Internasional

PM Ukraina Mengundurkan Diri

Thursday, 30 Januari 2014 | View : 796
Tags : Ukraina

BERLIN-SBN.

Perdana Menteri Ukraina, Mykola Azarov, mengumumkan pengunduran dirinya, Selasa (28/1/2014) pagi waktu setempat. Perdana Menteri Ukraina, Mykola Azarov, mengundurkan diri pada Selasa (28/1/2014), dalam upaya untuk meredakan krisis di negara itu. Pengunduran diri Perdana Menteri Ukraina Mykola Azarov (66 tahun) mengirimkan sinyal kepada oposisi agar berdialog untuk membuka jalan keluar dari krisis politik. “Saya berharap bahwa dengan pengunduran diri Perdana Menteri, Pemerintah Ukraina mengirim sinyal pada pihak oposisi yang akan mengarah pada diskusi lebih lanjut,” kata Menteri Luar Negeri, Frank Walter Steinmeier.

Mykola Azarov berkata pada Parlemen Selasa (28/1/2014) pagi waktu setempat, dia akan mengundurkan diri dalam upayanya untuk meredakan krisis mematikan di Ukraina dan melestarikan persatuan setelah tekanan berbulan-bulan lamanya dari demonstran jalanan melawan Presiden Viktor Yanukovych. “Dalam rangka untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan tambahan untuk kompromi demi resolusi konflik secara damai, saya telah mengambil keputusan pribadi untuk meminta Presiden menerima pengunduran diri saya,” ucap Mykola Azarov pada Selasa (28/1/2014) dalam pernyataan di situs kabinet. “Konflik di Ukraina mengancam pembangunan sosial dan ekonomi negara ini,” imbuhnya.

Menteri Luar Negeri, Frank Walter Steinmeier menegaskan Pemerintah Kiev harus kembali atau memodifikasi Undang-undang baru secara signifikan yang membatasi hak-hak oposisi, berbicara selama konferensi pers di Berlin bersama dengan mitranya dari Belanda, Frans Timmermans. “Pengunduran diri Perdana Menteri tersebut bisa menjadi langkah pertama dalam pencarian kompromi politik,” tambah Frank Walter Steinmeier.

Mykola Azarov mengatakan, bahwa ia berharap pengunduran dirinya akan menciptakan sebuah kemungkinan tambahan untuk kompromi politik guna menyelesaikan konflik secara damai. "Pemerintah telah melakukan segalanya untuk resolusi konflik secara damai," tutur Mykola Azarov, seperti dikutip dari Reuters. Ia menambahkan, bahwa kabinetnya telah dipaksa untuk bekerja dalam kondisi ekstrim.

Pengunduran diri Mykola Azarov dinilai banyak pihak cukup dramatis. Keputusan itu diambilnya setelah berbulan-bulan terus berada dalam tekanan oposisi yang mendesaknya untuk menyingkir. Tuntutan itu pula yang selama ini diteriakkan oleh para demonstran anti pemerintah di Independence Square, Kiev, Ukraina. "Saya berharap pengunduran diri ini bisa membuat situasi politik menjadi lebih kompromistis sehingga bisa menciptakan resolusi damai untuk menekan konflik. Selama ini, pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk meredakan gejolak politik dalam negeri. Para menteri di kabinet bahkan kini dipaksa bekerja dalam kondisi penuh ketegangan," ujar Mykola Azarov.

Pengunduran diri ini juga menggambarkan, bahwa Mykola Azarov menyerah pada tekanan kubu oposisi yang telah menunutut pengunduran dirinya selama satu bulan terakhir.

Mykola Azarov beralasan pengunduran dirinya itu sebagai salah satu upaya meredakan krisis politik di negaranya dan demi menjaga keutuhan Ukraina. Dia pun menegaskan bahwa keputusannya mundur adalah keputusan pribadi. Mykola Azarov mengaku, bahwa ia telah mengambil "keputusan pribadi" untuk mengundurkan diri guna menjaga persatuan Ukraina. "Hal yang paling penting adalah untuk menjaga persatuan dan kesatuan Ukraina. Ini jauh lebih penting daripada rencana pribadi atau ambisi. Itulah mengapa saya telah mengambil keputusan ini," tukasnya.

Hal terpenting bagi Ukraina, sambung Mykola Azarov, adalah integritas dan persatuan Ukraina. Persatuan dan kesatuan negara bahkan jauh lebih penting daripada rencana atau ambisi pribadi. "Untuk itulah saya memutuskan mengundurkan diri," tandas Mykola Azarov.

Mykola Azarov telah seringkali memperingatkan bahaya ekonomi dari krisis bagi Ukraina yang terperosok dalam resesi ketiga sejak tahun 2008.

Perekonomiannya menyusut 0,3% pada kuartal ketiga dari tiga bulan sebelumnya, sementara itu cadangan devisa menurun drastis dari US$ 24,5 miliar tahun lalu menjadi US$ 20,4 miliar.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Ukraina belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait mundurnya Mykola Azarov.

Para wartawan pun masih berkerumun di luar Istana menanti-nanti kabar apakah Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, menerima pengunduran diri rekannya itu.

Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych (63 tahun) tengah berjuang untuk menahan kerusuhan yang menyebar dari Kiev ke kota-kota lain di negara berpenduduk 45 juta, sebuah rute transit penting bagi pasokan energi Rusia ke Eropa.

Para anggota Parlemen pun mengadakan rapat pada Selasa (28/1/2014) karena adanya tuntutan oposisi tentang Rancangan Undang-undang (RUU) yang membatasi aktivitas protes agar dicabut.

Pemimpin oposisi, Arseniy Yatsenyuk (39 tahun) pun telah dua kali menolak tawaran dari Presiden Viktor Yanukovych untuk mengisi jabatan Perdana Menteri dalam empat hari terakhir.

Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych (63 tahun) harus menyetujui keluarnya Mykola Azarov dan menempatkan penggantinya di bawah konstitusi.

Pihak oposisi tengah berusaha untuk merevisi piagam tersebut, yang memungkinkan untuk kembali ke versi piagam 2004 tentang pemilihan Perdana Menteri oleh Parlemen.

Kepergian Mykola Azarov ini artinya kabinetnya juga harus diganti.

“Volodymyr Oliynyk, seorang anggota Parlemen dari Partai Daerah Viktor Yanukovych yang berkuasa, menyebutkan bahwa Presiden bisa menolak pengunduran diri Mykola Azarov,” lapor Interfax.

Pemimpin oposisi, Vitaly Klitschko, mantan Juara tinju dunia kelas berat menuturkan langkah tersebut ‘tidak sesederhana seperti yang terlihat’,” seraya menyebutnya sebagai ‘sebuah langkah menuju kemenangan’,” lapor Kantor Berita Ukraina.

Salah satu pemimpin oposisi, yang juga mantan Juara tinju kelas dunia, Vitaly Klitschko, memandang sinis langkah pengunduran diri Mykola Azarov. Baginya, keputusan mundur pucuk pimpinan Ukraina tersebut adalah sebuah langkah maju menuju kemenangan. "Setelah beberapa bulan apa yang kami teriakkan di jalan adalah imbas dari sejumlah kebijakan pemerintah saat ini. Ini bukan kemenangan, tetapi sebuah langkah menuju kemenangan," cetus Vitaly Klitschko yang juga menjabat sebagai ketua partai UDAR, Selasa (28/1/2014).

Pada bagian lain, setelah melakukan pertemuan selama empat jam dengan sejumlah pucuk pimpinan oposisi, Pemerintah Ukraina mengumumkan Undang-undang (UU) Antiprotes yang penuh dengan kontroversi dan memicu negara itu berada dalam kemelut politik mungkin akan dibatalkan.

Bukan hanya itu, pertemuan tersebut juga membahas kemungkinan pemerintah akan memberikan amnesti kepada sejumlah demonstran yang kini ditahan. Sebagai imbalannya, Pemerintah Ukraina meminta agar jalan-jalan Ibu Kota Kiev dan tempat-tempat lain dibebaskan dari para pengunjuk rasa.

Melunaknya sikap pemerintah itu diyakini tidak lepas dari upaya kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, dan Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang terus-menerus mendesak Presiden Viktor Yanukovych untuk bekerja sama dengan kubu oposisi.

Keduanya, yang sudah beberapa hari terakhir ada di Kiev, kompak menyatakan keputusan tepat dan cepat sangat dibutuhkan Ukraina saat ini supaya krisis politik di negara itu tidak berkembang menjadi bola liar. (reuters/afp/bloomberg)

See Also

Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
Sekelompok Pria Bersenjata Tewaskan 15 Orang Saat Demo Irak
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.835 Since: 05.03.13 | 0.1266 sec