Hukum

Mantan Sopir Pribadi Ahmad Fathanah Akui Antar Uang Ke L.H.I.

Friday, 27 September 2013 | View : 1198

JAKARTA-SBN.

Enam saksi lainnya yang juga bersaksi pada persidangan kasus perkara dugaan suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013, dengan terdakwa Ahmad Fathanah adalah Presiden PKS Anis Matta, artis Ayu Azhari, Yuli Puspita Sari, Evi Anggraini (Komisaris PT. Intim Perkasa), Andi Pakurimba Sose (Direktur PT. Intim Perkasa) dan Andi Reiza Akbar Sose (Direktur Operasional PT. Intim Perkasa).

Mantan Sopir pribadi Ahmad Fathanah sebagai saksi Nur Hasan mengaku pernah dua kali diminta Ahmad Fathanah mengantarkan tas berisi uang kepada mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq (LHI). Terdakwa kasus perkara dugaan suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013, Ahmad Fathanah tidak membantah pernah memerintahkan Nur Hasan mengantarkan uang Rp 200 juta itu untuk diserahkan ke L.H.I.

Saksi Nur Hasan, pria yang pernah menjadi sopir Ahmad Fathanah, mengaku sering mengantar bosnya itu ke Hotel Kempinski, Jakarta. Namun dia tak tahu urusan Ahmad Fathanah mendatangi hotel tersebut. “Ke Hotel Kempinski, Pak. Itu yang paling sering,” terang saksi Nur Hasan saat bersaksi untuk terdakwa kasus perkara dugaan suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013, Ahmad Fathanah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (26/9/2013).

Saksi Nur Hasan juga mengaku kerap mengantar Ahmad Fathanah ke Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta. Saksi Nur Hasan mengatakan, Ahmad Fathanah memang tidak memiliki kantor tetap. Meski kerap mengantar, Nur Hasan mengaku tak pernah ikut masuk. “Kadang-kadang ke Deptan (Kementerian Pertanian). Seminggu dua kali atau bisa tiga kali,” beber pria yang sudah bekerja dengan Ahmad Fathanah selama 10 bulan itu.

Dikabarkan, dalam persidangan juga sering terungkap bahwa Fathanah kerap melakukan pertemuan di Hotel Kempinski. Pertemuan itu antara lain dengan model majalah dewasa, Andi Novitalia alias Vitalia Sheisya, dan bakal caleg, Ongki Wijaya Ismail Putra. Di hotel itu pula, Ahmad Fathanah dikatakan menerima uang dari Direktur Utama PT. Intim Perkasa Andi Revi Sose, dan US$ 10.000 dari Direktur PT. Green Life Bioscience, Billy Gan.

Selain itu, saksi Nur Hasan menyebutkan juga pernah diperintah Ahmad Fathanah yang memintanya mengantarkan tas hitam ke Rumah Sakit Abdi Waluyo. Tas hitam kemudian diberikan kepada pihak mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq (L.H.I). “Waktunya saya lupa tapi tahun 2012. Waktu itu pernah disuruh antar tas dari Hotel Kempinski ke R.S. Abdi Waluyo. Katanya nanti di sana ada orang dari Pak Luthfi Hasan,” ungkap saksi Nur Hasan. Mantan sopir pribadi Ahmad Fathanah itu dihadirkan sebagai saksi kasus perkara dugaan suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013, Ahmad Fathanah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (26/9/2013).

Saksi Nur Hasan menjelaskan, saat menuju ke R.S. Abdi Waluyo, dia tidak mengetahui apa isi tas berwarna hitam itu. Dia hanya mengetahui, bahwa tas tersebut untuk L.H.I. Namun, saat itu Nur Hasan mengatakan bertemu seseorang yang diutus L.H.I. untuk mengambil tas. “Saya disuruh menunggu, katanya nanti ada yang menghubungi," beber Nur Hasan. Kemudian ada seseorang yang menghubunginya, mengaku utusan L.H.I. dan mengambil tas tersebut. Orang yang mengambil menggunakan mobil Nissan Terrano.

Selanjutnya, saksi Nur Hasan juga pernah diminta Ahmad Fathanah mengantarkan tas berisi uang untuk L.H.I. ke kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Nur Hasan selaku sopir Ahmad Fathanah mengaku pernah mengantarkan tas berisi uang kepada mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq. Uang itu diserahkan kepada L.H.I. di SPBU kawasan Pancoran, Jakarta. Dia mengantarkan uang tersebut setelah mengantarkan istri Ahmad Fathanah, Sefti Sanustika ke Depok. "Waktu itu dari Depok habis antar Bu Sefti (istri Fathanah) ke Margonda City. Setelah itu saya disuruh antar tas ke Pancoran,” elaborasi saksi Nur Hasan yang menjadi saksi terdakwa kasus dugaan suap pengaturan kuota impor daging sapi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Kementan, Ahmad Fathanah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (26/9/2013). Menurut saksi Nur Hasan, tas berisi uang itu sudah ada di dalam mobil. Setibanya di SPBU, Nur Hasan mengaku bertemu L.H.I. yang menggunakan mobil VW Caravelle putih. “Di Pom Bensin Pancoran. Ketemu Pak Luthfi, kalau nggak salah mobilnya Caravelle putih,” papar Nur Hasan. “Di sana ketemu Luthfi?" tanya Jaksa. "Iya," jawab saksi Nur Hasan. Saksi Nur Hasan memastikan bahwa tas berisi uang itu diterima langsung L.H.I. Saksi Nur Hasan mengaku awalnya tak tahu jika tas tersebut berisi uang. Namun, setelah diserahkan, L.H.I. membukanya dan menghitung uang tersebut. "Setelah saya kasih, baru tahu isinya (uang) karena dibuka dan dihitung," ungkap Nur Hasan.

Ahmad Fathanah tidak membantah pernah memerintahkan saksi Nur Hasan mengantarkan uang Rp 200 juta untuk diserahkan ke L.H.I. Namun ia meragukan, mantan sopirnya itu menyerahkan langsung kepada L.H.I. "Saya kaget jika beliau (Nur Hasan) langsung menghubungi Ustaz Luthfi. Setahu saya itu bukan Ustaz Luthfi,” ucap Ahmad Fathanah.

Seperti diketahui, dalam surat dakwaan Ahmad Fathanah disebutkan bahwa pada 27 Oktober 2012, Ahmad Fathanah memberikan uang tunai sebesar Rp 200 juta kepada L.H.I. Uang itu diserahkan melalui sopir Fathanah. Sementara itu, pada 3 Desember 2012, Ahmad Fathanah menyerahkan Rp 750 juta untuk L.H.I di R.S. Abdi Waluyo melalui sopirnya. Sementara, seseorang yang mengambil tas hitam berisi uang di R.S. Abdi Waluyo diketahui adalah sopir L.H.I., yaitu Ali Imran. Saat bersaksi untuk Ahmad Fathanah, Ali Imran pun membenarkan.

Dalam kasus kasus perkara dugaan suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2013 ini, Ahmad Fathanah didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Ahmad Fathanah didakwa bersama-sama L.H.I. menerima uang Rp 1,3 miliar dari PT. Indoguna Utama terkait kepengurusan kuota impor daging sapi. Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah memang dikenal dekat. Keduanya pernah satu sekolah di Arab Saudi. Kini status keduanya sudah menjadi terdakwa.

Ahmad Fathanah juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membayarkan, dan membelanjakan harta kekayaan yang nilainya mencapai Rp 34 miliar dan US$ 89.321. Diduga, harta tersebut berasal dari tindak pidana korupsi. (kom/jos)

See Also

KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.902.941 Since: 05.03.13 | 0.1635 sec