkan mengatakan militer AS sudah diposisikan dalam kondisi "siap" jika Presiden AS, Barack Obama, ingin menghukum rezim Suriah karena sudah menggunakan senjata kimia berbahaya.

Selain Chuck Hagel, dalam kesempatan itu, Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Kwan-Jin, mengungkapkan kekhawatirannya atas penggunaan senjata kimia berbahaya dalam konflik Suriah.

Chuck Hagel dan Kim Kwan-Jin bahkan sempat melakukan pertemuan bilateral untuk membahas khusus masalah itu. Kepada Kim Kwan-Jin, Chuck Hagel mengatakan kekerasan yang meningkat terhadap hukum internasional tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Dalam pertemuan para menhan se-ASEAN itu, Chuck Hagel berkeras AS serius soal rencana melakukan agresi militer ke Suriah. Bagi AS, keamanan dunia akan tetap menjadi bagian penting untuk mendefinisikan hubungan internasional yang sesungguhnya.

Namun, Gedung Putih menolak membeberkan pilihan apa saja yang sudah ada untuk mengatasi konflik Suriah. Washington mengaku sampai saat ini masih mengumpulkan fakta-fakta terkait dugaan penggunaan senjata kimia. “Kami berkoordinasi dengan mitra-mitra internasional kami dan mengumpulkan saksi-saksi serta bukti-bukti untuk memastikan apa yang terjadi," demikian dikatakan Washington dalam keterangan tertulis.

Di pihak lain, stasiun televisi pro Pemerintah Suriah mewartakan tentara Suriah telah menemukan bahan-bahan kimia pada Sabtu (24/8/2013) kemarin di terowongan yang biasa digunakan oposisi. Atas temuan itu, rezim berharap bisa menjawab pertanyaan atas siapa yang sebetulnya telah bertanggung jawab menggunakan senjata kimia berbahaya.

Kantor berita SANA menuliskan bahwa sejumlah tentara Suriah pernah mengalami sesak napas ketika menghadapi pejuang oposisi yang melontarkan gas beracun sebagai "jalan terakhir" setelah tentara Suriah memukul telak para pejuang oposisi di Kota Jobar yang posisinya ada di pinggiran Ibu Kota Damaskus.

Akan tetapi, Ahmad al-Jarba, pemimpin oposisi dari kelompok Syrian National Coalition, dan kepala kelompok Free Syrian Army, Jenderal Salim Idriss, serta merta menyangkal temuan rezim itu pada Sabtu (24/8/2013) lalu. Keduanya juga menolak dikatakan para pejuang oposisilah yang menggunakan senjata kimia.

Menyusul polemik penggunaan senjata kimia yang terus bergulir, Menlu AS John Kerry melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Moualem. Dalam pertemuan itu, John Kerry mendesak Pemerintah Suriah agar tim inspeksi PBB diizinkan memasuki lokasi konflik tempat gas beracun diduga kuat telah digunakan. "Jika seperti yang telah mereka katakan, rezim Suriah punya sesuatu yang mereka sembunyikan karena seharusnya akses dibuka tanpa hambatan ke tempat-tempat terjadinya penyerangan. Namun kenyataannya, mereka mengeblok akses ke sana dan menghancurkan bukti," kata seorang pejabat yang tidak mau ditulis namanya, mengacu pada pesan yang disampaikan John Kerry dalam pertemuan itu. (bbc/afp)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.376.546 Since: 05.03.13 | 0.1967 sec