Hukum

Chairun Nisa Akui Terima Rp 75 Juta Dari Bupati Gunung Mas

JAKARTA-SBN.

Politikus Partai Golongan Karya, Chairun Nisa, didakwa sebagai perantara suap terhadap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), M. Akil Mochtar sebesar Sin$ 294.050, US$ 22 ribu, dan Rp 766 ribu  atau seluruhnya sekitar Rp 3 miliar serta menerima komisi Rp 75 juta dari calon pertahana Bupati Gunung Mas terpilih, Hambit Bintih, dan Cornelis Nalau Antun. Membantu menjadi perantara suap antara calon pertahana Bupati Gunung Mas terpilih Hambit Bintih dengan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, politikus Partai Golkar, Chairun Nisa diduga mendapatkan komisi Rp 75 juta.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Partai Golkar Chairun Nisa mengakui dirinya telah menerima uang sebesar Rp 75 juta dari Bupati Gunung Mas terpilih, Hambit Bintih. Menurut Chairun Nisa, uang tersebut diterimanya dengan terbungkus koran.

“Adakah sesuatu yang diberikan oleh terdakwa yang kepada ibu?” tanya Jaksa dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

“Ya ada pak. Beliau memberikan sebuah bungkusan kepada saya. Kemudian saya bertanya, ini ada apa Pak. Saya kalau diminta bantuannya maka akan membantu. Saya tidak mau diberi apa-apa, karena niat saya hanya membantu. Kemudian beliau menjawab, ibu kan mau berangkat haji, ini untuk ibu yang mau berangkat haji," jawab Chairun Nisa.

Terdakwa kasus dugaan suap sengketa pemilihan kepala daerah (Pemilukada) Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Chairun Nisa, menampik tudingan yang menyebutkan dirinya menerima uang Rp 75 juta sebagai komisi di dalam mengurus kasus tersebut melainkan sebagai 'uang saku' untuk dirinya menjalankan ibadah haji. Anggota Komisi Pemerintahan DPR RI itu mengatakan uang tersebut digunakan untuk menunaikan ibadah haji.

Dalam kesaksiannya di persidangan korupsi mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, Chairun Nisa menerima uang pemberian Hambit Bintih di Bandara Palangkaraya pada 2 Oktober 2013.

Hal itu terungkap dari mulut Chairun Nisa sendiri ketika bersaksi dalam persidangan kasus dugaan suap penanganan dan pengurusan perkara sengketa Pemilukada Gunung Mas di Mahkamah Konstitusi (MK) dengan terdakwa Hambit Bintih dan pengusaha Cornelis Nalau Antun di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Politisi Partai Golkar, Chairun Nisa mengaku, pada 2 Oktober 2013 dia bertemu dengan Hambit Bintih di Bandar Udara Palangkaraya. Dia mengatakan, saat itu hendak kembali ke Jakarta usai menunaikan tugas di kota itu. Kemudian, saat itu Hambit Bintih sempat menghubunginya dan meminta Chairun Nisa bertandang ke rumah Hambit Bintih di Jalan Tjilik Riwut. "Tapi saya enggak bisa karena mau langsung kembali ke Jakarta. Pak Hambit juga mengatakan mau ke Jakarta. Akhirnya bertemu di Bandara Palangkaraya," beber Chairun Nisa saat bersaksi di persidangan untuk terdakwa Hambit Bintih dan Cornelis Nalau Antun, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Akhirnya, Chairun Nisa pun menemui Hambit Bintih di Bandara Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 2 Oktober 2013. Di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta, Chairun Nisa mengaku bertemu dengan Hambit Bintih di Bandara Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 2 Oktober 2013, sekitar pukul 16.00 WITA.

Dalam pertemuan yang diakui Chairun Nisa tanpa disengaja tersebut, kala itu, Hambit Bintih bilang ke Chairun Nisa bahwa dia telah menyiapkan uang untuk Akil Mochtar yang akan diberikan untuk pengurusan perkara sengketa Pemilukada Gunung Mas, Kalimantan Tengah di M.K. dan sudah dibawa ke Jakarta oleh Cornelis Nalau Antun. Saat itu, lanjut Chairun Nisa, Hambit Bintih juga menyampaikan bahwa dana buat menyuap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, sebesar Rp 3 miliar sudah disiapkan dan ada di Cornelis Nalau Antun yang kala itu berada di Jakarta. Dana itu disiapkan oleh bendahara tim sukses Hambit Bintih sekaligus keponakannya, Cornelis Nalau Antun. “Kata Pak Hambit, 'Dana sudah siap, ada di Pak Cornelis. Pak Cornelis sudah berangkat ke Jakarta. Tolong ibu temani Pak Cornelis’," sambung Chairun Nisa.

Kemudian, diakui Chairun Nisa, Hambit Bintih meminta dirinya menemani Cornelis Nalau Antun menyerahkan uang tersebut. Chairun Nisa menyanggupi permintaan itu. Akhirnya Chairun Nisa pun berangkat ke Jakarta dan menemui Cornelis Nalau Antun.

Lantas, saat itu juga Hambit Bintih menyerahkan sebuah bungkusan koran yang ternyata isinya uang sebesar Rp 75 juta kepada Chairun Nisa. “Lalu, Hambit memberikan sebuah bungkusan ke saya,” cerita Chairun Nisa.

Tetapi, kepada majelis hakim, Chairun Nisa menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak meminta imbalan dari upayanya membantu Hambit Bintih mengurus perkara di MK ke Akil Mochtar. Chairun Nisa bilang dirinya sempat menolak pemberian itu. Chairun Nisa berdalih dia sempat basa-basi dan enggan menerima pemberian itu. “Saya katakan kepada beliau (Hambit), 'saya kalau membantu ya membantu tidak ada apa-apanya',” ucap Chairun Nisa. “Saya kalau diminta bantu, ya saya bantu. Karena niat saya mau bantu, saya enggak minta apa-apa," sambung Chairun Nisa berkilah.

Anggota DPR RI tersebut, Chairun Nisa mengungkapkan, dirinya tidak tahu-menahu isi bungkusan yang diberikan Hambit Bintih tersebut. “Pertama, saya tidak tahu apa isinya, kemudian saya tanya, ‘ini apa pak?’," Chairun Nisa mengenang peristiwa itu.

Namun, pengakuan Chairun Nisa mengundang pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jaksa bertanya kepada Chairun Nisa bahwa jika memang Chairun Nisa tidak mengetahui isi bungkusan itu, mengapa dia tetap menerimanya?

"Kalau hanya bungkusan koran ngapain Ibu bawa? Ibu tidak tanya isinya?" tanya Jaksa.

Lebih lanjut menurut Chairun Nisa, ia sempat menanyakannya isi bungkusan tersebut. Namun demikian, Hambit Bintih tak juga memberikan penjelasan kepada Chairun Nisa, malah menyuruh Chairun Nisa untuk membawanya.

Chairun Nisa bilang, uang tersebut diberikan Hambit Bintih sebagai bantuan untuk melaksanakan ibadah haji. Menurut Chairun Nisa, saat itu Hambit Bintih mengatakan bahwa bungkusan yang diberikan untuk membantunya pergi melaksanakan ibadah haji.

"Pak Hambit bilang, niat saya hanya bantu. Kata Pak Hambit, 'Enggak ada apa-apa ini bu. Ibu, kan mau berangkat haji. Ini untuk ibu yang mau berangkat haji. Sudah bawa saja bu’," ungkap Chairun Nisa sambil menirukan perkataan Hambit Bintih saat itu. Hambit Bintih katakan, 'Ibu kan mau berangkat haji. Ini untuk ibu yang mau berangkat haji'," jelas Chairun Nisa menggambarkan situasi pemberian bungkusan koran yang diduga berisi uang sebesar Rp 75 juta. “Saya enggak tahu itu isinya uang," pungkasnya.

Namun, Chairun Nisa mengatakan Hambit Bintih tetap memaksa dia menerima uang itu. Dia pun berdalih akhirnya mengambil bungkusan koran berisi uang itu. Lebih lanjut, Chairun Nisa mengaku menerima saja bungkusan koran dari Hambit Bintih tersebut karena sudah harus naik ke pesawat menuju Jakarta.

Uang sebesar Rp 75 juta tersebut saat ini disita oleh KPK ketika melakukan penangkapan terhadap Akil Mochtar, Chairun Nisa, dan Cornelis Nalau Antun di kediaman rumah dinas Akil Mochtar di kompleks menteri di Widya Chandra, Jakarta Selatan. Saat itu, Chairun Nisa dan Cornelis Nalau Antun bersama-sama mendatangi kediaman rumah dinas Akil Mochtar untuk menyerahkan uang yang diminta Akil Mochtar. Namun, sebelum terjadi serah terima uang kepada Akil Mochtar, tim antirasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap ketiganya. Dalam penangkapan tersebut ditemukan uang dengan total Rp 3 miliar dan Rp 75 juta.

Bahkan, di awal kesaksiannya, Chairun Nisa mengaku terpaksa membantu Hambit Bintih yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Walaupun, akhirnya dibantu karena terus didesak rekan satu partainya di Golkar, Rusliansyah.

Selain menerima uang sebesar Rp 75 juta, dalam sidang juga terungkap bahwa Chairun Nisa pernah menerima uang Rp 30 juta dari Hambit Bintih. Namun, Chairun Nisa mengaku uang itu tidak terkait dengan perkara sengketa Pemilukada Gunung Mas. “Tanggal 11 September, Rusliansyah bertemu saya minta saya membantu Hambit. Kemudian, saya tidak bersedia karena Hambit PDI-P sedangkan saya dari Golkar tetapi Rusliansyah terus mendesak saya agar membantu. Lalu, Rusliansyah mengatakan bahwa saya pernah diberikan uang sama Hambit. Saya katakan saya akan kembalikan uang Rp 30 juta itu," jelas Chairun Nisa.

Sebelumnya, Chairun Nisa sudah mengakui membantu Hambit Bintih mengurus perkara sengketa pemilukada Gunung Mas di MK melalui Akil Mochtar.

Untuk itu, Akil Mochtar disebut Chairun Nisa meminta imbalan sebesar Rp 3 miliar agar keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) yang menetapkan Hambit Bintih dan Anton S. Dohong sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2013-2018, tidak dianulir oleh MK. Mantan Ketua MK itu menerima suap senilai Rp 3 miliar dalam bentuk dolar untuk memenangkan sengketa Pemilukada Bupati Gunung Mas terpilih yaitu Hambit Bintih.

Untuk diketahui, Chairun Nisa yang pernah menjadi dosen di Universitas Palangkaraya telah tiga kali menjabat sebagai anggota DPR RI. Chairun Nisa sempat duduk sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama.

Politisi Golkar ini, Chairun Nisa juga pernah diperiksa KPK sebagai saksi dalam korupsi Al-Quran. Chairun Nisa telah 3 kali diperiksa dan untuk dua tersangka anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat RI fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar, beserta anaknya, Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra.

Mantan Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pengurus MUI periode 2010-2015, Chairun Nisa menyelesaikan sarjana S1-nya di Fakultas Pendidikan Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta disusul S2-nya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Chairun Nisa juga menjadi kandidat Doktoral di Universitas Negeri Jakarta bidang Studi Manajemen Pendidikan. (mer/tem/kom)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.605 Since: 05.03.13 | 0.1517 sec