Agama & Masyarakat

KH Abdurrahman Wahid Pendobrak Diskriminasi

Thursday, 30 Januari 2014 | View : 1382

SURABAYA-SBN.

Suasana Imlek cukup terasa di Surabaya, sejak dua pekan lalu.  Lampion dan ucapan selamat Imlek menghiasi rumah, perkantoran, hotel, dan pusat-pusat perbelanjaan.

Perayaan hari besar masyarakat China ini mencapai puncaknya, Jumat (31/1/2014). Inilah Tahun Baru China.

Perayaan Imlek Indonesia dan upacara sembahyang di Vihara dan Klenteng baru mulai lagi diizinkan sejak era Presiden Republik Indonesia ke-4, Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Sebelumnya selama masa Order Baru, rezim Presiden ke-2 Soeharto melarang perayaan Imlek secara terbuka lewat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Inpres itu dicabut Gus Dur dengan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 6 Tahun 2000.

Pada 9 Januari 2001, Kementerian Agama mengeluarkan keputusan Nomor 13 Tahun 2001 yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif.

Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri yang memerintah setelah Gus Dur menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional mulai sejak 2003.

Pemerintah menandai penanggalan hari Imlek dengan warna merah. Artinya, libur nasional,  sama dengan libur nasional untuk Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Hijriah (Islam).

Bedanya tanggal merah untuk Imlek baru muncul sebelas tahun lalu. Tepatnya sejak ditetapkan pemerintah sebagai libur nasional pada 2003. Sedang Tahun Baru Masehi dan Hijriah sudah muncul jauh sebelumnya.

Bagi  masyarakat China, perubahan warna penanggalan ini merupakan  perubahan zaman era warga keturunan China bebas dari kungkungan. Sebuah perubahan, masyarakat China boleh mempertontonkan tradisi yang sejak 1967 dilarang  pemerintah Orde Baru.

Tapi, perubahan itu bukan terjadi secara alamiah. Sejarah mencatat, sejumlah tokoh dan kelompok menjadi mentor perubahan lewat letupan-letupan gerakan melawan diskriminasi.

Nama pasangan Budi  Wijaya (50) dan Lanny Guito (42), layak disebut sebagai pendobrak diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang dilakukan rezim Orde Baru. Pasangan suami istri warga Surabaya ini, menjadi warga Tionghoa pertama yang melakukan perlawanan.

Itu terjadi pada 1996, ketika negara  melarang keras segala atribut dan tradisi Tionghoa ditampilkan.

Budi Wijaya kala itu menikah secara agama Khonghucu. Pernikahannya ditolak Kantor Catatan Sipil Surabaya. Dengan bantuan Klenteng Boen Bio, tempatnya menikah, ia melawan. Perlawanan berlangsung di jalur hukum berlangsung sengit.  

Tekanan dan intervensi berlangsung kuat, namun perlawanan Budi Wijaya tak pernah surut.

Ketua Klenteng Boen Bio Surabaya, Gatot Seger Santoso (65) menyebut perlawanan Budi Wijaya-Lanny Guito inilah sebagai tonggak perlawanan pemeluk Khonghucu. "Kasus perkawinan Budi dan Lanny merupakan tonggak  kebebasan bagi para pemeluk Khonghucu di Indonesia untuk merayakan Imlek secara terbuka," tutur Gatot Seger Santoso.

Tentu Budi Wijaya tidak sendiri. Masih ada deretan tokoh lain. Di antaranya Bingky Irawan, ketua Boen Bio waktu itu. Dialah yang mendampingi dan mengawal Budi Wijaya.

Termasuk membawanya ke Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) di Jakarta. Dari MATAKIN inilah, perkara itu sampai telinga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur yang waktu itu menjadi Ketua Umum PBNU dengan lantang membela. Tanpa diminta, ia menyediakan diri menjadi saksi, membela pasangan Budy-Lanny di pengadilan. Skala perlawanan pun naik ke tingkat nasional.

Makin hari, Kiai Haji Abdurrahman Wahid makin intens berkampanye melawan diskriminasi kaum Tionghoa dan pemeluk Khonghucu.

"Gus Dur sebenarnya tidak berpihak pada kelompok atau lebel-label sosial tertentu. Beliau  konsisten membela kemanusiaan. Kebetulan waktu itu ada penindasan terhadap kemanusiaan warga Tionghoa. Jadi Gus Dur bela. Di luar itu, pada saat bersamaan Gus Dur juga membela rakyat Papua dan Aceh," jelas Alissa Qatrunnada, putri Gus Dur.

Di berbagai kesempatan, baik di kalangan nahdliyyin maupun kalangan Tionghoa, Kiai Haji Abdurrahman Wahid berkali-kali menyatakan dirinya adalah keturunan Tionghoa.

Banyak kalangan menyebut, ini adalah pernyataan pasang badan sekaligus ajakan bagi nahdliyyin yang dipimpinnya untuk mengawal perjuangan kaum Tionghoa.

Tahun 1998, rezim Orde Baru tumbang. Di susul kemudian K.H. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia tahun 1999.  Tak perlu menunggu lama, Presiden Gus Dur menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6/2000. Isinya mencabut Inpres No.14/1967 tentang  pembatassan Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat China.

Inilah pintu kebebasan bagi kaum Khonghucu dan warga negara Indonesia keturunan China.

Keputusan ini kemudian disusul dengan lahirnya keputusan pemerintah tahun 2001 yang menjadikan Tahun Baru Imlek, sebagai hari libur fakultatif. Hari libur khusus  bagi yang merayakannya.

Wajar bila masyarakat Tionghoa kemudian menahbiskan pria kelahiran Jombang itu sebagai Bapak Tionghoa Indonesia. Pengangkatan dilakukan 10 Maret 2004 dalam penahbisan di Klenteng Tay Kek Sie Semarang. (tri)

See Also

Klaim Keraton Agung Sejagat Purworejo
Gubernur Jawa Tengah Minta Usut Munculnya Keraton Agung Sejagat
Polres Purworejo Akan Klarifikasi Keraton Agung Sejagat
Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.862 Since: 05.03.13 | 0.137 sec