HAM

Diskusi Buku Tan Malaka Ditolak Di Surabaya Tapi Meriah Di Kediri

Saturday, 08 Februari 2014 | View : 2032

KEDIRI-SBN.

Diskusi bedah buku "Tan Malaka" di Surabaya, dibubarkan massa Front Pembela Islam (FPI). Tapi, acara serupa justru berlangsung meriah di Kediri. Acara bedah buku Tan Malaka yang berlangsung di kampus Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Jawa Timur, berlangsung meriah, Sabtu (8/2/2014).

Lebih dari 100 mahasiswa mengikuti acara yang menghadirkan Harry A. Poeze, penulis buku "Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia" tersebut. Seratus lebih mahasiswa mengikuti diskusi bedah buku "Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia" di Kampus Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (8/2/2014).

Sementara acara diskusi bedah buku Tan Malaka yang menghadirkan peneliti sejarah asal Belanda yang juga Direktur KITLV Leiden, Dr. Harry A. Poeze di Kediri, berlangsung meriah.

Para mahasiswa itu banyak yang dengan antusias mengikuti jalannya diskusi hingga usai. Malahan, bahkan buku-buku Tan Malaka karya karangan Dr. Harry A Poeze itu laris manis diborong para mahasiswa. Seusai di akhir diskusi, mahasiswa juga mengantre untuk meminta dan mendapatkan tanda tangan sang penulisnya Harry A. Poeze.

Pada kesempatan itu, Dr. Harry A. Poeze sendiri mengaku terkejut karena acaranya di Surabaya sempat dibubarkan FPI. Namun, dia menduga FPI salah paham karena diskusi yang digelar merupakan forum ilmiah bukan kursus pelatihan paham komunis.

"Ada tentara dan polisi yang memberitahu supaya diskusi dibatalkan karena akan didemo massa FPI (Front Pembela Islam). Mereka tak senang, karena diskusi kami dituding sebagai kursus komunisme," ungkap Harry A. Poeze.

Padahal diskusi bedah buku "Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia" merupakan pertemuan ilmiah. Sejarawan Belanda Dr. Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) menjelaskan bahwa diskusi buku "Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia" itu merupakan pertemuan ilmiah. "Orang FPI berpendapat Tan Malaka sebagai orang komunis," jelasnya.

Peneliti sejarah asal Belanda yang juga Direktur KITLV Leiden, Dr. Harry A. Poeze mengakui, sosok Tan Malaka memang masih mengundang kontroversi, termasuk kematiannya yang dieksekusi di depan regu tembak.

Peneliti sejarah asal Belanda yang juga Direktur KITLV Leiden, Dr. Harry A. Poeze telah lebih dari 40 tahun meneliti misteri di mana Tan Malaka dimakamkan. Namun, titik terang di mana tempat dimakamkannya pahlawan nasional mulai terungkap.

Namun, sejarawan Belanda Dr. Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) meyakini bahwa makam Tan Malaka berlokasi ada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sebagaimana hasil riset penelitiannya selama ini.

Harry A. Poeze juga yakin hasil penelitian tim forensik kerangka yang digali dari kuburan di Desa Selopanggung adalah Tan Malaka. "Kami yakin makam Tan Malaka dimakamkan di Desa Selopanggung. Karena lengannya ditemukan di belakang tubuhnya," ungkap Harry A. Poeze

Kondisi itu sangat cocok karena Tan Malaka dihabisi di depan regu tembak yang dipimpin Letnan Soekotjo. "Lengan ada di belakang tubuh karena ditembak mati regu eksekutor. Dari penelitian forensik antropologi kami tak sangsi lagi dengan identitas jenazah yang ada adalah Tan Malaka," tambahnya.

Sampai sekarang hasil uji forensik dan tes DNA dari sampel sisa kerangka yang diduga Tan Malaka masih belum keluar. "Kami tidak tahu apa kendalanya sehingga penelitian yang telah berlangsung 2009 atau sudah 4 tahun sampai sekarang belum diketahui hasilnya," ungkap Harry A. Poeze.

Sementara saat dialog dalam diskusi juga terungkap versi Tan Malaka ditembak di pinggir Sungai Brantas di wilayah  Mojo. Setelah diekselusi mayatnya kemudian diceburkan Sungai Brantas.

Terhadap dugaan ini Harry A. Poeze tidak yakin. Menurut hasil risetnya Tan Malaka tidak pernah dibawa ke Sungai Brantas tapi ditahan di Desa Selopanggung oleh pasukan pimpinan Letkol Soerachmad.

Peneliti sejarah asal Belanda, Harry A Poeze merasa belum cukup dengan menemukan makam yang diduga tempat peristirahatan Tan Malaka di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Menurut dia, masih banyak kisah hidup Tan Malaka yang belum diketahui.

Sebelum ia meyakini Selopanggung itu sebagai makam Tan Malaka, ia mencari informasi sebanyak mungkin dan pencarian informasi itu tidak lepas dari masalah. "Pada zaman orde baru saya sulit sekali mendapatkan informasi mengenai Tan Malaka," beber Dr. Harry A. Poeze di kantor Kompas TV, Jakarta, Rabu (29/1/2014).

Harry A. Poeze meyakini Tan Malaka ditembak mati oleh militer Indonesia atas perintah Letnan Sukoco yang saat itu ada di kesatuan Brigade Suratman Brawijaya. Keyakinan atas pernyataan itu yang membuat kontroversi di kalangan tentara. "Saat Orba jelas ada masalah dan penentangan dari tentara. Namun, sekarang sudah tidak," ujar pria kelahiran 20 Oktober 1947 itu.

Harry A. Poeze mengungkapkan, Letnan Sukoco pada saat itu mengatakan agar sebaiknya Tan Malaka ditembak mati saja di Selopanggung Kediri. Ia ingat Tan Malaka pada Oktober 1948 pergi dari Yogyakarta menuju ke Kediri.

"Tan Malaka masih misterius, dan sisa-sisanya juga masih misterius," kata Poeze di Kantor Kompas TV, Rabu (29/1/2014).

Harry A Poeze, sejarawan Belanda dan penulis buku tentang Tan Malaka, mendapatkan temuan baru terkait sejarah perjalanan pahlawan nasional yang dianggap "misterius" tersebut.

Ia mengatakan, ada informasi terbaru bahwa Tan Malaka pernah menikah di Jogjakarta dan memiliki anak.

"Tan Malaka dikabarkan menikah pada 1935 dengan seorang wanita di Jogjakarta. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Axioma," ungkap Harry A. Poeze kepada sejumlah wartawan di Kediri, Sabtu (8/2/2014) petang.

Namun, Axioma yang konon anak Tan Malaka itu sudah lama meninggal. Tapi istrinya dikabarkan masih hidup dan memiliki anak. Anaknya konon mengaku kakeknya adalah Tan Malaka.

Informasi Tan Malaka pernah menikah dan punya anak di Jogjakarta ini, diberitahukan mantan diplomat asing kepada Harry A. Poeze. Namun, masukan terbaru itu masih dilacak kebenarannya.

Karena dari riset yang ditemukan, Tan Malaka pada 1935 berada di negara perantauan Singapura atau China.

"Untuk kebenarannya, saya akan melakukan penelitian masukan ini, apakah dia benar-benar Tan Malaka ataukah Tan Malaka gadungan," papar Harry A. Poeze.

Meski belum ada data dokumen Tan Malaka pernah menikah, diakuinya Tan Malaka mempunyai sejumlah pacar baik di Indonesia atau di negara yang pernah didatanginya.

Untuk diketahui, Tan Malaka merupakan sosok penuh polemik semasa hidupnya. Tan Malaka pernah menjadi tokoh yang disegani dalam kancah pergerakan nasional di awal tahun 1920-an.

Namun, pascaperlawanan kaum tani terhadap kolonial Belanda pada tahun 1926, ia dikucilkan. Pasalnya, aktivitasnya justru berlawanan dengan semangat rakyat yang hendak memberontak dari kekuasaan kolonialis.

Harry A. Poeze mengaku akan terus menggali tentang kisah hidup dari pria asal Sumatera Barat itu. Meski usia Harry A. Poeze sudah tidak muda, ia mungkin tidak banyak bepergian ke Indonesia seperti saat awal dirinya memulai membuat skripsi tentang Tan Malaka. "Saya bisa riset di rumah. Di rumah saya buku-buku untuk melakukan riset cukup lengkap," tuturnya.

Harry A. Poeze mengaku memulai penelitian tentang Tan Malaka pada 1976. Dalam menulis kisah tentang Tan Malaka itu, ia harus pergi ke Indonesia untuk menemui para saksi-saksi sejarah yang mengetahui keberadaan Tan Malaka.

Ia mengaku, pemerintah Belanda tidak terlalu tertarik dengan penelitian yang dibuatnya. Sehingga ia tidak banyak mengandalkan bantuan pemerintahnya dalam membuat riset tersebut. "Pemerintah Belanda tidak peduli dengan penelitian saya," ucapnya.

Ia berharap, penelitian yang telah ia hasilkan dapat dilestarikan dan tetap ada menjadi bukti sejarah.

Menurutnya, penelitian tentang Tan Malaka itu diharapkan menjadi referensi dalam sejarah Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. "Buku-buku yang saya tulis itu sebagai referensi. Saya tidak ingin fakta sejarah berubah," bilangnya.

Oleh krena itu, Harry A. Poeze, menggelar roadshow di sejumlah kota besar di Indonesia Untuk memperkenalkan bukunya tentang Tan Malaka.

Empat kota yang disinggahi ada di Jawa Timur. Kota Surabaya dan Kediri, sudah didatangi acara diskusi dan bedah buku "Tan Malaka Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia".

Dr. Harry A Poeze, si penulis buku, sebelumnya dijadwalkan menjadi pembicara diskusi bedah buku di Perpustakaan C, Gedung C20 Library, Surabaya. Hanya saja Harry A. Poeze gagal menjadi pembicara di Perpustakaan Surabaya karena diancam didemo aktivis FPI.

Diskusi dan peluncuran buku “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia” jilid 4 bersama penulisnya Harry A. Poeze, di Perpustakaan & Kolabtiv C20, Jalan dr. Cipto, Surabaya, Jawa Timur dibubarkan aparat kepolisian, Jumat malam (7/2/2014). Polisi dan TNI mendatangi lokasi sebelum diskusi berlangsung, untuk mengabarkan massa FPI bakal membubarkan acara tersebut.

Karena menimbulkan kerawanan, Sejarawan Belanda Dr. Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) kemudian membatalkan diskusinya.

Malam harinya, sekitar 30 anggota FPI mendatangi gedung perpustakaan. Namun diskusi bedah buku urung digelar.

Koordinator Divisi Monitoring dan Dokumentasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya, Fatkhul Khoir di Surabaya seperti dikutip kompas.com mengaku menyesalkan kebijakan polisi yang tidak menurunkan izin penyelenggaraan, karena menurut dia, polisi hanya bertugas mengamankan, dan tidak perlu takut dengan ancaman kelompok yang disebutnya fundamentalis. "Ini preseden buruk bagi negara yang mengaku mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi," tuturnya.

Ketua Bidang Nahi Munkar FPI (Front Pembela Islam) Jawa Timur K.H. Dhofir, yang turun ke lokasi saat berdialog dengan pihak kepolisian mengatakan, umat Islam sudah banyak memberi toleransi. Ia mencurigai kegiatan ini sebagai bagian dari kegiatan PKI. "Kita sebagai umat Islam sudah banyak memberi toleransi. Kita sudah memberi toleransi membiarkan laki-laki berkumpul dengan perempuan, hari libur yang mestinya hari Jumat diganti Minggu juga sudah kita beri toleransi, terus maunya apa orang-orang PKI ini?," teriak K.H. Dhofir saat berdialog dengan pihak kepolisian di lokasi, Jumat (7/2/2014), seperti dikutip Beritajatim.com.

Andreas dari Penerbit Obor menjelaskan, kota yang telah didatangi Jakarta dan Bandung acara diskusi dan bedah bukunya berlangsung lancar. Hanya di Surabaya yang terkendala karena ada ancaman demo dari segerombolan anggota FPI. "Di kota-kota lain tak pernah ada masalah karena disambut antusias peserta di diskusi. Malahan banyak peserta diskusi yang membeli buku-buku tentang Tan Malaka," tutur Andreas.

Setelah menggelar acara diskusi dan bedah buku di Kota Kediri, sejarawan Belanda Dr. Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) juga menghadiri acara serupa di Kota Jember dan Malang pekan depan. Dua kota lainnya yang bakal dikunjungi pada pekan ini adalah, Kota Jember dan Malang. Di kedua kota itu, peneliti sejarah asal Belanda yang juga Direktur KITLV Leiden, Dr. Harry A. Poeze  akan menjadi pembicara dalam diskusi dan bedah bukunya di Kampus Unej Jember dan Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur. (beritajatim/kompas/jos/tri)

See Also

Ridwan Kamil Tegaskan Organisasi Massa Dilarang Halangi Dan Hambat Ibadah
Ridwan Kamil Minta Maaf Soal Penghentian KKR Natal Stephen Tong
Menteri Agama Sayangkan Penghentian KKR Natal Stephen Tong Di Bandung
Teror Bom Di Gereja Katolik Medan
Tempat Ibadah Klenteng Harus Tertib Administrasi
Polisi Tetapkan 4 Tersangka Eksploitasi Anak Di Blok M
Rumah Ibadah Tak Punya IMB, Bukan Alasan Untuk Dibakar
Ormas Islam Bekasi Tolak Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara
Ormas Islam Protes Perayaan Paskah Digelar Di Stadion
Pemkot Bekasi Relokasi Jemaat Gereja Beribadat Di Kuburan
Wali Kota Bogor Tegaskan Tidak Ada Pembongkaran Gereja GKI Yasmin
Qaraqosh Kota Kristen Terbesar Irak Dikuasai ISIS
ISIS Singkirkan Salib Dan Bakar Ribuan Manuskrip Kuno
Menteri Agama Sebut Ideologi ISIS Berlawanan Dengan Pancasila
HMI Sebut WNI Pendukung ISIS Adalah Pengkhianat Bangsa
Menteri Agama Minta Muslim Indonesia Tak Terpengaruh ISIS
Lukman Hakim Saifuddin Tak Resmikan Bahai Sebagai Agama
Televisi Lebanon Pakai Huruf Nun Demi Solidaritas Warga Kristen Irak
Militan ISIS Ledakkan Makam Nabi Yunus
Pemerintah Kaji Agama Baru Bahai
Militan ISIS Di Irak Bakar Gereja Berusia 1.800 Tahun Di Mosul
Milisi ISIS Kuasai Gereja Tertua Di Irak
Diultimatum ISIS, Warga Kristen Irak Dipaksa Masuk Islam Atau Dibunuh
Bupati Wonosobo Kritisi Kemenag Soal Kebebasan Beragama
Kapolri Larang Ibadah Di Rumah
jQuery Slider

Comments

Arsip :2016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.501.705 Since: 05.03.13 | 0.1708 sec