Ekonomi

Tugas Utama Gubernur The Fed Baru

Tuesday, 07 Januari 2014 | View : 801

WASHINGTON-SBN.

Secara resmi, Janet Yellen dipastikan menggantikan Gubernur The Fed Ben Shalom Bernanke yang masa kepemimpinannya akan berakhir pada 31 Januari 2014. Dengan menggeser posisi Ben Shalom Bernanke, Janet Yellen sekaligus menjadi wanita pertama yang memimpin bank sentral AS atau The Fed sepanjang sejarahnya selama 100 tahun berdiri.

Janet Yellen juga telah menjadi arsitek peningkatan transparansi kebijakan The Fed serta membuat komunikasi yang lebih terbuka tentang kemungkinan arah kebijakannya, demikian AFP.

Berbicara soal The Fed, bank sentral tersebut telah memangkas suku bunga acuannya mendekati level nol pada akhir 2008 dan telah menggandakan neraca pengeluaran hingga lebih dari US$ 4 triliun melalui serangkaian program pembelian obligasi besar-besaran.

Pembelian obligasi sebesar US$ 85 miliar per bulan tersebut ditujukan untuk menekan biaya pinjaman jangka panjang.

Seiring dengan pergantiannya nanti, Janet Yellen juga yang akan memimpin The Fed melancarkan penarikan dana stimulusnya secara bertahap hingga habis.

Kebijakan tersebut akan mulai dilancarkan mengingat tingkat pengangguran AS merosot pada November ke level terendah dalam lima tahun terakhir sebesar 7%. Selain itu, ekonomi AS menunjukkan laju pertumbuhan tercepatnya dalam hampir dua tahun terakhir.

Janet Yellen diperkirakan tidak akan memulai tugasnya dengan suatu perubahan kebijakan utama. Dia telah menjadi sekutu dekat dari kebijakan uang longgar Ben Shalom Bernanke yang fokus pada pengurangan pengangguran setelah Resesi Besar 2008-2009.

Janet Yellen adalah seorang veteran pembuat kebijakan di The Fed. karena ia sangat mendukung kebijakan-kebijakan Ben Shalom Bernanke, langkah-langkah Janet Yellen pun diperkirakan tidak jauh dari apa yang sudah ditanamkan oleh Ben Shalom Bernanke.

Istri peraih Nobel ekonom, George Akerlof ini sejak lama tertarik mengenai dampak pengangguran terhadap perekonomian. Alhasil, dia termasuk figur utama yang memfokuskan kebijakan The Fed untuk menurunkan tingkat pengangguran. Meski di sisi lain langkah tersebut berpotensi menaikkan inflasi.

Janet Yellen diprediksi berpegang pada pendekatan kebijakan yang selama ini dikenalnya, yakni fokus mengurangi tingkat pengangguran. Terutama jika inflasi terus jauh di bawah target The Fed yang sebesar 2%. “Transisi dari Bernanke ke Yellen bakal berjalan sangat mulus. Meski mungkin dia menoleransi inflasi sedikit di atas target supaya penyerapan lapangan kerja lebih besar. Yellen tidak akan mengesampingkan dukungannya terhadap target inflasi The Fed itu,” ucap ekonom Credit Suisse di New York, Dana Saporta.

Janet Yellen juga dipandang sebagai tokoh di balik langkah The Fed untuk lebih membuka diri mengenai pengambilan kebijakan-kebijakannya. Dibandingkan 10 tahun lalu, The Fed sekarang lebih terbuka mengenai pandangan terhadap perekonomian maupun arah kebijakan moneter ke depan.

“Warga AS harus yakin bahwa di tangan beliau sebagai pimpinan The Fed negara ini akan terus pulih dari Resesi Besar. Kepemimpinan Dr. Yellen juga penting seiring upaya The Fed untuk merampungkan reformasi regulasi Wall Street dan terus memperkuat stabilitas sektor keuangan kita,” tutur Tim Johnson, ketua Komite Perbankan Senat AS.

Tugas terbesar Janet Yellen di bank paling berpengaruh di dunia ini adalah menjembatani proses penarikan dana stimulus AS dengan mulai mengurang pembelian asetnya secara perlahan.

Tugas utama Janet Yellen di pos keuangan paling berkuasa di dunia adalah juga menavigasi The Fed keluar dari kebijakan stimulus luar biasa, diawali dengan mengurangi program pembelian obligasi.

Memang, pada Desember 2013 lalu, Ben Shalom Bernanke telah memulai proses tersebut dengan memutuskan untuk mengumumkan pemangkasan program yang disebut Quantitave Easing (QE) 3 itu yakni pembelian obligasinya menjadi US$ 75 miliar per bulan mulai Januari 2014 dari sebelumnya, nilai beli awal sebesar US$ 85 miliar per bulan. Seluruh program yang dikenal sebagai Quantitative Easing akan dihapuskan secara bertahap hingga akhir 2014 selama ekonomi AS terus menunjukkan pemulihannya.

Kalangan ekonom memprediksi The Fed akan meneruskan pengurangan itu selama tujuh pertemuan kebijakan berikutnya dan mengakhirinya pada Desember 2014.

Janet Yellen akan memimpin The Fed yang karena tiga putaran QE sekarang memiliki neraca keuangan sebesar US$ 4,02 triliun. Hal ini yang memicu kritik dari kubu Republik. Kebijakan moneter The Fed saat ini dikhawatirkan memicu kenaikan inflasi dan menimbulkan bubble asset.

Sementara itu, para anggota parlemen yang berasal dari partai Republik mengingatkan penundaan penarikan dana stimulus terlalu lama dapat menggangu neraca keuangan The Fed dan memicu inflasi atau gelembung harga aset. “Kebijakan moneter ekspansif itu tidak bisa berlangsung menjadi selamanya tanpa merusak perekonomian secara nyata dan selamanya juga,” ujar Senator Republik dari Iowa, Charles Grassley.

Asosiasi Bankir Amerika (ABA) juga menyambut persetujuan terhadap Janet Yellen itu secara hati-hati. ABA adalah lembaga yang mengkritik pengetatan regulasi oleh The Fed menyusul krisis finansial 2008.

“Karena The Fed sedang fokus-fokus mengetatkan regulasi perbankan, pengalamannya (Yellen) dalam mengawasi perbankan di The Fed memberikan perspektif yang tak ternilai. Kami siap bekerja sama dengan The Fed di bawah kepemimpinannya,” bunyi pernyataan ABA.

Pada dengar pendapat untuk proses konfirmasinya di Senat, November 2013, Janet Yellen menegaskan tidak akan jauh-jauh dari kebijakan-kebijakan Ben Shalom Bernanke. “Kita sudah banyak mengalami kemajuan, tapi harus terus maju untuk pulih betul dari krisis dan resesi. Menurut saya, sangat penting untuk melakukan apa pun demi mendorong pemulihan yang sangat kokoh,” tutur Janet Yellen.

Kalangan ekonom pun berpandangan dalam kondisi ekonomi dan politik saat ini, The Fed dihadapkan pada kenyataan untuk mengambil langkah-langkah kebijakan luar biasa. “Dalam kondisi politik saat ini barangkali tidak realistis untuk mengharapkan perubahan drastis. The Fed dipaksa oleh kondisi krisis untuk mengambil serangkaian tindakan kontroversial. Tidak hanya QE, tapi respons krisis secara keseluruhan, termasuk bailout dan fasilitas-fasilitas terhadap bank maupun non-bank,” ujar rekanan di Cornerstone Macro LP dan mantan ekonom The Fed, Roberto Perli. (xinhua/afp/reuters/bloomberg)

See Also

Harga Emas Berbalik Menguat Didukung Data Ekonomi AS
Dow Jones Dan S&P Melemah, Nasdaq Menguat
Merger Peugeot Dan Fiat-Chrysler Jadi Pabrikan Mobil Ke-4 Terbesar Dunia
Turunkan Angka Pengangguran, BLKK Al Mawaddah Melatih 48 Tenaga Kompeten
Ditunggu Warga, Pensertifikatan Tanah Massal Di TMMD Kalikondang
Bursa Asia Ditutup Bervariasi
Semangat Babinsa Koramil 09/Karangtengah Dampingi Panen Perdana MT I
Kontrol Hasil Panen, Babinsa 03/Wonosalam Lakukan Pengubinan Padi
Bersama Warga, Babinsa 06/Wedung Siap Sukseskan Swasembada Pangan
Mendesa Klaim Bank Dunia Contoh Indonesia Terkait Penganggaran Dana Desa
Mulai Hari Ini Harga Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite Turun
Bursa Asia Dan AS Menguat
Menko Maritim Sebut Bandara Kulonprogo Mulai Layani Penerbangan April 2019
Kodim 0716/Demak Buka Stand Pasar Murah
Babinsa Kodim 0716/Demak Perkuat Alsintan Dengan Diklat
Mengoptimalkan LTT Dengan Pemanfaatan Alsintan
Awas Tamu Tak Diundang Di Saat Panen Tiba
Demak Panen Raya Perdana Jagung Hibrida
Dandim 0716/Demak Jamin Demplot Kodim Kualitas Dan Produktivitasnya Panen Bagus
Generasi Muda Didorong Untuk Kreatif
Bursa Nikkei Dibuka Menguat
Menteri Perindustrian Bertemu Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss, Bahas Kerja Sama Dua Negara
Presiden Joko Widodo Terima Kunjungan Menteri Ekonomi Pendidikan Riset Swiss
Babinsa Pendampingan Nyemprot Tanaman Padi
7,23 Juta Wajib Pajak Yang Sudah Lapor SPT
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.825 Since: 05.03.13 | 0.1229 sec