Internasional

Krisis Ukraina, Perundingan Antara Oposisi Dengan Pemerintah Gagal

Friday, 24 Januari 2014 | View : 1103
Tags : Ukraina

KIEV-SBN.

Para demonstran Ukraina pada Jumat (24/1/2014) memperluas kamp-kamp protes mereka di Kiev untuk lebih dekat dengan kompleks pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych setelah perundingan untuk mengakhiri krisis, berakhir buntu.

Pembicaraan antara kelompok oposisi dengan Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, pada Kamis (23/1/2014) gagal untuk mengakhiri krisis di Ukraina. Namun, ada gencatan senjata setelah terjadinya bentrokan yang mematikan antara demonstran dan pasukan keamanan selama lima hari.

Setelah lima hari bentrok yang menurut para aktivis mengakibatkan lima orang tewas, tiga pemimpin oposisi utama Ukraina menggelar perundingan selama beberapa jam dengan Presiden Viktor Yanukovych pada Kamis (23/1/2014) malam waktu setempat. Tiga pemimpin kelompok oposisi utama Ukraina mengadakan pembicaraan selama beberapa jam dengan Presiden Viktor Yanukovych menghasilkan konsesi yang ditawarkan oleh Presiden Ukraina. Namun, konsesi kecil itu yang mereka umumkan disambut dengan cemoohan oleh puluhan ribu para demonstran yang memenuhi Independence Square di Kiev.

Dalam perkembangannya, perlawanan terhadap Presiden Viktor Yanukovych di Ukraina cenderung semakin parah.

Hasil dari krisis itu masih belum jelas. Para pengunjuk rasa menolak untuk memberi jalan setelah lebih dari dua bulan berdemonstrasi melawan penolakan Presiden Viktor Yanukovych untuk menandatangani pakta dengan Uni Eropa (UE). Ini kemudian berubah menjadi gerakan yang lebih luas melawan pemerintahan Viktor Yanukovych.

Beberapa bentrokan pekan ini, yang terjadi setelah adanya aksi protes selama dua bulan atas kegagalan Presiden Viktor Yanukovych untuk menandatangani kesepakatan integrasi dengan Uni Eropa (UE) di bawah tekanan Rusia, telah mengubah sebagian wilayah di Kiev menjadi zona pertempuran hingga menewaskan lima aktivis.

Setidaknya tiga orang pengunjuk rasa telah tewas sejauh ini yakni dua terkena luka tembak setelah bentrokan antara demonstran yang dipimpin oleh radikal keras dan polisi anti huru-hara.

Dalam taktik baru yang pastinya akan menggetarkan Presiden Viktor Yanukovych, ribuan pengunjuk rasa menyerbu gedung-gedung pemerintah daerah yang berada di bagian barat Ukrania. Para pengunjuk rasa yang marah dari enam wilayah di bagian barat Ukraina berhasil menguasai gedung-gedung administrasi lokal. Ribuan pengunjuk rasa merebut kendali atau mengepung kantor-kantor Gubernur di enam kota.

Dengan mengenakan helm dan pelindung khusus tubuh, para pengunjuk rasa Kiev bekerja sepanjang malam untuk membangun barikade-barikade yang berada di sekitar alun-alun Independence Square dengan karung-karung pasir yang penuh berisi salju dan ban, sehingga mengubah pusat kota Kiev menjadi sebuah benteng.

Dalam peringatan yang jelas untuk Presiden Viktor Yanukovych, barikade terakhir mereka kini hanya berjarak beberapa puluh meter dari pemerintahan presiden yang berlokasi di Jalan Bankovaya di pusat kota Kiev.

Sebagian besar pertokoan dan restoran tutup atau yang berada di zona demonstrasi telah ditutup ‘karena alasan teknis’, Khreshchatyk Avenue yang terkenal di Kiev kini merupakan perluasan dari kamp protes.

“Para aktivis juga menduduki Kementerian Pertanian di pusat kota,” lapor seorang koresponden AFP, dan belum jelas apakah para birokrat dapat pergi bekerja.

Tiga politikus oposisi, Vitaly Klitschko, mantan Menteri Ekonomi Arseniy Yatsenyuk dan nasional sayap kanan, Oleg Tyagnybok mencoba untuk menekan konsesi dari Presiden Viktor Yanukovych yang akan mengakhiri protes jalan menentang pemerintahannya selama dua bulan.

Setelah empat jam pembicaraan dengan Presiden Viktor Yanukovych, pemimpin oposisi Partai Fatherland Arseniy Yatsenyuk mengatakan bahwa ada kesempatan besar untuk menemukan solusi guna mengakhiri pertumpahan darah di Ukraina.

Namun, pemimpin Partai Udar Vitaly Klitschko kemudian mengatakan, presiden tampaknya menutup telinga terhadap tuntutan utama kelompok oposisi, yaitu pengunduran diri pemerintah. Pemimpin oposisi, Vitaly Klitschko meninggalkan perundingan putaran kedua dengan Presiden Viktor Yanukovych dengan tangan kosong, pada Kamis (23/1/2014) malam yang menyuarakan kekhawatiran bahwa kebuntuan ini bisa mengakibatkan pertumpahan darah lebih lanjut. "Saya merasakan betapa tegang suasana dalam perundingan itu. Saya juga merasakan betapa besar harapan mereka. Namun, hasil pembicaraan ini akan mengecewakan anda," kata Vitaly Klitschko, seperti dilansir dari AFP, Jumat (24/1/2014).

Setelah pembicaraan pertama pada pengunjuk rasa yang menjaga barikade-barikade, Vitaly Klitschko kemudian pergi ke Independence Square di mana dia menyatakan: “Berjam-jam perbincangan yang dihabiskan tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada gunanya duduk di meja perundingan dengan seseorang yang sudah siap untuk menipu Anda”.

“Saya sungguh-sungguh berharap bahwa tidak akan ada pertumpahan darah dan bahwa orang-orang ini tidak akan tewas … Saya akan bertahan, tapi saya takut akan ada yang meninggal, saya sangat takut akan hal ini,” ujar petinju yang beralih menjadi politikus.

Sementara itu, pemimpin partai nasionalis, Partai Svoboda, Oleg Tyagnybok, menyampaikan bahwa pemerintah telah berjanji untuk melepaskan para aktivis yang ditangkap selama terjadinya aksi protes. Dia juga mengatakan, ada usulan untuk membuat zona pemisah antara demonstran dan pasukan keamanan sehingga kamp protes utama di Independence Square tidak akan tersentuh oleh polisi. (afp/rtr)

See Also

Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
Sekelompok Pria Bersenjata Tewaskan 15 Orang Saat Demo Irak
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.560 Since: 05.03.13 | 0.169 sec