Nasional

Sekjen Partai Demokrat Hindari Pertanyaan Sensitif

Thursday, 30 Januari 2014 | View : 966

NGAWI-SBN.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab dipanggil Ibas menghindari pertanyaan-pertanyaan sensitif terkait dirinya maupun partai. Misalnya, saat putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu ditanya ihwal tudingan aliran dana proyek Hambalang ke dirinya. “Saya jangan (diminta) mengomentari itu,” katanya singkat setelah makan siang di rumah makan Accord 2, Jalan Raya Ngawi-Caruban, Desa Karangasri, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, provinsi Jawa Timur, Rabu (29/1/2014). Ibas sejak Senin (27/1/2014) lalu menyambangi daerah pemilihannya di Madiun-Ngawi-Pacitan sebagai calon anggota DPR RI 2014.

Ibas demikianlah sapaan akrabnya juga tidak bersedia menjelaskan alasannya menolak mengomentari isu tersebut. “Ada (isu) lainlah yang bisa diliput,” ujarnya kepada wartawan setelah berkunjung ke kantor biro sebuah media massa lokal di Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Ngawi, provinsi Jawa Timur.

Di tempat tersebut, Ibas sempat berdialog dengan kru media selama beberapa menit. Dalam kesempatan tersebut, menantu Hatta Radjasa itu juga memberikan kenang-kenangan berupa karikatur dirinya.

Beberapa waktu sebelumnya, Ibas juga bersilaturahmi ke Markas Kepolisian Resor Ngawi dan mendatangi beberapa kelompok tani.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Firman Wijaya, salah satu penasihat hukum tersangka kasus korupsi Hambalang Anas Urbaningrum, mengatakan kliennya telah bercerita mengenai Ibas yang kecipratan dana Hambalang. “Mas Anas berpesan, 'seandainya saya SBY, saya akan mengantar sendiri Mas Ibas ke KPK.' Itu yang disampaikan Mas Anas Urbaningrum,” tutur Firman Wijaya setelah menyaksikan sidang kasus korupsi proyek Hambalang untuk terdakwa Deddy Kusdinar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Menurut Firman Wijaya, pernyataan Anas Urbaningrum itu menyitir mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin dan Yulianis, Wakil Direktur Keuangan Permai Grup. Keduanya memberikan informasi adanya transaksi dana haram dari hasil proyek Hambalang, Bogor, Jawa Barat yang mengalir ke Ibas sebanyak US$ 200 ribu.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang sudah menjadi terpidana kasus korupsi, Muhammad Nazaruddin, buka suara soal mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Sebelum bersaksi dalam sidang kasus Hambalang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Muhammad Nazaruddin mengatakan, Anas Urbaningrum mengetahui semua terkait proyek-proyek pemerintah. "Saya cukup baik mengenal Anas. Mudah-mudahan Anas bisa jujur menyampaikan apa adanya. Mas Anas ini semuanya serbatahu," beber Muhammad Nazaruddin kepada para wartawan di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (16/1/2014).

Muhammad Nazaruddin mengatakan, ia sangat menghormati Anas Urbaningrum dan juga mengenalnya dengan baik. “Jika Anas mengatakan tidak mengetahui terkait proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya, itu adalah bohong,” lanjut Muhammad Nazaruddin.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut, Muhammad Nazaruddin pun menyarankan Anas Urbaningrum mengakui segala permainan proyek yang pernah dilakukan. "Mau saya, sudahlah taubat, sudah buka saja sesuai kebenaran yang sama-sama dijalani," bilang Muhammad Nazaruddin.

Saat ditanya mengenai dugaan keterlibatan anak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Edhie 'Ibas' Baskoro Yudhoyono, dalam kasus Hambalang, Muhammad Nazaruddin pun menjawab, "Nanti coba tanya itu ke Mas Anas. Saya sudah taubat, niatan saya betul-betul untuk mengungkap semua apa adanya secara detail dan jelas," Muhammad Nazaruddin menambahkan.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Iberamsjah meminta mantan Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum secara kesatria buka-bukaan soal korupsi yang dilakukannya. Semakin Anas Urbaningrum mengaku tidak korupsi, sambung Iberamsjah, semakin membuat rakyat tidak percaya. Rakyat lebih melihat pada fakta kekayaannya, rumahnya yang megah, dan mobil-mobil mewahnya. Karenanya, Anas Urbaningrum harus membuktikan dari mana dia memperoleh harta mewah itu.

Terkait isu adanya aliran dana ke Ibas yang mungkin diketahui oleh Anas Urbaningrum, Iberamsjah mengatakan bahwa jika memang dia mempunyai bukti, Anas Urbaningrum diminta untuk mengatakannya secara langsung. Siapa pun yang menerima aliran dana haram harus menerima hukumannya. “Lakukan saja seperti yang dilakukan Nazaruddin yang menyeret dia dengan bukti-bukti. Mengapa mesti takut? Tidak perlu dengan ancaman kata-kata yang dibuat halus. Kesimpulannya, kalau tidak dia tak punya nyali, yah dia tidak punya bukti,” paparnya.

Sementara itu, mantan Ketua Umum PB HMI dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum mempertimbangkan langkah untuk buka-bukaan tentang kasus korupsi yang menjeratnya.

Melalui penasihat hukumnya, Firman Wijaya, Anas Urbaningrum kini sedang menimang opsi menjadi whistle blower dalam mengungkap keterlibatan pihak lain. “Kita diskusi soal whistle blower. Kalau cita rasa Mas Anas, dia menyebutnya sebagai kerja sama," jelas Firman Wijaya yang ditemui di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/1/2014).

Salah satu penasihat hukum Anas Urbaningrum, Firman Wijaya menambahkan, kliennya sangat siap untuk membantu KPK dalam menuntaskan yang berkaitan dengan Konvensi Partai Demokrat di Bandung pada 2010 lalu.

Saat ditanya apakah Anas Urbaningrum mengakui tindak pidananya, ia enggan menjawabnya. "Mas Anas punya cara untuk bekerja sama dengan KPK," tukasnya.

Sementara itu, ditemui terpisah, Juru Bicara KPK Johan Budi Sapto Prabowo mengatakan KPK terbuka jika Anas Urbaningrum ingin menjadi mitra KPK untuk mengungkap korupsi alias justice collaborator.

Namun, ia memaparkan ada dua syarat seorang tersangka untuk menjadi justice collaborator, yaitu tersangka itu harus mengakui tindak pidana korupsinya serta mau mengungkapkan apa saja yang tersangka itu ketahui. "Bagaimana mau jadi justice collaborator kalau tersangka itu saja belum mengakui tindak pidananya," sindir Johan Budi SP.

Sebelumnya, pihak Anas Urbaningrum mengatakan bahwa tim penyidik KPK-lah yang seharusnya menggali informasi terkait dugaan keterlibatan pihak lain, termasuk Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas dalam kasus ini. KPK sendiri belum juga menjadwalkan pemanggilan untuk anak dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini karena tak adanya laporan. (tri/tem/kom)

See Also

Penyebab Kecelakaan Bus Damri Di Tol Arah Bandara Soekarno Hatta
Bus Damri Kecelakaan Di Tol Arah Bandara Soekarno Hatta
Banjir Yang Melanda Di Demak, Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Prajurit Kodim 0716/Demak Menyerbu Desa Sayung
Al Mawaddah Gelar Hypno Motivasi Untuk Mengisi Liburan Sekolah
Seleksi Program Magang Ke Jepang, PPMKP Adakan Pelatihan Petani Muda Di P4S Al Mawaddah
Demi Meriahkan Penutupan TMMD Grup Seni Kentongan Berlatih Hingga Larut Malam
Agar Lebih Dekat Dengan Warga, Satgas TMMD Juga Ikut Ronda Malam
Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia
Ini Talud TMMD Versi Tentara Kodim 0716/Demak
Jalan TMMD Akan Buka Jalur Alternatif Sumberejo
Ketika Para Santri Ikut Bekerja Di Lokasi TMMD
Senang Bisa Bekerja Dengan Pak Tentara
Luangkan Waktu Cek Lokasi TMMD
Terus Didengungkan TMMD Kalikondang Ke Seantero Demak
Tiada Hari Tanpa Sosialisasi TMMD
Progres Pekerjaan Talud TMMD Menggembirakan
Galang Kekuatan Kaum Muda Untuk Sukseskan TMMD Kalikondang
Sortir Material TMMD Dilakukan Sejak Dari Toko
Sudah Tersusun Jadwal Kerja Bhakti Warga Di TMMD
Terima Kasih Sejumlah RTLH Warga Saya Sudah Mulai Dibangun TNI
Terus Dipoles Lapangan Untuk Upacara Pembukaan TMMD
Ajari Anak-Anak Di Desa TMMD Tentang Kebersihan Lingkungan
Permudah Media Akses Berita, Dirikan Posko Penerangan Di Lokasi TMMD
Balai Desa Kalikondang Disiapkan Sebagai Poskotis TMMD Reguler Ke-105
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.478 Since: 05.03.13 | 0.138 sec