Hukum

Chairun Nisa Sebut Akil Mochtar Minta Tiga Ton Emas

JAKARTA-SBN.

Bupati Gunung Mas terpilih, Hambit Bintih, dan Komisaris PT. Berkala Maju Bersama, Cornelis Nalau Antun, didakwa bersama-sama menyuap Akil Mochtar semasa jadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dalam penanganan sengketa Pemilihan Kepala Daerah Gunung Mas, Kalimantan Tengah di MK.

Seperti diketahui, Chairun Nisa juga sudah berstatus terdakwa dalam kasus dugaan suap sengketa pemilukada Gunung Mas. Chairun Nisa didakwa menjadi perantara suap dari Bupati Gunung Mas, Hambit Bintih, dan pengusaha Cornelis Nalau Antun, kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar.

Politikus Partai Golkar Chairun Nisa bersaksi untuk terdakwa Bupati Gunung Mas Hambit Bintih dan Cornelis Nalau Antun di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, hari ini, Kamis (23/1/2014). Dalam kesaksiannya, Chairun Nisa mengungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar meminta uang untuk memuluskan perkara sengketa Pemilukada Gunung Mas Kalimantan Tengah di MK melalui bahasa sandi. Untuk memuluskan penanganan sengketa Pemilukada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, di Mahkamah Konstitusi (MK), ternyata mantan Ketua MK, Akil Mochtar mematok fee Rp 3 miliar. Suami Ratu Rita Akil itu tak sungkan untuk meminta imbalan, di mana ia menggunakan istilah "emas" untuk menyebut kata uang.

Hal tersebut terkuak setelah diungkapkan anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Chairun Nisa Chariun Nisa yang tak lain merupakan perantara suap penanganan sengketa tersebut ketika bersaksi dalam persidangan kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pemilukada Kabupaten Gunung Mas di MK untuk terdakwa Bupati Hambit Bintih dan pengusaha Cornelis Nalau Antun digelar hari ini, Kamis (23/1/2014) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta.

Politisi Partai Golkar Chairun Nisa membeberkan isi pesan singkatnya dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar terkait pengurusan sengketa Pemilukada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Bahkan, menurut dia, Akil Mochtar yang juga bekas petinggi Pemuda Pancasila itu meminta uang dengan bahasa sandi.

Chairun Nisa mengakui mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar meminta ‘tiga ton emas’ buat memenangkan calon pertahana Hambit Bintih dalam sengketa pemilihan kepala daerah (pemilukada) Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah yang sedang disidangkan di MK. Politikus Golkar, Chairun Nisa yang menjadi perantara penanganan sengketa Pemilukada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, mengaku "dipalak" mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar ‘tiga ton emas’ untuk memuluskan pemenangan Bupati Hambit Bintih.

Melalui SMS, Akil Mochtar meminta ‘tiga ton emas’ jika Bupati Gunung Mas terpilih Hambit Bintih ingin putusan sengketa pemilukada ditolak. Istilah ‘tiga ton emas’ itu merupakan bahasa sandi untuk uang Rp 3 miliar yang diminta Akil Mochtar. Mantan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama, Chairun Nisa pun menjelaskan istilah itu diungkapkan Akil Mochtar saat dirinya menyampaikan permintaan Hambit Bintih untuk bertemu Akil Mochtar terkait sengketa Pemilukada Kabupaten Gunung Mas di MK. Tujuannya, agar keputusan Pemilukada Gunung Mas yang memenangkan Hambit Bintih tidak dianulir oleh MK. Jika putusan keberatan hasil pemilukada ditolak, pemenangan Hambit Bintih dan pasangannya, Arton S. Dojong, tetap dinyatakan sah sesuai keputusan KPUD Gunung Mas.

Hal itu bermula ketika Chairun Nisa ditunjuk Hambit Bintih untuk menangani sengketa pemilukada tersebut di MK. Tak lama berselang, Chairun Nisa kemudian menghubungi Akil Mochtar melalui pesan singkat. Tetapi, Akil Mochtar malah berseloroh kalau putusan sengketa pemilukada tersebut akan dilakukan pemungutan suara ulang. "Waduh jangan diulang dong," pinta Chairun Nisa saat membalas pesan Akil Mochtar.

Komunikasi keduanya terus berlanjut, hingga akhirnya Akil Mochtar mengatakan kalau berkas sengketa Pemilukada tersebut masih ada di dalam laci kerjanya. Kemudian Akil Mochtar mengatakan kepada Chairun Nisa agar menyampaikan ke Hambit Bintih untuk menyiapkan dana sebelum sidang digelar.

Pengakuan Chairun Nisa berawal dari pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Pulung Rinandoro yang membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Chairun Nisa soal permintaan uang dari Akil Mochtar  buat mengurus sengketa Pemilukada Gunung Mas di MK.

"Betul Pak Akil pernah meminta sesuatu untuk mengurus sengketa pilkada Gunung Mas?," tanya Jaksa Pulung Rinandoro dalam sidang kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pemilukada Gunung Mas di MK untuk terdakwa Hambit Bintih dan Cornelis Nalau Antun di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakata, Kamis (23/1/2014).

"Iya betul. Saya awalnya tidak merespons. Tapi Pak Akil mengirim SMS lagi, dia menuliskan, 'Sampaikan ke Bupati itu, suruh bawa 3 ton emas'," jawab Chairun Nisa di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

“Intinya (pesan Akil) waktu itu Pak Akil bilang, sampaikan pada Hambit Bintih, suruh bawa ‘tiga ton emas’. Waktu saya kira bercanda,” tuturnya Chairun Nisa. Permintaan Akil Mochtar pun disambut seloroh oleh Chairun Nisa. “Sehingga saya jawab, ya nanti saya bawakan truk untuk bawa emas itu,” tandas Dosen di Universitas Palangkaraya, Chairun Nisa saat bersaksi untuk terdakwa Hambit Bintih dan pengusaha Cornelis Nalau Antun di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Kendati demikian, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Golkar, Chairun Nisa berdalih awalnya dia menganggap pesan singkat dari Akil Mochtar adalah hanya bercanda. Namun, Akil Mochtar kembali membalas pesan singkat Chairun Nisa. ‘Tiga ton emas’ yang dimaksud Akil Mochtar adalah uang senilai Rp 3 miliar. Chairun Nisa mengaku baru menyadari permintaan uang itu setelah Akil Mochtar mengirim SMS lanjutan. Dalam pembicaraan lanjutan, kata Chairun Nisa, Akil Mochtar menegaskan dan menjelaskannya, bahwa yang dimaksud tiga ton emas adalah uang Rp 3 miliar.

Politisi Golkar yang pernah tercatat sebagai Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan menjadi pengurus MUI periode 2010-2015, Chairun Nisa yang juga telah berstatus terdakwa dalam kasus yang sama itu pun akhirnya menyadari jika Akil Mochtar tidak sedang bercanda. Chairun Nisa kemudian paham ternyata yang dimaksud dengan ‘tiga ton emas’ itu adalah uang Rp 3 miliar. "Waktu saya baca SMS itu, dalam benak saya, itu saya pikir beliau bercanda, makanya saya balas bahwa nanti saya akan bawa truk untuk tiga ton emas itu. Tapi ada SMS lanjutannya. Maksudnya ‘emas 3 ton’ itu uang Rp 3 miliar," terang Chairun Nisa.

Setelah menerima SMS dari Akil Mochtar, selang waktu, Chairun Nisa pun menghubungi Hambit Bintih. Lantas, mantan Bendahara Majelis Ulama Indonesia itu meneruskan pesan singkat dari Akil Mochtar, lalu memberitahu permintaan dan menyampaikan pesan Akil Mochtar kepada Hambit Bintih saat pertemuan di Hotel Borobudur, Jakarta. Keduanya bersama Cornelis Nalau Antun kemudian bertemu di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 26 September 2013. Chairun Nisa pun langsung menunjukkan SMS Akil Mochtar kepada Hambit Bintih. "Saya langsung tunjukkan SMS Pak Akil itu pada Pak Hambit," urai Chairun Nisa.

Namun, permintaan tersebut tidak langsung disepakati oleh Hambit  Bintih. Hambit Bintih sempat menolak dan meminta Chairun Nisa untuk melakukan penawaran kepada Akil Mochtar. Hambit Bintih kemudian membalas pesan terusan itu dan meminta Chairun Nisa menawar permintaan Akil Mochtar. "Pak Hambit mengatakan, apakah tidak bisa kurang," papar Chairun Nisa dalam kesaksiannya di persidangan terdakwa Hambit Bintih dan sepupunya Cornelis Nalau Antun di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Tawar menawar pun sempat terjadi. Chairun Nisa yang telah 3 kali diperiksa dan untuk dua tersangka anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat RI fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar, beserta anaknya, Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra dalam kasus korupsi Al-Quran mengakui sebelumnya juga telah terjadi tawar menawar dengan Akil Mochtar.

Setelah itu, Chairun Nisa meminta Akil Mochtar menurunkan permintaannya atas permohonan Hambit Bintih. Dia menyampaikan penawaran Hambit Bintih kepada Akil Mochtar melalui pesan singkat dan meminta dikurangi menjadi Rp 2,5 miliar. Angka tersebut, jelas Chairun Nisa, sebagai perbandingan dengan harga penanganan sengketa Pemilukada Palangkaraya yang hanya Rp 2 miliar. “Saya sampaikan hari itu juga. Saya katakan dalam SMS, 'Bisa kurang enggak pak? Rp 2,5 miliar atau Rp 2 miliar?'," tukas politikus Partai Golkar Chairun Nisa. “Pak Akil mengatakan itu di Palangkaraya kan untuk perjuangan umat, jadi diskon," tandasnya.

Namun, Akil Mochtar tetap tidak mau dan justru menolak menurunkan permintaannya. Chairun Nisa mengaku jawaban dari Akil Mochtar baru dia terima saat tiba di rumah. “Akil Mochtar menolak menurunkan 'harga' yang dia pasang buat memenangkan Hambit Bintih,” lanjut dia. “Jawaban Pak Akil pada intinya, dia mengatakan tidak bisa kurang,” beber mantan Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Chairun Nisa. Dia lantas meneruskan penolakan Akil Mochtar kepada Hambit Bintih.

Hambit Bintih pun akhirnya menyetujui permintaan Akil Mochtar sebesar Rp 3 miliar. Setelah itu, Hambit Bintih meminta Cornelis Nalau Antun untuk menyediakan dan menyiapkan uangnya buat Akil Mochtar.

Untuk diketahui, Chairun Nisa yang pernah menjadi dosen di Universitas Palangkaraya telah tiga kali menjabat sebagai anggota DPR RI. Chairun Nisa sempat duduk sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama.

Chairun Nisa juga pernah diperiksa KPK sebagai saksi dalam korupsi Al-Quran. Chairun Nisa telah 3 kali diperiksa dan untuk dua tersangka anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat RI fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar, beserta anaknya, Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra.

Chairun Nisa menyelesaikan sarjana S1-nya di Fakultas Pendidikan Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta disusul S2-nya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Chairun Nisa juga menjadi kandidat Doktoral di Universitas Negeri Jakarta bidang Studi Manajemen Pendidikan. Politisi Golkar ini, Chairun Nisa pernah tercatat sebagai Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mantan pengurus MUI periode 2010-2015. (mer/tem/kom)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.863 Since: 05.03.13 | 0.1556 sec