Internasional

Demonstran Ganggu Pemilu Thailand

Monday, 03 Februari 2014 | View : 905

BANGKOK-SBN.

Demonstran antipemerintah Thailand memblokir tempat-tempat pemungutan suara pada Minggu (2/2/2014). Demonstran anti-pemerintah Thailand mengganggu pelaksanaan pemungutan suara di sebagian besar wilayah Thailand selatan dan Bangkok. Hal ini menambah panjang krisis politik yang tak kunjung usai di Negeri Gajah Putih tersebut.

Saat pra-jajak pendapat, kekerasan sudah pecah di mana puluhan orang terluka dan terjadi bentrok antara massa antipemerintah PM Yingluck Shinawatra yang memakan korban jiwa.

Para pejabat mengatakan pemungutan suara itu mengalami kekacauan di beberapa bagian atau di 127 daerah dari 375 daerah pemilihan di seluruh negeri karena para demonstran menginginkan Yingluck Shinawatra mundur dan membuat jalan bagi ‘dewan rakyat’ tak terpilih untuk mengawasi reformasi demi mengatasi korupsi dan tuduhan pembelian suara.

Sunai Phasuk seorang peneliti senior di Kelompok Hak Asasi Manusia yang berbasis di New York menuduh para demonstran menggunakan ‘premanisme dan intimidasi’.

Di Bangkok, 488 dari 6.673 Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak bisa dibuka, atau ditutup lebih awal, akibat blokade yang dilakukan oleh para demonstran atau kurangnya staf, sehingga memicu bentrokan kecil antara calon pemilih dan polisi di salah satu distrik.

Di beberapa kasus, para demonstran membentuk blokade untuk mencegah para pemilih memasuki TPS.

Para pemilih yang marah di salah satu distrik di Bangkok berdiri di luar TPS yang ditutup seraya melambaikan kartu-kartu identitas mereka dan meneriakkan “Pemilu! Pemilu!”.

“Kami memiliki hak untuk memilih. Anda tidak berhak mengambilnya dari kami,” kata Sasikarn Wannachokechai, seorang warga Bangkok (51 tahun) yang mengatakan dia belum pernah melewatkan kesempatan untuk memilih.

Di tempat lain, para demonstran memblokade pengiriman kertas-kertas suara dan bahan-bahan pemilu lainnya, mencegah TPS dibuka.

Komisi Pemilihan Umum mengatakan bahwa ratusan TPS di bagian selatan, kubu oposisi menghadapi masalah-masalah serupa.

Di beberapa bagian di kawasan selatan, kubu dari gerakan antipemerintah, para demonstran menghentikan kantor-kantor pos dari pendistribusian kertas-kertas dan kotak-kotak suara, demikian disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Sekretaris Jenderal KPU Puchong Nutrawong mengatakan pemungutan suara terpaksa dibatalkan di sembilan dari provinsi di bagian Selatan Thailand yang menjadi basis utama pendukung Perdana Menteri sementara Yingluck Shinawatra.

“Karena tidak ada kandidat tidak ada kertas suara atau petugas TPS,” kata Puchong Nuttrawong seperti dilansir.

Kemarin Minggu (2/2/2014) Komisi Pemilihan Umum Thailand mengklaim hanya 89 persen TPS beroperasi normal.

Hasil dari pemungutan suara itu hampir pasti jadi tidak meyakinkan. Karena para demonstran memblokade pendaftaran kandidat di beberapa distrik, parlemen tidak akan memiliki cukup anggota untuk bersidang. Hal itu berarti PM Yingluck Shinawatra yang terkepung tidak akan mampu membentuk pemerintahan atau bahkan mengesahkan anggaran, dan Thailand akan terjebak dalam ketidakpastian politik selama berbulan-bulan akibat pelaksanaan pemilu di daerah-daerah pemilih tidak dapat melakukan pemilihan.

Hasil resmi tidak diharapkan muncul dalam beberapa pekan, dengan tertundanya penghitungan akhir sampai seluruh distrik telah memilih.

Pemungutan suara awal telah dijadwalkan pada Minggu, tapi telah gagal dilaksanakan di banyak distrik sehingga kembali dijadwalkan ulang pada akhir Februari mendatang.

Tapi meskipun demonstrasi massa jalanan telah berlangsung berminggu-minggu, gerakan mereka diperkirakan tak akan membuahkan hasil. PM Yingluck Shinawatra diperkirakan masih akan memperpanjang masa jabatannya, hal yang ditakutkan oleh massa antipemerintah.

Dan pada akhirnya, kekerasan politik di Thailand dipastikan belum akan berakhir. Negara itu telah menyaksikan siklus kekerasan politik yang telah melanda sejak kakak Yingluck Shinawatra, mantan PM Thaksin Shinawatra menjabat sebagai perdana menteri. Saat penggulingan dirinya pada tahun 2006 oleh militer, kekerasan tak kunjung berakhir, dan Thailand terus diguncang demo hingga saat ini.

Ketegangan pun semakin tinggi setelah terjadi baku tembak antara para rival pengunjuk rasa di jalan-jalan ibu kota di malam pemilu yang mengakibatkan setidaknya tujuh orang terluka.

Tapi tidak ada laporan kekerasan serius di hari pemilu pada saat pemungutan suara ditutup pada pukul 15.00 waktu setempat.

Sementara itu, surat perintah penangkapan telah diumumkan selama tiga pengunjuk rasa anti-pemerintah Thailand menghalangi pemungutan suara awal pada 26 Januari, termasuk pemimpin Komite Reformasi Demokratis Rakyat (PDRC), Issara Somchai.

Pengadilan Kriminal Thailand telah menyetujui surat perintah penangkapan pemimpin PDRC Issara Somchai, seorang pria yang dikenal sebagai "Little Saddam", dan seorang pria lain yang difoto mencoba untuk mencekik seorang pria yang mencoba untuk menggunakan hak suaranya pada 26 Januari. (afp/ap)

See Also

Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
Sekelompok Pria Bersenjata Tewaskan 15 Orang Saat Demo Irak
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.783.828 Since: 05.03.13 | 0.1285 sec