Internasional

Demonstran Thailand Bersumpah Teruskan Unjuk Rasa

Monday, 03 Februari 2014 | View : 779

BANGKOK-SBN.

Pengunjuk rasa anti pemerintah Thailand bersumpah akan turun ke jalan menjatuhkan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra, setelah upaya mereka menggagalkan pemilihan umum akhir pekan lalu.

Para demonstran antipemerintah Thailand pada Senin (3/2/2014) berjanji terus melakukan unjuk rasa di jalan guna mengusir Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra yang diperkirakan akan memenangkan pemilu.

Para demonstran dari kelompok oposisi pemerintah itu mencegah pemungutan suara dan proses pemilihan umum di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Thailand pada hari Minggu (2/2/2014), membuat jutaan orang tak bisa mempergunakan hak pilihnya.

Para demonstran melarang jutaan warga Thailand memberikan suaranya dan mendorong petugas penyelenggara pemilu atau otoritas pemilu untuk menahan dan menunda hasil pemungutan suara sampai hingga seluruh surat-surat suara disampaikan ke semua konstituen.

Namun para demonstran itu tidak menyebutkan dan tanpa menjelaskan secara khusus sampai kapan itu akan terjadi penundaan pengumuman hasil pemilu itu harus dilakukan.

Seperti diberitakan Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra, Senin (9/12/2013), memutuskan membubarkan parlemen dan mempercepat jadwal pemilu ke 2 Februari 2014. Itu setelah Thailand diterpa krisis politik akibat desakan oposisi yang menuntutnya mundur dari kekuasaan.

Krisis itu dipicu langkah pemerintah mengajukan Rancangan Undang-undang (RUU) Amnesti yang bila disahkan dapat membuat kakak kandung Yingluck Shinawatra, mantan PM Thaksin Shinawatra, pulang kembali ke Thailand tanpa perlu menjalani vonis dua tahun penjara atas dakwaan korupsi yang dijatuhkan pada tahun 2008.

Para lawan dari PM Yingluck Shinawatra dan kelompok yang berseberangan dengan PM Yingluck Shinawatra menuding Yingluck Shinawatra adalah hanyalah "boneka" untuk kakaknya, Thaksin Shinawatra, yang telah digulingkan dari pemerintahan oleh kelompok militer pada 2006. Sejak 2008, Thaksin Shinawatra mengasingkan diri dan kini tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab. Hal tersebut untuk menghindari vonis hukuman penjara atas tuduhan korupsi. Tuduhan yang dibantah oleh Thaksin Shinawatra yang menurutnya dengan menuding pengadilan itu lebih bermotif politik dan dibuat-buat. Thaksin Shinawatra terguling dari kekuasaannya akibat kudeta militer pada 2006.

Pemerintah menegaskan peraturan yang mewajibkan pemilu digelar 2 Februari telah ditandatangani Raja Thailand. Itu tak lagi bisa diubah.

PM Yingluck Shinawatra, Rabu (22/1/2014), mendeklarasikan pemberlakuan kondisi darurat sipil di Ibu Kota Bangkok dan wilayah sekitarnya. Ini untuk mengendalikan situasi keamanan yang mulai rapuh semenjak krisis dimulai.

Hukum darurat sipil tersebut, yang memberi polisi kewenangan menahan orang tanpa perintah pengadilan, melarang pertemuan politik di atas lima orang. Mereka juga menerapkan jam malam yang berlaku selama 60 hari ke depan.

Para demonstran itu menginginkan PM Yingluck Shinawatra segera mundur dan memberi jalan bagi pembentukan para ‘Dewan Rakyat’ yang ditunjuk untuk mengawasi serta melakukan reformasi demi mengatasi korupsi dan tuduhan dugaan pembelian suara yang dilakukan klan Shinawatra dalam politik Thailand.

Dengan tidak adanya hasil angka resmi tentang mengenai jumlah pemilih, kedua belah pihak (pemerintah dan oposisi) mengklaim dan mengaku keberhasilan sukses dalam pemilu, yang berlangsung relatif damai setelah adu tembak pada Sabtu pekan lalu di pinggiran Bangkok yang memicu kekhawatiran bentrokan serius diantara kedua kubu politik yang bertikai. “Menurut konstitusi, pemilu harus digelar di hari yang sama. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan,” protes Juru Bicara demonstran yakni Akanat Promphan kepada para wartawan sebelum melakukan aksi unjuk rasa awal pekan ini. “Menurut konstitusi, pemilu harus diselenggarakan pada hari yang sama. Namun, tidak mungkin bagi kami untuk melakukannya. Sudah jelas bahwa pemilu ini harus dibatalkan," cetus Juru Bicara kelompok demonstran Akanat Promphan.

Kelompok oposisi mengatakan bakal membongkar beberapa panggung protes yang mereka bangun di Ibu Kota namun dengan tetap mempertahankan metode ‘melumpuhkan’ kota yang mereka lakukan selama ini. Kelompok itu mengatakan akan membubarkan beberapa aksi protes di Bangkok, tetapi akan tetap mempertahankan "penutupan" Ibu Kota Thailand tersebut.

Sementara itu, partai penguasa yang berkuasa mengklaim bahwa seluruh surat suara diberikan dan dipakai oleh lebih dari separuh dari total 44 juta warga Thailand yang memang mempunyai hak pilih telah memberikan suara.

Gangguan pemilu atas Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagian besar terjadi di Bangkok dan di daerah wilayah selatan Thailand, yakni tempat yang mnejadi basis kuat kubu-kubu oposisi.

"Itu menunjukkan bahwa setengah dari populasi masyarakat Thailand menginginkan demokrasi dan menginginkan sebuah parlemen yang terbentuk oleh kelompok mayoritas," kata Juru Bicara partai Puea Thai, Prompong Nopparit, seperti dilaporkan AFP.

"Ini bukan kemenangan bagi Partai Puea Thai, tetapi kemenangan bagi orang-orang atau rakyat yang mencintai demokrasi dan cinta perdamaian," tambahnya.

Menteri Tenaga Kerja Thailand Chalerm Yubamrung yang bertugas mengawasi para pengunjuk rasa terkait pemberlakuan keadaan darurat telah memprediksi bahwa Partai Puea Thai akan meraih "antara 265 hingga 289 kursi" dalam hasil jajak pendapat pemilu pemungutan suara ini, yang diboikot oleh kelompok partai oposisi utama dan terbesar yakni, Partai Demokrat. (afp)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.498.294 Since: 05.03.13 | 0.3042 sec