Politik

Pilpres 2014 Jadi Ajang Capres Muda Berlaga

Sunday, 09 Februari 2014 | View : 877

JAKARTA-SBN.

Pusat Kajian Pancasila, Hukum dan Demokrasi Universitas Negeri Semarang (PUSKAPHDEM-UNNES) menilai Pilpres 2014 dapat dikatakan sebagai momentum capres muda berlaga di ajang pemilihan presiden.

Hal itu diutarakan oleh Peneliti PUSKAPHDEM-UNNES, Pujiono dalam survei bertema "Menakar Potensi Modal Sosial dan Politik Capres Muda di Pilpres 2014" di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/2/2014).

Diutarakan Pujiono, saat ini partai politik harus pintar memanfaatkan momentum Pilpres 2014. Terutama bagi partai politik yang memiliki kader muda seperti Gubernur DKI Jakarta Ir. H. Joko Widodo, politisi partai Golkar Priyo Budi Santoso, dan politikus PKS Hidayat Nur Wahid.

Dan munculnya nama-nama mereka menurut Pujiono merupakan "obat tawar" bagi pemilih atas kejenuhan publik terhadap kemunculan sejumlah tokoh.

"Pilpres 2014 masih saja menggoda veteran perang Pilpres sebelumnya 2004 dan 2009 untuk berlaga. Padahal peluang Pilpres 2014 jadi momen pemimpin muda, karena nanti pada Pilpres 2019, mereka kaum muda sudah dikategorikan capres tua, diatas 55 tahun," sebut Pujiono.

Pujiono menuturkan tokoh-tokoh yang masuk dalam penelitian ini dibatasi dengan beragam instrumen, yakni belum berusia 55 tahun pada Tahun 2014, memiliki basis pengaruh, sering dikutip massa, memiliki jabatan strategis di setiap partai. Serta setiap tokoh partai politik yang masuk instrumen hanya dibatasi dua orang saja.

"Dalam sebuah penelitian harus juga dilihat waktu dan banyaknya instrumen. Jika tokoh yang dimasukkan terlalu banyak maka akan memakan waktu yang panjang pula," bilangnya.

Untuk diketahui survei dilakukan Jumat (3/1/2014) hingga Minggu (9/2/2014) di 34 provinsi, dengan jumlah responden 1.070 orang yang sudah memiliki hak pilih pada Pemilu 2014 dan bukan TNI/Polri aktif.

Adapun tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Margin of error ± 3 %. Pengambilan data melalui teknik wawancara dengan bantuan kuisioner.

Berdasarkan hasil survei dan penelitian PUSKAPHDEM-UNNES 2014 dari sejumlah nama capres baru yang berseliweran di publik, Gubernur DKI Jakarta, Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ memiliki tingkat keterpilihan tertinggi yakni sebesar 20,28 persen.

Kemudian disusul Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso sebesar 16.22 persen, Wapres Hanura Hary Tanoesoedibjo 11.3 persen, Politisi PKS Hidayat Nur Wahid 10.09 persen.

"Posisi selanjutnya, Ketua Umum PKB 3.92 persen, Ketua Fraksi DPR RI PDI Perjuangan Puan Maharani 3.36 persen, Menteri Pemuda Olah Raga dan Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Roy Suryo 2.14 persen, Presiden PKS Anies Matta 1.02 persen, tokoh lainnya 7.66 persen, rahasia 16.16 persen, dan belum menentukan pilihan (undecided voters) 7.75 persen," terang Arif Hidayat dalam survei bertema "Menakar Potensi Modal Sosial dan Politik Capres Muda di Pilpres 2014" di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/2/2014).

Dijelaskan Arif Hidayat hal menarik dari hasil survei tersebut yakni ada 7.75 persen publik yang belum menentukan pilihan. Jika dianalisa, maka diketahui nama-nama capres muda tersebut membuat pemilih antusias dalam memilih capres-capres yang ditawarkan dalam Pilpres 2014.

Arif Hidayat juga menambahkan, capres di Pilpres 2014 dinilai lebih variatif ketimbang Pilpres sebelumnya. Hal itu dibuktikan dengan munculnya sejumlah nama baru di garis edar capres dan cawapres.

"Fenomena ini harus dilihat jernih oleh parpol sebagai salah satu aktor utama dalam sekuel 5 tahunan seperti pilpres," sambung dia.

Sementara itu, pendeklarasian Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali sebagai bakal calon Presiden akhirnya batal dilakukan.

Pembatalan ini diputuskan setelah peserta Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II PPP sepakat mengusulkan sembilan nama bakal capres ke forum partai setelah pelaksanaan pemilihan legislatif (pileg).

"Iya, tidak jadi deklarasi tapi pengusulan sembilan nama bakal capres," ujar Sekretaris Majelis Pakar PPP Ahmad Yani di sela-sela acara Mukernas II PPP, Minggu (9/2/2014).

Keputusan didapat pada rapat pleno terakhir Mukernas II PPP yang selesai pada dini hari. Di dalam rapat itu juga, lanjut Yani, diputuskan bahwa sembilan nama bakal capres yang diusulkan akan diputuskan pada forum rapat pimpinan nasional (rapimnas) PPP yang dilaksanakan setelah pemilihan legislatif (pileg).

"Keputusannya setelah Pileg, karena PPP bisa malu kalau menetapkan capres sekarang, tapi suara partai kurang untuk presidential treshold (syarat mengajukan pasangan capres dan cawapres)," imbuh Ahmad Yani.

Berdasarkan undangan yang diterima peserta Mukernas II PPP disebutkan bahwa puncak acara Mukernas akan dilakukan pada Minggu siang di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung.

Puncak acara berisikan peringatan hari lahir PPP ke-41 dan deklarasi calon Presiden RI 2014-2019.

Lantaran batal deklarasi, maka agenda pada puncak perayaan itu hanya akan membacakan hasil rekomendasi Mukernas.

Sebelum Mukernas II PPP, nama Suryadharma Ali santer disebut sebagai bakal capres terkuat. Suryadharma bahkan sempat didukung oleh 20 Dewan Pimpinan Wilayah PPP.

Namun, pada pelaksanaan Mukernas II PPP ini, sebanyak 26 DPW meminta agar tidak ada pendeklarasian capres tunggal. Mereka mengusulkan sejumlah nama sebagai bakal capres.

Setidaknya hingga hari kedua pelaksanaan Mukernas, ada tujuh tokoh eksternal yang diajukan sebagai bakal capres PPP. Mereka adalah Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Bupati Kutai Timur Isran Noor, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly Asshiddique, Politisi Partai Kebangkitan Bangsa Khofifah Indar Parawansa, dan Ketua KPK Abraham Samad.

Saat ditanyakan soal pembatalan deklarasinya ini, Suryadharma Ali hanya sempat menjawab singkat.

"Hasilnya dibacakan besok, sekarang sedang diperhalus. Mukernas ini kan forum tertinggi kedua," ujar Suryadharma Ali.

Namun, ucapan Suryadharma Ali ini pun langsung terpotong saat Ketua Pengarah Mukernas Lukman Hakim Syaifuddin keluar dari arena Mukernas.

"Ini nih ada yang lebih kompeten, Ketua Pengarah," ucap Suryadharma Ali sambil menunjuk ke arah Lukman Hakim Syaifuddin. Setelah itu, Suryadharma Ali pun meninggalkan lokasi acara dengan dalih ingin berisitirahat. (tri)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.688.147 Since: 05.03.13 | 0.1827 sec