Ekonomi

Risiko Default Di Thailand Meningkat

BANGKOK-SBN.

Krisis politik yang berkepanjangan di Thailand sejak Agustus tahun 2013 lalu membuat risiko gagal bayar surat utang di Negeri Gajah Putih tersebut meningkat. Hal ini dipicu aksi jual saham dan obligasi oleh investor asing yang nilainya lebih dari US$ 4 miliar sejak 31 Oktober 2013.

Investor yang menjual saham dan obligasinya di Thailand termasuk Wells Fargo Inc. dari Amerika Serikat (AS), Pacific Investment Management Co. (Pimco), Goldman Sachs Group Inc., dan Kokusai Asset Management Co. juga mengurangi kepemilikan portofolio Thailand sebelum aksi protes anti pemerintah tersebut memanas pada akhir Oktober 2013.

“Kami hingga akhir tahun lalu menjual  seluruh posisi Thailand dari dana obligasi internasional. Karena tampaknya perbedaan antara kubu-kubu politik yang bertikai sangat tajam,” ujar Lauren Van Biljon, analis First International Advisors LLC, unit usaha Wells Fargo Inc. di London, Inggris beberapa hari lalu.

Nilai tukar mata uang baht anjlok karena muncul spekulasi Bank Sentral akan memangkas suku bunga acuan pekan ini. Alasannya, gejolak politik itu bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dan muncul spekulasi militer turun tangan lagi dengan melakukan kudeta. “Posisi kami terhadap baht tetap underweight sejak akhir tahun lalu karena prospeknya ke depan terpukul oleh gejolak politik. Pada saat krisis ini mengarah ke kekacauan, belum ada dukungan fiskal. Satu-satunya yang bisa disediakan adalah lewat pelonggaran moneter,” terang Tatsuya Higuchi, manajer valas Kokusai di Tokyo.

Meskipun Bangkok terlihat tenang dan puluhan ribu demonstran tetap meriah, analis mengatakan bahwa ruang lingkup untuk penyelesaian damai atas krisis ini makin menyempit. "Saat pengunjuk rasa anti-pemerintah mengintensifkan tindakan, risiko kekerasan di seluruh negara terus berkembang dan signifikan," kata laporan International Crisis Group (ICG).

Satu orang tewas dan puluhan orang terluka, beberapa serius , ketika granat dilemparkan ke tengah pengunjuk rasa anti-pemerintah di pusat kota Bangkok, Jumat-Minggu (17/1/2014-19/1/2014). “Saya kira serangan ini dirancang untuk memancing reaksi militer," kata Paul Chambers, Direktur riset di Institute of South East Asian Affairs di Chiang Mai. Paul Chambers memprediksi, upaya itu akan meningkatkan eskalasi kekerasan di negara ini. Menurut Paul Chambers, eskalasi ini pada gilirannya bisa mendorong KPU untuk menolak mengawasi pemilu 2 Februari 2014 yang diminta Yingluck Shinawatra. Oposisi utama Thailand mengatakan akan memboikot pemilihan ini.

Kementerian dan Bank Sentral telah dipaksa untuk beroperasi dari kantor cadangan setelah pengunjuk rasa memaksa karyawannya tak bekerja. Demonstran berbaris secara damai dari tujuh kamp protes besar mereka ke sejumlah kementerian, kantor Bea Cukai, badan perencanaan dan badan-badan negara lainnya, Selasa (14/1/2014), untuk melumpuhkan pemerintahan.

Puluhan ribu demonstran anti-pemerintah Thailand, yang menggelar demonstrasi masal untuk menurunkan Perdana Menteri, Yingluck Shinawatra, telah melumpuhkan jalan-jalan utama di ibukota Bangkok, Senin (13/1/2014). Aksi demonstrasi ‘Bangkok Shutdown’ yang digelar puluhan ribu demonstran anti-pemerintah Thailand, Senin (13/1/2014), berlangsung di tujuh lokasi di kota Bangkok.

Para pengunjuk rasa yang menamakan diri mereka Komite Reformasi Demokratis Rakyat dan dipimpin oleh mantan Wakil Perdana Menteri Thailand, Suthep Thaugsuban, berkumpul di beberapa jalan utama di jantung kota, dan menghalau setiap pengguna jalan yang mencoba masuk.

Para demonstran anti pemerintah mendirikan bangunan semi permanen, serta membuat barikade menggunakan karung pasir dan ban. Para demonstran juga menutup jalan di persimpangan jalan Chaeng Wattana dan Lad Prao untuk memblokir lalu lintas menuju dalam kota.

Delapan orang termasuk dua polisi tewas dan puluhan lainnya terluka dalam kekerasan antara demonstran, polisi, dan pendukung pemerintah sejak kampanye melawan pemerintah Yingluck Shinawatra digelar November tahun lalu. Minggu malam, penembakan terjadi di dekat kompleks administrasi pemerintah saat blokade dilakukan. Tujuh orang terluka oleh penembak gelap.

Meski demonstrasi besar-besaran digelar, alat transportasi masal, seperti kereta api dan kapal feri sungai, masih beroperasi. Demonstran hanya memblokade tujuh persimpangan. Sementara itu, pengguna sepeda motor masih banyak yang berlalu lalang di jalan arteri Ibu Kota Bangkok.

Dikutip dari Xinhua, ke tujuh wilayah di kota Bangkok yang dikuasai oleh demonstran adalah, Pathumwan, Saladaeng, Lad Prao, Victory Monument, Lumpini, Rajprasong, dan Asoa.

Ribuan demonstran anti-pemerintah memblokade jalan utama di Kota Bangkok, Thailand, Senin (13/12014). Para demonstran berusaha melumpuhkan Ibu Kota Thailand ini dan mendesak Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mundur dari jabatannya. Para demonstran anti pemerintah bersumpah untuk menduduki ibukota hingga mereka berhasil menumbangkan Yingluck Shinawatra dan mengganggu pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) pada 2 Februari 2014 mendatang. "Tujuan kami bukan perang. Kami hanya ingin menekan pemerintah sampai lumpuh," Kasit Piromya, mantan Menteri Luar Negeri Thailand dan anggota oposisi, Senin (13/1/2014).

Sekelompok demonstran lainnya mengancam akan menduduki Bursa Efek Thailand. Faksi garis keras juga mengancam akan menyerbu kantor Bursa Saham, sementara persimpangan utama di Ibu Kota Bangkok tetap diblokir. Sebuah faksi gerakan anti-pemerintah lainnya juga mengancam akan mengepung Gedung Bursa Saham dan menduduki pusat pengendali udara jika Yingluck Shinawatra tidak turun dalam beberapa hari.

Sebuah kelompok mahasiswa yang beraliansi dengan Gerakan Sipil untuk Demokrasi juga mengancam akan menyerang Bursa Saham. Pemimpin faksi mahasiswa, Nitithorn Lamlua mengatakan kepada pendukungnya pada Senin (13/1/2014) bahwa itu merupakan "sistem kapitalis jahat yang memberikan jalan bagi Thaksin Shinawatra untuk menjadi miliarder." Para demonstran mengatakan mereka ingin menyingkirkan rezim Thaksin Shinawatra dari Thailand.

"Ini adalah revolusi rakyat," ujar pemimpin demonstran anti-pemerintah, Suthep Thaugsuban. Ia mengatakan di mata para demonstran, Yingluck Shinawatra bukan lagi Perdana Menteri Thailand.

Seorang Juru Bicara Gerakan Sipil untuk Demokrasi mengatakan, Bursa bukan salah satu target mereka. "Kami tidak akan mengepung tempat-tempat yang menyediakan layanan untuk masyarakat umum, termasuk bandara, Bursa Efek, dan kereta api. Namun, kami akan memblokir kantor-kantor pemerintah untuk menghentikan mereka melakukan fungsinya," kata Akanat Promphan kepada pendukungnya.

Jarumporn Chotikasathien, presiden Bursa Efek Thailand mengatakan kepada Reuters bahwa tindakan darurat telah disiapkan untuk mengamankan tempat dan sistem perdagangan negara ini. Perdagangan normal pada pagi hari, dengan indeks sedikit turun pada waktu istirahat tengah hari.

Dikabarkan sebelumnya, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, mengadakan pertemuan dengan pejabat pemerintah tingkat tinggi yang bertanggung jawab atas urusan keamanan negara di Kantor Sekretaris Pertahanan di daerah Muang Thong Thani, beberapa kilometer dari lokasi pengunjuk rasa menggelar aksinya.

Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, Jumat (10/1/2014), mengatakan pemerintah dapat mengendalikan situasi dalam aksi demonstrasi besar-besaran di kota Bangkok, pada minggu depan. Yingluck Shinawatra mengatakan, sebanyak 20 ribu personil kepolisian dan tentara akan diterjunkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di sejumlah lokasi sentral di kota Bangkok.

Pihak berwenang mengatakan mereka siap untuk menyatakan keadaan darurat jika terjadi kerusuhan, dan 20 ribu personel gabungan tentara dan polisi diterjunkan untuk mengamankan obyek vital.

Polisi bersenjata dan tentara telah dikerahkan untuk menjaga gedung pemerintah di mana para pengunjuk rasa mungkin mendudukinya. Sebanyak 18 ribu polisi dan tentara berjaga untuk mengantisipasi aksi ini mengarah pada kekerasan dan anarkis. Polisi dan tentara hanya mengawasi aksi dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melawan para pengunjuk rasa. "Kami tidak ingin konfrontasi dengan pengunjuk rasa. Di beberapa tempat, kami akan membiarkan mereka ke gedung-gedung pemerintah," jelas Menteri Luar Negeri Surapong Tovichakchaikul.

Yingluck Shinawatra meminta masyarakat untuk beraktivitas seperti biasa. Selain itu, ia meminta semua pihak untuk menyelesaikan konflik politik yang ada melalui pemilihan umum pada 2 Februari 2014. Menurutnya pemilihan umum sangat penting karena administrasi negara tidak akan berjalan tanpa parlemen. (rtr/bloomberg/xinhua)

See Also

Harga Emas Berbalik Menguat Didukung Data Ekonomi AS
Dow Jones Dan S&P Melemah, Nasdaq Menguat
Merger Peugeot Dan Fiat-Chrysler Jadi Pabrikan Mobil Ke-4 Terbesar Dunia
Turunkan Angka Pengangguran, BLKK Al Mawaddah Melatih 48 Tenaga Kompeten
Ditunggu Warga, Pensertifikatan Tanah Massal Di TMMD Kalikondang
Bursa Asia Ditutup Bervariasi
Semangat Babinsa Koramil 09/Karangtengah Dampingi Panen Perdana MT I
Kontrol Hasil Panen, Babinsa 03/Wonosalam Lakukan Pengubinan Padi
Bersama Warga, Babinsa 06/Wedung Siap Sukseskan Swasembada Pangan
Mendesa Klaim Bank Dunia Contoh Indonesia Terkait Penganggaran Dana Desa
Mulai Hari Ini Harga Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite Turun
Bursa Asia Dan AS Menguat
Menko Maritim Sebut Bandara Kulonprogo Mulai Layani Penerbangan April 2019
Kodim 0716/Demak Buka Stand Pasar Murah
Babinsa Kodim 0716/Demak Perkuat Alsintan Dengan Diklat
Mengoptimalkan LTT Dengan Pemanfaatan Alsintan
Awas Tamu Tak Diundang Di Saat Panen Tiba
Demak Panen Raya Perdana Jagung Hibrida
Dandim 0716/Demak Jamin Demplot Kodim Kualitas Dan Produktivitasnya Panen Bagus
Generasi Muda Didorong Untuk Kreatif
Bursa Nikkei Dibuka Menguat
Menteri Perindustrian Bertemu Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss, Bahas Kerja Sama Dua Negara
Presiden Joko Widodo Terima Kunjungan Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss
Babinsa Pendampingan Nyemprot Tanaman Padi
7,23 Juta Wajib Pajak Yang Sudah Lapor SPT
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.528 Since: 05.03.13 | 0.1434 sec