Nasional

Pemprov DKI Anggap Rusun Solusi Terbaik

Tuesday, 04 Februari 2014 | View : 1575

JAKARTA-SBN.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memandang relokasi warga ke rumah susun sewa sebagai pilihan terbaik dalam rangka normalisasi sungai-sungai, termasuk Ciliwung. Pandangan ini diperhitungkan berdasarkan kepadatan penduduk Jakarta dan harga jual lahan. Warga penghuni bantaran sungai yang umumnya kalangan menengah ke bawah terbantu untuk memperoleh hunian layak.

Gubernur DKI Jakarta Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ menegaskan, tak ada cara lain untuk menghindari kebanjiran seperti di Kampung Pulo, Jakarta Timur, selain warga di bantaran sungai itu bersedia pindah ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Jika tidak, dia yakin warga bakal tetap kebanjiran. "Ya kalau mau bebas banjir, pindah ke rusun. Enggak ada cara lain," tutur mantan Wali Kota Solo, Jokowi di Balaikota DKI, Jakarta Pusat, Selasa (4/2/2014). Dia menyerahkan proses sosialisasi terhadap warga kepada wali kota, camat, hingga lurah setempat.

Mantan Wali Kota Surakarta tersebut, Jokowi mengakui, ada tarik-menarik, banyak warga yang tidak mau direlokasi. Namun, Jokowi yakin lambat laun pasti warga bersedia pindah ke rusunawa. "Kan baru dimulai sosialisasi pindah ke rusunnya. Masih baru kok, ndak usah ramai-ramai dulu. Rusun juga masih dibangun," ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa ‘Ahok’ mengakui, relokasi warga bantaran sungai ke rumah susun (rusun) bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa. Relokasi ke rusun adalah pilihan solusi paling tepat. Karena itu, warga pun harus belajar beradaptasi demi kehidupan yang lebih baik.

Mantan Bupati Belitung Timur itu mengatakan, memindahkan warga bukan hal yang sederhana. Namun, ia kukuh pada dasar pemikiran bahwa relokasi adalah pemindahan ke tempat lebih baik. “Ini soal persepsi. Kalau tidak ingin kebanjiran, ya, pindah. Secara sosial, manusia pasti suka rumahnya. Namun, masalahnya, apakah tetap dibiarkan banjir?” bilang Basuki Tjahaja Purnama, Selasa (4/2/2014), di Jakarta.

Mantan anggota DPR RI ini pun mengakui, membiasakan diri hidup di rusun bagi warga bantaran sungai perlu waktu. Warga yang mengikuti program relokasi harus berani melakukan perubahan demi sesuatu yang baik.

Menurut Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama, di rusun bermodel hunian vertikal kelak, warga belajar berbagi, sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pikirkan dan lakukan.

Mantan Bupati Belitung Timur ini, Basuki Tjahaja Purnama menyebutkan, kalau perlu, rusun bisa dibuat hingga 26 lantai karena akan menampung banyak orang. Selain itu, juga bisa lebih murah karena membangun 5 lantai atau 26 lantai, luas tanah yang dibutuhkan sama, bahkan semua rusun bisa dilengkapi dengan lift.

Koordinator Ciliwung Merdeka Sandyawan Sumardi berharap ada solusi permanen atas persoalan warga di bantaran sungai. Menurut dia, jika pemerintah hendak merelokasi warga bantaran sungai, sebaiknya diberikan rumah susun sederhana milik (rusunami). Dengan sistem yang dirancang baik, ia yakin warga dapat mengelola rusun tersebut dengan baik.

Dibantu beberapa pakar, Ciliwung Merdeka sebenarnya telah memiliki konsep rumah susun permanen dan ramah lingkungan. Konsep itu mengadopsi model rumah panggung dan menghadap sungai.

Dalam gambar konsep yang dirancang oleh komunitas Ciliwung Merdeka, rumah susun itu berjarak lebih kurang 25 meter dari garis tengah kali. Di depan rumah susun yang menghadap sungai itu terdapat jalan kampung selebar 2 meter, parit, jalur hijau, jalan inspeksi sekaligus sempadan sungai selebar 4 meter, tanggul, bantaran, dan palung sungai. Konstruksi panggung di bagian dasar rumah susun itu digunakan sebagai area publik, khususnya pasar.

Dosen Teknik Arsitektur Universitas Indonesia, Harlina, mengatakan, di Hongkong, konsep itu telah diterapkan. Bedanya, area di lantai dasar digunakan sebagai area hijau atau taman.

Menurut Sandyawan Sumardi, konsep tersebut pernah ditawarkan oleh warga Bukit Duri kepada Gubernur DKI Jakarta Ir. H. Joko Widodo. Sayang, hingga kini belum mendapat perhatian.

Peneliti senior Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor, Ernan Rustiadi, mengingatkan bahwa semua usulan terkait dengan relokasi warga bantaran harus dipikirkan secara matang. “Relokasi warga berarti membawa perubahan pada budaya masyarakat yang akan dipindahkan. Soal tinggal di rumah panggung, setahu saya tak ada budaya itu di Jawa, termasuk di Jakarta. Jadi, mungkin realisasinya nanti bisa lebih sulit,” katanya. Karena terkait perubahan budaya yang berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup warga yang dipindahkan, Ernan Rustiadi meminta ada pendampingan khusus bagi kelompok-kelompok warga yang akan direlokasi.

Harapan pemerintah memang tidak selamanya berjalan mulus. Percikan persoalan masih saja terjadi di lapangan. Sejumlah warga peserta program relokasi dari Waduk Pluit ke Rusun Marunda, awal 2013, menghadapi kesulitan hidup. Mereka juga mengeluhkan fasilitas transportasi darat dari Marunda ke Muara Baru dan sebaliknya. Bus tak lagi beroperasi. Adapun kapal laut tidak beroperasi karena terganggu cuaca buruk tiga pekan terakhir.

Meski kembali terendam banjir, warga RT006/RW012 dan RT007/RW012 Kelurahan Bukit Duri masih belum sepenuhnya sepakat untuk direlokasi. Warga enggan jika dipindah terlalu jauh dari kawasan Pasar Jatinegara. Warga juga meminta jika dipindah ke rumah rusun tidak lagi menyewa, tetapi memilikinya dengan cara mengangsur.

Kawasan Bukit Duri dan Kampung Pulo, Selasa siang, kembali terendam air. Banjir kali ini, menurut warga, merupakan banjir terlama yang mereka alami. Kurang dari satu bulan, mereka tujuh kali terendam air.

Warga Bukit Duri memilih tetap bertahan di rumah masing-masing. Hawa dingin dan lembab tidak mereka khawatirkan karena telah terbiasa.

Warga Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, memilih mengungsi. Mereka mendirikan tenda di salah satu sisi ruas Jalan Jatinegara Barat.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 2014 Pemprov DKI Jakarta bakal mulai merelokasi warga bantaran kali. Namun, penolakan sudah langsung menghadang dari warga Kampung Pulo di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta Timur.

Lurah Kampung Melayu Bambang Pangestu menyebutkan, dari 3.500 kepala keluarga yang ada di wilayahnya, hanya ada 150 kepala keluarga yang bersedia pindah ke rusun yang telah ada. Itu pun warga tidak bersedia pindah ke rusunawa yang jauh. Warga menyatakan baru mau pindah bila rusunawa Jatinegara Barat rampung.

Pemprov DKI Jakarta, lanjut Bambang Pangestu, telah menyediakan rusun, yakni di Pinus Elok, Cipinang Besar Selatan, Kamarudin Cakung, Jatinegara Kaum, serta Rusunawa Pulogebang, yang semuanya di Jakarta Timur. “Seharusnya, bulan ini sudah mau direlokasi. Tapi, mereka enggak mau jauh-jauh. Kami beri formulir kesiapan pindah enggak mau. Mereka memilih menunggu bulan Oktober untuk pindah," ujar Bambang Pangestu.

Kepala Dinas Perumahan dan Bangunan Pemerintah DKI Jakarta Yonathan Pasodung mengungkapkan, sejumlah rusun di Jakarta Timur itu sedianya disiapkan bagi warga Kampung Pulo.

Namun, lantaran hingga saat ini belum ada data warga yang masuk ke dinasnya, maka alokasi rusun-rusun dialihkan kepada warga lain. Menurut Yonathan Pasodung, warga yang akan mengisi rusun itu terlebih dahulu ialah warga bantaran Kali Sunter, Kemayoran, Jakarta Pusat; warga tepi Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur; dan warga di tepi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. (kom)

See Also

Total Pasien Positif Virus Corona Bertambah Jadi 134
Megawati Soekarnoputri Resmikan Patung Soekarno Di Akmil Magelang
Penyebab Kecelakaan Bus Damri Di Tol Arah Bandara Soekarno Hatta
Bus Damri Kecelakaan Di Tol Arah Bandara Soekarno Hatta
Banjir Yang Melanda Di Demak, Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Prajurit Kodim 0716/Demak Menyerbu Desa Sayung
Al Mawaddah Gelar Hypno Motivasi Untuk Mengisi Liburan Sekolah
Seleksi Program Magang Ke Jepang, PPMKP Adakan Pelatihan Petani Muda Di P4S Al Mawaddah
Demi Meriahkan Penutupan TMMD Grup Seni Kentongan Berlatih Hingga Larut Malam
Agar Lebih Dekat Dengan Warga, Satgas TMMD Juga Ikut Ronda Malam
Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia
Ini Talud TMMD Versi Tentara Kodim 0716/Demak
Jalan TMMD Akan Buka Jalur Alternatif Sumberejo
Ketika Para Santri Ikut Bekerja Di Lokasi TMMD
Senang Bisa Bekerja Dengan Pak Tentara
Luangkan Waktu Cek Lokasi TMMD
Terus Didengungkan TMMD Kalikondang Ke Seantero Demak
Tiada Hari Tanpa Sosialisasi TMMD
Progres Pekerjaan Talud TMMD Menggembirakan
Galang Kekuatan Kaum Muda Untuk Sukseskan TMMD Kalikondang
Sortir Material TMMD Dilakukan Sejak Dari Toko
Sudah Tersusun Jadwal Kerja Bhakti Warga Di TMMD
Terima Kasih Sejumlah RTLH Warga Saya Sudah Mulai Dibangun TNI
Terus Dipoles Lapangan Untuk Upacara Pembukaan TMMD
Ajari Anak-Anak Di Desa TMMD Tentang Kebersihan Lingkungan
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.016.484 Since: 05.03.13 | 0.2157 sec