Internasional

Pemilu Thailand Selesai, 18 Provinsi Bermasalah

Monday, 03 Februari 2014 | View : 740

BANGKOK-SBN.

Di tengah ancaman terjadinya pertumpahan darah dan juga pemboikotan oleh pihak oposisi, pemilihan umum (pemilu) Thailand akhirnya tuntas dilakukan pada Minggu (2/2/2014). Pemilihan umum di Thailand hari Minggu (2/2/2014) akhirnya selesai digelar dan ditutup pada pukul 15.00 waktu setempat tadi sore. Pemilihan umum nasional Thailand yang digelar Minggu (2/2/2014), berakhir dan baru saja usai pada pukul 15.00 sore waktu setempat.

Laporan Kantor Berita AFP dan Reuters, Minggu (2/2/2014), menyebutkan, secara umum pemilu berlangsung damai, meski diwarnai pemboikotan dan protes oleh pihak oposisi.

Namun laporan mengenai adanya hadangan yang dilakukan oleh massa anti-pemerintah mulai mengemuka.

Banyak boikot dan protes yang marak terjadi pada pemilu kemarin Minggu (2/2/2014), tulis koran Bangkok bergengsi, The Nation, Senin (3/2/2014).

Puluhan ribu warga Thailand dilaporkan tidak bisa memberikan suaranya, ketika massa anti-pemerintah memblokade jalanan. Sebagian besar gangguan tersebut terjadi di wilayah selatan, yang merupakan basis dari kekuatan massa anti-pemerintah.

Sejumlah provinsi belum menggelar pemungutan suara. Salah satu penyebabnya adalah surat suara pemilu tertahan karena jalan diblokade demonstran anti-pemerintah.

Akibat aksi boikot dan pemblokiran jalan yang dilakukan kelompok antipemerintah, pemungutan suara tidak dapat dilangsungkan di 45 (sekitar 12 persen) dari total 375 daerah pemilihan (dapil) di Thailand.

Hingga saat ini, hampir 500 dari 6.671 tempat pemungutan suara di Bangkok sudah ditutup. Sementara sembilan provinsi di wilayah selatan tidak bisa melakukan pemilihan umum. Demikian diberitakan Reuters, Senin (3/2/2014).

Massa anti-pemerintahan dengan tegas melakukan penjagaan di tempat pemungutan suara. Para demonstran antipemerintah tetap tidak bisa menerima hasil pemilu dan mendesak Perdana Menteri Yingluck Shinawatra untuk mundur dari jabatannya.

Pemilihan umum ini digelar oleh Yingluck Shinawatra sebagai jawaban atas krisis politik Thailand, yang dipicu demonstrasi massa anti-pemerintah oleh Komite Reformasi Rakyat Demokratis (PDRC) sejak tahun lalu. PDRC menginginkan Yingluck Shinawatra turun dari kursi perdana menteri.

Pemimpin demo jalanan Suthep Thaugsuban kemarin mengatakan, “inilah pertama kali pemilu yang paling banyak diboikot pemilih.” Organisasi pimpinan Suthep Thaugsuban, Komite Reformasi Demokratis Rakyat (PDRC) memang kuat mendengungkan tidak mencoblos sebelum dilakukan reformasi politik di Thailand.

Dilaporkan, massa antipemerintah pimpinan Suthep Thaugsuban memaksa sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di Bangkok dan wilayah Thailand Selatan untuk ditutup.

Dilansir kantor berita BBC, Minggu (2/2/2014), akibatnya sebanyak enam juta pemilih yang terdaftar ikut terpengaruh akibat hal tersebut.

Banyak pemilih yang tak datang ke TPS di berbagai provinsi, bahkan di provinsi-provinsi yang dipegang partai berkuasa Phue Thai di Thailand Utara dan Barat Laut.

Sementara itu, TPS di bagian pusat dan timur provinsi di Thailand masih memungkinkan untuk menggelar pemilu. KPU tidak menemukan masalah di 59 provinsi, termasuk di 16 provinsi di kawasan utara dan 20 provinsi di timur laut Thailand.

Menurut data dari KPU dan dilansir harian Bangkok Post sebanyak 122 dari 127 TPS yang disediakan didatangi para pemilih.

Hal serupa pun terjadi di Ibu Kota Bangkok. Sembilan provinsi, termasuk Bangkok, bisa membuka TPS di sebagian besar wilayahnya. Delapan provinsi lainnya adalah: Narathiwat, Pattani, Yala, Nakhon Si Thammarat, Satun, Prachuap Khiri Khan, Rayong, dan Phetchaburi.

Unjuk rasa anti pemerintah yang bertujuan menutup TPU di beberapa lokasi seperti Ratchathewi, Din Daeng dan distrik Lak Si, berhasil dilakukan.

Bahkan, beberapa TPS di Distrik Bang Kapi dan Bung Kum juga terpaksa ditutup akibat tidak ada pejabat KPU yang bertugas untuk mengawasi lokasi di sana. Padahal tadi pagi, Perdana Menteri sementara, Yingluck Shinawatra, menggunakan hak suaranya di salah satu sekolah di Distrik Bung Kum.

Menurut perkiraan, sebanyak 12 juta, atau 25 persen dari para pemilih dengan hak suara, gagal mendatangi TPS. Namun di Bangkok sekitar 92 persen TPS didatangi pemilih.

Menurut Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Umum (KPU), Puchong Nuttrawong, kendati pemilu sukses dilakukan, tetapi pemungutan suara di sembilan TPS di bagian selatan Thailand, terpaksa dibatalkan. Komisi Pemilihan Umum Thailand membatalkan pemungutan suara di sembilan dari 14 provinsi di Thailand selatan. Di provinsi Songkhla, Trang, Phatthalung, Phuket, Surat Thani, Ranong, Krabi, Phangnga, dan Chumphon, tak ada suara sama sekali.

Menurut Sekretaris Jenderal KPU Thailand Puchong Nuttrawong di provinsi-provinsi tersebut tidak ada calon legislatif yang bersaing di daerah pemilihan, konstituen, surat suara yang berisi daftar calon, dan pejabat yang berjaga di TPS. Puchong Nuttrawong menyebut hal itu lantaran disana tidak ada calon legislatif, karena proses pendaftarannya diboikot massa anti pemerintah, tidak ada daftar kertas suara serta tidak ada pejabat pengawas TPS.

Di provinsi-provinsi Thailand Selatan, pemilih yang datang ke TPS cuma 20 hingga 30 persen, jauh lebih rendah ketimbang pemilu sebelumnya yang dimenangkan oleh Phue Thai.

Namun demikian, pemilu di sebagian besar wilayah Thailand lainnya berlangsung aman dan damai.

Komisi Pemilihan Umum Thailand mengatakan banyak hal yang harus diatasi sebelum hasil resmi dapat diumumkan. Namun, menurut informasi yang beredar, belum ada hasil yang dapat diumumkan, lantaran semua konstituen masih harus menunggu hasil pemilu awal yang akan dilakukan ulang pada 23 Februari 2014.

Pada pemilu awal yang digelar 26 Januari 2014 kemarin, tidak semua warga Thailand bisa memberikan suara mereka, lantaran TPS diblokir oleh massa anti pemerintah. 

Jumlah suara itu nantinya juga akan ditambah dengan perolehan dari warga Thailand yang tengah berada di luar negeri.

Pemilih tak nongol di banyak TPS Bangkok serta sejumlah provinsi yang masuk dalam kawasan perkotaan. “Pencoblosan mulus terjadi di 59 provinsi, yakni pada 83.669 TPS dari 93.952 TPS secara nasional,” demikian menurut Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan Umum (KPU) Puchong Nuttrawong.

KPU mencatat dari pemilu kali ini, publik yang menggunakan hak suaranya berjumlah 89,2 persen dari 47 juta warga Thailand. Artinya mereka mendatangi 83.813 TPS dari 93.532 tempat yang disediakan. Pihak Election Commission (EC) mengumumkan bahwa proses penghitungan suara sudah selesai hingga 89,2 persen. Hasil tersebut merupakan penghitungan suara 93.532 tempat pemungutan suara di seluruh Thailand. “Pemungutan suara berlangsung di 89 persen dari 93.952 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh negeri,” kata Komisi Pemilihan Umum Thailand. Tidak semua provinsi mampu ambil bagian dalam pemilihan umum, terutama yang berada di Thailand selatan.

Setelah pemilu resmi ditutup, surat suara pun langsung dihitung oleh KPU. Puchong Nuttrawong mengatakan pejabat KPU yang ada di seluruh TPS aktif turut menghitung jumlah pemilih yang berpatisipasi, surat suara yang sah, dan hasil pemberian suara.

Ketua KPU Thailand Supachai Somcharoen mengungkapkan suara sudah selesai dihitung di sejumlah TPS, tetapi hasil resmi tidak akan diumumkan karena menunggu pemungutan suara berikutnya. Pemilu lanjutan dijadwalkan berlangsung 23 Februari.

Meskipun pemerintah Thailand mengklaim “menang” setelah penghitungan suara mencapai 89 persen dari 375 daerah pemilihan pada Pemilihan Umum Minggu (2/2/2014), kemungkinan pemilu ini bakal batal.

Pihak Partai Peu Thai mengklaim memenangkan pemilu. Tetapi partai tempat Perdana Menteri Yingluck Shinawatra bernaung, dihadapkan pada kelanjutan krisis mengingat sulit baginya untuk membentuk pemerintahan baru.

Puchong Nuttrawong mengatakan angka pemilih bakal diumumkan hari ini, Senin (3/2/2014). Para anggota KPU akan bersidang pada hari ini Senin (3/2/2014) untuk membahas masalah-masalah yang menghadang pemilu kemarin. Anggota KPU akan bertemu dengan Menteri Perburuhan Chalerm Yoobamrung yang kini bertanggung jawab pada Pusat Penanganan Perdamaian dan Ketertiban.

Penjabat PM Yingluck Shinawatra puas dengan pemilu yang ditutup kemarin karena berlangsung tanpa kekerasan. Di ujung waktu pemungutan suara, caretaker Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengatakan dia puas dengan pelaksanaan pemilu ini dan berterima kasih kepada para pejabat dan rakyat yang mengikuti pemilu. Ia berterima kasih kepada para pemilih karena “membantu mempertahankan demokrasi”. "Pemilu adalah titik awal untuk memecahkan masalah melalui proses demokrasi," pungkasnya. (rtr/afp/bbc/the nation/bangkok post)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.498.337 Since: 05.03.13 | 0.26 sec