Keluarga

40 Karya Kho Ping Hoo Dipamerkan

Friday, 17 Januari 2014 | View : 3002

SURABAYA-SBN.

Para pecinta cerita silat karya lelaki peranakan China kelahiran Sragen, Jawa Tengah, Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo sudah tentu tak akan melewatkan acara ini.

Pasalnya, sebanyak 40 karya ilustrasi dari cerita silat karya pengarang populer yang memiliki rekam jejak panjang di Indonesia, Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo yang lebih dikenal dengan memakai nama "Kho Ping Hoo" (1926-1994) ini dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS) Surabaya, Jawa Timur, pada 17 Januari-9 Februari 2014.

Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo yang lahir 17 Agustus 1926 Sragen, Jawa Tengah juga sering menggunakan nama samaran Kui Pau Hiap, seperti ketika menulis karyanya “Memperebutkan Patung Dewi Kwan Im”.

"Melalui pameran Ilustrasi cerita silat Kho Ping Hoo, masyarakat dapat mengenal lebih dekat sosok Kho Ping Hoo melalui ilustrasi dan karya-karyanya," tutur kurator dan koordinator Balai Soedjatmoko, Hari Budiono, di sela-sela persiapan pameran di Galeri HoS, Kamis (16/1/2014).

Selain itu, pameran yang digagas HoS bersama Balai Soedjatmoko-Bentara Budaya Solo (BBS) itu juga bertujuan mengangkat kembali karya sastra Kho Ping Hoo untuk diperkenalkan kepada generasi muda masa kini. "Selama periode tahun 1960-1990, karya-karya Kho Ping Hoo, baik berupa cerita silat berlatar belakang China maupun novel sejarah berlatar belakang Indonesia, cukup mendominasi bacaan populer pada masa itu," tambah dia, didampingi Manajer Museum HoS Rani Anggraini.

Hingga yang tampak kemudian adalah sosok sastrawan yang mengemban misi multikulturalisme. Pemahaman dan penghargaan bagi siapa saja tentang hidup, yang hakikatnya terdiri atas keragaman ras, etnis, dan keunikan kebudayaannya.

"Cerita silat Kho Ping Hoo itu memberi pondasi bagi jalan pemikiran, orientasi hidup, dan moralitas kaum intelektual Indonesia. Salah satu penggemarnya adalah Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, yang semasa remaja banyak menghabiskan waktu dengan membaca cerita silat Kho Ping Hoo," imbuh dia seperti ditayangkan di salah satu media nasional belum lama ini. Hal itu diungkapkan Tri Rismaharini pada Rubrik Pesona Harian Kompas, Minggu (8/12/2013): “Kenapa senang berimajinasi, mungkin karena saya senang membaca komik. Kho Ping Hoo itu kan imajinatif sekali. Mulai dari bau pohon cemara saja ditulis gimana gitu, membuat saya berimajinasi jauh," beber Wali Kota Surabaya tersebut, Tri Rismaharini atau terkadang ditulis Tri Risma Harini yang merupakan Wali Kota Surabaya wanita yang pertama.

Tidak hanya Wali Kota Surabaya ke-23 yang menjabat sejak 28 September 2010, Ir. Tri Rismaharini, M.T., beberapa tokoh penting Indonesia seperti mantan Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7, Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai B.J. Habibie dan juga mantan Wakil Presiden RI ke-2 menggantikan Mohammad Hatta pada 24 Maret 1973-23 Maret 1978, Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia (1945-1988), dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama (1940-1988) Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sastrawan Ashadi Siregar, serta budayawan Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun juga menggemari cerita silat Kho Ping Hoo.

Ke-40 karya yang pernah dibuat oleh dua ilustrator buku cerita  Kho Ping Hoo, yakni Yanes dan Win Dwi Laksono, dihadirkan kembali dalam bingkai kanvas, bertujuan mengenalkan sosok Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, sebagai budayawan yang mengemban misi multikulturalisme, keragaman ras, dan etnis serta budaya.

Yanes melukis ulang beberapa ilustrasi dari buku berjudul "Suling Naga" dan "Pedang Kayu Harum", sedangkan Win Dwi Laksono menampilkan ilustrasi-ilustrasi dari buku "Bagus Sajiwo", "Kemelut Blambangan", "Kidung Senja di Mataram", serta lima karya hasil tafsir ulang terhadap karya Kho Ping Hoo.

Ilustrator buku Kho Ping Hoo, Win Dwi Laksono memperlihatkan salah satu karyanya yang dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, Jawa Timur, Kamis (16/01/2014).

Sejarah mencatat, pengarang cerita silat, Kho Ping Hoo, telah menghasilkan lebih dari 200 judul cerita yang masing-masing judul terdiri dari sekitar 35 jilid.

Selain cerita silat, pengarang yang bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo ini juga menulis sejumlah roman, cerita detektif, dan novel bertema sejarah Indonesia, sehingga pembaca buku Kho Ping Hoo tidak terbatas pada kalangan etnis China saja, tetapi juga dari berbagai lapisan masyarakat lainnya.

Beberapa karyanya yang begitu populer, ada yang berbentuk judul lepas cerita silat Jawa atau novel sejarah berlatar belakang Indonesia antara lain Asmara Di Balik Dendam Membara, Banjir Darah Di Borobudur, Bajak Laut Kertapati, Jaka Galing, Kemelut Di Cakrabuana, Kemelut Di Majapahit, Keris Maut, Keris Pusaka Nogo Pasung, Kidung Senja Di Mataram, Pendekar Gunung Lawu, Dyah Ratna Wulan, Satriya Gunung Kidul, Keris Pusaka dan Kuda Iblis, Rondo Kuning Membalas Dendam, Djaka Wulung Ksatria Gunung Lawu, Darah Daging, Geger Solo (Bandjir Bandang), Merdeka atau Mati, Drama Gunung Kelud, Dewi Ular.

Juga seri Pecut Sakti Bajrakirana antara lain Pecut Sakti Bajrakirana, Seruling Gading, Alap-alap Laut Kidul, Bagus Sajiwo, dan Kemelut Blambangan.

Kemudian, seri Geger Demak Pajang yakni Geger Demak Pajang dan Setan Kober.

Serta serial Keris Pusaka Sang Megatantra di antaranya Sang Megatantra, Keris Pusaka Sang Megatantra, Nurseta Satria Karang Tirta, Badai Laut Selatan, Perawan Lembah Wilis, dan Sepasang Garuda Putih.

Juga serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah antara lain Sejengkal Tanah Sepercik Darah serta Geger Singosari dan Majapahit.

Karya-karya Kho Ping Hoo berbentuk judul lepas mandarin antara lain Bayangan Bidadari, Darah Pendekar, Dendam Membara, Dendam Si Anak Haram, Kilat Pedang Membela Cinta, Mustika Golok Naga, Memperebutkan Patung Dewi Kwan Im, Patung Dewi Kwan Im, Pedang Asmara, Si Naga Beracun, Pusaka Gua Siluman, Pendekar Gua Siluman, Pendekar Muka Buruk, Tersesat (pada tahun 1966), Si Naga Merah Bangau Putih, Si Rajawali Sakti, Kisah Si Naga Langit, Kisah Tiga Naga Sakti, Jodoh Si Naga Langit, Pukulan Tangan Dewa, Si Tongkat Sakti, Pendekar Wanita Sakti, Penakluk Iblis, Suling Pusaka Kemala, Pendekar Patah Hati, Peninggalan Pusaka Keramat, Rajawali Lembah Huai, Sakit Hati Seorang Wanita, Sepasang Rajah Naga, Pendekar Bunga Merah, Pembakaran Kuil Thian Lok Si, Pembalasan Suma Eng, Si Tangan Halilintar, Si Teratai Emas, Pendekar Cengeng, Pendekar Penyebar Maut, Pusaka Pulau Es, dan Pendekar Gila.

Serta juga karya-karya Kho Ping Hoo berbentuk judul lepas mandarin yang lain diantaranya Nona Berbaju Hidjau (Kun Lun Hiap Kek), Pendekar Tongkat Dari Liong San (Liong San Tung Hiap), Pendekar Arak/Pemabuk Dari Kanglam (Kanglam Tjiu Hiap), Pedang Keramat (Thian Hong Kiam), Maling Budiman Berpedang Perak (Gian Kiam Gi To) pada tahun 1961, Wanita Iblis Pencabut Nyawa (Toat Beng Moli), Pendekar Wanita Baju Putih (Pek I Li Hiap), Sepasang Naga Berebut Mustika (Ji Liong Jio Cu), Pengemis Tua Aneh (Ouw Bin Hiap Kek), Pendekar Gila dari Shantung (Shantung Koayhiap), Tiga Dara Pendekar Siauw Lim (Siauw Lim Sam Lihiap), Dua Singa Betina/Sepasang Pendekar Kembar (Ouwyang Heng Te), Si Walet Hitam (Ouw Yan Tju), Kepalan Dewa (Sin Kun Bu Tek), Pedang Sinar Emas (Kim Kong Kiam), Kasih Diantara Remadja (Bu Lim Kuntju), Pendekar-pendekar Bernasib Sial (Sianli Engtju), Si Alis Merah (Ang Bi Tin/Bi Hong Sin Liong), Pulau Tiga Naga (Sam Liong To), Pedang Keramat/Pusaka (Thian Hong Kiam), Naga Merah dari Tjin Ling San (Ang Liong Pekho), (Tjheng Hoa Kiam), Kisah Si Tawon Merah dari Bukit Heng-San/Si Badju Merah Dari Hengsan (Ang I Lihiap), Datuk Pendekar (Lam Hai Tai Swe), Pendekar Tongkat Dari Liongsan (Liong San Tiong Hiap), Antara Dendam dan Asmara (Pokiam Bodjin), Pedang Tak Bernama (Bu Beng Kiam Hiap), Pendekar Dari Hoa San (Hoasan Tayhiap), Si Teratai Merah (Ang Lian Li Hiap), dan Tiga Naga Dari Angkasa (Sam Liong Shia Thian).

Lalu serial Pendekar Sakti antara lain Pendekar Sakti (Bu Pun Su/Lu Kwan Tju), Dara Badju Merah (Ang I Nio Cu), Pendekar Bodoh (Bun Bu Enghiong), dan Pendekar Remaja.

Serial Raja Pedang yakni Raja Pedang, Rajawali Emas, Pendekar Buta, dan Jaka Lola.

Serial Jago Pedang Tak Bernama yaitu Djago Pedang Tak Bernama (Bu Beng Kiam Hiap) pada tahun 1961, Kisah Sepasang Naga, Pedang Ular Merah (Ang Tjoa Kiam), dan Pedang Pusaka Naga Putih (Pek Liong Pokiam).

Serial Si Pedang Kilat yaitu Kisah Si Pedang Kilat dan Pedang Kilat Membasmi Iblis.

Serial Dewi Sungai Kuning yakni Dewi Sungai Kuning (Huangho Lihiap) dan Kemelut Kerajaan Mancu.

Serial Gelang Kemala yakni, Gelang Kemala, Dewi Ular, dan Rajawali Hitam.

Serial Pedang Naga Kemala yaitu Pedang Naga Kemala dan Pemberontakan Taipeng.

Serial Iblis dan Bidadari yakni Iblis dan Bidadari (Hwe Thian Mo Li) dan Lembah Selaksa Bunga.

Serial Si Pedang Tumpul yakni Si Pedang Tumpul dan Asmara Si Pedang Tumpul.

Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis yaitu Sepasang Naga Penakluk Iblis, Bayangan Iblis, dan Dendam Sembilan Iblis Tua.

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis yakni Sepasang Naga Lembah Iblis dan Pedang Naga Hitam.

Serial Naga Sakti Sungai Kuning yaitu Naga Sakti Sungai Kuning (Huang Ho Sin Liong) dan Si Naga Beracun.

Serial Pendekar Tanpa Bajangan (Bu Eng Tju) yakni Pendekar Tanpa Bajangan (Bu Eng Tju) dan Harta Karun Kerajaan Sung.

Serial Pendekar Budiman (Hwa I Enghiong) yaitu Pendekar Budiman (Hwa I Enghiong), Pedang Penakluk Iblis (Sin Kiam Hok Mo), dan Tangan Geledek (Pek Lui Eng).

Serial Mustika Burung Hong Kemala yakni Mustika Burung Hong Kemala, Kisah Si Pedang Terbang, dan Pedang Awan Merah.

Kemudian, serial Pedang Kayu Harum di antaranya Pedang Kayu Harum (Siang Bhok Kiam), Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis, Harta Karun Jenghis Khan, Siluman Gua Tengkorak, Asmara Berdarah, Pendekar Mata Keranjang, Si Kumbang Merah Penghisap Kembang, Ang Hong Cu, Jodoh Si Mata Keranjang, dan Pendekar Kelana.

Juga serial Bukek Siansu seperti Bukek Siansu, Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Istana Pulau Es, Kisah Pendekar Bongkok, Pendekar Super Sakti, Sepasang Pedang Iblis, Kisah Sepasang Rajawali, Jodoh Rajawali, Suling Emas Dan Naga Siluman, Kisah Para Pendekar Pulau Es, Suling Naga, Kisah Si Bangau Putih, Kisah Si Bangau Merah, Si Tangan Sakti (Sin Ciang Tai Hiap), dan Pusaka Pulau Es. (ant/jos)

See Also

UMK Buka Prodi Teknik Industri
Penularan HIV/AIDS Melalui Hubungan Seksual Di Iran Meroket
Tekan Angka Kematian Bayi Akibat Hipotermia, Mahasiswa UMK Rancang Pup Baby
Perlu Ada Pelatihan Membuat Manisan Belimbing Dan Jambu
Perempuan Rentan Alami Kekerasan Seksual Di Media Sosial
Mahasiswa UMK Amati Produksi Kretek
Friend Peace Team Asia West Pacific-USA Berbagai Pengalaman Dengan Mahasiswa UMK
Manfaat Besar Bawang Putih Bagi Kesehatan
Konsumsi 7 Makanan Hadapi Kanker
Lagu Iwan Fals Menggema Di Arena Musywil Muhammadiyah Dan Aisyiyah Ke-47
Segera Ada Sosis Anti-kanker Usus
Kudapan Indonesia Laris Di Farmers Market Praha
Deteksi Dini Mencegah Diabetes Melitus
Tiga Kuliner Jadi Andalan Indonesia Di MEA
Turunkan Kolesterol Dengan Cuka Apel
Diam-diam 7 Penyakit Ini Tanpa Disadari Mengakibatkan Kematian
Makanan Sehat Bunuh Sel Kanker
Hoax, Facebook Kenakan Tarif Bagi Penggunanya
KPI Sebut Lima Acara TV Yang Berbahaya Bagi Anak-anak
Wanita Yang Pernah Berhubungan Badan Wajib Lakukan Pap Smear
Lima Penyebab Utama Kanker
Kenaikan Harga Rokok Di Australia Mahal Di Dunia
Perempuan Memburu 12 Hal Terhadap Diri Lelaki
Finalis American Idol Michael Johns Meninggal Di Usia Ke-35
Lima Kebiasaan Penyebab Kanker
jQuery Slider
Arsip :20182016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.497.275 Since: 05.03.13 | 0.1827 sec